NovelToon NovelToon
KETIKA HATI NAVIN KALAH

KETIKA HATI NAVIN KALAH

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 Perintah Jumat Malam

Navin tidak berniat menguping. Ia naik ke atap Rabu sore untuk alasan yang jauh lebih terhormat: mencari Ophelia dan, jika memungkinkan, mencari cara mengucapkan satu kata yang belum pernah ia ucapkan dengan benar.

Ia sudah setengah jalan menaiki tangga darurat ketika terdengar suara tawa. Ia berhenti di pintu besi yang terbuka sedikit. Dari celahnya, ia melihat dua punggung di bangku karat: seorang perempuan berblazer abu-abu dan seorang pria berjaket denim. Pria itu menutup wajah dengan telapak tangan, dan perempuan itu tersenyum, lembut, hampir penuh kasih, sesuatu yang belum pernah ia arahkan pada Navin.

"Terima kasih," kata pria itu, dengan suara serak.

"Belum. Tunggu sampai Jumat."

"Tetap terima kasih."

Hanya itu yang ia dengar. Tiga kalimat pendek. Tapi ia juga melihat mata Bastian yang basah dan tangan Ophelia yang menepuk bahunya, dan itu cukup untuk membuat Navin melangkah mundur, menutup pintu tanpa suara, dan menuruni tangga seperti orang yang baru saja salah masuk ruangan pribadi.

Jumat.

Semalaman ia memikirkan satu kata itu. Jumat apa? Jumat siang? Jumat malam? Apa yang akan terjadi pada hari Jumat sehingga pria yang berani menantangnya di depan seluruh divisi bisa nyaris menangis?

Malam itu, di hotel, ia membuka daftar kontak dan menemukan nama Ophelia tersimpan di sana sejak hari pertama, dengan satu catatan kecil: Perencana Kontrak. Ia tidak pernah menghubunginya di luar jam kerja. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan andai ia melakukannya.

Kamis pagi, ia mendapat gambaran yang lebih buruk.

Dari balik kaca, ia melihat Ophelia dan Bastian berdiri di dekat mesin fotokopi dengan kepala saling berdekatan. Bastian sedang menunjukkan sesuatu di ponselnya, dan Ophelia menunjuk layar sambil menggeleng, lalu menunjuk lagi. Mereka berbisik. Kemudian Ophelia mengulurkan tangan dan merapikan kerah jaket Bastian, sambil tertawa pelan.

Navin menahan napas.

"Pak," kata Dimas dari sudut ruangan, tanpa mengangkat mata dari tablet. "Bapak sudah melihat jam dinding empat puluh dua kali pagi ini."

"Saya sedang berpikir."

"Tentang jam, Pak?"

"Tentang waktu." Ia sadar betapa konyol suaranya sendiri.

"Waktu."

"Jumat."

Dimas mengangkat kepala perlahan. "Ada yang terjadi hari Jumat, Pak?"

"Tidak ada. Tidak tahu." Navin memijat pelipisnya. "Saya hanya merasa mereka merencanakan sesuatu."

"Siapa, Pak?"

"Kamu tahu siapa."

Dimas menutup tabletnya dengan gerakan penuh pertimbangan. "Pak, saya harus jujur. Saya sudah mencoba memberi tahu Bapak bahwa Bastian bukan..."

"Jangan katakan."

"Bapak tidak mau tahu?"

"Tidak. Kalau kamu bilang, saya tidak bisa lagi..." Navin berhenti. "Tidak. Saya tidak ingin tahu."

Dimas menatap atasannya beberapa detik, lalu menghela napas sangat panjang, seperti seorang guru yang sudah menyerah pada murid terpintarnya.

Jumat siang tiba lebih cepat dari yang Navin duga, dan seluruh sarafnya terasa seperti kabel telanjang. Sejak pagi, ia menyaksikan Ophelia mengirim pesan berkali-kali dari ponselnya, dengan senyum tipis yang muncul dan hilang seperti kilatan kecil. Pukul dua, ia melihat Bastian melewati meja Ophelia dan mengucapkan sesuatu sambil mengedipkan sebelah mata. Ophelia mengangkat jempol.

Pukul tiga, Navin bangkit dari kursinya.

Ia berjalan keluar, melewati koridor, dan berhenti di depan meja kelima dari kiri. Seluruh lantai mendadak senyap. Ini pertama kalinya ia mendatangi meja seseorang di depan semua orang.

"Ophelia."

Ophelia mengangkat kepala. "Ya, Pak?"

