Menceritakan dua kisah, antara Gibran anak broken home yang bertemu dengan Caramel. Dari pertemuan yang tak terduga, membuat Gibran merubah sikapnya secara perlahan demi mempertahankan hubungannya. Disisi lain dirinya juga harus mengalami penderitaan selama berada di rumahnya.
Selamat membaca:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. First Kiss
...Selamat Membaca📖...
Sesampainya di kolam renang, Caramel tidak menemukan siapa-siapa. Tidak ada orang sama sekali disini, apakah orang iseng yang telah mengirimnya pesan. Dia berjalan lebih dalam menyusuri area kolam renang, kemudian duduk di pinggiran sambil bermain air.
Kolam berenang ini cukup dalam, sekitar 3 meteran. Biasanya digunakan untuk peraktek dan ekskul olahraga renang. Namun Caramel sama sekali belum pernah mengikuti praktek tersebut, waktu kelas sebelas dia jatuh sakit sehingga tidak bisa mengikuti praktek. Caramel cukup bersyukur karna waktu itu sakit, karna dia sama sekali tidak bisa berenang. Waktu kecil dia pernah tenggelam dan sampai sekarang dia belum berani untuk berenang lagi.
Caramel melirikkan matanya ke jam ditangannya. Sudah pukul 14:30, berarti dirinya sudah disini hampir setengah jam. Namun sama sekali tidak ada orang yang menghampirinya. Dia beranjak dari duduknya, langkahnya terhenti saat melihat Sandrina berdiri tepat dihadapannya. Reflek Caramel langsung mundur satu langkah. Caramel masih trauma dengan kejadian di gudang waktu itu.
"Ngapain lo disini?" tanyanya
"Ngapain? mau ketemu sama lo lah, lo lupa?"
Caramel membulatkan matanya. "Ternyata lo yang nyuruh gue kesini?"
Sandrina mengangguk. "Kenapa lo, ketakutan seperti itu, hah?!"
Caramel hendak mundur lagi, namun belakangnya tepat kolam berenang. Ah dia tidak mau tenggelam lagi untuk kedua kalinya. Caramel benar-benar bodoh, seharusnya dia tidak mudah percaya dengan pesan dari orang yang tidak di kenal. Untuk kedua kalinya dia ceroboh dalam mengambil keputusan.
"Tenang, gue nggak mau ngapa-ngapain lo kok. Asal lo mau nurut sama gue, hahah." Sandrina tertawa jelih.
"Minggir gue mau lewat!" Caramel mendorong pundak Sandrina, sayangnya Sandrina berhasil menyeimbangkan tubuhnya.
Sandrina memegang dagu Caramel, sehingga gadis itu menatap dirinya. Raut wajahnya terlihat sangat takut, tapi Sandrina senang melihatnya.
"Bukannya udah gue peringatin ya sama lo, jangan pernah deketin Gibran lagi." Sandrina memberi jeda sebentar, "Tapi lo ngelanggar itu semua dan lo tau kan apa akibatnya, jika lo berani ngelawan gue?!"
Caramel menggeleng kuat, wajahnya sudah pucat. Siapapun tolong dia. Caramel benar-benar takut sekarang, lebih takut dari pada waktu digudang. Apakah semua murid sudah pulang? kenapa tidak ada yang kesini?
"Tolong lepasin gue, gue mau pulang sekarang. TOLONG!" Caramel berteriak.
Sandrina menoleh kebelakang, menatap Liyodra yang sudah berdiri di depan tiang. Liyodra mengangkat dagunya, seperti mengisyaratkan sesuatuh. Sandrina tersenyum tipis, kemudian kembali menatap Caramel.
Dia melepaskan tanganya dari dagu Caramel, dengan mendorongnya kuat. Sehingga gadis itu terjatuh kedalam.
Byur!
"Tolong!" Caramel mengacungkan tanganya ke udara. Sandrina menatap puas, sudah mengerjai cewek tersebut.
"Syukuri lo. Rasain ini peringatan kedua buat lo!"
"San, tolongin gue." Caramel timbul-tenggelam, dia tidak bisa berenang.
"TOLONG!" Sandrina mendadak menjadi panik, ekspresinya berubah. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh arah, untung saja tidak ada orang. Liyodra berjalan menghampiri Sandrina.
"Ada apa?" Liyodra mengikuti arah dagu Sandrina. Dia terkejut ketika melihat Caramel timbul-tenggelam di dalam kolam. "Terus kita harus gimana?"
"Hemm, kita cabut sekarang!"
"Tapi-"
"Lo mau, kena DO dari sekolah?!"
Liyodra menggeleng kuat, dia tidak mau kena DO dari sekolah ini. Sandrina menarik tangan Liyodra dengan paksa, meninggalkan Caramel sendirian.
Tangan Caramel melambai meminta tolong, Ia sudah tidak tahan lagi, hampir tenggelam. Dia kembali tembul di permukaan air, Ia tidak melihat Sandrina matanya sudah buram akibat terkena air.
Blep! blep!
Caramel benar-benar tenggelam, kepalanya sudah tidak timbul ke permukaan lagi. Caramel menutup matanya. Ia mulai kehabisan nafas dengan panik dia malah menghirup air di dalam kolam.
...🎨🎨🎨...
