NovelToon NovelToon
Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:742
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.

Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.

Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

 

Bab 14: Keraguan yang Datang dan Kasih Sayang yang Tak Terbantahkan

Sisa pagi itu terasa sedikit berat, meski Dika sudah berusaha sebaik mungkin menghapus rasa tidak nyaman yang ditinggalkan oleh kehadiran Sasa. Sepanjang waktu sarapan, Raina tetap berusaha tersenyum, namun Dika bisa melihat ada bayang-bayang keraguan yang masih bersembunyi di balik matanya yang indah.

Setelah meja makan dibersihkan, Dika tidak langsung pergi beraktivitas seperti biasanya. Ia justru mengajak Raina duduk di kursi goyang di beranda belakang, tempat di mana mereka sering duduk menikmati angin sore dan melihat keindahan alam di sekitar rumah mereka.

Langit pagi itu sangat biru bersih, dihiasi gumpalan awan putih yang bergerak pelan tertiup angin sepoi-sepoi. Di kejauhan terdengar suara burung berkicau riang di antara dahan pohon mangga yang rindang. Namun ketenangan alam itu seolah belum sepenuhnya bisa menenangkan badai kecil di hati Raina.

Dika duduk berdampingan dengan istrinya, lalu dengan lembut meraih tangan Raina dan menggenggamnya erat di atas pangkuannya.

"Kau masih memikirkannya, ya?" tanya Dika pelan, suaranya lembut dan penuh pengertian.

Raina menundukkan pandangannya ke arah jari-jari mereka yang saling bertautan. Ia mengangguk pelan dengan ragu.

"Maafkan aku, Dik..." ucapnya pelan dengan suara bergetar. "Aku tahu aku seharusnya percaya padamu. Tapi melihatnya tadi... melihat betapa cantiknya dia, betapa seusianya dia denganmu... aku merasa tiba-tiba menjadi sangat kecil dan tidak pantas berdiri di sampingmu."

Raina menelan ludah dengan susah payah, rasa tidak aman yang dulu pernah dirasakannya kembali muncul perlahan.

"Di dalam hatiku, ada suara kecil yang berkata: 'Bagaimana kalau Dika hanya kasihan padamu? Bagaimana kalau saat dia melihatnya kembali, dia sadar bahwa dia sebenarnya lebih pantas bersama wanita seperti dia, bukan wanita sepertiku yang sudah punya masa lalu kelam dan jauh lebih tua darinya?'"

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Raina. Selama ini ia berusaha sekuat tenaga untuk menjadi wanita yang kuat, namun di hadapan ketakutan akan kehilangan seseorang yang sangat dicintainya, pertahanan itu menjadi rapuh.

Dika tidak langsung menyela. Ia mendengarkan setiap kata dengan saksama, membiarkan istrinya mengeluarkan semua beban yang membebani hatinya. Ketika Raina selesai bicara, Dika mengangkat wajah wanita itu perlahan dengan lembut, memaksanya menatap mata Dika lekat-lekat.

Tatapan Dika begitu dalam, begitu tulus, dan begitu serius hingga membuat Raina seakan bisa melihat ke dalam lubuk hati pemuda itu yang paling dalam.

"Raina, dengar aku baik-baik," ucap Dika dengan suara tegas namun tetap lembut. "Apa yang kau katakan tadi itu hanyalah ketakutan masa lalumu yang sedang berbicara, bukan kenyataan."

Dika mengusap punggung tangan Raina dengan ibu jarinya, memberikan rasa tenang lewat sentuhan itu.

"Kau bilang dia cantik? Memang dia cantik secara fisik. Tapi kecantikan itu tidak ada artinya dibandingkan dengan keindahan hatimu yang begitu tulus, begitu kuat, dan begitu mulia," lanjut Dika dengan penuh keyakinan. "Kau bilang dia seusia denganku? Umur hanyalah angka. Umur tidak bisa menentukan siapa yang paling tepat untuk melengkapi hidupku."

Dika menatap Raina dengan pandangan penuh kekaguman yang tak pernah pudar.

