SADNESS
Someone POV
September, 2018.
Cklek. Dritt—
Aku berjalan pelan di antara perabotan berdebu, menyapa penglihatan ini dengan semua kenangan yang tersimpan apik di setiap sudut rumah.
Di dapur, ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu, taman, dan terakhir kamar ini. Dengan pelan aku membukanya. Aroma yang dulu kuat kini mulai samar tercium, namun masih tetap membuat candu.
Memandang sekitar, dapat kulihat semua perabotan masih di tempat yang sama. Tidak ada yang berubah: kasur, meja rias, meja belajar, lemari, dan yang terakhir, rak buku yang hanya diisi oleh lima buku usang.
Dengan pelan aku mulai melangkah ke arah rak buku, mengambil sebuah buku tua dengan sampul navy yang sudah termakan usia.
Aku mulai membuka selembar demi selembar halaman dengan sangat hati-hati, mencoba untuk tidak merusak apalagi sampai merobek semua tulisan yang tercetak di kertas tua itu.
Sebuah buku tua peninggalan seorang perempuan yang berhasil menjungkirbalikkan hidupku hingga menjadi seperti sekarang. Aku sedikit tersenyum, mengingat betapa cerianya wanita ini.
Dengan memegang buku tua di tangan, aku mulai mencari tempat duduk yang pas untuk membaca, dan tanpa menunggu lama, aku langsung duduk di depan pintu balkon. Tanpa menyapu debu yang menempel di kain kursi itu, aku langsung menyamankan diri mendudukinya.
“Januari, 2013. Seren, 17 tahun...”
Someone POV End.
...****************...
Januari, 2013.
William POV
Namaku William Birtrainy. Tahun ini aku berusia 24 tahun. Tidak buruk mengatakan jika aku tidak menyukai hiruk pikuk dunia yang penuh gelimang gadis cantik maupun wanita penggoda.
Aku, William—seorang pengusaha muda tanpa rasa ingin memiliki hubungan yang akan selalu menempel hingga maut memisahkan.
Namun jangan salah, aku tetaplah pria biasa yang butuh menyalurkan keinginan kuat. Oleh karena itu, aku pun mulai mengenal klub, bertemu penghuni dunia malam, minuman keras, dan musik yang membuat telinga berdengung.
William POV End.
...****************...
...SADNESS...
...01...
...Pertemuan Pertama...
...****************...
Ting! Tong!
[Notified Mr. William Birtrainy to board the plane immediately, because the plane will take off soon...]
(Diberitahukan kepada Bapak William Birtrainy untuk segera menaiki pesawat, karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas.)
Ucap seorang pramugari dari tempatnya.
Sementara itu, seorang pemuda Jerman masih santai melakukan hal tak pantas di toilet bandara. Ia tidak menghiraukan himbauan dari sang pramugari.
“Du bist auch ziemlich gut im Unterhaltungsdienst,”
(Kau cukup lihai juga untuk fun service,)
Pemuda itu berbicara pelan dan dalam. Ia masih memberikan cumbuan basah di sekitar leher sang pramugari.
Dengan sedikit lenguhan, pramugari itu malah semakin memberikan akses bagi pemuda itu. Ia membuka mata, memandang langit-langit toilet dengan mata sayu.
“Ah... yes... ah... more...” desah wanita itu, merasa nikmat.
“Lassen Sie es mich schnell beenden,”
(Biarkan aku menyelesaikannya dengan cepat,)
Bisik pemuda itu semakin mempercepat tempo gerakan hingga akhirnya benih-benih itu berhasil terlepas dengan bebas.
“Ah... Gute Arbeit, du bist eine tolle Flugbegleiterin,”
(Ah... kerja bagus, kau memang pramugari yang hebat,)
Ucap pemuda itu, melepas kejantanannya yang masih tertutupi kondom dan berjalan ke arah wastafel untuk membersihkan diri serta memperbaiki penampilan.
Sementara sang pramugari masih mencoba mengambil napas seraya tersenyum. Setelah merasa baik, ia ikut memperbaiki penampilannya dan berjalan ke arah pemuda itu hanya untuk sekadar memeluknya dari belakang.
“Ich freue mich auf die nächste Gelegenheit, meine Liebe,”
(Aku menantikan kesempatan berikutnya, sayang,)
Lirih wanita itu, mengarahkan wajah pemuda ke arahnya. Mereka saling menatap sejenak—dua mata berbeda warna—semakin dalam hingga mereka saling mengecup, mencium, saling berperang lidah hingga menciptakan kecipak basah yang kental.
