NovelToon NovelToon
Lepaskan, Jika Tak Lagi Sayang

Lepaskan, Jika Tak Lagi Sayang

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Keluarga & Kasih Sayang / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:301.6k
Nilai: 5
Nama Author: De Shandivara

Hanya sebatas cerita perjalanan hidup yang mungkin pernah dialami oleh sebagian orang.

Aku yang merasa hidupku dipermainkan oleh takdir dan hanya menjadi boneka kehidupan dari skenario Tuhan, terasa setelah pernikahan.

Belum sempurna rasa cinta ini tumbuh untuknya, kini kuketahui jika ada wanita lain di kehidupannya. Jika kami—aku dan wanita itu—disandingkan, kuakui jika aku kalah segala-galanya. Seharusnya mudah baginya untuk memilih siapa wanita yang pantas di sisinya.

Perceraian yang sejak awal aku minta, tidak pernah dikabulkan olehnya entah karena alasan apa. Yang ada hanya kesakitan lahir dan batin yang kurasakan.

Lalu, apakah alasan dibalik penolakannya itu? Sedangkan yang kutahu dia tidak pernah mencintaiku karena dia tidak pernah mengatakan cinta padaku.

Ikuti kisahnya sampai akhir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Shandivara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Menyebalkan

Dua hari menjadi seorang menantu membuatku lelah harus mengerjakan pekerjaan rumah ini dan itu. Memang bukan semuanya aku yang mengerjakan, tapi dibantu dengan mama mertua dan satu ART yang membantu memasak di dapur.

Belum lagi sampai hari kedua pernikahanku ini, suamiku belum memberikan sepeser pun uang untuk belanja. Saat tukang sayur, tukang ikan, dan tukang bawang melintas di depan rumah dan menjajakan dagangan mereka kepadaku, "Neng, bawangnya Neng? Bawang putih, bawang merah, Neng?

Aku hanya bisa tersenyum untuk menanggapinya dan sesekali berujar, "tidak, Pak. Masih ada di dapur," bohongku.

"Siapa?" Tanya suamiku dari belakang. Dia yang menggunakan celana pendek dan memindahkan kandang burung perkutut piarannya dari atas, lalu diletakkan di teras depan rumah berhasil membuatku kesal karena baru saja teras itu kusapu dan dibersihkan.

"Mas, buang kotorannya jangan di sini, dong! Aku kan baru selesai nyapu," protesku yang tanpa sadar ternyata suaraku yang meninggi padanya. Bukan mendapat tanggapan semestinya, hanya tatapan tajam sekilas. Kini, ia malah membuka alas yang berisi tai burung itu dan membuangnya di lantai.

"Sial, dia tidak mendengarkanku!" Sontak kuletakkan gagang sapu dan engkrak dengan sedikit menyentak di tembok.

"HEH! Beraninya kamu mengamuk?!" Bentak Mas Rezky padaku. Dia berdiri dan berkacak pinggang di depanku. Melotot padaku dan menonyorku di teras depan rumah orang tuanya. Entah mengapa, akhir-akhir ini dia selalu senewen padaku.

"Mas?" Aku terisak karena malu. Dekat dari halaman rumah, banyak orang yang sedang belanja di tukang sayur yang tadi melintas.

"Goblok! Gak ada sopan santunnya sama suami! Ajaran Burhanuddin tuh kayak gini, nih!" Lagi-lagi dia menonyorku sampai kepalaku hampir terjedok pasak tembok di sampingku. Jangan lupakan jika dia memanggil Burhanuddin dengan lantang dan tanpa sapaan 'abah' seperti biasa saat aku menyapa beliau.

Aku menangis tersedu-sedu meski mencoba tidak bersuara. Saat kaki akan melangkah masuk dan menerobos dirinya yang berdiri di tengah-tengah pintu, tiba-tiba tangan kananku tersentak dan ditarik paksa masuk ke dalam rumah.

"Mas, ada apa?" Pekikku.

"Masuk kamu! Cepat, masuk!" Dia dengan kejam mendorong tubuhku, memaksaku masuk ke dalam kamar dan meniduriku dengan cara yang kasar dan brutal.

"Mas, ampun! Sakit," rintihku lirih tidak mau orang rumah dengar, meski usahaku yang memohon itu sama sekali tidak didengar olehnya.

"Orang miskin, tapi belagu ya itu cuma kamu!" Ujarnya selagi dengan asyiknya mematahkan tulang-tulang kecil tubuhku.

"Beginikah nasib orang miskin? Selalu tidak dihargai?" Ujarku dalam hati.

"Daisya, Daisya hentikan tukang sayur itu cepat, mama mau beli sayur!" Suara mama mertua membuatku gusar.

"Mas, cukup, mama memanggilku," aku berusaha bangkit dan menyingkirkannya, tapi gagal. Dia malah menyentakku untuk tetap berada di posisiku.

"Sayur, sayur..." Suara tulang sayur semakin terdengar sayup.

"Daisya, hentikan dia sebentar, cepat! Mama lagi tuang air panas di teko!" Suara mama mertua membuatku semakin panik, sedangkan anaknya ini tidak mau berhenti dari aktivitasnya. Dia semakin gencar melalukan aksinya, sedangkan hatiku semakin dibuat tidak tenang.

"Sayuuur....."Suaranya abang tukang sayur itu terdengar semakin jauh.

"DAISYA! DIMANA KAMU? DENGAR, TIDAK?" Mama mertuaku menaikkan nada suaranya.

"Iya, Ma!" Dengan sekuat tenaga, aku yang sudah mengumpulkan kekuatan untuk menyingkirkan tubuh suamiku dari atas tubuhku. Menyentaknya dengan paksa yang mungkin belum puas dengan aksinya.