"Draf final balasan Mitra Nusantara harus selesai malam ini."

"Malam ini, Pak? Tenggat dari mereka hari Senin."

"Saya ingin selesai sebelum akhir pekan."

"Kalau begitu saya bisa menyelesaikannya besok pagi..."

"Malam ini."

"Pak, tidak bisakah..."

"Ini perintah, Ophelia."

Sunyi menggantung. Di sudut lantai, Dinda berhenti mengetik. Rangga menunduk pura-pura membaca. Bastian, yang duduk tiga meja dari sana, berdiri perlahan dari kursinya.

Navin menunggu. Ia sudah menyiapkan diri untuk kemarahan. Untuk tatapan menusuk, untuk senyum dingin yang sempurna. Ia sudah menyusun pembelaan di kepalanya: tenggat, distributor, kepentingan cabang. Ia bahkan sudah memperkirakan bahwa ia akan dibenci, dan dengan pahit, ia sudah menerima harga itu.

Tapi yang terjadi berbeda.

Ophelia memandangnya lama. Sesuatu melintas di wajahnya, bukan marah, bukan kaget. Lebih mirip orang yang baru diberi tahu bahwa pintu yang ingin ia tutup diam-diam sudah dikunci dari luar. Sudut bibirnya bergerak sedikit, ia menggigit pipi bagian dalam, dan matanya berkilat aneh.

"Baik, Pak," ucapnya.

Navin berkedip. "Baik?"

"Jam berapa mulai?"

"Setelah jam kerja. Pukul enam."

"Baik, Pak. Saya perlu menelepon sebentar untuk membatalkan sesuatu."

"Membatalkan."

"Janji, Pak."

Dada Navin mengencang. "Janji dengan siapa?"

"Dengan seorang teman."

"Teman."

"Ya, Pak."

Ia menunggu Ophelia protes. Menunggu ia berkata tidak bisa, Pak, saya sudah punya rencana. Tapi ia hanya menunduk, mengambil ponselnya, dan menekan sesuatu. Navin berdiri terpaku, tidak tahu apakah ia menang atau baru saja kalah sesuatu yang lebih besar.

"Ada yang lain, Pak?" tanya Ophelia tanpa mengangkat kepala.

"Tidak."

"Baik."

Ia berbalik dan berjalan kembali ke ruangannya dengan langkah yang terlalu pelan. Ketika pintu tertutup, ia bersandar di baliknya dan memejamkan mata.

Ketika ia membuka mata, dari balik kaca ia melihat Bastian menatap ke arahnya sambil menggigit bibir, bahu pria itu berguncang seperti sedang menahan tawa. Navin tidak mengerti kenapa. Ia hanya tahu tatapan itu terasa seperti tantangan yang tidak ia pahami aturannya.

Dimas masuk beberapa menit kemudian. Ia menutup pintu di belakangnya pelan-pelan.

"Pak, boleh saya bicara?"

"Tidak."

"Bapak baru saja menyalahgunakan wewenang."

"Saya tahu."

"Bapak tahu ini akan membuat Ibu Ophelia semakin..."

"Saya tahu."

"Lalu kenapa, Pak?"

Navin tidak menjawab. Ia menatap jam dinding, jarum yang bergerak lamban, dan berpikir bahwa ia sedang melakukan hal yang paling egois seumur hidupnya. Ia menahan seorang perempuan dari apa pun yang membuatnya begitu cerah, hanya karena ia takut, sangat takut, membayangkan perempuan itu berjalan bersama pria lain di malam yang sama.

"Karena satu malam," ucapnya pelan. "Hanya satu malam. Aku tidak minta lebih."

Dimas terdiam. Untuk sekali ini, ia tidak punya kalimat cerdas.

"Pesankan makan malam," lanjut Navin.

"Untuk berapa orang, Pak?"

"Dua."

"Menu, Pak?"

"Sup hangat. Nasi. Kopi hitam yang benar." Ia berhenti. "Dan bukan soto."

"Baik, Pak."

Dimas keluar. Navin duduk sendiri menatap dinding kaca, dan dari balik kaca itu, ia melihat Ophelia menelepon seseorang dengan senyum kecil yang aneh di bibirnya.

Ia tahu ia berbuat tidak adil. Ia tahu ia egois. Tapi ia juga tahu, dengan kejujuran yang menyakitkan, bahwa untuk satu malam saja ia ingin menjadi orang yang duduk di seberang meja perempuan itu.

Dan ia tidak tahu bagaimana caranya berhenti menginginkan hal itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!