Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 21
Zemima mengulurkan jemarinya yang lentik, merengkuh lengan Arsyad dan menyandarkan kepalanya dengan sangat manja di bahu sang suami. Gestur penuh kasih sayang itu terasa begitu kontras dengan tatapan matanya yang dingin menguliti satu per satu wajah di ruangan tersebut. Apalagi dengan penampilan Zemima yang membiat semua orang terkaget-kaget. Wanita yang biasanya berpenampilan sederhana dan penuh sopan santun kepada mereka kini tampak berbeda dari semenjak kemarin saat datang memberikan uang bulanan dan juga makanan dari restoran mahal.
"Mas Arsyad ini memang suami yang terlalu rendah hati, Bu," ujar Zemima dengan suara sehalus sutra, mengelus lembut dada Arsyad.
"Dia rela dibilang penampilan biasa saja, padahal di luar sana dia berjuang keras. Iya kan, Mas? Malah tadi di mobil, Mas Arsyad bilang kangen banget sama aku. Katanya empat bulan mengurus proyek Surabaya itu rasanya seperti siksaan karena nggak bisa meluk aku setiap malam."
Arsyad menyentak kaku. Wajahnya yang semula pucat kini berubah menjadi merah padam. Matanya refleks melirik ke arah Dina. Wanita muda itu tampak mengepal erat daster di bagian perut buncitnya, matanya mulai berkaca-kaca menatap kemesraan Arsyad dan Zemima. Dan Zemima yang memang sedang memancing terlihat sangat senang.
"Dek... udah yuk, kita kan cuma mau antar kue," bisik Arsyad panik, suaranya gemetar menahan malu sekaligus takut. Jemarinya mencengkeram halus pundak Zemima, berusaha mengajak istrinya berdiri.
"Ibu sama yang lain kan lagi makan malam, kita nggak enak kalau mengganggu lama-lama. Yuk, kita pulang sekarang?"
"Lho, kok terburu-buru banget sih, Mas?" potong Zemima, malah makin mempererat pelukannya di lengan Arsyad.
Ia mengecup pipi suaminya dengan mesra tepat di hadapan semua orang, membuat suara desakan napas tertahan terdengar dari arah Mbak Rika dan Siska. Sedangkan Arsyad secara refleks dan karena sudah terbiasa membalas kecupan dari Zemima ke pipi dan keningnya. Hal itu membuat suasana menjadi semakin dingin.
"Aku kan masih kangen sama Ibu dan adik-adik kamu. Lagipula, aku mau dengar cerita dari Dina," lanjut Zemima santai. Pandangannya mengunci Dina yang kini merunduk makin dalam.
"Dina, tadi Mbak dengar kamu tumpangan sepupu istrinya teman Mas Hendra, ya? Suamimu dinas luar pulau di mana? Kok tega banget ya meninggalkan istri yang sedang hamil tua sendirian di rumah orang lain? Apa suamimu itu tidak bertanggung jawab? Atau... dia punya 'istri sah' lain yang harus dijaga perasaannya di rumah lain, makanya kamu tinggal di sini? Itulah gunanya kita harus tahu siapa pria yang kita dekati, Dina. Jangan asal mau apalagi sampai di celup-celup sampai hamil begini..."
Prang!
Sendok di tangan Mbak Rika jatuh menyenggol piring kristal. Suasana di ruang tengah mendadak membeku total. Bau gurih hidangan laut yang memenuhi ruangan seolah menguap, berganti dengan udara tegang yang mencekik tenggorokan.
Bu Rahmi membetulkan posisi duduknya dengan gerakan serba salah, dadanya naik turun menahan gumpalan kekesalan dan ketakutan.
"Mima! Kamu ini ngomong apa, sih?! Bertanya kok sembarangan begitu! Dina itu tamu di rumah ini, jangan bikin dia stres, nanti kenapa-napa kandungannya!"
"Lho, Ibu kok malah bentak Zemima?" tanya Zemima polos, menatap ibu mertuanya tanpa kedipan. Ia melepas pelukannya dari lengan Arsyad, lalu memiringkan kepala.
"Zemima kan cuma perhatian, Bu. Kasihan Dina, hamil besar tapi suaminya sibuk 'dinas luar kota' dan cuma bisa menafkahi dari jauh. Mirip banget sama kondisi aku beberapa bulan terakhir ini. Bedanya... suami aku kan Mas Arsyad, pria setia yang nggak mungkin menduakan aku. Benar kan, Mas?"
Zemima mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Arsyad. Senyuman manis terpatri di bibirnya, menunggu jawaban dari mulut pria yang kini sudah dibanjiri keringat dingin hingga ke kerah kemeja birunya.
