Shofiyya Mardhia, 30 tahun menikah dengan seorang pria yang ternyata telah menikah dan Memiliki 2 orang putra.
Syafiq Azwar Maliki, 28 tahun terpaksa menikah yang kedua atas keinginan istri pertamanya.
Nuha Syafura, 26 tahun terpaksa meminta dimadu karena sakit yang dideritanya.
Semua menjadi dilema saat Shofii mengetahui kebenaran setelah janji suci terucap.
Sanggupkah mereka terus harmonis?
Bagaimana ketiganya membawa hati yang ingin memiliki namun tak ingin menyakiti ...
Mampukah Syafiq adil, tak berpihak dan tak condong pada salah satunya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Sembilan
Karin sudah pergi. Syafiq menahan tubuh Shofi yang hendak beranjak. Wajah mereka sudah sangat dekat. Baru sepasang daging kenyal itu bertemu seketika Shofi menjauhkan wajahnya sembari menutup mulut. "Ma-af ... aku mual, Mas!" Shofi ke kamar mandi setelahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keduanya duduk bersandar di head board ranjang setelah membersihkan diri bersama. Syafiq yang merasa senang sebab tali pengikatnya dengan Shofi telah terbentuk, terus menyapu dan berkali-kali mencium perut rata Shofi.
Shofi menyapu rambut Syafiq yang berada di atas perutnya. Ia bahagia Syafiq begitu antusias pada calon anak mereka. Hingga beberapa saat Syafiq menatap wajah Shofi, disapunya wajah yang tampak sedikit pucat namun tak menghilangkan rona ayunya.
"Apa ada makanan yang sedang ingin kamu makan, Sof? Aku perhatikan kamu belum makan apapun sejak aku pulang, bahkan bubur ayam yang di belikan Karin pun aku yang menghabiskannya tadi," ujar Syafiq. Untuk menjaga emosi Syafiq, Shofi memang mengatakan bubur tersebut dari Karin.
"Aku belum ingin makan apapun, Mas! Tadi pagi Karin sudah memotongkan beberapa buah dan buah sepertinya lebih mudah masuk ke mulutku saat ini," lirih Shofi. Syafiq mengangguk.
"Mass ...."
"Hem ...?"
"Sebentar lagi kita akan memiliki anak, kapan kamu akan mensyahkan pernikahan kita di mata hukum. Jangan lupa ia memerlukan bukti kelahirannya nanti, dan itu hanya bisa dibuat oleh orang tua yang pernikahannya terdaftar."
Pertanyaan yang membuat Syafiq seketika melepaskan pelukannya. Jiwanya resah, menikah secara hukum artinya ia harus membuka riwayat pernikahan pertamanya bersama Fura, hal yang saat ini masih sulit ia lakukan.
Shofi yang menyadari perubahan perilaku Syafiq melontar tanya, "Ada apa, Mas? Apa ada kata-kataku yang salah?" Shofi berasumsi.
"Ti-dak tentu kita akan segera menikah. Oh ya, sekarang katakan apa kamu sudah mulai membuat surat resignmu?" Syafiq mengalihkan pembicaraan.
"Masalah i-tu ... bagaimana jika aku membuatnya saat kandunganku mulai membesar, Mas?"
"Kamu yakin? Dengan kondisimu yang mual seperti ini, aku ragu kamu bisa bekerja dengan optimal!" Shofi terdiam mencerna setiap yang Syafiq ucapkan. Batin terdalamnya membenarkan ucapan Syafiq. Belum lagi seluruh rekannya pasti akan mempertanyakan tentang pernikahannya.
Setelah beberapa saat. "Kamu benar, Mas ... baik aku akan mempertimbangkannya!" Syafiq tersenyum.
"Oh ya, Mas ... nanti sore bagaimana jika kita memeriksakan kandunganku, aku ingin meyakinkan kehadirannya melalui USG, memastikan bahwa ia berkembang dengan baik di dalam sana." Syafiq bergeming. Kebohongan ini sungguh menyiksanya. Bahkan siang nanti ia berjanji pada Fura akan ke Rumah Sakit, dan kini di sore hari Shofi meminta mengantarnya. Ia sungguh bingung haruskah menghindari segalanya dengan kebohongan kembali.
"Sa-yang ... se-betulnya aku sangat ingin mengantarmu, tapi siang nanti aku harus kembali ke kantor!" Ya, dan lagi-lagi Syafiq berbohong.
