Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Kemarahan Raden Daksa
Suasana makan siang hari iu terasa hangat. Mereka, keluarga inti berkumpul bersama di meja makan dan menikmati hidangan makan siang itu bersama. Astri sendiri, lebih sibuk mengurusi putrinya yang duduk di sebelahnya.
"Lho... Lho! Biasanya Sasa mandiri, kenapa kok sekarang malah manja dan minta di suapi seperi itu?" Tanya Guranti yang mulai memantik perdebatan.
"Ya begitulah. Padahal Eyang Putrinya ini sudah berusaha mengajari yang terbaik, supaya Sasa tida merepotan. Eee- ternyata..." Timpal Marini.
"Sasa ndak merepotkan kok, Bu. Hanya minta di suapi saja." Jawab Astri dengan sopan.
Lagi pula, Astri benar tak merasa di repotkan dengan Sasa yang hanya minta untuk di suapi. Sasa pun makan dengan rapi dan tanpa drama saat minta untuk di suapi.
"Ya begitulah, Mbak Marini. Kadang ada orang yang sudah di ringankan, tapi malah ingin sesuatu yang lebih berat. Sudah enak mengurus keluarga saja di rumah, malah mau mengurusi urusan pria." Timpal Rengganis yang mulutnya tak kalah tajam dari Marini.
"Apa sebuah kesalahan, kalau hanya ingin menyuapi anaknya?" Tanya Raden Daksa sambil menatap ke arah Ibu dan Buliknya yang kebetulan duduk di depannya.
"Aku rasa, hal itu adalah hal wajar yang dilakukan setiap ibu." Imbuhnya kemudian, masih dengan tatapan dingin yang menusuk.
"Sudah, jangan di perpanjang lagi. Hal yang wajar jika Sasa minta di suapi. Sasa masih kecil. Lagi pula, dia pasti merasa bungah (bahagia) dan selalu ingin di manja oleh Ibu barunya." Ujar Mbah Harti yang membuat suasana di meja makan itu kembali tenang.
Setelah makan siang itu selesai, Marini kemudian menginterupsi hingga membuat perhatian seluruh keluarga tertuju padanya. Senyuman bahagia dan sumringah, terlukis di wajahnya sebelum menyampaikan pengumuman itu.
"Alhamdulillah. Hari ini terasa sangat membahagiakan karena abar gembira dari Raden Dwipa dan menantuku, Serayu." Ujar Marini membuka pengumumannya.
Raden Dwipa sendiri tampak terkejut. Ia kemudian melirik ke arah istrinya yang duduk di sebelahnya. Ia pun mendadak menjadi was-was dengan hati berdebar. Raden Dwipa kemudian menatap ke arah Astri yang berada di depannya.
Saat itu juga, Raden Dwipa yang masih mengharapkan Astri, teringat akan janjinya. Ia pernah berkata jika tak akan meniduri Serayu, untuk membuktikan cintanya pada Astri.
"Serayu sedang hamil muda. Usia kandungannya sudah masuk minggu ke lima. Pewaris Trah Soeradiningrat akan memberikan penerus untuk Trah ini." Ujar Marini dengan wajah bahagia yang berseri-seri.
Tak hanya Marini, semua keluarga pun tapak bahagia dengan kabar itu. Mereka mengucapkan selamat atas kehamilan Serayu itu, pada Raden Dwipa dan istrinya.
"Selamat, Dwipa, Serayu. Semoga anak kalian lahir dengan sehat dan selamat nantinya." Ucap Raden Daksa.
Raden Daksa melirik ke arah Astri. Ia khawatir jika Astri merasa tak nyaman dengan hal ini. Namun, untungnya Astri terlihat tetap tenang dan biasa saja. Ia bahkan turut mengucapkan selamat atas kabar bahagia dari Raden Dwipa dan Serayu.
"Apakah kamu sudah benar-benar melupakanku, Astri?" Batin Raden Dwipa. Hatinya terasa sangat sakit saat melihat Astri yang tetap tenang mengucapkan selamat padanya dan Serayu.
Setelah makan siang, mereka kembali beristirahat di kamar masing-masing. Raden Daksa menggandeng istrinya menuju ke kamarnya di rumah utama.
"Kamu baik-baik saja, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa.
"Aku?" Astri justru balik bertanya sambil menunjuk dirinya.
"Aku baik-baik saja sejauh ini, Mas." Jawab Astri.
"Mas takut kamu merasa tidak nyaman karena masalah tadi." Ujar Raden Daksa.
"Aku ndak apa-apa, Mas. Jangan khawatir." Astri meyakinkan sambil menggenggam lembut tangan suaminya.
