Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto yang Tersebar
Pagi itu, Aruna datang ke sekolah seperti biasa.
Turun dari angkot di depan gerbang. Jalan pelan masuk. Tas di pundak. Jurnal dipeluk di dada.
Tapi...
Ada yang aneh.
Atmosfernya... beda.
Aruna ngerasain itu begitu masuk gerbang.
Anak-anak yang lewat... ngeliat dia. Terus bisik-bisik. Ada yang ketawa kecil. Ada yang ngeliatin dari atas sampai bawah dengan tatapan... menghakimi.
Aruna... bingung.
*Kenapa... kenapa mereka ngeliat aku kayak gitu?*
Dia jalan lebih cepat. Kepala nunduk. Pengen cepet-cepet sampe kelas.
Tapi bisikan-bisikan itu... makin keras.
"Itu dia..."
"Serius? Dia?"
"Nggak nyangka gue..."
"Munafik banget sih..."
Aruna... berhenti sebentar. Dadanya mulai sesak.
*Ada apa sih...*
Tiba-tiba Kayla lari dari arah kantin. Napasnya ngos-ngosan. Wajahnya... panik. Pucat.
"Run! Run!" teriak Kayla, ngejar Aruna.
Aruna noleh. "Kay? Kenapa—"
Kayla langsung narik tangan Aruna ke pojok koridor yang agak sepi. Napasnya masih ngos-ngosan. Tangannya gemetar pegang hape.
"Run... ada... ada yang nyebarin foto kamu..."
Aruna... kedip-kedip. "Foto? Foto apa?"
Kayla nunjukin hapenya dengan tangan gemetar.
Dan Aruna...
Aruna ngeliat layar itu.
Foto.
Foto dia... dipeluk Arya.
Arya—kakaknya—lagi peluk dia dari belakang di depan gerbang sekolah. Foto itu diambil... kemarin sore. Pas Arya jemput dia pulang sekolah. Pas Arya lagi becanda peluk dia dari belakang sambil bilang "Adik gue udah gede nih, udah SMA, tapi masih manja juga."
Tapi...
Tapi foto itu diambil dari sudut yang... yang bikin mereka keliatan... intim banget.
Keliatan kayak... cowok cewek yang pacaran.
Bukan kakak adik.
Dan yang bikin makin parah...
Caption di bawah foto itu.
**"Ternyata Aruna punya cowok. Pantesan berani deket-deket Dhira. Main dua kaki nih ceritanya?"**
Aruna... nggak bisa napas.
Tangannya gemetar pegang hape Kayla.
Matanya membaca komentar-komentar di bawah foto itu.
Komentar yang... kejam.
Sangat kejam.
Dimas: Gue tau sih dia munafik. Sok polos padahal aslinya playboy.
Riko: Kasian Dhira dibohongin. Untung belum jadian.
Alya: Dasar cewek murahan. Pantes aja suka sembunyi-sembunyi.
Sari: Kakak katanya, mana ada kakak peluk adik sesayang itu. Mending ngaku aja deh.
Adrian: Wkwkwk gue udah curiga dari dulu. Cewek pendiam tuh biasanya yang paling bahaya.
Dan yang paling nyakitin.
Dhira: ...
Dhira cuma kasih react emoji 'kaget'. Nggak komen. Tapi... dia react.
Berarti dia... dia liat foto ini.
Berarti dia... mungkin... percaya?
Aruna... dunianya berputar.
Kakinya lemes. Tangannya gemetar parah.
"I-ini... ini kakakku..." suaranya keluar—pelan, gemetar, nyaris nggak kedengeran. "Kay... ini... ini Arya. Kakak kandungku..."
Kayla memeluk Aruna erat. "Gue tau, Run. Gue tau itu kakak lu. Tapi... tapi mereka nggak percaya. Mereka udah... udah terlanjur percaya sama foto itu."
