Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kediaman Adam
Satu hari setelah pernikahan Hawa dan Harun di Bojonegoro berlangsung, malam itu juga keduanya beserta keluarga telah berada di Jakarta. Harun bersikeras untuk segera kembali dengan alasan pekerjaan, meskipun pada kenyataannya keputusan itu lebih banyak didorong oleh keinginan Raisa daripada kebutuhan mendesak di kantor.
Jakarta, 08.00 WIB
Masih mengenakan daster panjang berwarna pastel, rambutnya terikat tinggi dengan rapi, Hawa tampak turun dari lantai dua dengan langkah yang pelan dan hati-hati. Pagi itu suasana rumah terasa lengang, berbeda jauh dengan hiruk-pikuk pesta pernikahan yang baru saja ia lewati kemarin.
Rumah yang kini ia tempati adalah sebuah bangunan mewah bergaya arsitektur Eropa klasik. Setiap sudutnya dipenuhi furnitur jati berkualitas tinggi, memancarkan kesan kokoh sekaligus elegan. Rumah itu berdiri megah di sebuah kompleks elite di jantung kota Jakarta, terasa asing dan dingin bagi Hawa yang baru saja menjadi bagian dari keluarga itu.
Di area dapur, Rani sosok ibunda Adam dan Harun, sudah tampak sibuk menyiapkan sarapan bersama beberapa pelayan pribadinya. Aroma makanan hangat menyebar ke seluruh ruangan.
“Maaf, Bunda… Hawa kesiangan,” ucap lembut Hawa sedikit gugup, suaranya nyaris bergetar. Ia berdiri kikuk di hadapan ibu mertuanya, kedua tangannya saling bertaut di depan perut.
“Tidak apa-apa, Hawa,” jawab Rani lembut sambil tersenyum tipis. “Harun belum bangun?”
“Ehm…” Hawa menunduk, tak segera menjawab.
“Hawa tidak berani mengetuk pintu kamar Mas Harun Bun?” ucap pelan Hawa dengan tatapan teduh.
Rani terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada lebih hati-hati, “Kalian tidur di kamar yang berbeda?”
Hawa hanya mengangguk pelan.
Rani menghela napas berat. Sejak kemarin, perasaannya memang tidak tenang. Ada ganjalan di hatinya, seolah pernikahan ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya benar. Bahkan, jauh di dalam lubuk hatinya, ia sempat menyesal telah membiarkan pernikahan ini terjadi.
Apa mungkin semua ini ulah Adam untuk menutupi wasiat Ayah (kakek Sulaiman)? batin Rani, kecurigaannya mulai tumbuh.
“Sudahlah,” ucap Rani akhirnya, berusaha mencairkan suasana. “Kita sarapan dulu. Bunda sudah lapar.”
Mereka pun duduk berhadapan di meja makan yang panjang. Hawa menyantap makanannya dengan perlahan, masih merasa canggung berada di rumah semewah itu bersama ibu mertuanya.
“Hawa,” Rani membuka percakapan, “setelah menikah, bagaimana rencanamu? Apakah kamu tetap bekerja sebagai perawat atau ingin resign?”
Hawa terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, “Terserah Mas Harun saja, Bunda.”
“Kalau menurut Bunda,” kata Rani, “kamu sebaiknya tetap bekerja. Harun itu sibuk, Bunda takut kamu malah kesepian di rumah ini.”
Hawa mengangguk lega. Setidaknya, masih ada ruang baginya untuk mempertahankan dunia yang sudah ia bangun sendiri.
“Oh ya, Hawa,” lanjut Rani, “sebenarnya rumah ini adalah milik Adam. Harun belum memiliki persiapan apa pun untuk menikah. Tapi kalian boleh tinggal di sini sampai nanti Harun siap membeli rumah.”
Rani terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang terdengar lebih berat.
“Adam dan Harun sudah tidak memiliki ayah sejak mereka remaja. Suami saya meninggal karena kecelakaan tunggal. Setelah itu, ayah saya yang kamu kenal sebagai Kakek Sulaiman sudah seperti sosok ayah bagi mereka berdua. Semasa hidup, Adam sangat patuh dan takut pada kakeknya. Semua ilmu bisnis, bahkan perusahaan kayu jati keluarga kami diwariskan sepenuhnya kepada Adam, karena hanya dia yang sanggup menjalankannya!"
Rani menunduk, mengenang masa lalu.
“Harun hanya menjadi asisten yang lebih banyak menjalankan perintah dari Adam. Dan memang, sejak Adam yang memegangnya, perusahaan berkembang pesat ibarat roket yang meluncur tinggi di angkasa”
Suasana kembali hening.
“Dan sebenarnya,” suara Rani melemah, “wasiat itu mengharuskan kamu menikah dengan Adam. Tapi Adam menolak. Bunda tidak bisa berbuat apa-apa. Bunda lemah sebagai seorang ibu.”
Hawa menggeleng perlahan. “Tidak apa-apa, Bunda. Wasiat kakek tidak harus dilaksanakan. Saya dan keluarga juga tidak pernah ingin memaksa Mas Adam ataupun Mas Harun.”