Belum lama berada di kamar, Ponsel Raden Daksa pun berdering. Ia membuka pesan yang dikirimkan oleh Raden Dwipa.
"Mas keluar sebentar, Dek Ayu. Kamu beristirahat saja." Ujar Raden Daksa sambil mengusap puncak kepala Astri.
"Mas mau kemana?" Tanya Astri.
"Sepertinya ada yang ingin di bicarakan oleh Dwipa." Jawab Raden Daksa.
Astri hanya mengangguk, meskipun hatinya merasa penasaran. Ia menerka-nerka, apakah Raden Dwipa akan membicarakan tentangnya pada Raden Daksa?
...****************...
Raden Daksa melangkahkan kaki menuju ke tempat yang diminta oleh adiknya Raden Dwipa. Disana, ia melihat Raden Dwipa sedang duduk di bangku yang ada di bawah pohon rindang.
"Ada apa, Dwipa?" Tanya Raden Daksa saat menghampiri adiknya.
"Ada yang mau aku bicarakan, Mas." Ucapnya.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Raden Daksa dengan tatapan yang tajam. Menelisik setiap ekspresi wajah adiknya yang terlihat sedikit tegang.
Raden Dwipa tiba-tiba berlutut di hadapan Raden Daksa.
"Apa-apaan kamu, Dwipa?" Tanya Raden Daksa dengan heran.
"Bangun sekarang!" Titahnya kemudian, namun tak di lakukan oleh Raden Dwipa. Raden Dwipa masih berada di posisinya, berlutut di hadapan Kakaknya.
"Tolong lepaskan Astri, Mas. Tolong kembalikan Astri padaku. Aku tidak sanggup jauh dari Astri." Pinta Raden Dwipa dengan suara bergetar. Netranya pun memerah karena menahan tangisan.
"Gila kamu!" Sentak Raden Daksa.
"Astri itu istriku dan ingatlah, aku tidak pernah mengambil apapun darimu." Imbuhnya.
"Kenyataannya, kamu mengambil Astri dariku, Mas." Sergah Raden Dwipa.
"Aku tidak pernah mengambil Astri, Dwipa! Kamu yang sudah melepaskan Astri karena kebodohanmu sendiri." Tegas Raden Daksa. Kalimat-kalimatnya meluncur dengan sangat dingin dan menusuk.
"Aku akan berikan semua yang Mas inginkan. Aku akan melepaskan tahtaku dan mengembalikannya pada Mas Daksa asal Mas juga mengembalikan Astri padaku." Kata Raden Dwipa yang seperti hilang akal.
"Istriku bukan barang yang bisa diambil alih dan di buang seenanknya! Sampai mati pun, aku tidak akan pernah melepaskan Ningmas Danastri." Jawab Raden Daksa.
Raden Daksa kemudian memutar tubuhnya. Ia hendak pergi meninggalkan Raden Dwipa yang masih berlutu. Namun, tangan Raden Dwipa yang memegangi kakinya, membuat langkahnya terhenti.
"Mas, aku mohon..."
"Cukup Dwipa! Jangan mempermalukan dirimu sendiri. Fokuslah saja dengan urusanmu dan keluargamu. Kamu dan Serayu akan memiliki anak sebentar lagi." Bentak Raden Daksa dengan suara berat dan dalam. Ia mati-matian menahan emosi agar tak membentak adiknya lebih keras dari ini.
"Aku tidak pernah menghendaki anak itu, Mas! Itu keinginan Serayu sendiri. Dia yang menjebakku karena ingin mendapatkan keturunan dariku." Kata Raden Dwipa.
Raden Daksa mengepalkan tangannya dengan erat. Emosi yang sedari tadi ia tahan, kini rasanya sudah berada di ubun-ubun. Ia menarik kerah baju Raden Dwipa hingga membuat Adiknya itu berdiri dari posisi berlutut.
Buuuggghhh!
Tanpa ragu, Raden Daksa melayangkan bogem mentah hingga membuat sudut bibir Raden Dwipa mengeluarkan darah.
"Jangan jadi pengecut, kamu! Jangan membuat Trah Soeradiningrat malu karena memiliki pewaris yang pengecut!"
"Apapun alasannya, itu adalah perbuatanmu dan kamu harus tanggung jawab. Ingat satu hal lagi, sampai mati pun, aku tidak akan melepaskan Astri. Astri sudah menjadi istriku, maka jangan berani kamu ganggu Mbak Iparmu itu lagi!" Ujar Raden Daksa dengan penuh penekanan.
Ia kemudian melepaskan cengkramannya dan segera meninggalkan Raden Dwipa agar tak semakin bertambah emosinya.
🤔🤔
othor kie...🤣😄