NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pembantai Abadi

Takdir Sang Pembantai Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.

Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.

Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.

Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.

Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Taring Iblis Menelan Emas

Tebasan pedang Jin Wuya membelah ruang, membawa tekanan yang meremukkan gunung. Cahaya emas dari bilah besinya menguapkan darah yang mengalir di parit altar, menciptakan kabut merah yang mendidih.

Lin Tian tidak mundur. Ia justru melangkah maju, menyambut badai emas itu dengan pedang hijau bergeriginya yang diselimuti qi hitam pekat berurat emas.

Klang!!!

Benturan kedua bilah pedang menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan sisa-sisa meja giok dan meretakkan dinding gua. Lin Tian merasakan lengan kanannya mati rasa, tulang-tulang di bahunya bergeser dari sendinya.

Kekuatan ranah Pondasi Awal yang dibakar oleh pil terlarang memang berada di dimensi yang sama sekali berbeda. Jin Wuya tertawa gila, mendorong pedangnya lebih dalam, memaksa Lin Tian berlutut di atas altar yang retak.

"Matilah, bocah sialan! Darahmu akan menjadi abu untuk mengubur kegagalanmu!" raung Jin Wuya. Qi emasnya mulai mengikis pertahanan qi hitam Lin Tian, mencoba membakar meridian pemuda itu dari luar.

Namun, senyum dingin justru terukir di bibir Lin Tian yang berdarah. "Kau terlalu banyak bicara, Jin Wuya."

Tepat pada saat Jin Wuya bersiap untuk melancarkan tusukan fatal ke dada Lin Tian, lengan kanan Tetua Agung itu—lengan yang sama yang tadi menyentuh cangkang telur naga—tiba-tiba kejang hebat.

Urat-urat di lengannya menghitam dengan kecepatan yang tidak wajar. Racun korosif dari pedang Lin Tian yang telah meresap ke dalam cangkang telur, kini bereaksi dengan qi iblis pemakan energi yang tadi ditinggalkan Lin Tian di dalam tubuh Jin Wuya saat benturan pertama.

"Apa... apa ini?!" Jin Wuya terbelalak, matanya melotot ngeri saat merasakan qi emasnya di lengan kanan tiba-tiba terputus dan membusuk. Rasa sakit yang menusuk saraf membuatnya kehilangan fokus sepersekian detik, dan tebasan fatalnya pun meleset beberapa inci dari jantung Lin Tian, hanya menggores tulang rusuknya.

Itu adalah celah yang lebih dari cukup.

Lin Tian mengabaikan tulang rusuknya yang patah. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan fisik dari darah jantung naga purba, ia menepis pedang emas Jin Wuya menggunakan lengan kirinya yang telanjang.

Bilah emas itu memotong kulit dan daging lengan kiri Lin Tian hingga menyentuh tulang, namun tidak mampu memutusnya. Tulang Lin Tian kini sekeras baja hitam.

Menggunakan lengan kirinya yang terjebak di bilah pedang musuh sebagai jangkar, Lin Tian menarik tubuh Jin Wuya mendekat. Tangan kanannya yang mencengkeram pedang hijau bergerigi langsung menusuk ke depan.

Srekk!

Bilah beracun itu menembus perut Jin Wuya, tepat di titik dantian-nya.

Mata Jin Wuya membelalak tak percaya. Ia menatap pedang yang menancap di perutnya, lalu menatap wajah Lin Tian yang berlumuran darah. "Kau... kau menghancurkan dantianku..."

"Aku tidak hanya menghancurkannya," bisik Lin Tian, matanya yang hitam pekat menatap lurus ke dalam jiwa musuhnya. "Aku akan memakannya."

Segel Dewa Penelan Langit di dalam tubuh Lin Tian berputar dengan kecepatan maksimal. Qi hitam berurat emas meledak dari bilah pedang yang menancap di perut Jin Wuya, langsung menyerbu ke dalam lautan qi milik Tetua Agung tersebut.

Jin Wuya menjerit, suara yang lebih mirip raungan binatang yang sedang dikuliti hidup-hidup. Basis kultivasi Pondasi Awal yang ia banggakan, ditambah dengan energi sisa dari pil terlarang, disedot secara paksa masuk ke dalam tubuh Lin Tian.

Energi yang begitu kuat dan liar merobek meridian Lin Tian, membuat pori-pori kulitnya mengeluarkan darah. Namun, Teknik Tulang Iblis dan darah naga purba dengan cepat memperbaiki kerusakan tersebut sambil memadatkan dantian Lin Tian.

