Setiap tahun selalu saja para pembantu yang masih perawan akan meninggal dunia, namun mereka tidak ada yang sadar dengan hal itu
Hingga akhir nya Dila datang ke rumah itu untuk mencari tahu tentang keberadaan sang adik yang hilang entah ke mana, dan tempat terakhir dia kerja adalah rumah keluarga Susanto.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Mimpi yang datang
Sreeet.
''Aduh!'' Dina menjerit ketika kaki dia tergores oleh daun yang ada di sekitar tempat dia berjalan.
''Yaaah berdarah seperti ini.'' keluh Dina karena kaki dia memang berdarah.
Sudah berulang kali dia melewati kawasan tersebut dan ternyata memang masih berputar-putar saja tanpa ada jalan keluar, walau dia telah berusaha sekuat tenaga namun tetap saja Dina tidak akan pernah bisa keluar sebelum mendapat penyiksaan dari penghuni tempat ini.
Dina juga tidak tahu kenapa dirinya selalu berada di tempat mengerikan tersebut dan tidak pernah bisa keluar dengan perasaan lega, sejak kejadian di masa lalu itu dia terus aja mendapat mimpi buruk dan terkadang merasa begitu Jengah untuk tertidur walau hanya sebentar saja, lihat hati hanya ingin tidur sebentar tapi kalau sudah terkejam maka dia tidak akan pernah bisa terbangun dengan perasaan yang bahagia.
''Dinaaaaaa....
''Siapa kau sebenarnya bajingan?!'' teriak Dina mulai kesal.
''Dinaaaaaa....
''Cukup bangsat, aku tidak mau punya urusan dengan kau!'' pekik Dina.
Agar dia terus tidak mendapat suara seperti itu maka wanita ini berlari kencang meninggalkan kawasan tersebut dan menuju jalan setapak, walau dia sudah berusaha berlari kencang namun terasa begitu lambat seolah kaki ini ditarik oleh sesuatu agar tidak bisa berlari meninggalkan kawasan yang ada di sekitar sana.
Suara hewan malam terdengar begitu mengerikan sehingga membuat Siapa saja yang ada di sana pasti akan merasa merinding, Dina juga sebenarnya sudah merasa lelah dengan keadaan ini namun mau bagaimana lagi karena mimpi buruk itu terus saja datang untuk menghantui tidur dia di malam atau siang hari seperti sekarang ini.
Meminta tolong kepada dukun juga sudah dia lakukan namun ternyata itu sama sekali tidak mempan sehingga dia mulai merasa putus asa atas hidup yang telah dia terima itu, ingin protes juga tidak bisa karena mau protes kepada siapa dan hanya bisa menerima dengan perasaan begitu hancur serta marah kepada orang terdekat.
Ini adalah salah satu alasan kenapa sampai saat ini hubungan Dina dan juga Vera menjadi renggang dan tidak sedekat seperti dulu lagi, itu semua karena dirinya telah mengalami nasib yang begitu buruk dan Dina juga sebenarnya tidak seberapa terima dengan kelakuan viral yang mengungkap pesugihan milik ayah mereka di masa lalu.
Dieeeeeek.
''Aaaaghhh!'' Dina menjerit keras karena dari belakang dia tertendang oleh sesuatu.
''Dinaaaaaa..... reneo karo aku.'' suara itu kembali terdengar untuk memanggil wanita itu.
''Siapa kau ini? Kenapa kau mengambil tindakan seperti ini kepada aku!'' Dina berteriak keras karena dia memang sudah mulai merasa putus asa.
''Dinaaaaaa.....
''Tunjukkan wujud mu sialan!'' bentak Dina.
Namun sosok itu sama sekali tidak mau menampakkan diri di hadapan Dina dan hanya terdengar suara serta angin yang terus berkelebat ke sana kemari, dinas sudah sejak sangat lama ingin melihat wujud dari iblis ini namun dia tidak pernah berhasil sehingga rasa kesal itu bertumpuk di dalam hati dia sendiri.
''Tolong jangan buat aku seperti ini karena aku tidak pernah membuat kesalahan kepada dirimu.'' kembali Dina berteriak.
''Aku selalu ada di sini untuk membawa kau kembali di masa yang Jaya itu.'' suara misterius kembali terdengar.
