Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Vivienne datang ke gedung Laurent Group melalui pintu samping yang jarang digunakan karyawan. Ia mengenakan gaun panjang yang nyaman untuk perutnya yang sudah memasuki usia enam bulan. Di sampingnya, Estelle berjalan dengan langkah hati-hati sambil sesekali melirik perut sahabatnya.
Tidak ada yang tahu kedatangan mereka. Bahkan Dominic sekalipun. Begitu pintu lift terbuka di lantai khusus jajaran direksi, Estelle segera memastikan lorong di depan mereka cukup sepi.
"Pelan-pelan, Vivi," ujar Estelle sambil memegang lengan Vivienne. "Jangan terlalu banyak berjalan."
Vivienne tersenyum tipis. "Aku masih kuat."
Estelle menatap perut Vivienne dengan cemas. Aku tahu. Tapi aku tidak mau mengambil risiko. Usia kandunganmu sudah enam bulan. Aku tidak mau terjadi sesuatu hanya karena kamu terlalu memaksakan diri."
Vivienne mengusap perutnya perlahan. "Tenang saja. Aku akan berhati-hati."
Keduanya kemudian memasuki sebuah ruang rapat kecil yang berada jauh dari ruang kerja utama. Di dalam ruangan itu sudah menunggu beberapa orang yang selama ini menjadi orang kepercayaan mendiang ayah Vivienne.
Begitu Vivienne duduk, salah seorang pria langsung menutup pintu. "Apakah Tuan Dominic mengetahui kedatangan Anda?" tanyanya hati-hati.
Vivienne menggeleng. "Tidak." Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Dan aku ingin tetap seperti itu."
Beberapa orang saling berpandangan.
Vivienne membuka sebuah map yang dibawanya. "Aku ingin mengadakan audit di semua sektor." Suaranya tenang, tetapi tegas.
Salah seorang kepala divisi mengangguk. "Audit secara menyeluruh, Nona Vivienne?"
"Ya." Vivienne menatap satu per satu orang di hadapannya. "Mulai dari keuangan, produksi, pemasaran, penjualan, sampai seluruh pengeluaran perusahaan."
Vivienne menarik satu lembar laporan dari dalam map. Jarinya mengetuk angka yang tertera di laporan.
"Selama beberapa bulan terakhir, hasil produksi terus meningkat. Hasil penjualan juga meningkat."
Ia kemudian mengangkat wajah. "Tapi kenapa kas perusahaan hanya naik sedikit?"
Ruangan mendadak sunyi. Vivienne menatap angka-angka tersebut dengan sorot mata yang semakin serius.
"Ini tidak seimbang."
Salah seorang kepala divisi akhirnya angkat bicara. "Memang ada beberapa pengeluaran besar, Nona."
Vivienne langsung menoleh. "Pengeluaran apa?"
Pria itu tampak ragu. "Beberapa biaya operasional dan pengembangan bisnis."
"Siapa yang menyetujuinya?" tanya Vivienne.
"Sebagian besar melalui jalur manajemen."
Jawaban itu membuat Vivienne terdiam. Tangannya perlahan mengepal di atas meja.
Dahulu, dialah yang memberikan Dominic keleluasaan. Suaminya boleh menggunakan sebagian kewenangan dalam urusan perusahaan.
Vivienne tidak pernah terlalu banyak bertanya. Ia terlalu percaya kepada Dominic. Bahkan ketika ada pengeluaran yang besar, Vivienne hanya berpikir bahwa suaminya pasti memiliki alasan. Kini, kepercayaan itu terasa seperti kesalahan paling mahal dalam hidupnya.
Vivienne mengembuskan napas panjang. "Ini kesalahanku," ucapnya pelan.
Semua orang terdiam.
Estelle yang duduk di sebelahnya langsung menoleh. "Vivi."
Vivienne menggeleng kecil. "Aku terlalu percaya kepadanya."
Tatapan Vivienne kembali tertuju pada laporan. "Aku memberikan kekuasaan kepadanya tanpa memeriksa bagaimana uang perusahaan digunakan."
Estelle meraih tangan Vivienne di bawah meja dan menggenggamnya. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri."
Vivienne menatap sahabatnya. "Aku tidak akan mengulanginya. Mulai sekarang, setiap pengeluaran besar harus memiliki laporan yang jelas." Nada suaranya berubah lebih tegas.
Vivienne menggeser map ke tengah meja. "Dan tidak ada satu pun orang yang boleh menggunakan uang perusahaan tanpa pemeriksaan."
Beberapa kepala divisi langsung mengangguk. "Baik, Nona Vivienne."
"Siap, Nona."
Vivienne kembali bersandar. "Laporkan semuanya kepadaku. Termasuk pengeluaran yang terjadi sebelum audit ini dimulai."
Salah seorang direktur tampak terkejut. "Termasuk pengeluaran lama?"
Vivienne mengangguk. "Terutama yang lama."
Estelle tersenyum tipis. Ia tahu persis apa yang sedang dilakukan sahabatnya. Vivienne tidak sedang sekadar mencari kesalahan. Ia sedang membuka kembali semua jejak yang selama ini ditutupi oleh Dominic.
