Seren hanyalah gadis biasa yang terlahir dari rahim seorang pelacur. Hidup dan tumbuh dari hasil keringat seorang pelacur tak membuat Seren termotivasi untuk menjadi salah satu di antaranya.
Dalam 18 tahun kehidupannya, Seren selalu bertekad tidak ingin menjadi seperti sang ibu. Karena ia sangat tahu di balik kehidupan mewah seorang Pelacur tersimpan sebuah hal berbahaya yang bahkan satu orang pelacur- pun belum dapat keluar darinya.
"Hmm- Kamu percaya kalau aku ini bajingan, bukan?"
peringatan: mengandung percakapan orang dewasa, disarankan untuk bijak memilih jenis bacaan anda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kang-jun!!!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04. Menjadi pengganti
14 Januari 2013
Di Club
“Ich sagte nein, nein.”
(Sudah kukatakan tidak. Ya tidak.)
William menegakkan punggungnya, nadanya datar, seolah kalimat itu sudah ia ulang ribuan kali kepada orang-orang yang tak mengerti tempatnya berdiri.
“Tapi tuan, ini berlian asli. Saya sangat yakin—”
“Dieser Mann versteht wirklich kein Deutsch.” William mendesah pendek, lalu berteriak, “Robert! Bawa orang gila ini keluar dari rumahku.”
Gundur masih mencoba meraih lengan William, namun tangan itu ditepis keras. Detik berikutnya, tubuhnya terlempar oleh dorongan dua bodyguard besar seperti karung yang terlalu sering dipindahkan.
Pintu besar mansion menutup rapat.
Gundur menatapnya dengan marah, wajahnya merah oleh harga diri yang diinjak. “Lihat saja! Kau akan menyesal, William Birtrainy!”
Ia belum sempat menyelesaikan ancamannya ketika salah satu bodyguard menarik kerah bajunya.
“Tidak boleh teriak di rumah orang, Pak.”
Gundur diseret pergi, ia masih mengumpat di antara napasnya. Suaranya mengaung keras hingga tubuhnya tak terlihat lagi.
...****************...
Malam hari.
Dunia lain menunggu di balik lampu club yang gemerlap dan bising.
Musik menghentak, menampar gendang telinga seperti palu. Seren duduk di sofa dekat pintu, kedua telinganya tertutup oleh kedua tangan.
“Kenapa harus sekeras ini?” keluhnya, lirih namun penuh murka kecil khas anak yang merasa dunia tidak memikirkan kenyamanan dasar manusia.
Ia melirik ke lantai sembari mengamati kerumunan. Perempuan-perempuan berdandan berlebihan bergoyang liar di depan pria-pria yang hanya menyeringai tanpa malu. Di beberapa meja, orang-orang mengisap serbuk lewat sedotan, tertawa seolah kepanikan tidak pernah menjadi bagian dari hidup mereka.
Apa itu narkoba? batin Seren, menelan rasa takut yang belum ia kenali bentuknya.
Keadaan malam ini jelas berbeda dari malam sebelumnya. Club seperti menukar jiwanya dengan sesuatu yang lebih gelap.
Hingga matanya menangkap seorang remaja di depan bartender. Menghisap dari botol bong, wajahnya teduh seperti ia sedang menikmati camilan sore hari.
“Toni?” Seren terpekik kecil.
Kenapa teman sekelasku ada di tempat beginian?
Dita menepuk bahunya. “Tunggu di sini. Jangan kemana-mana.” Lalu ia menghilang ke balik pintu hitam di ujung ruangan.
Seren menatap Toni lagi tepat saat seorang wanita matang menghampiri meja remaja itu. Rambut ikalnya, senyumnya yang hampir selalu terlalu manis untuk orang asing, semuanya dikenalnya.
“Tante Sarah…” bisiknya terkejut.
Toni menyodorkan minuman keras. Sarah menerimanya, tertawa pelan, lalu membiarkan tangan Toni menaiki pundaknya. Padahal Toni dikenal pendiam dan selalu duduk di barisan tengah kelas. Kini ia tampak seperti anak kaya yang kehilangan batas.
Seren memalingkan wajah, telinganya panas, tapi ia kembali mengintip. Ini gila…
Lalu sebuah ide muncul.
“Oh iya!” gumamnya sambil merogoh ponsel. “Harus kuabadikan ini. Biar Toni gak bisa ngeles besok.”
Ia mulai memotret. Momen demi momen. Bibir yang terlalu dekat, tangan yang tidak tahu malu, ekspresi mabuk yang memalukan.
Hingga tiba-tiba seseorang berdiri tepat di depan lensanya, menghalangi sudut pandang.
Seren mengangkat wajah. Mata melebar.
“Pria kemarin…” Ia menggerutu dalam hati. Bule itu, yang ia tabrak. Berekspresi jijik, seakan sudah muak pada seluruh isi club.
“Hmph! Pasti orang kaya yang punya selera buruk,” rutuknya tanpa sadar.
