Bagi Roselia, musuh dia hanya satu: Gabriel, putra Adipati saingan keluarganya.
Dua keluarga Adipati itu sudah bermusuhan turun-temurun, jadi tontonan seluruh istana.
Sampai sebuah fitnah keji dari Pangeran Ke-4 menjatuhkan keluarga Roselia. Ia dibuang ke perkebunan terpencil yang kumuh.
Roselia pikir hidupnya sudah berakhir.
Sampai takdir mempertemukan mereka lagi.
Ia menemukan Gabriel — sang musuh bebuyutan yang sombong itu — hanyut pingsan di sungai dekat perkebunannya.
Saat terbangun, Gabriel menatapnya kosong.
"Siapa... aku?"
Dia hilang ingatan!
Dendam Roselia membara. Inilah kesempatannya!
Ia menjadikan pewaris Duke yang angkuh itu sebagai pesuruh kebunnya. Disuruh mencuci, memanen, tidur di gudang!
Balas dendam kecilnya terasa manis... sampai Roselia sadar, Pangeran Ke-4 yang menghancurkan keluarganya, ternyata juga dalang di balik kecelakaan Gabriel.
Mereka dijebak. Diadu domba sejak awal.
Kini, saat ingatan Gabriel perlahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semesta memberikan kesempatan
Jika ada satu hal yang paling di benci Roselie dunia ini melebihi hujan deras yang merusak panen anggur, itu adalah nama Gabriel von Valerius.
Nama itu adalah kutukan. Menyebut namanya saja, akan mendatangkan sial! Sial tujuh turunan!
Sejak mereka berusia tujuh tahun, Gabriel adalah kerikil tajam di dalam sepatu kehidupan Roselie. Gabriel selalu menempati dan merebut posisi pertama dalam ujian akademis akademi ibukota, dia yang disanjung-sanjung para bangsawan, dan keluarganya—Keluarga Adipati Valerius—adalah saingan politik terbesar keluarganya, Keluarga Adipati Hazel.
Sejak kecil, tekanan untuk bisa melebihi keturunan Valerius selalu melekat pada Rosalie .Makanya, sifat kompetitif nya, tentu saja diwariskan dari leluhur.
Persaingan dua keluarga itu bahkan sudah menjadi rahasia umum di seluruh penjuru Istana Kerajaan.
Tapi itu dulu.
Sekarang? Roselie bukan lagi putri bangsawan anggun yang berdansa di ruang aula megah ibukota.
"Nona Roselia! Tolong sebelah sini! Aliran sungai di bagian barat meluap lagi!"
Bret, sang pelayan memperingatkan majikannya.
Suara panggilan dari paman pengawas perkebunan memutus lamunan Roselie. Dia menarik napas dalam-dalam, menepuk gaun kain kelim sederhananya yang sudah ternoda lumpur, lalu melangkah menerobos hujan gerimis yang mulai turun.
Pengasingan. Itu kata yang lebih halus untuk menyebut nasibnya sekarang.
Tiga bulan lalu, tuduhan penyalahgunaan dana militer mendadak dijatuhkan pada ayah Roselie . Orang-orang di ibukota mendadak memusuhi keluarga Duke Hazel. Ayah Roselie dibuat serba salah di istana, hingga akhirnya Roselie diungsikan ke perkebunan tua milik keluarga di wilayah pinggiran ini demi keselamatannya. Dan siapa lagi pelakunya kalau bukan tudingan licik dari keluarga Valerius yang membuat posisi Duke Hazel makin tersudut?
"Dasar Gabriel brengsek..." gumam Rose seraya mengutuk dalam hati. "Pasti ini semua ulah keluarganya!"
"Nona! Bukan masalah sungainya yang luap!" Paman pengawas berlari menghampiriku dengan wajah pucat pasi, napasnya tersengal-sengal. "Ada... ada mayat! Eh, maksud saya, ada orang hanyut di tepi sungai!"
Rose mengerutkan dahi. "Orang hanyut? Warga lokal?"
"Bukan, Nona. Pakaiannya... terlihat seperti kain sutra mahal ibukota. Tapi kondisinya basah kuyup dan penuh luka."
Rasa penasaran mengalahkan rasa lelah Rose. Dia kemudian menyambar payung dan menyusuri jalan berbatu menuju bebatuan licin di pinggir sungai. Di sana, seorang pria terbaring telungkup di antara semak-semak basah. Pakaian hitamnya robek-robek, dipenuhi lumpur dan bercak darah yang mulai memudar tersapu air.
Rose mendekat perlahan, menggunakan ujung sepatunya untuk menepuk bahunya pelan. "Hei. Masih hidup?"
Tidak ada jawaban.
Rose menghela napas, lalu berlutut dan membalikkan tubuh pria itu. Rose menyingkap rambut pirang basah yang menutupi wajahnya.
