NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan di hadapan Cinta

Pagi itu sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Raka bangun dengan tubuh yang lelah, mata yang sembab, dan hati yang kosong. Ia mandi, berpakaian, lalu berangkat ke kantor dengan pikiran yang terus melayang ke rumah sakit, ke Nadira.

Tapi hari ini, ada yang berbeda.

Saat Raka sampai di kantor, masih sangat pagi, bahkan sebelum rekan-rekan lainnya datang, ia melihat sosok yang tidak seharusnya ada di sana.

Sinta.

Wanita itu duduk di kursi Raka, dengan wajah yang pucat dan mata yang sembab, tanda ia menangis semalam. Rambutnya sedikit berantakan, pakaiannya kusut. Ia menatap kosong ke depan, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.

Raka berhenti di ambang pintu, menatap Sinta dengan tatapan lelah. Ia tidak punya tenaga untuk menghadapi drama lagi. Hidupnya sudah cukup hancur. Ia tidak butuh masalah tambahan.

Tapi sebelum ia sempat berbalik atau menghindar, Sinta menoleh dan melihatnya.

"Raka!" panggilnya dengan suara serak. Ia langsung berdiri dan berjalan cepat mendekat.

Raka tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menatap Sinta dengan tatapan datar, tatapan seseorang yang sudah terlalu lelah untuk peduli.

"Kenapa kamu menolak aku?" tanya Sinta langsung tanpa basa-basi. Suaranya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca lagi. "Kenapa, Rak? Apa aku kurang baik? Apa aku kurang cantik? Apa..."

"Bukan itu masalahnya, Sin," potong Raka dengan suara datar. "Aku sudah bilang. Aku sudah punya wanita yang aku cintai."

"Aku nggak percaya!" Sinta menggeleng keras. "Selama ini kamu nggak pernah dekat sama wanita manapun. Aku satu-satunya wanita yang deket sama kamu di kantor ini. Satu-satunya! Jadi siapa wanita itu? Siapa?"

Raka menutup matanya sejenak, menarik napas dalam. Ia merasakan kepalanya berdenyut, pusing, lelah, frustrasi.

"Sin, kumohon," ucapnya dengan nada memohon. "Jangan buat ini jadi lebih sulit. Aku sudah bilang aku nggak bisa terima perasaanmu. Itu saja. Cukup."

"TIDAK CUKUP!" bentak Sinta tiba-tiba, suaranya keras dan penuh emosi. "Aku butuh tahu! Aku butuh tahu kenapa kamu menolak aku! Siapa wanita itu? Di mana dia? Kenapa aku nggak pernah lihat dia?"

Raka membuka matanya, menatap Sinta dengan tatapan yang penuh kelelahan... kelelahan fisik, kelelahan emosional, kelelahan hidup.

"Kamu mau tahu?" tanyanya dengan suara pelan tapi tegas.

Sinta mengangguk cepat. "Ya! Aku mau tahu!"

Raka terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Baik. Sepulang kantor nanti, ikut aku. Aku akan tunjukkan siapa dia."

Sinta menatap Raka dengan tatapan tidak percaya, campuran antara lega dan was-was. "Janji?"

"Janji," jawab Raka datar. "Sekarang pergi dari mejaku. Aku mau kerja."

Sinta mengangguk, lalu berjalan kembali ke mejanya dengan langkah gontai. Ia duduk di sana, menatap kosong ke arah Raka yang sudah mulai menyalakan komputernya dan bekerja.

Di dalam dadanya, ada perasaan campur aduk, penasaran, takut, dan sedikit berharap bahwa mungkin ini semua hanya salah paham. Mungkin wanita yang Raka maksud bukan siapa-siapa. Mungkin...

Tapi kenapa hatinya terasa tidak tenang?

---

Seharian itu, Raka bekerja seperti biasa... fokus, keras, tanpa istirahat. Ia tidak makan siang. Ia tidak ngobrol dengan siapapun. Ia hanya bekerja.

