Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Mulai Dekat
Kehadiran Satria di pangkalan memberikan ritme yang berbeda bagi keseharian Alisa. Jika dulu dunianya hanya berputar di antara deretan kalimat di laptop, buku biru, dan sosok kaku Ayahnya, kini ada diskusi-diskusi panjang yang sering kali melampaui waktu magrib di joglo. Satria bukan sekadar teman bicara; ia menjadi narasumber teknis yang sangat membantu untuk novel kedua Alisa yang mulai merambah ke arah ketegangan militer. Satria dengan sabar menjelaskan perbedaan berbagai jenis sandi radio, cara kerja transmisi di daerah buta sinyal, hingga filosofi di balik strategi pengepungan. Alisa merasa dunianya meluas, dan Satria adalah pemandu yang menyenangkan. Mereka sering kali terlihat tertawa bersama saat Satria menceritakan kekonyolan para teknisi saat memasang kabel di tengah hutan, sebuah pemandangan yang tak luput dari pengamatan mata tajam Mayor Cakra dari balik jendela kantornya yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari joglo tersebut.
Cakra mulai merasa ada sesuatu yang bergeser dalam ekosistem kecilnya. Sebagai seorang Komandan, ia terbiasa memegang kendali penuh, namun sebagai seorang ayah, ia mendapati dirinya berada di wilayah yang asing dan membingungkan. Ada perasaan gerah yang tidak bisa ia jelaskan setiap kali melihat Alisa dan Satria duduk terlalu dekat sambil menatap layar laptop yang sama. Bukan berarti ia tidak menyukai Satria—pemuda itu adalah perwira yang cemerlang dan sopan—tapi melihat putrinya memberikan perhatian yang begitu besar pada pria lain selain dirinya membuat Cakra merasa sedikit tersisih. Ia sering kali mendapati dirinya berdiri di teras kantor lebih lama dari biasanya, berpura-pura sedang mengamati latihan baris-berbaris, padahal telinganya dipasang tajam untuk menangkap sayup-sayup tawa dari arah joglo.
Upaya Cakra untuk tetap terlihat dewasa sering kali berakhir dengan tindakan yang sedikit canggung. Suatu sore, ia sengaja berjalan menuju joglo dengan alasan yang sangat dicari-cari. "Damar bilang ada gangguan pada jalur komunikasi cadangan. Satria, kamu sudah cek?" tanya Cakra dengan nada suara yang sedikit terlalu formal untuk sebuah sore yang santai. Satria langsung berdiri tegak, kembali ke mode perwira teladan. "Siap, Mayor! Jalur cadangan stabil, baru saja saya cek satu jam yang lalu bersama tim teknis." Cakra hanya berdehem, matanya beralih ke arah Alisa yang tampak menahan senyum melihat tingkah Ayahnya. "Bagus kalau begitu. Dan Alisa, jangan sampai tugas sekolahmu atau tulisanmu terganggu karena terlalu banyak mengobrol soal antena." Alisa hanya mengangguk patuh, meski ia tahu betul Ayahnya hanya sedang mencari alasan untuk mengawasi situasi.
Cakra kemudian duduk di salah satu kursi kayu, mengambil posisi yang membuatnya berada tepat di tengah-tengah antara Alisa dan Satria. Keheningan yang sedikit kaku sempat menyelimuti joglo itu sebelum Cakra mulai membuka pembicaraan tentang berita politik nasional yang membosankan. Satria, dengan kecerdasannya, berhasil mengikuti alur pembicaraan itu dengan sangat baik, membuat Cakra sulit untuk mencari celah kesalahan. "Kamu tahu, Satria, menjadi perwira itu bukan cuma soal teknis. Tapi soal bagaimana menjaga integritas, baik di lapangan maupun di kehidupan pribadi," ucap Cakra sambil menatap Satria dengan pandangan yang dalam. Satria mengangguk mantap. "Siap, Mayor. Saya selalu memegang teguh prinsip itu." Alisa yang merasa suasana menjadi terlalu serius, akhirnya memutuskan untuk menyela. "Yah, Satria tadi baru saja membantuku riset soal bagian akhir novelku. Ternyata komunikasi itu memang vital ya, seperti hubungan anak dan ayah."
Cakra terdiam mendengar kalimat Alisa. Ia tahu putrinya sedang menyindirnya dengan halus. Ia menghela napas panjang, lalu bersandar pada kursi. "Ya, komunikasi itu sulit kalau salah satu pihaknya terlalu keras kepala," gumam Cakra, sebuah pengakuan jujur yang membuat Alisa dan Satria saling berpandangan. Ketegangan itu perlahan mencair. Cakra menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus memagari Alisa. Putrinya sudah beranjak dewasa, dan Satria adalah pengaruh positif yang membawa kesegaran di tengah rutinitas pangkalan yang menjemukan. Meskipun hatinya masih merasa sedikit "gerah" karena harus berbagi perhatian Alisa, Cakra mencoba untuk tetap berdiri sebagai pelindung yang bijaksana, bukan sebagai tembok penghalang.
Malam itu, setelah Satria kembali ke barak, Cakra mengajak Alisa berjalan kaki sebentar menuju rumah dinas. Udara malam pangkalan terasa sejuk dan tenang. "Satria itu anak yang baik, Lis," kata Cakra tiba-tiba tanpa melihat ke arah Alisa. "Tapi ingat, fokusmu tetap pada pendidikan dan karyamu. Ayah hanya tidak mau kamu kehilangan arah karena terlalu cepat merasa nyaman." Alisa menggenggam lengan Ayahnya, merasakan otot lengan yang keras namun selalu memberikan rasa aman. "Aku tahu, Yah. Satria justru mendukungku untuk terus menulis. Dia bahkan sering memberikan kritik yang tajam kalau ceritaku mulai terasa tidak masuk akal. Ayah tidak perlu khawatir, ksatria kecil Ayah tidak akan lari ke mana-mana."
Cakra tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang kini terasa jauh lebih tulus dan sering muncul. Ia menyadari bahwa membiarkan Alisa dekat dengan Satria adalah ujian baru baginya—ujian untuk memercayai hasil didikannya sendiri. Ia telah membesarkan seorang ksatria yang cerdas, dan ksatria itu berhak memilih siapa yang akan berjalan di sampingnya. Di bawah cahaya lampu jalan pangkalan yang remang-remang, Cakra merasa bebannya sedikit terangkat. Ia mulai belajar untuk merelakan ruang-ruang dalam hidup Alisa diisi oleh orang lain, selama ia tahu pangkalan utama putrinya tetaplah berada di pelukannya. Hubungan Alisa dan Satria mungkin baru dimulai, namun Cakra sudah bersiap untuk menjadi saksi, meskipun sesekali ia masih akan muncul di joglo dengan alasan mengecek genset atau kabel telepon.