"Kurang ajar!" Desis dia padaku, sembari aku yang membenarkan penampilanku dan berlari mengejar tukang sayur yang sudah jauh pergi entah kemana.

Saat aku akan kembali pulang, semua mata yang berpapasan memandangku aneh. Ada apa?

"Ada apa, Bu Djoko?" Tanyaku pada wanita tua yang merupakan ketua RW setempat.

"Mbak cantik, itunya lepas," ujar Bu Djoko menunjuk ke bagian dadaku.

Duar! Aku mendelik menatap ke bawah, "memalukan!" gumamku dalam hati.

"Ma, tukang sayurnya sudah jauh saat kukejar," laporku pada mama yang masih berkutat dengan peralatan dapurnya.

"Ish, kamu bisa becus nggak sih kalau mama mintain tolong? Cuma berhentiin tukang sayur saja masa gak bisa? Dari mana? Jangan pura-pura budek makanya!" Omel mama mertua padaku.

"Ya sudah, sana ke pasar beli ikan dan sayur!" Perintah mama mertua padaku. Aku menyanggupi, tapi satu hal yang tidak aku sanggupi.

"Uangnya, Ma?" Pintaku menyodorkan tangan. Mama mertua menatapku sinis–sudah biasa.

"Mas Rezky belum ngasih uang," tuturku.

"Makanya punya uang dong! Jangan bergantung pada suami! Dikit-dikit minta, nabunglah minimal!"

Ingin kuberkata, "Ma, aku jadi menantu di rumah ini baru 2 hari lho, Ma. Mana mungkin ada tabungan, kalau pun ada paling 500 perak." Namun, kalimat itu hanya tertahan di kerongkonganku.

Hari ini aku benar-benar marah dan membisu seharian. Aku juga berhak marah saat aku tidak dipelakukan dengan semestinya.

"Daisya, tolong ambilkan air buat siram tanaman!" Teriak suamiku dengan suara lantang di halaman rumah. Aku mengambilkan seember air beserta gayungnya tanpa disuruh. Saat ember itu sudah berada di depan matanya, dia tersenyum meski tidak kubalas senyumannya.

"Kamu kenapa?"

"Masih tanya kenapa? Harusnya kamu instrospeksi diri, Mas." Ujarku dalam hati, meski yang keluar dari tubuhku hanyalah gerakan kepala yang menggeleng ke kanan dan kiri dengan raut wajah masam.

Setelah mandi sore, aku menyiapkan makan untuk pria menyebalkan itu. "Mas mandi dulu aja, kotor dari taman," pintaku karena dasarnya aku tidak suka hal yang kotor dan anti kuman bakteri.

"Iya, baiklah." Tumben dia menurut?

Kami makan berhadapan, hanya kami yang tersisa. Mama dan Papa sudah makan terlebih dahulu, sedangkan aku menunggu dia sampai selesai mandinya.

"Kamu kenapa?"

"Tidak papa," jawabku.

"Kenapa? Masih marah?"

"Menurut, Mas?" Aku bertanya balik, tanpa memedulikan dia yang kini mengusap lembut tanganku.

"Maaf, ya, pagi tadi kan?"

Aku mengangguk, tak sengaja satu air mataku menetes. Dia bangkit dan berpindah tempat duduk di sampingku, "Mas minta maaf ya. Jangan lagi dipikirkan, okey?" Ujarnya seraya mengelus dan mengecup kepalaku.

Sesungguhnya, wanita itu makhluk yang sensitif dan perasa sehingga akan sulit melupakan sesuatu yang buruk yang menimpa dirinya. Sakitnya akan selalu membekas di dalam hati.

1
Lienda nasution
tetap aja gak baik kalau ada kdrt di dalam kelg
Wisteria
ruet seng noles ruet
Lienda nasution
bosan bacanya masalahnya itu itu saja kok ya ada wanita jaman sekarang kok kdrt bisa berulang ulang
Lienda nasution
bodoh kalau sdh kdrt tinggalkan saja kalau masih ttap bertahan sama dgn menyerahkan diri utk dibunuh pelan pelan
ilyas Baihaqi
Luar biasa
Marcel Alan Junio
cuma 1 kata untukmu daisya, bego, bego, bego
Evy
Daiysa egois banget ya... tidak apa2 jika sesekali anaknya nginap dirumah nenek dan kakek kandung nya.apalagi anaknya itu keturunan satu2nya...
Susi Yanti
bagaimana dgn Andra dong ?
Haeriyah
cerita nya seperti puisi
Astrid Gita
klo b*gonya terus²an jd males nerusin ini sih
Astrid Gita
lah wanita kok bodoh. padahal miskin bukan alasan menjadikan wanita jd bodoh.
Elma Hilma
👍
Iyah Comel
🥰🥰🥰🥰🥰
Iyah Comel
Bagus banget ceritanya😍🥰
hello shandi: Terima kasih, kak. Berhasil bikin nangis nggak? Berapa kali?
total 1 replies
Iyah Comel
sifat suka berprasangka buruknya di berubah dari masih SM almarhum suaminya sampai menikah lgi
Iyah Comel
habis nangis terbitlah ngakak pas baca "Bunda bertelur".
Iyah Comel
ada rasa kurang puas dengan ending ceritanya😭🥺
Noni Noni
makin heran ku..
Sulis Styaningsih
klo Menurut ku danisa wajar sj bersikap begitu terhadap clianta toh selama ini clianta TDK terlantar,danisa pnh tanggung jawab mengurus dgn baik..mantan mertuanya TDK berhak memaksakan kehendak..
Nur Siti
inilah ibu mertua bijak..tidak mau menambah masalah .dan ...tidak.mau menyalahkan..salah sstunya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!