"Tapi... tapi ini salah paham... ini... ini bukan kayak yang mereka pikir..." Aruna mulai nangis. Air matanya jatuh. "Kay... aku... aku harus jelasin... aku harus bilang ke mereka—"
"Run, dengerin gue." Kayla megang bahu Aruna. Menatap matanya. "Lu jelasin juga mereka nggak bakal percaya. Mereka... mereka udah pengen percaya yang jelek tentang lu. Karena mereka... mereka iri."
"Tapi aku... aku nggak bisa biarkan mereka... mereka pikir aku... aku cewek yang..."
Aruna nggak sanggup ngomong lebih lanjut. Dadanya sesak banget. Napasnya pendek-pendek.
Kayla memeluk Aruna lagi. Erat. "Gue percaya sama lu, Run. Gue tau itu kakak lu. Dan... dan orang-orang yang penting juga bakal percaya."
Tapi Aruna... nggak yakin.
Nggak yakin siapa yang bakal percaya.
---
Jam pertama belum mulai.
Aruna jalan ke kelasnya dengan kepala nunduk. Kayla menggandeng tangannya—nggak mau lepas, takut Aruna jatuh atau... atau ngapa-ngapain.
Setiap langkah... berat banget.
Bisikan-bisikan mengikutinya kayak hantu.
"Itu dia..."
"Berani banget sih mukanya..."
"Malu-maluin..."
"Kasian cowoknya, dibohongin..."
Aruna... nggak kuat.
Tapi dia maksa jalan terus. Sampai ke kelas. Duduk di bangku paling belakang—bangku yang biasa dia duduki.
Dia taruh tas di meja. Peluk jurnalnya erat di dada.
Kepalanya nunduk.
Matanya... udah basah.
Kayla duduk di sebelahnya. Nggak ngomong apa-apa. Cuma... ada di sana. Jadi tembok pelindung buat Aruna.
---
Sementara itu.
Di pojok koridor lantai dua.
Nisa berdiri bersama gengnya—Alya, Dinda, Sari.
Mereka... ketawa.
Ketawa puas.
"Bagus, Nis. Rencana lu sukses," kata Alya sambil ngeliatin hapenya yang nunjukin foto Aruna.
"Gue bilang juga kan. Gampang kok menjatuhkan cewek kayak dia," jawab Nisa dengan senyum... senyum yang penuh kepuasan. Senyum yang... jahat.
Dinda nyengir. "Sekarang Dhira pasti udah tau. Pasti dia jijik sama Aruna."
"Dan Aruna bakal makin terpuruk," tambah Sari. "Kasian sih... tapi salah dia sendiri yang sok deket-deket Dhira."
Nisa... ngeliat ke arah kelas Aruna dari kejauhan.
Matanya... dingin.
"Dia harus tau tempatnya," gumam Nisa pelan. "Dia nggak pantas dapet Dhira. Aku yang pantas."
---
Kelas XI IPA 2.
Elang duduk di mejanya. Paling belakang. Pojok kanan.
Hapenya di tangan. Layarnya nunjukin foto Aruna yang... yang lagi viral itu.
Elang... ngeliat foto itu lama.
Tangannya... mengepal. Erat. Sampai buku-buku jarinya memutih.
Rahangnya mengeras.
Matanya... merah.
*Aruna...*
*Mereka... mereka nyakitin kamu lagi...*
*Dan... dan aku nggak bisa apa-apa...*
Elang scroll ke bawah. Baca komentar-komentar kejam itu satu per satu.
Setiap komentar... bikin dadanya makin panas. Makin marah.
*Kalian... kalian nggak tau apa-apa tentang dia...*
*Kalian... kalian cuma tau nyakitin orang...*
Tapi yang bikin Elang paling marah...
Adalah... foto itu diambil dan disebarkan oleh... Nisa.
Sepupunya sendiri.
Elang... berdiri. Cepat. Kakinya jalan keluar kelas.
Farhan—temennya—nanya, "Lang, mau ke mana?"
Tapi Elang nggak jawab. Cuma jalan cepet keluar.
---
Elang nemuin Nisa di koridor lantai dua.
Cewek itu lagi ngobrol sama gengnya. Ketawa-ketawa.
Elang jalan mendekat. Langkahnya... tegas. Matanya... menatap tajam.