"I... iya, Dek... Mas cuma sayang kamu... Dan hanya kamu istri, mas. Mana mungkin Mas berani macam-macam apalagi sudah punya istri yang seperti kamu... Semuanya ada di kamu, Sayang," sahut Arsyad terbata-bata, suaranya sangat pelan bagai bisikan orang sekarat.
Ia memegang kedua bahu Zemima, tatapannya memohon setengah mati.
"Dek, Mas mohon... kepala Mas mendadak pusing banget. Proyek di kantor tadi bikin Mas stres. Kita pulang sekarang ya, Sayang? Tolong... demi Mas?"
Siska dan Mas Hendra saling melempar pandang penuh kepanikan, tak berani berkutik. Ketenangan Zemima yang begitu anggun, dipadukan dengan gaun mewah dan pendar barang-barang mahalnya, membuat mereka sadar bahwa wanita di hadapan mereka saat ini bukanlah Zemima penurut yang bisa mereka sepelekan lagi.
Zemima memperhatikan raut ketakutan di wajah Arsyad, lalu beralih menatap wajah-wajah pucat keluarga mertuanya. Ia tersenyum puas, sebuah kemenangan kecil yang tertata rapi.
"Ya ampun, Mas Arsyad pusing?" tutur Zemima dengan nada cemas yang dibuat-buat. Ia berdiri anggun, merapikan gaun sutranya dan menyampirkan tas Hermès-nya di lengan.
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang. Kasihan suami aku yang hebat ini kalau sampai sakit. Nanti kalau sampai berpengaruh dengan Proyek di Surabaya, maka promosi kamu menjadi Pimpinan Cabang akan sirna..."
Zemima melangkah mendekati Bu Rahmi, mengulurkan tangannya yang dihiasi jam berlian untuk bersalaman.
"Ibu, Zemima pamit dulu ya. Kuenya dimakan ya, Bu. Ingat, itu kue mahal, jangan sampai dibuang. Kalau kurang, bilang saja sama Zemima, nanti Zemima belikan toko kuenya sekalian."
Bu Rahmi menerima uluran tangan Zemima dengan jemari kaku dan gemetar, tak sanggup mengeluarkan satu kata pun dari tenggorokannya.
"Dina... sehat-sehat ya kandungannya," bisik Zemima lembut saat melewati meja makan, mengusap pelan pundak Dina yang langsung menyentak kaku.
"Semoga suamimu segera sadar dan pulang... sebelum semuanya terlambat. Kasihan anak di dalam kandunganmu. Karena di dapat dari hasil menyakiti wanita lain. Saran aku kamu juga harus sholat taubat deh, kayaknya..."
Tanpa menunggu balasan dari siapapun, Zemima berbalik anggun, berjalan keluar rumah dengan derap sepatu hak tinggi yang berbunyi tegas di atas lantai. Arsyad setengah berlari mengikutinya dari belakang, terburu-buru menutup pintu tanpa sempat mengucapkan salam pada keluarganya sendiri, meninggalkan ruang tengah yang hancur berantakan oleh ketakutan dan kebohongan mereka yang mulai terkelupas.
Pintu mobil SUV ditutup dengan dentuman yang cukup keras oleh Arsyad. Begitu mesin menyala dan mobil bergerak membelah kegelapan jalan raya, keheningan tegang langsung membungkus kabin. Arsyad mencengkeram lingkar kemudi sangat erat hingga buku-buku jari tangannya memutih. Keringat dingin di pelipisnya berganti menjadi gejolak emosi dan kepanikan yang membumbung tinggi.
Sambil melirik Zemima yang sedang santai merapikan tatanan rambutnya di spion dalam, Arsyad akhirnya melepas ledakan defensifnya.
"Kamu tadi maksudnya apa sih, Dek?!" cerca Arsyad dengan nada tinggi, matanya menatap tajam ke depan sambil sesekali melempar tatapan marah pada istrinya.
"Perilaku kamu di rumah Ibu tadi bener-bener berlebihan! Nggak sopan!"
Zemima tidak menyentak kaku. Ia hanya menengok pelan, memiringkan kepalanya dengan raut wajah seolah baru saja mendengar lelucon lucu.
"Berlebihan? Bagian mananya yang berlebihan, Mas?" tanya Zemima sehalus sutra, suaranya teratur dan sangat tenang.
"Semuanya!" tegas Arsyad, dadanya naik turun memburu.
"Cara kamu ngomong, gaya pamer kamu, sampai ucapan kamu ke Dina! Kamu itu seperti sengaja mojokkan Ibu dan saudara, Mas! Nggak cukup kamu pamer kue empat juta dan barang-barang mahal itu, kamu juga pakai nyindir-nyindir soal suami Dina yang dinas luar pulau! Kamu tahu kan Ibu punya riwayat darah tinggi? Kalau Ibu serangan jantung karena omongan kamu tadi gimana?!"