Deg.
Jantung Rose serasa berhenti berdetak saat itu juga.
Fitur wajah yang tajam, rahang yang tegas, dan keangkuhan yang bahkan tidak hilang meski wajahnya dipenuhi luka goresan. Tidak salah lagi. Bahkan jika wajah ini hancur sekalipun, Rose yakin seyakin-yakinnya tidak akan pernah lupa.
"Ga... Gabriel?" suaranya tertahan di tenggorokan. Manusia yang dari tadi Rose kata-katai dalam hati. Panjang umur langsung muncul di hadapannya .
Setan apa yang membawanya ke tempat terpencil ini?! Dan kenapa dia bisa hanyut dengan kondisi menyedihkan seperti ini?!
Rasa benci langsung membakar dadanya. Wajah Duke Hazel yang frustrasi di ibukota, tatapan sinis para bangsawan, dan penderitaanku selama di pengasingan—semuanya melintas di kepala Rose.
‘Bagus,' bisik batin jahatnya
. 'Biarkan saja dia tenggelam dan mati. Bukankah ini pembalasan karma yang sempurna untuk keluarganya?’
Rose berdiri tegak, membalikkan badan, dan bersiap melangkah pergi. "Paman, biarkan saja. Paling cuma—"
"Euh..."
Sebuah erangan lemah terdengar dari belakangnya. Jari-jari pria itu bergerak canggung, meraih ujung gaun Rose yang kotor.
Rose terhenti. Tatapannya turun ke tangannya yang gemetar.
"Nona... Kalau dia meninggal di perkebunan akan jadi repot! Apalagi kalau dia bukan rakyat biasa!"
Kata kata Paman Bret membuatnya sadar. Dia mengatakan kebenaran.
Gabriel perlahan membuka matanya. Manik mata berwarna biru jernih yang biasanya menatap Roselie penuh kesombongan dan nada ejekan itu... kini tampak sangat redup. Kosong. Dan penuh rasa takut.
"T-tolong..." bisiknya sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara gemericik air sungai.
Ugh! Rose merasa kesal, kenapa harus punya nurani di saat seperti ini?!
"Cih, menyusahkan saja!" umpatnya kesal. Rose kembali berlutut, menepuk pipinya agak keras—sekalian melampiaskan kekesalan. "Hei! Valerius! Buka matamu! Jangan berani-berani mati di tanah perkebunanku!"
Gabriel mengerjap beberapa kali. Pandangannya perlahan memfokus pada Rose. Tidak ada tatapan dingin yang biasa ia tunjukkan. Tidak ada seringai menyebalkan yang selalu membuatku naik darah.
Dia lalu pingsan begitu saja.
Karena kasihan, tentu saja Paman Bret akhirnya menolongnya atas instruksi ku.
Paman Bret juga ditugaskan untuk mencarikan tabib dan memeriksa laki-laki yang sudah tidak sadarkan diri.
"Benar.... Ini kemanusiaan. Bahkan kucing saja akan kutolong kalau mereka tampak menyedihkan kan?" Rose meyakinkan dirinya. Karena pikiran dan hatinya serasa tak sejalan.
***
Setelah 3 hari, laki-laki yang di rawat di pondok belakang itu pun terlihat ada kemajuan.
Akhirnya Gabriel siuman.
Saat membuka matanya, tatapannya bingung, lalu bertanya dengan suara serak:
"...Siapa?"
Rose memiringkan kepala. "Apa maksudmu 'siapa'? Ini aku, Roselia! Musuhmu!"
Gabriel mengerutkan dahi pelan, seolah berusaha memproses kata-kata wanita yang dengan wajah cantik tapi bernada ketus tersebut. Kepala yang kesakitan. Dia memegang kepalanya yang sudah diperban dengan kain bersih. Lalu menatap wanita itu sekali lagi dengan mata polos yang belum pernah dilihat sebelumnya.
"Roselia...? Musuh...?" Gabriel menatap tangannya sendiri, lalu menatapku lagi dengan raut wajah tanpa dosa.
"Aku... aku siapa?"
Jederrrrr, hal yang tak pernah Roselie duga.
---
panik Khan Rosalie..
kebayang malunya gimana 🥲. Rosalie udh donk jangan sandiwara trus. Gabriel udh inget itu 😭😭😭
eeehhhh🤭🤭🤭
trus gimana donk.. satu2nya jalan keluar Gabriel terjun ke sungai.. tapi..... 😮💨😮💨
. Gabriel udh inget lagi...🤭🤭🤭 gmNa nasib Rosalie yang mentah2 membohongi Gabriel..🤣🤣🤣 aduuhh pasti abis ini Gabriel pura2 deh sama Rosalie.. mau ngapain coba dia🤣, nggak mungkin kalo nggak balas dendam