Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Pengenalan
Pagi itu, udara di dalam gedung kantor terasa lebih sejuk dari biasanya, namun bagi Rima, rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk perutnya. Ia sudah bangun dua jam lebih awal, menyetrika seragam magangnya sampai licin tanpa satu pun kerutan, memastikan sepatunya bersih, dan bahkan berlatih berdiri tegak di depan cermin sambil melarang mulutnya untuk berbicara sendiri.
"Kamu harus tenang, Rima," bisiknya pada bayangan cermin tadi pagi. "Jangan bikin kesalahan. Jangan lari-lari. Jangan menawari makanan ke siapa pun. Dan yang paling penting, jangan sampai Pak Andre ingat wajahmu!"
Sekarang ia sudah duduk di kursi paling pojok belakang ruang rapat utama, di balik tumpukan berkas setebal dua jari. Ia berusaha menyusutkan tubuhnya sekecil mungkin, menundukkan kepala sampai dagunya hampir menyentuh dada, dan berdoa dalam hati agar dirinya transparan. Di sekelilingnya sudah duduk belasan anak magang lain yang tampak tenang dan percaya diri, sibuk memeriksa buku catatan atau berbisik pelan dengan teman di sebelahnya.
Rima melirik sekilas ke arah pintu ruangan, lalu segera menunduk lagi. Bayangan wajah dingin Andre masih terbayang-bayang di kepalanya. Rasanya baru kemarin ia masuk sembarangan ke mobil pria itu, menawarinya gorengan, lalu lari ketakutan. Bagaimana kalau Andre mengenalinya? Bagaimana kalau ia langsung dikeluarkan dari ruangan? Atau lebih parah lagi, dijadikan contoh buruk di depan semua orang?
"Selamat pagi semuanya," suara ramah Bu Tia, staf bagian SDM, memecah keheningan saat ia berdiri di depan ruangan. "Terima kasih sudah datang tepat waktu. Sebelum kita mulai sesi perkenalan dan penjelasan tugas, sebentar lagi Bapak Direktur Utama akan menyapa kalian semua."
Ruangan seketika menjadi hening. Bahkan suara gesekan kursi pun terdengar berhenti. Rima menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dadanya.
Pintu ruang rapat terbuka perlahan.
Langkah kaki yang tenang namun berwibawa terdengar mendekat. Rima tidak berani mendongak sedikit pun, matanya terpaku pada garis-garis di lantai keramik. Ia tahu siapa yang datang. Udara di ruangan seolah berubah menjadi lebih dingin begitu sosok itu berdiri di dekat meja depan.
"Selamat pagi," suara berat dan datar itu terdengar jelas di setiap sudut ruangan. Tanpa nada ramah, tanpa senyum, hanya kalimat yang tegas dan berwibawa.
"Selamat pagi, Pak Andre!" jawab serempak semua orang di ruangan.
Rima ikut berbisik pelan, nyaris tak terdengar. Tangannya meremas ujung rok seragamnya dengan kuat. Ia berharap, sungguh berharap, tatapan mata tajam itu tidak akan sampai ke pojok belakang tempatnya bersembunyi.
"Perkenalkan, saya Andre Pratama, Direktur Utama perusahaan ini," lanjutnya singkat. "Saya tidak suka berpidato panjang lebar. Saya hanya ingin menyampaikan satu hal penting sebelum kalian memulai masa magang."
Andre berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah anak magang di depannya dengan tatapan yang membuat siapa pun tidak berani menunduk sembarangan, kecuali Rima yang sudah menunduk sedari tadi. Namun saat matanya menyapu ke arah barisan paling belakang, langkahnya terhenti sepersekian detik.
Ia melihat gadis yang duduk di pojok paling ujung, yang berusaha menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan berkas. Punggungnya yang sedikit membungkuk, rambut yang diikat kencang namun masih ada beberapa helai yang berantakan... Andre mengenali sosok itu sekaligus.
Tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang dingin, Andre menyebutkan nama dari daftar di tangannya.
"Rima. Bagian Desain Kreatif."
Nama itu disebut dengan nada biasa, namun bagi Rima rasanya seperti petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. Ia tersentak kaget, kepalanya terangkat secara refleks, dan matanya langsung bertemu dengan mata Andre yang sedang menatap lurus ke arahnya.
Wajah Rima seketika memerah padam. Ia buru-buru berdiri dengan tergesa-gesa sampai kursi di belakangnya berbunyi berdecit keras.
"I-iya Pak! Hadir Pak!" suaranya sedikit melengking karena gugup.
Di sekelilingnya, beberapa anak magang lain menoleh kaget lalu menahan senyum. Rima ingin sekali menghilang saat itu juga.
