Menjadi seorang model terkenal ternyata membuat Laluna Bachtiar menjadi sosok yang angkuh dan keras kepala. Luna, kembali ke Indonesia setelah lima tahun menetap dan menjadi model terkenal di Amerika, setelah memergoki sahabat dan kekasihnya berselingkuh.
Kehidupan hedonis yang terbiasa dijalani Luna selama berada di Amerika membuat Rafli Bachtiar (Ayah), marah dan cemas.
Giovanni Halim, supir pribadi kepercayaan Rafli akhirnya menugaskan Gio untuk menjaga Luna kemana pun anak gadisnya itu melangkah.
"Aku benci kamu!" Hardik Luna pada Gio setiap kali Gio berhasil menyeretnya pulang dari club malam.
Gio hanya menatap Luna dingin. Semakin hari keduanya malah semakin akrab. Hingga pada akhirnya, Luna menyadari ada yang mulai aneh dengan perasaannya pada supir pribadinya itu.
Giovanni tidak mampu menolak pesona Nona muda kesayangan Tuannya itu, sementara di kampung halaman, Gio telah bertunangan dengan Dewi.
Bagaimana akhir perjalanan cinta Gio dan Luna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Autum In London
Luna membekap kaus Gio dengan penuh perasaan. Ia mengelus benda itu, seolah sedang merasakan tubuh tegap lelaki yang teramat dicintainya itu.
"Mas Gio, udah tiga tahun dari kabar pernikahanmu yang aku dengar dari papa waktu itu. Makasih ya kamu udah temenin aku selama ini. Kamu bersarang di dalam pikiranku setiap waktu. Aku gak menyesal mencintaimu, meskipun nyatanya, kamu harus bersanding dengan orang lain."
Luna mencium kaus itu perlahan lalu menggantungnya dengan rapi. Luna merapikan riasan natural di wajahnya. Ia bersiap untuk pergi ke perusahaan.
London saat ini sangat indah dengan banyaknya daun menguning yang berguguran. Luna juga sudah menjalani hidupnya dengan baik meski masih dilingkupi kesepian.
"Kau bersemangat sekali hari ini Lun." Sapa Zeva saat Luna telah masuk ke dalam mobil.
"Iya Kak Zeva, hanya bahagia saja bisa bertemu dengan musim gugur yang indah ini untuk kesekian kalinya." Luna tersenyum kecil.
"Aku turut bahagia Lun, juga bangga padamu, perusahaan semakin maju. Kau memang pebisnis handal seperti Ayahmu."
"Juga karena Kak Zeva, asisten ku yang luar biasa cerdas." Balas Luna penuh kebahagiaan.
"Lun, apa kau masih tidak ingin membuka hati mu?" Tanya Zeva sambil sesekali melirik ke arah Luna.
"Belum Kak, aku juga tidak tahu sampai kapan. Yang jelas, melupakan Mas Gio belum bisa aku lakukan sampai sekarang." Luna tertunduk.
"Aku mengerti, Lun." Zeva tersenyum kecil, berusaha menguatkan.
Mereka sampai di perusahaan. Luna dan Zeva berjalan mantap menyusuri koridor. Sepanjang perjalanan menuju ruangan, para staff menunduk hormat pada Luna juga Zeva.
Mereka sempurna sebagai atasan dan asisten yang cantik. Luna juga disegani para relasi bisnis, sebab ia tegas juga sangat komitmen dalam setiap tindakan.
"Lun, ada meeting dengan sebuah perusahaan besar dari Indonesia beberapa minggu ke depan." Zeva membaca agenda untuk atasannya itu. Luna mengangguk paham.
"Atur saja Kak Zeva, tapi kalau bisa meeting itu di percepat saja sebab papa akan berkunjung ke London, aku ingin menghabiskan banyak waktu bersamanya dan mungkin akan lama tidak masuk ke kantor."
Zeva mencatat setiap yang menjadi hal penting bagi Luna. Ia menjalankan tugasnya dengan baik. Oh iya, Papa ternyata tidak lagi didampingi Gio. Gio sudah berhenti bekerja dan kembali ke Bandung, papa menyampaikan itu beberapa bulan yang lalu. Meski sedih, Luna tetap menghormati keputusan lelaki itu.
Kita benar-benar sempurna sudah saling melupakan ya Mas. Luna membatin. Tapi mungkin itulah jalan yang terbaik. Dan Luna memahami, mungkin Gio pun sama seperti dirinya. Mereka sama-sama telah mengalah pada takdir.
"Lun." Panggil Zeva untuk kesekian kali saat Luna terlihat melamun dan tidak menggubris panggilannya beberapa kali.
"Ah iya Kak." Luna gelagapan. Ia tertawa kecil.
"George menelepon ku, katanya kau tak mengangkat teleponnya sedari tadi."