Pria itu duduk di samping Tante Sarah, tapi menolak setiap pelacur yang mencoba menyentuhnya. Sikapnya dingin, sombong, tapi bersih dari kerak-kerak godaan. Seren tidak tahu apakah itu hal baik atau justru tanda kesombongan tingkat dewa.
Saat ia menunjuk tanpa sadar, pria itu menatap balik. Tajam. Terlalu cepat.
“Tidak sopan menunjuk seseorang dengan tangan kotor,” ucapnya sarkastis.
Sebelum ia melanjutkan, seseorang membisikkan sesuatu dalam bahasa asing. Si bule berdiri, mengabaikan Seren seolah ia debu yang tak penting.
Tuk.
Bahunya disentuh.
Seren berbalik panik. “M–mami?”
Dita mengangguk. “Masuk. Tuan Golern menunggu.”
Seren menelan ludah.
Club di baliknya tetap gaduh. Namun ruangan tempat ia menuju justru sunyi, tertata, dan dingin. Lampu kuning redup jatuh pada meja kaca. Aroma parfum mahal menyelimuti udara.
Tuan Golern duduk santai, kaki terlipat, tatapannya menilai sejak Seren melangkah masuk.
“Duduk,” katanya.
Seren duduk pelan. Jaraknya ia jaga.
“Nama.”
“Seren.”
“Lebih keras.”
“Seren, Tuan.”
Golern baru benar-benar menatapnya. Sorot matanya bukan mata predator murah, tapi mata lelaki yang sudah lama belajar memerintah.
“Kau tidak cocok di tempat seperti ini,” katanya.
Seren memilih diam. Ia takut salah bicara.
“Kenapa kau ada di sini?”
“Saya… bekerja.”
“Dengan cara begitu?” Golern memiringkan kepala. “Kau bahkan tak berani menatapku.”
Seren menunduk makin dalam.
Dita mencoba menyela. “Tuan, dia masih—”
Golern mengangkat tangan. Sunyi menguasai ruangan.
“Lihat aku.”
Seren mengangkat wajah. Napasnya tercekat. Tatapan Golern seperti tangan tak terlihat yang meraba bagian terdalam dari diri yang ingin ia sembunyikan.
“Berdiri dengan tegap.”
Seren berdiri.
“Putar.”
Ia berputar pelan, merasa hina namun tidak bisa menolak.
“Hm.” Golern hanya menggumam ringan. “Mendekat.”
Seren melangkah. Jarak menyempit. Golern menyentuh dagunya, mengangkatnya sedikit. Sentuhan itu dingin, tapi bukan kasar.
“Kau gemetar.”
“Saya… belum terbiasa, Tuan.”
“Yang kau takuti bukan ruangan ini.” Golern menatap dalam. “Kau takut padaku.”
Seren tidak menjawab. Itu saja sudah cukup sebagai pengakuan.
Golern bersandar. “Duduk sini.” Ia menepuk sofa di sampingnya.
Seren duduk. Tidak lama kemudian, lengannya ditarik ringan mendekat. Tidak memaksa, tapi tidak memberi pilihan.
“Kau memotret Toni.”
Jantung Seren seperti terjun dari tebing.
“Saya… hanya—”
“Kau kira club ini tidak punya kamera?” Golern mendecap pelan. “Atau kau memang bodoh?”
Seren gemetar. Ia ingin menangis, tapi tidak mampu.
“Tenang. Aku tidak peduli tentang anak itu. Aku hanya tidak suka orang yang bertindak gegabah.”
Seren menunduk. “Maaf, Tuan.”
“Maaf tidak penting.”
Golern menuang sedikit minuman. “Minum.”
“Saya tidak minum alkohol.”
“Kau pikir itu pertanyaan?”
Seren meneguk. Pahit seperti luka terbuka.
“Cukup.” Golern memandangnya lagi. “Duduk lebih santai.”
Seren mencoba. Gagal. Tubuhnya makin kaku.
“Tsk. Anak ini.”
Keheningan menggantung. Golern hanya mengamatinya, seolah mencoba menilai berapa lama sebelum Seren runtuh.
Ketukan pintu memutus momen itu. Bodyguard membisikkan sesuatu. Golern mengangguk.
“Kau tunggu di ruang belakang,” katanya datar. “Aku belum selesai denganmu malam ini.”
Seren berdiri cepat. “Baik, Tuan.”
“Dan jangan kabur. Jangan menangis. Jangan buat wajah bodoh itu.”
Seren menunduk lagi. “Iya, Tuan.”
Ia masuk ke pintu kecil di sudut. Ruang itu gelap, dingin, hanya ada sofa kecil. Saat pintu tertutup, semua ketenangan palsu langsung luruh.
Seren jatuh duduk, menggenggam lututnya.
“Aku ingin pulang…” bisiknya.
Namun dari balik dinding tipis, suara Golern terdengar. Tenang. Berat. Tak tergesa. Dan Seren tahu, malam itu belum selesai.
...****************...
......TBC......