Sinta sesekali meliriknya dari mejanya, mencoba membaca ekspresi Raka. Tapi wajah pria itu datar, tidak ada emosi, tidak ada petunjuk apapun.

Jam pulang kantor akhirnya tiba.

Raka mematikan komputernya, memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas, lalu berdiri dan berjalan keluar.

Sinta langsung mengikuti. "Raka, tunggu!"

Raka berhenti di pintu, menoleh. "Ayo. Ikut aku."

"Kita naik mobil kamu kan?" tanya Sinta sambil berjalan cepat menyusul.

"Tidak," jawab Raka singkat. "Kamu bawa mobil sendiri. Ikuti mobilku."

Sinta mengerutkan dahi. "Kenapa nggak sekalian aja..."

"Karena aku nggak mau kamu nebeng," potong Raka dengan nada tegas. "Kamu ikuti mobilku dari belakang. Kalau kamu nggak mau, ya sudah. Batalkan saja."

Sinta terdiam. Ia menatap Raka dengan tatapan bingung, tapi akhirnya mengangguk. "Baik. Aku ikut dari belakang."

Raka mengangguk, lalu berjalan menuju mobilnya.

Perjalanan berlangsung dalam keheningan, setidaknya bagi Raka. Ia mengendarai mobilnya dengan fokus, sesekali melirik spion belakang untuk memastikan mobil Sinta masih mengikuti.

Sinta mengendarai mobilnya dengan perasaan campur aduk. Ia memperhatikan arah yang Raka tuju, keluar dari area perkantoran, melewati jalan-jalan yang ramai, lalu masuk ke kawasan yang ia kenali.

Kawasan rumah sakit.

Hati Sinta mulai berdegup cepat. "Rumah sakit? Kenapa ke rumah sakit?"

Mobil Raka masuk ke area parkir rumah sakit umum yang cukup besar. Sinta ikut masuk, parkir tidak jauh dari mobil Raka.

Raka turun dari mobilnya, menunggu Sinta turun juga, lalu berjalan masuk ke gedung rumah sakit tanpa berkata apapun.

Sinta mengikuti dengan langkah ragu. "Raka... kenapa kita ke rumah sakit?"

Raka tidak menjawab. Ia terus berjalan, melewati lobi, masuk ke lift, menekan tombol lantai tiga.

Sinta masuk ke dalam lift, berdiri di samping Raka dengan perasaan semakin tidak tenang. "Raka, jawab aku. Kenapa kita..."

"Tunggu," potong Raka dengan suara datar. "Sebentar lagi kamu akan tahu."

Lift berhenti. Pintu terbuka. Raka melangkah keluar, dan Sinta mengikuti.

Mereka berjalan melewati lorong rumah sakit, lorong yang steril, dengan bau obat-obatan dan antiseptik. Suara monitor dan langkah perawat sesekali terdengar.

Raka berhenti di depan sebuah ruangan besar dengan kaca tebal. Di atas pintu terpasang tulisan: ICU - Intensive Care Unit.

Sinta menatap tulisan itu dengan tatapan bingung dan mulai takut. "ICU? Raka, ini..."

"Lihat ke dalam," ucap Raka pelan, tanpa menatap Sinta. Matanya fokus pada kaca di depannya.

Sinta melangkah perlahan, berdiri di samping Raka, lalu menatap ke dalam ruang ICU.

Dan ia melihatnya.

Seorang wanita terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang oksigen di hidungnya, monitor jantung di sampingnya, infus menempel di kedua tangannya. Wajahnya pucat, matanya tertutup. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan rapuh.

Sinta menatap wanita itu dengan tatapan tidak mengerti. "Siapa... siapa dia?"

Raka menarik napas dalam. Tangannya menempel di kaca dingin itu, seperti mencoba menyentuh wanita di balik sana.

"Namanya Nadira," ucap Raka dengan suara pelan tapi jelas. "Dia... wanita yang paling aku cintai di dunia ini."