"Nisa."
Suaranya... rendah. Tapi mengancam.
Nisa noleh. Ngeliat Elang. Senyumnya... hilang. Diganti dengan tatapan... dingin.
"Kenapa, Bang?"
"Lu yang nyebarin foto itu, kan?" tanya Elang, suaranya bergetar—bukan karena takut, tapi karena... marah yang ditahan.
Nisa mengangkat bahu. "Emang kenapa? Itu foto asli kok. Gue cuma... membagikan fakta."
"Fakta?!" Elang hampir berteriak. "Lu tau nggak itu kakaknya?! Lu tau nggak lu udah nyakitin dia?!"
Nisa melipat tangan di dada. Tatapannya... nggak peduli. "Gue nggak tau itu kakaknya. Dan... kenapa lo bela dia terus sih, Bang? Lo... lo suka sama dia, ya?"
Elang... diam. Tangannya mengepal makin erat.
Nisa nyengir. "Gue tau kok. Lo suka sama dia. Tapi... dia nolak lo, kan? Karena dia suka sama Dhira. Jadi... kenapa lo masih bela dia? Dia nggak peduli sama lo."
"Ini bukan soal dia peduli atau nggak!" bentak Elang. "Ini soal... soal lo yang jahat! Soal lo yang nyakitin orang yang nggak bersalah!"
Nisa tertawa sinis. "Jahat? Gue cuma ngasih tau kebenaran, Bang. Kalau lo nggak suka... ya terserah lo."
Elang... nggak tahan lagi.
Tangannya terangkat.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Nisa.
Alya, Dinda, Sari... terdiam. Kaget.
Nisa... megang pipinya yang merah. Matanya melebar. Nggak percaya.
"Lo... lo nampar gue...?" bisiknya, suaranya gemetar.
Elang... napasnya ngos-ngosan. Tangannya masih gemetar. Matanya... berkaca-kaca.
"Lu adik sepupu gue," kata Elang, suaranya serak. "Tapi... tapi kalau lu terus kayak gini... kalau lu terus nyakitin orang yang... yang gue sayang... anggap aja... anggap aja gue bukan saudara lu."
Nisa... menatap Elang dengan tatapan... marah. Benci.
"Oke. Kalau gitu..." katanya dingin. "Dari sekarang... gue anggap lo bukan kakak gue lagi."
Nisa berbalik. Jalan pergi dengan langkah cepat. Gengnya ngikutin.
Elang... berdiri di situ.
Sendirian.
Tangannya masih gemetar. Napasnya masih ngos-ngosan.
Tapi... dia nggak nyesel.
Nggak nyesel nampar Nisa.
Karena Aruna... Aruna lebih penting dari saudara yang... yang jahat.
---
Sore itu.
Aruna pulang dengan jalan kaki. Sendirian.
Kayla mau nemenin tapi Aruna bilang dia pengen sendiri.
Dia jalan pelan di trotoar yang sepi. Kepala nunduk. Matanya... kosong.
*Kenapa... kenapa semua orang... benci aku...*
*Kenapa... aku selalu... jadi target...*
*Kenapa...*
Hapenya bunyi. Notifikasi.
Aruna buka.
Pesan dari Dhira.
Dhira: Run, kita perlu ngomong.
Aruna... menatap pesan itu lama.
Tangannya gemetar.
*Dia... dia mau ngomong apa...*
*Dia... percaya sama foto itu?*
*Dia... benci aku sekarang?*
Aruna nggak bales. Cuma... matiin hapenya.
Terus jalan lagi.
Jalan sampai ke rumah.
Masuk kamar.
Rebahan di kasur.
Dan... nangis.
Nangis keras.
Nangis sampai... nggak ada air mata lagi.
---
**Aruna merasa dunia runtuh.**
**Lagi.**
**Dan kali ini... lebih keras dari sebelumnya.**
**Karena kali ini...**
**Bahkan orang yang dia cinta... mungkin... nggak percaya sama dia.**
**Dan itu...**
**Adalah rasa sakit yang... nggak bisa diobati.**
---