''Jauhi aku! Jangan pernah ganggu aku lagi karena aku tidak pernah punya urusan dengan dirimu.'' tolak Dina.
''Mau sekuat apa saja kau menolak maka itu tidak akan merubah fakta bahwa kau memang anak dari penganut pesugihan, bahkan sekarang kau juga telah mengambil pesugihan itu.'' terdengar suara yang sangat geram.
''Tidak, Jangan pernah ganggu aku seperti ini karena aku tidak memiliki urusan dengan dirimu!'' sekuat tenaga Dina bangun untuk berlari.
Dina berlari kencang meninggalkan kawasan itu dan tidak peduli dengan para Duri yang menyangkut di tubuh dia sehingga seluruh tubuh tergores tanpa ada sisa, sebab Sepertinya di belakang sana seperti ada yang mengejar dengan kekuatan tinggi sehingga Dina tidak mau bila nanti sampai tertangkap.
Sreeeeet.
Sreeeeet.
''Dina.'' Vera mengguncang tubuh yang sang adik yang terlihat begitu kejang ketika terbaring di sofa.
''Kak Dina dia terasa begitu dingin sekali ini.'' Aura juga panik ketika menyentuh tubuh Dina.
''Din, ayo bangun sekarang!'' Vera panik Bukan main melihat keadaan sang adik.
''Ayo buka mata Kakak sekarang dan kenapa ini terasa semua dingin, Apakah Dina sedang sakit keras?'' Aura sampai menangis karena terlalu ketakutan.
Dina perlahan membuka mata dan dia menyadari bahwa dirinya sudah terbangun dari mimpi buruk yang sangat mengerikan itu, tidak pernah dirinya bisa bangun dengan perasaan normal karena yang ada dia akan bangun dengan rasa takut begitu besar. orang yang tidak tahu maka akan menganggap Dina memiliki kesempurnaan hidup yang begitu luar biasa, namun Sebenarnya dia menyimpan semua duka itu sendirian dan tidak pernah bercerita.
''Kakak Kenapa seluruh tubuh menjadi dingin seperti ini dan apa kita perlu untuk pergi berobat?'' Aura bertanya dengan nada yang sangat cemas.
Vera juga cemas melihat keadaan sang adik yang begitu tertekan dan bahkan ketika bangun Dina memiliki wajah yang begitu pucat seperti mayat hidup, dan yang lebih parah lagi Dina terlihat seperti orang linglung yang harus melihat keadaan terlebih dahulu agar bisa memastikan lebih lanjut lagi.
''Aku sedang ingin sendiri dan tolong jangan banyak tanya lagi.'' Dina bertanya dengan suara dingin.
''Din, Kau kenapa selalu saja seperti ini dan tidak pernah bisa bersikap hangat seperti dulu lagi?!'' Vera sudah tidak sanggup melihat sikap Dina yang terus seperti itu.
''Dengan apa yang sudah terjadi itu maka hanya manusia gila yang tetap bisa bersikap normal.'' Dina berkata dengan pandangan lurus kepada Vera.
''Nah saat ini kami hanya bertanya kenapa Kakak seolah tidak ingin bahwa kejadian itu bisa terjadi? kan kita melakukan itu semua agar Ayah tidak semakin tersesat!'' Aura berkata dengan suara pelan.
''Ayah memang tidak tersesat namun Ayah meninggal dunia dan sekarang kita sudah tidak memiliki Ayah lagi.'' Dina langsung berdiri untuk berbicara kepada aura.
''Din, apa sampai saat ini kau tidak paham bahwa Ayah kita telah tersesat dan kita menghentikan dia agar tidak ada tumbal yang lebih banyak lagi.'' Vera sungguh tak habis pikir dengan cara berpikir Dina.
Dina berlalu begitu saja meninggalkan Fera karena dia memang merasa tidak perlu untuk berdebat tentang masalah itu, mereka memiliki pikiran tersendiri dan kalau saling adu argumen maka tidak akan pernah bisa selesai, sebab tidak ada yang ingin mengalah juga di antara mereka sehingga nanti jelas hanya akan terjadi pertengkaran.
Selamat sore, jangan lupa like dan komentar nya ya.