"Kau bertanya apakah aku hanya kasihan padamu? Raina, jika aku hanya kasihan, aku tidak akan memilih untuk hidup bersamamu seumur hidup. Aku tidak akan berjanji untuk menjagamu, mencintaimu, dan membangun masa depan bersamamu. Aku memilihmu bukan karena kasihan, bukan karena terpaksa, dan bukan karena tidak ada pilihan lain."

Dika mendekatkan wajahnya sedikit, menatap mata istrinya dengan penuh cinta.

"Aku memilihmu karena kau adalah Raina. Wanita yang membuatku merasa hidup kembali. Wanita yang mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya. Wanita yang kehadirannya membuat rumah ini terasa seperti surga."

Raina tertegun mendengar kata-kata itu. Jantungnya berdegup kencang, rasa hangat mulai merambat dari dadanya ke seluruh tubuhnya.

"Dan tentang dia..." Dika menghela napas pelan, lalu melanjutkan dengan tenang. "Dia adalah bagian dari masa laluku yang sudah selesai. Jika aku masih memiliki perasaan sedikit pun padanya, aku tidak akan pernah datang mencarimu, aku tidak akan pernah memintamu menjadi milikku, dan aku tidak akan pernah berdiri di sini bersamamu sekarang."

Dika menggenggam kedua bahu Raina, seolah ingin menanamkan keyakinan itu jauh di dalam sanubarinya.

"Dunia boleh memiliki ribuan wanita cantik, ribuan wanita muda, dan ribuan wanita sempurna. Tapi bagiku, hanya ada satu wanita yang aku inginkan. Hanya ada satu wanita yang membuat duniaku terasa lengkap. Wanita itu adalah kau, Raina. Hanya kau."

Air mata yang tadi menggenang akhirnya jatuh membasahi pipi Raina, namun kali ini bukan air mata kesedihan atau keraguan. Itu adalah air mata kelegaan dan kebahagiaan yang luar biasa.

Tanpa banyak bicara lagi, Raina memeluk Dika erat-erat, menyandarkan wajahnya di dada bidang suaminya, merasakan perlindungan dan kasih sayang yang begitu nyata.

"Terima kasih, Dik..." isak Raina pelan. "Terima kasih sudah memilihku. Terima kasih sudah membuatku merasa berharga."

Dika membalas pelukan itu dengan tak kalah erat, mencium puncak kepala istrinya penuh kasih sayang.

"Terima kasih juga sudah mau mempercayaiku, Sayang," bisik Dika lembut. "Kita akan hadapi semuanya bersama-sama. Apa pun yang datang mengganggu kita, kita hadapi berdua. Tidak ada yang bisa memisahkan kita."

Mereka berdiam diri begitu saja dalam pelukan itu cukup lama, menikmati kehangatan dan kepastian yang baru saja terucap. Angin pagi yang sejuk berhembus lembut menyapa wajah mereka, seolah turut merayakan keteguhan hati dua insan yang saling mencintai itu.

Setelah perasaan tenang kembali menyelimuti hati Raina, Dika tersenyum lembut, lalu mengusap sisa air mata di pipi istrinya.

"Sudah jangan menangis lagi ya," ucap Dika lembut sambil tersenyum manis. "Hari masih sangat panjang dan indah. Mari kita habiskan waktu dengan hal-hal yang menyenangkan, bukan memikirkan hal yang tidak penting."

Raina tersenyum balik, senyum yang tulus dan lega. Ia mengangguk pelan.

"Iya, Dik. Mari kita lupakan saja."

Namun di kejauhan, di balik pagar rumah yang tertutup tanaman bunga, sepasang mata mengintip dengan pandangan yang tidak senang dan penuh keinginan untuk balas dendam. Sasa masih berdiri di sana, melihat betapa eratnya hubungan antara Dika dan Raina, dan di dalam hatinya mulai tumbuh niat jahat untuk memisahkan mereka berdua.

Namun di dalam rumah itu, Dika dan Raina tidak mengetahui hal itu. Mereka hanya tahu satu hal: selama mereka saling percaya dan saling menjaga, tidak ada apa pun yang bisa menggoyahkan cinta mereka.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!