NovelToon NovelToon
Gravitasi Terbalik

Gravitasi Terbalik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Aarav Rafandra01

Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun dalam hubungan

Strategi Aruna dimulai dengan sebuah permintaan maaf yang sangat tulus. Suatu sore di perpustakaan umum, ia menghampiri Faisal dan Devina yang sedang belajar bersama.

" Dev, Sal..... Aku mau minta maaf soal kejadian di kedai kopi kemaren. " ucap Aruna dengan nada yang tenang dan rendah. " Aku malu banget kalo inget gimana hancurnya aku malem itu. Harusnya aku ga membebani kalian sama samalah pribadi aku. "

Devina yang dasarnya memiliki hati yang lembut, merasa tersentuh dengan keberanian Aruna untuk meminta maaf.

" Gapapa, Na. Kita ngerti ko, putus itu berat. "

" Makasih, Dev. Kamu baik banget. Aku cuma mau kita tetep berteman baik tanpa ada rasa canggung. Lagipula, Faisal udah banyak bantu aku selama ini sebagai teman. " Lanjut Aruna sambil memberikan senyum kecil yang terlihat sangat tulus.

Perlahan tapi pasti, Aruna mulai menanamkan kehadirannya dalam rutinitas mereka. Ia tidak pernah mengajak Faisal pergi berdua. Sebaliknya, ia selalu mengajak pergi bertiga.

Dengan cara ini Devina kehilangan kewaspadaannya. Ia mulai menganggap Aruna teman yang asik. Namun, dibalik itu. Aruna sedang melakukan pengamatan lebih dalam. Ia memperhatikan bahwa Devina adalah tipe gadis yang sangat teratur dan kadang menuntut Faisal untuk disiplin dalam belajar, hal yang terkadang membuat Faisal yang berjiwa bebas sedikit tertekan.

Saat ada momen dimana Faisal terlihat bingung karena baru saja ditegur Devina soal nilai ujiannya. Aruna akan masuk dengan sangat halus.

" Devina emang bener, Sal. Dia pengen kamu maju. " ucap Aruna saat mereka hanya berdua dikantin sekolah.

Hubungan jarak jauh antara Faisal dengan Devina mulai menunjukan tekanannya, walau hanya beda sekolah. Faisal sering terlihat murung dikelas karena Devina yang semakin jarang mengabarinya lewat chat atau telpon untuk sekedar basa basi. Disinilah Aruna masuk, ia tidak perlu bersembunyi.

Saat jam istirahat, Aruna akan duduk disamping Faisal dengan membawa bekal yang sengaja ia buat lebih banyak.

" Sal, Devina pasti lagi sibuk banget ya disana? Tadi aku liat statusnya, dia lagi bahas olimpiade. " ujar Aruna sambil menyodorkan potongan roti lapis. " Nih, Sal. Makan dulu. Jangan sampai kamu telat makan cuma gara gara nungguin kabar dari Devina yang lagi sibuk belajar. "

Faisal menghela nafas, menerima roti itu.

" Iya, Na. Chat aku tadi pagi cuman dibales singkat. Katanya dia ga bisa diganggu sampai sore. "

Aruna tersenyum prihatin, sebuah ekspresi yang sudah ia latih didepan cermin.

" sabar ya, Sal. Sekolah Devina emang terkenal ambisius banget. Mungkin Devina lupa kalo kamu juga butuh didenger. kalo kamu mau cerita atau sekedar mau ditemenin, aku ada disini, Sal. Sebagai temen kamu. "

Aruna mulai menghidupkan kembali kebiasaan lama mereka. Ia mengajak Faisal ke warung belakang sekolah yang dulu sering mereka tempati, memutar lagu yang dulu jadi lagu mereka, dan menceritakan kembali kenangan kenangan lucu yang hanya mereka berdua yang tahu.

Faisal mulai merasa bahwa bersama Aruna, semuanya jauh lebih mudah. Bersama Aruna, ia bisa tertawa lepas tanpa merasa harus terlihat pintar. Bersama Aruna, ia merasa dihargai secara spontan.

Sore harinya, hujan turun sangat deras mengguyur sekolah. Faisal tidak bisa menjemput Devina karena jarak yang lumayan jauh. Sedangkan Aruna, tetap tinggal disekolah menemani Faisal yang sedang menunggu hujan reda.

" Sal, daripada bengong nunggu hujan. mending kita main game yang dulu sering kita mainin. Masih inget ga? " goda Aruna.

Faisal mengangguk.

" Yaudah, boleh deh. "

Mereka tenggelam dalam keseruan. Ditengah permainan, Aruna sengaja mendekatkan bahunya ke bahu Faisal, membuat Faisal sempat terpaku sesaat. Disaat yang bersamaan, ponsel Faisal bergetar, ada panggilan masuk dari Devina. Namun, karena sedang asik bermain dan merasa nyaman dengan suasana, Faisal menekan tombol decline dan lanjut tertawa bersama Aruna.