[We again appeal to Mr. William Birtrainy to board flight number xxxx immediately as the plane is about to take off,]
(Kami kembali menghimbau Bapak William Birtrainy untuk segera naik ke pesawat dengan nomor penerbangan xxxx, karena pesawat akan segera lepas landas.)
Suara pemberitahuan kembali menggema, menginterupsi kegiatan dua manusia berbeda gender yang masih dalam suasana panas.
“Ihr habt den Ruf gehört, wir müssen uns beeilen,”
(Kamu dengar panggilannya, kita harus cepat,)
Tukas sang pemuda, melepaskan diri dari pramugari dan langsung meninggalkannya tanpa memberi kepastian yang jelas pada wanita itu.
...****************...
“William Birtrainy?” tanya pramugari yang sudah menunggu di garbarata.
“Yes, it’s me,” jawab pria itu. William menyerahkan tiketnya.
“Well, please follow me to your seat, Mr. William,”
Instruksi pramugari memandu William.
Drrrtt... Drrt...
Suara itu berasal dari saku jas William, namun ia tak kunjung mengangkatnya dan membiarkan suara itu terus berbunyi hingga ia mencapai kursinya.
Ia memilih duduk dengan nyaman, namun seketika sebuah laptop merek terkenal langsung diletakkan di atas meja tepat di depan William.
William melirik ke samping. Seorang pria dengan senyuman bisnis memberikan gestur pada William untuk menjawab panggilan.
Dengan muka kesal, William kembali menatap ke arah layar laptop. Dari layar terlihat jelas panggilan video bersama rekan bisnis pribumi. Pria yang duduk di samping William mendekat, ia berbisik:
“Ein kurzes Geschäft mit Unternehmen A über Diamanten, wir sprachen eine Weile miteinander und Herr Gundur war fest davon überzeugt, dass es Diamanten gab.”
(Bisnis singkat bersama perusahaan A mengenai berlian. Kami sudah berbicara sebentar dan Tuan Gundur bersikukuh bahwa di sana memang ada berlian.)
William langsung mengerutkan kening. Ada lagi satu rekan bisnis ajaib.
“Baiklah, Tuan Gundur. Langsung saja. Di mana lokasinya?”
“Berada di puncak tertinggi kota, Sir,” balas Gundur dari seberang sana.
“Oh, benarkah? Tanah ini berada di puncak? Apa Anda yakin di sana memiliki sumber berlian?” tanya William menyelidik.
“Tentu saja, Sir Will. Ini salah satu bukti yang saya temukan di lokasi,” sahut pria itu, berjalan dan menunjukkan lokasi tempat ia menemukan sebongkah berlian indah.
“School!? Are you crazy?! It’s not funny, you know, dude! Jika kau ingin membual, sebaiknya kau cari orang yang idiot. Kau membuang waktuku,” geram William, hampir menutup layar laptop kalau saja tidak mendengar sebuah ucapan paling meyakinkan.
“Wait!!! Sir William, please give me some time to explain the advantages to you!”
Seorang pria lainnya bersuara, membuat William langsung urung mematikan laptop.
“Ya, apa yang bisa kau jelaskan?!” hardik William, mulai jengah dengan pembahasan yang semakin tidak menguntungkan ini.
“Sesuai janji saya kepada Anda, Pak. Saya telah menginvestigasi seluruh Riau untuk mendapatkan tanah yang Bapak inginkan. Dan di sinilah tempatnya saya menemukan benda berkilauan ini, Pak. Mungkin memang cukup jauh aksesnya, tapi saya yakin tanah ini merupakan penghasil emas dan berlian murni. Bapak tidak akan kecewa.”
“Hm...” William mulai tertarik dengan topik ini. Matanya senantiasa memandang ke arah dua bongkahan berkilau yang digenggam oleh pria di seberang sana.
“Kal—”
Tuk! Tuk!
Ucapan William terinterupsi oleh sebuah tangan yang menepuk bahunya.
“Huh?” William memalingkan pandangannya ke arah samping. Dapat ia lihat, seorang pramugari kini tersenyum canggung ke arahnya dengan kedua tangan menyatu.