Luna segera membuka ponsel. Ada banyak panggilan tak terjawab. Pantas saja, nada dering dan getar sengaja di matikan oleh gadis itu.
"George sepertinya tidak menyerah untuk terus mendapatkan hati mu Lun." Zeva menggoda Luna, Luna hanya menjawabnya dengan tersenyum.
"Entahlah Kak, padahal aku sudah menolaknya dengan berbagai cara."
"Coba bukalah pelan-pelan hatimu untuk dia, Lun."
"Tidak Kak, aku belum siap menerima siapa pun saat ini." Luna teguh pada pendiriannya.
Lagi-lagi Zeva hanya berusaha memaklumi atasan sekaligus adik baginya itu.
"Lun, kalau suatu saat ternyata Tuhan menakdirka Mas Gio mu itu bertemu denganmu, walaupun ia telah menjadi duda dan punya anak, apa kau masih mau padanya?"
"Aku akan menerima Mas Gio dalam kondisi apapun, Kak. Kecuali jika ia masih berstatus suami orang, aku tidak akan mau menerimanya." Sahut Luna sambil tersenyum.
Zeva mengusap pundak gadis itu penuh perhatian. Luna benar-benar mencintai pria bernama Gio itu dengan sungguh.
"Aku selalu berharap kau dan Gio benar-benar akan menyatu suatu saat nanti, Lun."
Luna tidak menjawab apapun. Ia hanya tersenyum kecil. Ia pun selalu mendoakan semua yang terbaik bagi Gio, apapun keadaan lelaki itu kini.
...****************...
Luna memandangi daun-daun yang berguguran itu dengan tatapan hangat. Benar, sudah tiga tahun Luna berada di London. Usianya pun kini telah berada di angka 25 tahun. Sudah cukup dewasa dan matang.
Tiga tahun pula Luna tidak tahu kabar lelaki yang sangat ia cintai itu. Luna berharap Gio telah berbahagia dengan takdirnya. Mungkin Gio juga sudah memiliki anak-anak yang lucu?
Lun menyeka airmata yang turun tanpa sengaja. Ia mengeluarkan ponsel, dilihatnya satu-satunya foto ia dan Gio yang masih tersisa dari sekian banyak foto mereka berdua yang telah ia hapus.
"Mas Gio, apa kabarmu? aku masih saja rindu." Luna mengusap lembut wajah yang sedang tersenyum dalam foto itu.
"Apa kau sudah punya banyak bayi yang lucu? yang dulu pernah kita khayalkan bersama setiap malam setelah kita selesai bercumbu?"
Luna kembali ke kenangan masa silam. Ketika ia tidur di kamar Gio. Saat mereka telah selesai memadu kasih, Luna yang berada di dalam rengkuhan kokoh Gio memainkan jarinya di atas dada telanjang Gio.
"Mas Gio, kalau kita punya anak pasti lucu-lucu." Luna berkata sambil tertawa. Gio membelai lembut rambut gadis kesayangannya itu.
"Kalau dia perempuan, ia akan sangat cantik sepertimu." Sahut Gio sembari mengecup kening Luna mesra.
"Dan kalau laki-laki, pasti tampan sepertimu, Mas." Luna membenamkan wajahnya di dada Gio.
Mereka tertawa bersama saat itu seolah lupa hubungan keduanya yang tanpa status.
Luna tertawa lagi mengenang perbincangan konyol namun penuh makna itu. Satu yang ia bangga pada Gio, lelaki itu tidak pernah mau memasuki kesucian Luna meski Luna beberapa kali pernah memintanya untuk bercinta.
Hal itu lah yang membuat Luna semakin mencintai lelaki itu. Bahkan kalau boleh memilih, Luna ingin menyerahkan keperawanannya hanya untuk Gio. Ia hanya ingin bercinta dengan lelaki itu saja.
Luna juga menolak siapa saja yang datang menawarkan cinta untuknya. Tidak terkecuali untuk George. Lelaki itu bahkan serius ingin melamarnya, namun lagi-lagi Laluna bergeming.
"Aku ingin kau menjadi istriku." Ujar George saat itu sambil meraih jemari Luna. Berusaha merobohkan dinding pertahanan yang dibangun sebegitu kuat oleh gadis itu.
"Maafkan aku George, aku sangat tersanjung, namun saat ini aku hanya ingin sendiri. Aku tidak ingin menikah dengan siapapun untuk saat ini."
Jawaban Luna selalu sama, ia akan menolak dengan lembut namun tegas dan pasti.
Dan untuk tahun yang semakin berganti, Luna semakin nyaman dengan kesendiriannya. Entah mengapa kuat keyakinannya ia akan kembali bertemu dengan Gio.
Aku tidak mau banyak berharap lagi, Mas. Aku hanya percaya, kalau Tuhan memang berkenan, maka tidak mustahil suatu saat kita akan bertemu kembali.