" Kenapa ga diangkat Sal? Siapa tau penting." Ucap Aruna sambil tersenyum sinis.

" ah paling juga dia mau ngabarin, kalo pulangnya naik taksi online." jawab Faisal yang tetap fokus pada game nya.

Malam harinya, saat Faisal menelpon Devina, suasana menjadi kaku. Devina merasa Faisal berubah, menjadi lebih sering membicarakan kejadian kejadian disekolah yang selalu melibatkan Aruna.

" Sal, tadi kamu kemana? Aku telpon ko ga diangkat? " tanya Devina suaranya lelah.

" Oh, maaf ya , Na. Tadi aku lagi nungguin hujan reda sama Aruna, ga kedengeran. Lagian kan kamu katanya sibuk. " jawab Faisal enteng.

Jawaban itu menciptakan keheningan yang menyakitkan diujung telepon.

Disisi lain, Aruna sedang tersenyum melihat layar ponsel di rumahnya. Ia tahu, setiap kali Faisal merasa asik dengannya, ada satu tali kepercayaan yang perlahan rapuh.

.........

Pagi harinya, Devina sengaja bangun lebih awal. Dia ingin memberikan kejutan untuk Faisal dengan membawakan kotak makan siang berisi menu favorit Faisal yang dimasak sendiri. Dengan hati yang berbunga bunga, Devina menempuh perjalanan cukup jauh dari rumahnya ke sekolah Faisal. Namun, kejutan itu berubah menjadi malapetaka.

Devina tidak melangkah masuk melalui gerbang utama, tetapi ia berjalan ke arah belakang sekolah. Tempat yang selalu diceritakan Faisal sebagai tempat favoritnya untuk bersantai. Disebuah bangku panjang dibawah atap warung, dia melihat Faisal sedang duduk bersandar. Di sebelahnya, Aruna duduk sangat dekat, seolah tidak ada ruang untuk udara masuk. Aruna sedang memegang sehelai tisu, dengan lembut mengusap sesuatu di sudut bibir Faisal sambil tertawa manja.

" Sal, kamu ini. Makan kaya anak kecil aja, " suara Aruna terdengar samar, namun jelas ditelinga Devina.

Faisal tersenyum lebar, tatapan matanya begitu lembut, tatapan yang Devina pikir hanya miliknya.

" Oh iya, makasih ya, Na. "

Kotak makan yang dipegang Devina bergetar hebat ditangannya. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan dan semangat untuk memberi kejutan mendadak berubah menjadi kemarahan dan rasa dikhianati.

Tanpa sadar, Devina melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Bunyi tong sampah yang ditabraknya membuat Faisal dan Aruna menoleh serentak.

" Devina? " Faisal tersentak. Dia melepaskan tangan Aruna dan berdiri dengan wajah pucat. " Kenapa..... Kenapa kamu ada disini? "

Devina menatap Faisal dengan mata yang mulai berkaca kaca. lalu, ia melihat kearah Aruna yang kini tersenyum sinis .

" Aku kesini buat ngasih kamu surprise, Sal. Tapi malah aku yang dapet surprisenya. Pantes kemarin kamu ga angkat telpon aku. Ternyata kamu udah dapet pengganti aku ya disini. " suara Devina bergetar, penuh dengan nada kekecewaan.

"Devina, Pliss. Ini ga kaya yang kamu liat! Aruna cuma bantu......" Faisal mendekat, namun Devina mundur selangkah.

" Bantu apa, Sal? Bantu buat gantiin tempat aku dihidup kamu? " potong Devina, air matanya jatuh. Dia meletakan kotak makan itu diatas tembok pembatas antar rumah dengan kasar. " Nih, Sal. Aku sengaja masak buat kamu. Semoga selera kamu ga berubah! "

Devina berlari meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi. Faisal hendak mengejar, namun Aruna dengan kuat menahan tangan Faisal.

" Sal, biar dia tenang dulu. Kalo kamu ngejar dia sekarang, keadaannya bakal tambah buruk. Biar aku yang jelasin ke dia nanti. " ucap Aruna dengan nada yang pura pura merasa bersalah.

Faisal terdiam, bingung. Disatu sisi, ia merasa sangat bersalah dan ingin mengejar Devina untuk menjelaskan. Disisi lain, dia merasa apa yang dikatakan Aruna ada benarnya juga.

Aruna melihat punggung Devina yang semakin menjauh dengan rasa puas yang luar biasa. Celah yang dia cari selama ini telah terbuka sangat lebar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!