Andre masih menatapnya sebentar, tidak ada perubahan ekspresi, tidak marah, tidak tertawa, hanya pengamatan tenang seolah memastikan bahwa gadis ceroboh itu benar-benar ada di ruangan ini. Lalu ia mengangguk pelan, memberi isyarat agar Rima duduk kembali.
"Duduk," ucapnya singkat, lalu melanjutkan pidato seolah tidak terjadi apa-apa. "Saya sudah membaca berkas kalian semua. Saya tahu kalian memiliki potensi, ide-ide baru, dan semangat yang tinggi. Namun di perusahaan ini, semangat saja tidak cukup."
Ia berjalan perlahan di depan meja rapat, suaranya terdengar tegas dan berat.
"Kedisiplinan, ketelitian, dan tanggung jawab adalah syarat mutlak. Di sini tidak ada alasan untuk kesalahan karena lupa, karena panik, atau karena kecerobohan yang tidak perlu. Semua pekerjaan harus rapi, semua tenggat waktu harus dipenuhi dengan tepat. Satu kesalahan kecil bisa berdampak besar bagi tim dan bagi perusahaan."
Matanya kembali melirik sekilas ke arah Rima, lalu berlanjut ke orang lain.
"Jadi saya harap kalian semua menanamkan hal itu di dalam pikiran kalian sejak hari pertama. Jangan membawa kebiasaan sembarangan ke sini. Kerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, dan hargai waktu orang lain."
"Siap, Pak!" jawab serempak semua anak magang.
Rima mengangguk kencang sampai lehernya terasa pegal. Mulutnya ia rapatkan sekuat tenaga, berusaha menahan diri agar tidak berkomentar atau berbisik sendiri seperti biasanya. Ia paham betul pesan tersirat dari ucapan Andre tadi. Itu teguran khusus untuknya. Tentang salah masuk mobil, tentang panik, tentang tas yang berantakan.
Setelah Andre selesai menyampaikan pesannya, ia menoleh ke arah Bu Tia. "Saya serahkan sisanya kepada Anda. Pastikan mereka memahami aturan dengan baik."
"Baik, Pak Andre."
Andre berjalan keluar ruangan dengan langkah tegap, diikuti pandangan semua orang. Pintu tertutup rapat, dan baru setelah itu suasana ruangan menjadi sedikit lebih santai.
Rima baru berani menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.
"Wah, Pak Andre kelihatan tegas banget ya," bisik gadis di sebelahnya yang bernama Sari. "Kamu tadi kaget banget ya Rim? Wajahmu merah padam."
"Iya... namaku dipanggil duluan aja aku udah gemetar," jawab Rima pelan, berusaha menjawab seperlunya saja agar tidak banyak bicara. "Dia kelihatan orang yang sangat teliti banget ya."
"Banget! Katanya beliau perfeksionis tingkat dewa. Nggak suka berantakan, nggak suka telat, nggak suka kebisingan," tambah Sari sambil merapikan buku catatannya. "Kita harus hati-hati banget kalau kerja di bawah pengawasannya."
Rima hanya mengangguk lagi, tapi di dalam hatinya ia berteriak. Tahu banget! Aku udah merasakannya duluan!
Bu Tia kembali berdiri di depan dan mulai menjelaskan pembagian tugas serta jadwal pembimbing masing-masing. Rima mendengarkan dengan saksama, matanya lekat-lekat pada catatan di depannya, berjanji dalam hati untuk menjaga jarak sebaik mungkin dengan ruangan lantai atas tempat Andre bekerja.
Namun takdir sepertinya punya rencana lain.
Saat sesi perkenalan selesai dan semua orang mulai beranjak berdiri, Bu Tia menunjuk ke arah Rima.
"Rima, kamu sebentar ya. Kamu ditugaskan langsung di bawah pengawasan tim khusus yang dipimpin oleh Pak Andre. Jadi nanti kamu akan sering berkoordinasi dengan ruangan lantai atas."
Rima melongo lebar, mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar. Sari menepuk pundaknya pelan sambil tersenyum simpati.
"Beruntung sekali kamu Rim. Semangat ya menghadapi Pak Andre yang dingin itu."
Rima hanya bisa tersenyum kecut sambil memegang dadanya yang kembali berdegup kencang. Ia berharap bisa bersembunyi, tapi malah ditugaskan ke area yang paling ingin ia hindari.
"Ya ampun..." bisiknya pelan, "Satu janji aja udah susah ditepati, gimana ini ya..."
Ia mengumpulkan barang-barangnya dengan gerakan hati-hati, memastikan tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang berantakan. Lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah perlahan, berharap hari-hari ke depannya tidak akan seberat bayangannya sekarang.
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