Revan dengan Jihan sedang makan somay dipinggir jalan. Mereka hanya berdua, setelah kumpul di warjok abah Revan mengajak Jihan untuk berjalan-jalan.
"Gibran beneran marah sama, Caramel? tanya Jihan
"Nggak tau juga sih, kayaknya si iya."
"Kasian tau, aku sama Naura itu udah njelasin sama Gibran. Tapi Gibrannya nggak mau ndengerin kita."
"Udah lah, nggak usah ngurusi Gibran lagi. Dia mah orangnya keras kepala."
"Iya juga sih, tapi-"
"Jihan kan?" tanya seseorang dari arah sampingnya.
Jihan dan Revan menoleh kearah sumber suara secara bersama. Dia--Satria kakaknya Caramel, Satria berdiri disamping Jihan.
"Kak Satria? ada apa?"
"Kamu nggak sama Caramel?"
Jihan mengerutkan keningnya. "Nggak, emang kenapa kak?"
"Dari tadi dia belum pulang, kakak kira sama kamu." Satria menatap Jihan dan Revan bergantian.
Jihan menatap Revan, heran. Dia berfikir sejenak. Kemudian menatap Satria kembali. "Tadi terakhir kita ketemu di sekolahan kak, dia bilang mau ke kamar mandi, terua kita kita tinggal."
"Oke, makasih infonya. Jika kalian ketemu sama Caramel, hubungin kakak ya."
"Iya kak, nanti kita bantu cari."
Satria megangguk, kemudian pergi meninggalkan Jihan dan Revan. Dan kembali mencari Caramel, biasanya adiknya itu akan mengabarinya jika pulang terlambat. Tapi dari tadi dia berusaha menelfonnya, namun tidak diangkat. Itu membuat Satria menjadi khawatir dan cemas, seharusnya Caramel sudah pulang dari tiga puluh menit yang lalu.
Revan merogoh saku celananya, mengambil ponselnya. "Aku coba telfon Gibran."
"Ada apa?"
...🎨🎨🎨...
Setelah menerima telfon dari Revan, Gibran merai jaket dan kunci motornya. Kemudian pergi meninggalkan warjok.
Perasaan mulai cemas, seharusnya gadis itu sudah pulang setengah jam yang lalu.
"Kemana lo, Mel?" ucapnya lirih. Dia mengendarai motornya dengan cepat, menuju tempat-tempat yang sering dikunjungin Caramel.
Rasa bersalahnya mulai muncul, seharusnya dia tidak bersikap seperti itu dengan gadis itu.
Semua tempat sudah Ia kunjungi, namun hasilnya nihil. Caramel tidak ada disana. Sekarang Gibran menuju ke sekolah, dia melihat mobil berwarna merah dari kejauhan yang keluar dari gebang sekolah.
Gibran menghentikan motornya tepat diparkiran utama, melihat sekolahnya sudah sepi tapi gerbangnya masih terbuka.
Dia berlari menyurusi koridor sekolah, sambil berteriak nama gadis itu.
"CARAMEL, LO DIMANA?!"
Dia mencari Caramel dari lantai tiga hingga lantai satu. Dia hampir menyerah, berfikir gadis itu tidak ada disini.
Langkahnya terhenti tepat di lorong paling pojok, matanya mengarah ke area kolam renang. Gibran kembali berteriak memanggil nama Caramel.
Gibran mengedarkan pandangannya ke seluruh area kolam renang. Dia memfokuskan ke satu titik, seperti ada sesuatuh di dalam sana.
Dia memperjelas pengelihatannya, matanya membulat ketika itu adalah manusia. Tanpa pikir panjang Gibran langsung melepas jaketnya dan menyeburkan dirinya. Dia berenang kedalam. Melihat Caramel sudah memejamkan matanya dan tak bergerak lagi. Gibran panik, dia segera menarik tubuh Caramel dan membawanya ke permukaan.
Gibran mengusap wajahnya, kemudian menepuk pipi Caramel. Gadis itu tak sadarkan diri juga dari tadi.
"Mel, bangun!"
Gibran memperhatikan sekeliling, tidak ada orang sama sekali. Bagamana ini?
"Caramel," Gibran menepuk pipi Caramel.
Dia bedecak, kemudian mengacak rambutnya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? apakah dia harus memberikan nafas? Yang benar saja! Tak ada cara lain, dia harus melakukannya.
Perlahan dia mendekatkan wajahnya, dia bisa melihat wajah Caramel sedekat ini, cantik. Ah Gibran salah fokus sekarang.
Cup!
Bibir keduanya saling bersentuhan. Gibaran memberikan nafas buatan, dengan kedua tangannya yang membuka mulut Caramel.
"UHUK! UHUK!"
Caramel terbangun dengan terbatuk-batuk, dia mengeluarkan air dari mulutnya. Bertepatan saat Caramel beranjak duduk, Gibran menjauhkan tubuhnya.
Caramel mengedarkan pandangannya, dimana ini? apakah dirinya sudah mati? lalu siapa pangeran ini?
Astaga ini Gibran, bukan pangeran.
Bersambung.....
salam my Kids My Hero
kisah Aluna
Aq msh setia..
aq msh setia lh nungguin....
semangat terus berkarya ya thor.. ceritamu bagus.. aku suka 👍👍