Sinta menoleh cepat menatap Raka. "Apa?"

"Dia pacarku," lanjut Raka, suaranya mulai bergetar. "Dia wanita yang sudah tiga tahun bersamaku. Wanita yang selalu menyiapkan sarapan setiap pagi. Wanita yang selalu tersenyum meski aku memperlakukannya dengan buruk. Wanita yang hamil anakku... dan kehilangan anak itu karena ulahku."

Sinta terdiam. Ia menatap Raka dengan tatapan tidak percaya.

"Dia kecelakaan," lanjut Raka, air matanya mulai mengalir tanpa bisa ditahan. "Karena aku. Karena aku menyakitinya. Karena aku bodoh. Dan sekarang... sekarang dia koma. Sudah hampir tiga minggu. Dan aku... aku menunggunya. Setiap hari. Setiap malam. Aku menunggunya untuk bangun."

Raka menoleh menatap Sinta dengan tatapan yang penuh kesedihan, penuh penyesalan, penuh cinta yang terlambat disadari.

"Jadi maaf, Sin," ucapnya dengan suara serak. "Aku tidak bisa terima perasaanmu. Karena hatiku... hatiku sudah milik dia. Sepenuhnya. Dan tidak akan pernah ada orang lain."

Sinta menatap Raka dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ia melihat mata Raka...mata yang dulu selalu tenang, kini penuh air mata. Mata yang memancarkan cinta, cinta yang sangat besar, sangat dalam, sangat menyakitkan.

Cinta yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

"Kamu... kamu benar-benar mencintainya," bisik Sinta, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Raka.

Raka mengangguk. "Sangat. Lebih dari apapun. Lebih dari hidupku sendiri."

Sinta menatap wanita di balik kaca itu, wanita yang terbaring tidak berdaya, wanita yang tidak sadar bahwa ada pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa sedang menunggunya di luar sana.

Air mata mulai mengalir di pipi Sinta, bukan karena cemburu, tapi karena terharu dan sedih.

"Maafkan aku, Raka," bisiknya pelan. "Aku... aku tidak tahu."

Raka menggeleng. "Bukan salahmu, Sin. Kamu tidak tahu. Dan sekarang... sekarang kamu sudah tahu. Jadi kumohon... jangan dekati aku lagi. Karena aku tidak bisa. Aku tidak akan mengkhianati dia lagi."

Sinta mengangguk perlahan. Ia mengusap air matanya, lalu menatap Raka dengan tatapan penuh simpati.

"Aku harap dia cepat sembuh, Rak," ucapnya tulus. "Aku harap dia bangun. Dan aku harap... aku harap kamu bahagia bersamanya."

Raka tersenyum tipis, senyuman yang sedih tapi penuh harap. "Terima kasih, Sin."

Sinta mengangguk sekali lagi, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan lorong ICU... meninggalkan Raka yang kembali menatap Nadira dari balik kaca.

Dan di sana, Raka berdiri sendirian dengan cinta yang terlambat disadari, dengan harapan yang semakin tipis, tapi tetap ia pegang erat.

Karena itu satu-satunya yang tersisa.

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
aku
3 vs 1
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
partini
ini nanti bangun dari koma langsung lovely doply atau sebaliknya
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
Anonymous
BANGGA? MENGHAMILI ANAK ORANG BANGGA? MEMBUAT NYA SEKARAT DAN KEGUGURAN ITU BANGGA? DASAR GILA
Anonymous
Fuwa Fuwa Time 🎸🎸
Dew666
💎💎💎💎💎
Sasikarin Sasikarin
q kira mo tiap hari up nya.. dah lah buat pembaca kevewa sanhat
rian Away
TCH GOB
rian Away
bisa bisa nya lu bawa nama tuhan
Shuttttttttttt
up thoooor
Shuttttttttttt
bkn aku nangis aja, awas yaa end mreka sma²
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Dew666
💐💐💐💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!