Rani menatap Hawa dengan mata berkaca-kaca. “Maafkan Harun jika kalian belum bisa bersatu layaknya suami istri. Tapi Bunda yakin, tidak lama lagi Harun akan bisa menerima kamu sepenuhnya sebagai istrinya.”
Belum sempat Hawa menjawab, langkah kaki terdengar dari tangga. Harun turun dari lantai dua dengan setelan pakaian kantor yang rapi. Wajahnya datar, tanpa senyum sedikit pun.
“Harun, sarapan dulu, Nak,” ujar Rani.
Hawa segera berdiri, mengambilkan piring dan menyiapkan makanan untuk suaminya dengan cekatan.
“Aku sangat sibuk,” ucap Harun dingin sambil duduk. “Kemungkinan pulang besok pagi.”
“Besok pagi?” Rani terkejut.
“Banyak pekerjaan di kantor yang sudah terbengkalai, Ma.”
“Bukannya Adam sudah meng-handle semuanya? Kamu seharusnya bisa cuti,” sanggah Rani.
“Kakak tidak pernah peduli dengan urusan pekerjaanku,” Harun mendengus kesal. “Dia cuma bisa memerintah, lalu aku bisa apa?"
“Tapi kalian baru menikah, Harun. Kasihan Hawa,” suara Rani terdengar lirih.
“Tidak apa-apa, Bunda,” sahut Hawa cepat. “Biarkan Mas Harun bekerja. Itu lebih penting.”
“Nah, kan. Tidak masalah,” kata Harun singkat. “Mama terlalu berlebihan.”
Harun menghabiskan sarapannya dengan tergesa, lalu bangkit dan pergi meninggalkan meja makan tanpa menoleh sedikit pun.
Rani kembali menarik napas panjang, berat, menyadari bahwa pernikahan ini bukanlah awal yang mudah, baik bagi Hawa, maupun bagi keluarganya sendiri.
Di dalam mobil, tepat saat hendak berangkat ke kantor, Harun meraih ponselnya dan segera menghubungi Adam. Pagi itu jalanan Jakarta masih dipenuhi lalu lintas padat, sementara pikirannya terus dipenuhi berbagai urusan yang belum selesai.
Di sisi lain, Adam tampak sedang berjuang menahan kantuk yang luar biasa. Matanya terasa berat setelah malam yang hampir tak memberinya kesempatan beristirahat. Namun, seberat apa pun kondisi tubuhnya, ia tahu hari itu menuntutnya untuk tetap bekerja maksimal.
Ponsel Adam bergetar di atas meja.
“Drett.”
Adam menghela napas pelan sebelum mengangkat panggilan itu.
“Kak,” suara Harun terdengar dari seberang, sedikit tergesa, “bagaimana dengan urusan nafkah untuk Hawa?”
Adam terdiam sesaat, seolah sedang menghitung banyak hal di kepalanya. “Baik,” jawabnya akhirnya dengan nada tegas. “Aku yang akan mentransfernya setiap bulan. Kirimkan saja nomor rekeningnya.”
“Baik, Kak. Nanti aku kirim.”
Adam belum memutuskan sambungan. Ada satu hal lain yang ingin ia sampaikan, hal yang sejak awal membuat dadanya terasa sesak.
“Dan satu lagi,” ucap Adam, nadanya menurun namun penuh tekanan. “Jangan biarkan Hawa bekerja lagi di rumah sakit. Biarkan dia cukup di rumah saja.”
Harun sedikit terkejut. “Bukankah lebih baik kalau dia bekerja, Kak?”
“Tidak,” potong Adam cepat. “Aku khawatir masalah pernikahan ini tersebar ke orang lain. Bisa saja dia bercerita kepada teman-temannya, atau siapa pun. Aku tidak ingin itu terjadi.”
Harun terdiam, mendengarkan dengan saksama. Ia merasa Adam sedikit berlebihan, namun Harun memilih untuk tidak berpikir terlalu keras mengenai keputusan kakaknya.
“Aku akan mengganti gaji bulanannya,” lanjut Adam. “Bahkan dua kali lipat dari yang biasa dia terima. Anggap saja itu tanggung jawabku," kata Adam.
“Baik, Kak,” jawab Harun akhirnya, tanpa banyak membantah.
“Trup.”
Sambungan terputus. Harun menghela napas lega sambil menurunkan ponselnya. Ada perasaan ringan yang menyelinap di dadanya setidaknya urusan menafkahi Hawa bukan lagi beban di pundaknya. Semua sudah diatur rapi oleh Adam, kakak yang sejak awal memegang kendali pernikahan itu.
Harun pun menyalakan mesin mobilnya. Bibirnya membentuk senyum tipis, matanya menatap lurus ke depan. Ada satu tujuan yang kini jauh lebih mengusik pikirannya yaitu bertemu Raisa, sang kekasih, yang sejak tadi memenuhi benaknya dan yang sudah ia rindukan sejak kemarin.