Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — ELIAN DAN KUDA PUTIH
Matahari pagi bersinar cerah menembus kabut tipis yang menyelimuti area barat Istana Valerian. Udara sejuk membawakan wangi rumput basah dan kayu cemara dari arah istal kerajaan—sebuah kompleks bangunan kayu ek tua raksasa yang menjadi kandang bagi kuda-kuda perang unggulan keluarga Valerian.
Di dalam area istal yang bersih dan berbau jerami kering, Elian berjalan jinjit di sepanjang lorong petak kandang. Wajahnya dipenuhi rasa takjub. Matanya yang berwarna abu-abu pekat berbinar-binar setiap kali melewati kuda-kuda jantan bertubuh tegap yang sedang mengunyah gandum.
Alena berdiri beberapa langkah di belakangnya, didampingi oleh Mira. Walau hatinya diliputi kecemasan akan keberadaan para pengintai, Alena tidak tega menolak permohonan Elian yang sudah dua hari ini memohon ingin melihat kuda-kuda istana.
"Ibu, lihat! Yang ini warnanya hitam seperti malam!" seru Elian riang, menunjuk seekor kuda jantan besar di kandang nomor empat.
"Itu kuda perang milik pasukan pengawal, Elian," sahut Alena lembut, menyunggingkan senyum tipis melihat kebahagiaan polos di wajah putranya. "Jangan berdiri terlalu dekat, mereka sangat besar."
Namun, langkah Elian terhenti total saat ia tiba di sudut paling ujung istal—sebuah petak kandang terisolasi yang dihiasi papan nama bersulam benang perak.
Di dalam kandang itu, berdiri seekor kuda betina muda berbulu putih bersih bagai salju pertama musim dingin. Surainya yang panjang berkilau halus diterpa berkas sinar matahari yang menyusup lewat celah atap kayu. Mata kuda itu jernih, menatap Elian dengan rasa ingin tahu yang lembut.
"Wah..." desah Elian, matanya membelalak takjub. Ia melangkah mendekati pagar kayu. "Ibu... cantik sekali kuda ini. Warna putihnya sama seperti kapas!"
Elian mengulurkan tangan mungilnya, berniat menyentuh hidung kuda putih tersebut.
"Jangan disentuh, pangeran kecil!" tegur seorang penjaga istal paruh baya yang baru saja melintas membawa ember air. "Kuda itu bernama Frost. Dia adalah kuda garis keturunan murni pegunungan utara milik Putra Mahkota. Karakternya sangat liar dan belum sepenuhnya jinak untuk ditunggangi, apalagi oleh anak kecil."
Elian menarik kembali tangannya dengan raut wajah kecewa, bibirnya sedikit cemberut. "Tapi dia kelihatan baik... Aku cuma ingin membelai hidungnya sedikit."
"Tetap saja tidak boleh, Nak," ujar penjaga istal itu ramah namun tegas. "Kuda ini bisa terkejut dan menendang jika disentuh orang asing."
"Siapa bilang dia orang asing bagi Frost?"
Sebuah suara berat, tenang, dan berwibawa memecah percakapan di lorong istal.
Penjaga istal itu terkejut setengah mati, langsung menjatuhkan embernya dan berlutut di atas jerami. Alena menegang kaku, jantungnya serasa berhenti berdetak saat membalikkan badan.
Pangeran Adrian melangkah masuk ke dalam istal. Pria itu tidak mengenakan zirahnya, hanya kemeja katun putih berlengan panjang yang digulung rapi hingga siku dan celana penunggang kuda berwarna cokelat gelap. Tubuh tegapnya memancarkan aura ketenangan yang amat alami.
"Yang Mulia Putra Mahkota!" seru penjaga istal gemetar. "Hamba mohon maaf, hamba tidak tahu Anda sedang berada di area istal—"
"Berdirilah, Joseph," potong Adrian pelan. "Kau boleh melanjutkan tugasmu."
Penjaga istal itu membungkuk dalam-dalam sebelum berburu-buru pergi, meninggalkan keheningan yang mendadak pekat di antara mereka.
Adrian tidak menatap Alena. Pandangan mata abu-abunya sepenuhnya tertuju pada Elian yang sedang berdiri membeku di dekat pagar kandang Frost.
"Kau ingin membelai kuda ini, Elian?" tanya Adrian lembut. Pria itu melangkah mendekati anak laki-laki itu, menghentikan langkahnya tepat di sampingnya.
Elian mendongak menatap Adrian. Rasa takutnya yang sempat muncul akibat teguran penjaga tadi mendadak sirna oleh kehadiran Adrian yang begitu menenangkan. Elian mengangguk pelan. "Iya, Yang Mulia. Tapi kata paman tadi... dia galak."