Dalam hitungan detik, aura Jin Wuya yang megah layu dan padam. Kulitnya yang tadinya kencang kini keriput dan dipenuhi bintik-bintik hitam. Rambut putihnya rontok berguguran. Ia telah diubah menjadi bangkai hidup yang kering kerontang.

"Keluargaku... menunggumu di neraka," ucap Lin Tian pelan, sebelum memutar bilah pedangnya dan mencabutnya keluar.

Tubuh Jin Wuya ambruk ke lantai altar yang berlumuran darah, matanya masih terbuka lebar menatap langit-langit gua dengan sisa-sisa ketakutan dan penyesalan. Tetua Agung Sekte Pedang Perak, dalang pembantaian keluarga Lin, telah mati di ruang rahasianya sendiri.

Lin Tian tidak membuang waktu untuk bernostalgia. Ia segera memotong jari tangan kiri mayat Jin Wuya, mengambil cincin spasial berwarna emas yang memancarkan aura kekayaan dan rahasia sekte. Ia memasukkan cincin itu ke dalam saku dalamnya.

Guruhhhh!

Langit-langit gua akhirnya menyerah. Formasi pelindung yang Lin Tian rusak tadi telah memicu runtuhnya struktur dasar gunung. Batu-batu raksasa seukuran rumah mulai berjatuhan, menghancurkan altar dan menimbun mayat Jin Wuya.

Dari celah-celah lantai yang retak, cahaya merah menyala muncul. Magma dari perut gunung mulai merembes naik, membawa panas yang melelehkan besi. Ruangan ini akan menjadi oven raksasa dalam beberapa detik ke depan.

Lin Tian menyarungkan pedangnya, lalu melompat ke dinding gua. Kuku-kukunya yang diselimuti qi menancap ke celah-celah batu, memanjat ke atas dengan kecepatan luar biasa mengikuti lorong vertikal yang tadi dilewati Jin Wuya.

Di bawahnya, magma menelan altar, menelan parit darah, dan menelan segala bukti kejahatan Jin Wuya. Ledakan dahsyat terjadi di dasar ruang rahasia, mendorong gelombang panas dan asap hitam membuntuti Lin Tian dari belakang.

Dengan satu tarikan napas terakhir, Lin Tian melompat keluar dari lubang ventilasi tersembunyi di belakang Paviliun Pedang Suci.

Ia mendarat dan berguling di atas rumput halaman belakang paviliun yang dingin. Udara malam yang segar langsung memenuhi paru-parunya yang terbakar.

Detik berikutnya, tanah di bawahnya bergetar hebat.

Paviliun Pedang Suci yang megah, simbol kebanggaan Sekte Pedang Perak, tiba-tiba amblas ke dalam tanah. Atapnya runtuh, pilar-pilarnya patah, dan sebuah pilar api bercampur asap hitam menyembur ke langit malam dari reruntuhan tersebut.

Suara ledakan itu membangunkan seluruh gunung. Alarm formasi darurat berbunyi nyaring, memekakkan telinga dan memecah keheningan malam. Ribuan obor menyala di puncak-puncak gunung sekitarnya, dan aura-aura kuat milik para tetua lain mulai terbangun dan melesat menuju lokasi ledakan.

Lin Tian perlahan bangkit, menyeka darah di wajahnya. Lengan kirinya yang terluka parah mulai menutup dengan jaringan parut hitam. Dantiannya kini berputar dengan qi yang jauh lebih padat, membawa sisa-sisa aura emas dari kultivasi Jin Wuya yang ia telan.

Ia menatap cincin emas di tangannya, lalu menatap kerumunan murid dan tetua yang mulai berdatangan dari kejauhan.

Membunuh Jin Wuya hanyalah langkah pertama. Sekarang, ia berada di jantung sarang musuh, terluka, dan seluruh sekte sedang mencarinya.

Lin Tian menarik kerudung jubah hitamnya, lalu melebur ke dalam bayangan pepohonan di tepi tebing, menghilang tepat sebelum cahaya obor pertama menyapu tempat ia berdiri. Perburuan telah berakhir, namun perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Alia Chans
semangat thor nulisnya💪
Restu Agung Nirwana: hehe.. iya.. makasih dukungannya 👍
total 1 replies
B. Toon
Wah, seru. Suka MC nya, sadis, kejam, tanpa ampun, tapi masih punya batasan. Cuma musuh-musuhnya saja yang di bantai habis, orang yang tidak bersalah aman. Yang baik sama MC di balas 10x lipat kebaikannya, yang jahat sama MC di balas 100x lipat kejahatannya. Lanjut Thor 🔥🔥🔥
Restu Agung Nirwana: Hehehe... makasih bro. Ikuti trs ceritanya, jgn loncat-loncat bab. Biar gak bingung sama alurnya, slmt membaca 🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!