“A... maaf mengganggu waktunya sebentar, Tuan, tapi bisakah Anda melakukan panggilan di jam lainnya? Karena pesawat akan segera lepas landas,” tanya pramugari itu.
William hanya memperhatikan. Tidak ada rasa ingin membantah ataupun menjawab. Ia malah memilih berekspresi ceria dengan senyum tipis penuh rahasia.
“Jadi s—”
Panggilan terputus. William langsung menutup layar laptopnya dan membuang muka dari sang pramugari yang langsung tegang di tempat.
William memangku wajahnya dengan sebelah tangan seraya menyilangkan kedua kakinya dengan angkuh.
“Siapa namamu?” tanya William dengan suara rendah.
Pramugari itu langsung bergetar, namun ia mencoba untuk tetap tenang dan menjawab dengan mantap.
“Dina Ratusadewi, Sir.”
Cklek
“Bagaimana, Din?” tanya teman Dina yang sudah menunggu kabar bahagia dari temannya itu.
Namun Dina malah menampilkan wajah frustrasi, tidak menghiraukan pertanyaan dari teman sesama pramugarinya.
“Din?” tanya teman pramugari lainnya.
“Kamu kenapa?”
Dina langsung membalikkan badan, menghadap ke arah semua temannya yang sudah berkumpul siap mendengarkan.
“AKU DITAMPAR!!! Hwaaa...!”
Teriak Dina sampai ke kursi William yang tengah meminum vodka dengan santai.
“Robert, aku mau wanita itu ditendang dari pesawat ini,” perintah William, meletakkan gelas vodka-nya ke tempat yang sudah disediakan.
Pria yang duduk di samping William langsung menunduk.
“Tentu, Sir,” balas pria itu—Robert. Ia hendak berlalu pergi, namun langsung diurungkannya karena William kembali bersuara.
“Oh ya, dan satu hal lagi. Beri peringatan keras kepada para pramugari kelas rendah itu untuk tidak menggangguku saat aku bekerja. Aku sangat benci diganggu, apalagi diinterupsi.” Lanjut William, menatap tajam Robert.
“A—”
“Dan kau tahu, Robert... pesawat ini sungguh jelek. Lain kali, jika kau memilih pesawat seperti ini lagi, aku yang akan menerbangkanmu sampai ke liang lahat. Oh ya, dan satu hal lagi...”
Robert yang malang. Berkat refleksnya yang begitu lambat, akhirnya berakibat pada rambutnya yang harus ditarik kencang oleh sang atasan, lalu kepalanya dipukulkan pada layar monitor di depan mereka. Sementara penumpang yang duduk di depan hanya bisa berdoa semoga penerbangan berjalan lancar tanpa hambatan oleh dua makhluk di belakangnya itu.
“Apa-apaan ini semua!? Aku ditempatkan dalam satu pesawat bersama rakyat jelata kelas ekonomi! Di mana rasa malumu pada atasan, Robert!? Kenapa kau tempatkan aku di kelas ekonomi dengan kau yang duduk di sebelahku, hah!? Aku tidak mau tahu, di penerbangan berikutnya sewa saja jet sekalian!”
Hardik William, menatap tangan Robert yang sempat bergetar namun segera ditahan dengan tangan satunya.
“B... baik, Tuan. Akan saya ingat kata-kata Anda.”
“Ok. Sekarang mari kita ke Riau,” ujar William dingin, tidak memperdulikan kepala Robert yang sudah mengalirkan banyak darah.
...****************...
“Ada apa dengan panggilannya, Pak?” tanya Jeno, ikut memperhatikan layar laptop yang tidak lagi menampilkan wajah seorang pria Jerman.
“Aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas, Jeno—tanah ini harus jatuh ke tangan kita secepat mungkin. Kalau tidak, kita akan tamat olehnya,” balas Gundur, berbalik menatap SMK 1 yang sudah tutup.
...****************...
...TBC...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Hapus Akun
kisah pribadi yg di balut ke cerita kah thor 😂😂😂
2025-05-17
1
❤️⃟Wᵃf༄SNѕ⍣⃝✰🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ🦀
susah banget baca nama panjang si William/Facepalm/
2025-06-13
1
Miu Nuha.
mampir kak 🤗 ,, bab novelnya isinya kok dikit? aku baca cepat boleh yaaa...
feedback ke 'ellisa mentari salsabila' ya
semoga bisa kasih ulasan 🤗
2025-04-18
1