"Dia tidak galak," jawab Adrian seraya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang membuat garis-garis tegas di wajah kaku sang pangeran luntur seketika. "Dia hanya belum mengenalmu. Kuda seperti Frost punya naluri yang tajam. Jika kau mendekatinya dengan rasa takut atau ragu, dia akan ikut gelisah. Tapi jika kau mendekatinya dengan tenang... dia akan menerimamu."
Adrian berlutut di atas satu kaki di samping Elian. Pria tegap itu tidak lagi menjaga jarak, tidak lagi menunjukkan batas protokoler.
"Sini," ujar Adrian, mengulurkan tangan kanannya ke arah Elian. "Pegang tanganku."
Elian tidak ragu sedikit pun. Jemari mungil anak itu langsung melingkar kencang di genggaman tangan Adrian yang besar dan berkapalan.
Di belakang mereka, Alena menyaksikan pemandangan itu dengan napas tersengal-sengal. Tangan Alena mengepal rapat di balik lipatan gaunnya. Naluri utamanya berteriak meminta agar ia melangkah maju, menarik Elian pergi, dan menjauhkan anaknya dari Adrian.
Namun, saat matanya melihat bagaimana kelembutan Adrian memandu tangan kecil Elian... langkah kaki Alena membeku.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke istana ini, Alena melihat Adrian bersama Elian tanpa diwarnai rasa takut atau kepanikan histeris. Tidak ada bayangan pedang eksekusi, tidak ada bayangan ancaman dewan. Yang tersaji di hadapannya hanyalah seorang pria tegap yang sedang mengajari seorang anak kecil dengan kesabaran dan cinta yang mendalam.
"Bawa tanganmu ke bawah hidungnya perlahan," bisik Adrian di dekat telinga Elian, membimbing tangan anak itu maju melintasi pagar kayu. "Biarkan dia menghirup aromamu dulu. Jangan membuat gerakan mendadak."
Frost, kuda putih liar yang terkenal sulit ditundukkan oleh para prajurit istana, mendengus pelan. Kuda itu menurunkan kepalanya, mendekatkan hidungnya ke telapak tangan mungil Elian. Udara hangat menghembus dari lubang hidung kuda itu, membuat Elian terkikik geli.
"Dia menyukaimu, Elian," kata Adrian pelan, tatapannya berkilat oleh kebanggaan yang tak tersembunyikan. "Sekarang, usap dahi di antara kedua matanya perlahan."
Elian mengusap bulu halus Frost. Kuda putih itu menutup matanya, bersandar pelan pada sentuhan tangan Elian yang mungil.
"Lihat, Ibu! Kuda putih ini menyukaiku!" teriak Elian riang, membalikkan kepalanya menatap Alena dengan mata abu-abu yang berbinar-binar penuh kebahagiaan murni. "Pangeran Adrian mengajariku cara mengelusnya!"
Adrian berdiri perlahan, membetulkan posisinya. Tangan kirinya dengan sangat alami merengkuh bahu kecil Elian dari belakang, sebuah gestur perlindungan yang refleks dan mendalam. Adrian memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah Alena yang berdiri membeku beberapa meter di depan mereka.
Tatapan mata abu-abu Adrian bertemu dengan mata hijau hazel milik Alena.
Tidak ada kata-kata tantangan dari Adrian kali ini. Yang ada di mata pria itu hanyalah sebuah kehangatan yang sunyi, kebanggaan seorang ayah, dan ungkapan janji tersirat yang tak perlu diucapkan.
Dada Alena terasa seperti diremas oleh tangan besi yang teramat dingin.
Melihat Elian tertawa riang di bawah pelindungan bahu Adrian... melihat bagaimana Adrian menatap putranya dengan pendar mata yang begitu memuja... membuat ulu hati Alena berdenyut perih luar biasa.
Rasa sakit itu bukan berasal dari kebencian, melainkan dari kepedihan atas kenyataan yang kejam.
Pemandangan di hadapannya saat ini—seorang ayah yang mengajari anaknya, seorang anak yang menatap ayahnya dengan kebanggaan, dan kehangatan yang melingkupi mereka—adalah gambaran kehidupan yang seharusnya mereka miliki sejak awal. Ini adalah kehidupan yang dirampas dari mereka tujuh tahun lalu oleh ketakutan, racun politik, dan hukum kerajaan yang kejam.
Alena menyapu air mata yang nyaris meluncur melintasi pipinya dengan gerakan cepat. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirnya yang gemetar demi Elian, walau di dalam dadanya, hatinya menangis meratapi takdir yang terus memisahkan mereka dari kebahagiaan yang utuh.