Sementara rapat berlangsung, Estelle tidak pernah benar-benar melepaskan perhatian dari Vivienne. Sesekali ia memperhatikan wajah sahabatnya, memastikan tidak terlihat pucat atau kelelahan.
Setelah hampir satu jam, seorang kepala divisi menyerahkan laporan terakhir. "Secara keseluruhan, perusahaan memang mengalami penurunan di beberapa bagian."
Vivienne mengangguk. "Karena krisis ekonomi global?"
"Benar."
"Seberapa besar dampaknya?" tanya Vivienne.
Pria itu membuka dokumen di tangannya. "Beberapa proyek mengalami penundaan. Sebagian klien mengurangi anggaran. Ada juga beberapa perjalanan bisnis yang ditunda."
Ia kemudian menggeleng. "Tetapi Laurent Group masih dalam kondisi kuat."
"Artinya?"
"Perusahaan tidak mengalami kerugian."
Vivienne menatap laporan tersebut. "Jadi, masalahnya bukan perusahaan sedang bangkrut."
"Benar, Nona."
"Penjualan masih berjalan?"
"Masih."
"Produksi masih meningkat?"
"Masih "
"Dan perusahaan masih menghasilkan keuntungan."
"Benar."
Vivienne menyandarkan tubuhnya. "Kalau begitu, kita hanya perlu memastikan keuntungan itu tidak menghilang ke tempat yang tidak seharusnya." Tatapannya berubah dingin.
Estelle tersenyum kecil. "Aku rasa ada seseorang yang akan merasa tidak nyaman setelah audit ini selesai."
Vivienne menoleh. Sambil mengusap perutnya, ia berkata, "Biarkan dia tidak nyaman. Selama semuanya sesuai aturan, tidak ada yang perlu takut."
Di tempat lain, Dominic duduk sendirian di ruang kerjanya. Beberapa lembar tagihan berserakan di atas meja. Ia mengusap wajah dengan kedua tangannya. Kepalanya terasa penuh.
Uang yang biasanya mudah didapat sekarang terasa semakin sulit. Kebutuhan keluarganya terus bertambah.
Victoria terus meminta uang. Grace juga tidak berhenti mengeluh. Sementara Billy membutuhkan tambahan dana untuk production house yang dikelolanya.
Dominic menatap layar ponselnya. Beberapa pesan dari keluarganya masih belum dibalas. Ia mengembuskan napas kasar.
"Bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?" gumam Dominic sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Tangannya kemudian jatuh ke sebuah kotak kecil di atas meja. Kotak yang sama dengan tempat ia mengambil gelang berlian untuk Vivienne beberapa waktu lalu.
Dominic mengerutkan kening. "Walaupun sudah kusogok dengan gelang, dia tetap tidak mau memberikan uang bulanan untuk Mommy dan Grace."
Dominic mengusap pelipisnya. "Biasanya dia tidak pernah bertanya."
Dominic terdiam. Pikirannya berputar mencari jalan keluar.
Keluarga Billy juga tidak bisa diandalkan. Production house milik ayah tirinya memang masih berjalan, tetapi kondisinya belum benar-benar stabil.
Dahulu, perusahaan itu pernah jatuh hingga hampir tidak tersisa apa-apa.
Billy bahkan harus memulai kembali dari bawah setelah mendapat kucuran dana dari Vivienne. Dominic tahu betul bagaimana perjuangan keluarganya saat itu.
Billy adalah ayah tirinya.
Victoria merupakan seorang janda yang telah memiliki Dominic ketika menikah dengannya. Sementara Grace adalah anak kandung Billy.
Meski begitu, Billy tidak pernah membedakan keduanya. Bagi pria itu, Dominic tetap anaknya. Begitu juga sebaliknya. Namun, keadaan sekarang membuat Dominic semakin tertekan..Ia tidak mungkin membiarkan production house keluarganya kembali jatuh.
Dominic menatap kosong ke depan. "Aku harus mencari jalan lain."itu
Ia mengepalkan tangan. "Tapi dari mana?"
Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah nomor yang tersimpan di ponselnya. Nomor seseorang yang selama ini sengaja tidak pernah ia hubungi.
Dominic menatap layar cukup lama. Rahangnya mengeras.
"Jangan sampai aku nekat menghubungi orang itu."
Ia meletakkan ponsel dengan gerakan kasar. Namun beberapa detik kemudian, tangannya kembali mengambil benda tersebut.
Tatapannya terpaku pada nomor yang sama. Ada sesuatu yang jelas membuatnya takut. Sesuatu yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Dominic mengusap wajahnya. Ia menatap layar dengan mata penuh tekanan.
"Aku tidak punya pilihan..Kalau keadaan terus seperti ini ... aku bisa kehilangan semuanya." Suaranya mengecil.
Tanpa Dominic sadari, di tempat lain, audit sedang mulai membuko Dan kali ini, Vivienne tidak lagi berdiri sebagai istri yang percaya kepadanya. Ia berdiri sebagai pemilik perusahaan yang sedang mengambil kembali kendali atas hidupnya.
dan Grace adik satu ibu beda Ayah 😱
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