"Kamu baru kembali tapi sudah akan pergi lagi, tak bisakah kamu izin satu hari saja untukku! Please, Mas ...!" lirih Shofi.
"Ma-af tidak bi-sa!" Syafiq menyapu lembut rambut Shofi berusaha meredam emosinya.
"Tadinya aku menyangkal ucapan Karin, tapi kini aku mulai membenarkannya ...."
"U-capan a-pa?"
"Kamu terlalu berlebihan dalam bekerja, Mas!" Kamu hanya memiliki waktu denganku setelah jam 10 malam dan di pagi sudah harus pergi lagi. Mass ... tidakkah kamu ingin menghabiskan waktu sore bersamaku? Menatap matahari menyingsing ... makan malam romantis bersama, menatap lampu dan keindahan malam Bandung! Mass ... aku ingin kamu memiliki waktu lebih banyak untukku ...!"
Syafiq mengangkat tubuhnya kini. "Mas, kamu mau ke-mana? Kamu belum menjawab, kenapa tiba-tiba beranjak?"
"Shof ...a-ku harus menyiapkan design-design yang harus kubawa nanti, ma-af!" Syafiq keluar dari kamar meninggalkan Shofi tanpa memberi respon atas keinginan Shofi.
Dalam kesendirian, jiwa Syafiq resah, ia mengutuki dirinya yang kini pandai berbohong dan berkilah, menutupi sesuatu dengan kebohongan baru. Nalurinya sebagai hamba hancur. Ia sadar semua ini salah dan harus segera diperjelas. Tapi ada ketakutan besar Shofi meninggalkannya sebab tak suka menjadi orang ketiga. Syafiq berfikir ... Shofi sedang hamil, tentunya kami tak bisa bercerai sampai Shofi melahirkan, itu konskuensi terburuk. Syafiq benar-benar pusing.
"Baik aku akan jujur pada Shofi setelah tri semester pertamanya berakhir, tidak di masa ia mengalami morning sicknes seperti ini, tidak! Dan aku harus membuat Shofi sangat mencintaiku 3 bulan ini, hingga ia tak bisa lepas dariku," batin Syafiq.
________________
Tiga bulan berlalu, Shofi yang kerap mual akhirnya resign dari pekerjaan. Raihan tak menyerah berusaha menjalin pertemanan dengan Shofi. Walau tak penah direspon, Raihan tak gentar, berbagai perhatian sering ia kirim ke ponsel Shofi. Syukurnya Syafiq bukan tipikal orang yang senang memeriksa ponsel pasangan, seperti halnya Shofi yang tak senang melakukannya, ia percaya penuh pada Syafiq.
Perhatian Syafiq sungguh membuat Shofi meleleh dan merasa jatuh cinta setiap saat. Shofi yang lebih manja dan kerap meminta makanan ini itu atau meminta di ajak ke tempat-tempat khusus membuat Syafiq mulai tak adil dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Shofi. Hal yang dilakukan Syafiq untuk mengalihkan keinginan Shofi atas pernikahan negara mereka.
Kini dua hari sekali Syafiq baru ke rumah Fura. Hal yang sejujurnya berat Syafiq dilakukan. Hal yang tentu membuat Fura gelisah dan khawatir Shofi benar-benar menguasai hati Syafiq.
Sebulan sudah Shofi di rumah setelah pengajuan resignnya disetujui. Ia yang memang pribadi aktif mulai merasa bosan. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk berkebun atau mendengar ceramah agama di radio atau media online. Hingga hari ini ia mendengar bahwa akan di adakan ceramah live dari seorang ustad favoritnya di jam 1 siang di Masjid Raya, ia pun meminta izin Syafiq untuk menghadirinya, Syafiq yang melihat niat baik Shofi akhirnya mengizinkan.
Pun demikian dengan Fura, ia yang juga merasa bosan, berencana datang pada ceramah yang ia ketahui informasinya dari Bik Santi. Ia berencana membawa Hana dan Omar serta mbak Kinan dan Teh Rani bersamanya. Sembari ia mendengar ceramah, anak-anak bisa bermain dan berjalan-jalan dengan mbak Kinan. Karena lokasi sekitar masjid Raya memiliki destinasi yang menyenangkan, entah untuk memanjakan mata maupun berburu kuliner. Ponsel Syafiq yang kerap sibuk membuatnya tak bisa meminta izin, tapi Fura yakin Syafiq pasti mengizinkan, karena ia memang pergi ke tempat yang baik dan bukan untuk macam-macam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
💔Terima kasih masih mengikuti kisah halu ini❤❤