Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.
Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teganya Istri
Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh. Nadira baru saja kembali dari luar bersama bosnya. Keduanya kembali ke kantor setelah selesai melakukan meeting dengan klien.
Setelah meletakkan tasnya di atas meja, Nadira berlalu menuju pantry. Wanita itu kemudian menyeduh segelas teh dingin untuk menyegarkan dirinya pagi ini.
Saat sedang mengaduk minumannya, seorang wanita yang sebaya dengannya menghampiri Nadira. Wanita itu juga sedang membuat minuman untuk dirinya sendiri.
"Heh ... Dari mana? Baru kelihatan."
"Biasalah. Baru meeting di luar."
"Kalau itu aku tahu. Maksudku, kenapa baru masuk? Kemarin ke mana? Bulan madu, ya?"
"Bulan madu apaan? Kamu sendiri tahu, kan, aku nggak jadi nikah sama Daulat."
"Lho, terus kalau nggak jadi nikah sama Daulat, kamu mengabaikan suami kamu sekarang?"
Nadira menatap rekan kerjanya. Monic adalah tempat Nadira bercerita selama berada di kantor. Jadi, Monic merupakan orang pertama yang mengetahui bahwa Nadira tidak jadi menikah dengan Daulat.
"Kamu tahu ... Aku menikah dengan Rayzan karena orang tuaku. Sejujurnya, aku punya tujuan lain untuk menerima pernikahan ini."
Monic masih menatap wajah temannya sambil mengaduk minumannya.
"Aku masih sakit hati dengan Daulat. Aku nggak terima dia memperlakukan aku seperti ini ... Aku tahu, sesayang apa pun Daulat dengan istrinya, dia akan lebih sayang dengan Rayzan. Karena dia sering membuat Rayzan mendapatkan masalah."
"Dan ini adalah kesempatanku. Aku akan menghancurkan Rayzan agar Daulat tahu kalau aku nggak akan membiarkan dia bahagia."
"Heh, sadar ... Sekalipun kamu benci Daulat, kamu nggak boleh menyakiti Rayzan. Dia suami kamu. Bukan orang lain."
"Terserah ... Aku nggak peduli, asalkan dendamku terbalaskan."
"Oke, gini. Kamu boleh balas dendam kepada Daulat. Tapi nggak baik kalau kamu melibatkan Rayzan dalam permasalahanmu dengan mantan calon suamimu itu."
"Mereka harus menanggung akibatnya."
Nadira melenggang pergi begitu saja. Sakit hatinya semakin menjadi-jadi setelah Rayzan berani menyentuhnya.
[] [] []
Hari sudah mulai siang. Merry sampai di rumah dengan mengendarai taksi. Wanita itu baru saja selesai melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru. Merry mengernyitkan kening ketika melihat sebuah mobil masih terparkir rapi di halaman rumah.
"Apa Rayzan nggak pergi kerja?" tanyanya pada diri sendiri.
Perlahan, wanita itu memasuki rumah. Dia semakin bingung karena pintu rumah tidak terkunci. Merry kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar Nadira.
Tok! Tok! Tok!
"Rayzan ... Rayzan."
Tidak ada sahutan dari siapa pun. Merry memutuskan untuk membuka pintu kamar. Ruangan itu terlihat rapi, tetapi terasa seperti tidak berpenghuni.
"Rayzan?"
Pria yang berada di dalam kamar mandi tidak mengetahui bahwa mertuanya ada di dalam kamar. Akibat rasa lelah yang dirasakannya, Rayzan tertidur dengan sangat nyenyak.
"Ke mana, ya, anak itu?"
Merry keluar dari kamar putrinya. Dia pun segera bersiap-siap memasak karena sebentar lagi suami dan anaknya pasti pulang.
[] [] []
Setelah salat Zuhur, Merry segera menyajikan makanan yang sudah dimasaknya satu jam yang lalu. Kini, dia hanya tinggal menunggu kepulangan suami dan anaknya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Sultan baru saja pulang. Dia langsung duduk di kursi meja makan. Rasa lapar mulai menghampiri setelah pikirannya terkuras di kampus karena mengikuti pelajaran.
"Mama baru pulang?" tanya Sultan.
"Sudah dari tadi. Makanya Mama sempat masak."
Merry menuangkan segelas air putih untuk putranya. "Abang kamu mana?"
"Bang Rayzan? Nggak tahu, Ma."
"Kamu nggak pergi bareng dia?"
"Nggak, Ma. Tadi Sultan bawa motor sendiri. Mungkin pergi bareng Kakak. Tadi Sultan tinggalin Kakak sendirian."
"Tapi pintunya nggak dikunci."
"Bisa saja mereka lupa, Ma."
Saat keduanya sedang menyantap makanan, Eros baru sampai di rumah. Dia pun ikut bergabung bersama anak dan istrinya.
"Masuk lagi, Sultan?" tanya Eros kepada putranya.
"Iya, Pa. Tapi nanti ada kelas sore."
"Nadira sudah pulang?" tanyanya.
"Belum, Mas."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." jawab ketiganya.
Baru saja mereka membicarakan wanita itu, Nadira sudah berdiri di hadapan mereka semua. Dia menuangkan segelas air putih, lalu langsung meneguknya.
"Capek banget," lirih Nadira.
"Rayzan mana?" tanya Merry.
"Nggak tahu," jawab Nadira.
"Bukannya dia sama kamu?"
"Mama ada-ada saja, deh. Mana mungkin Rayzan sama aku sejalan. Terserah dia mau ngapain, aku nggak peduli."
"Nadira ... Jaga sikap kamu!" ucap Eros. "Papa nggak suka kamu seperti ini."
"Mereka yang membuat aku bersikap seperti ini, Pa."
"Tapi bukan Rayzan!"
"Papa kenapa nggak mau mengerti aku? Aku sakit hati dengan Daulat. Kalian harus paham itu."
Nadira tidak jadi makan. Dia tidak ingin membuat keributan di meja makan, apalagi hanya karena permasalahan yang menurutnya tidak penting.
[] [] []
Begitu Nadira masuk ke dalam kamar, dia melihat pintu kamar mandi. Sejenak dia termenung menatap ke arah sana.
"Nadira, itu kamu?"
"Ya! Kenapa?"
"Buka pintunya. Aku sudah nggak kuat di sini. Aku kedinginan, aku lapar."
"Rasain saja dulu ... Aku mau melihat kamu sakit. Dengan begitu, Daulat pasti akan cemas."
"Buka pintunya, jangan buat masalah lagi."
Nadira berjalan ke arah pintu kamar mandi.
Brak!
Rayzan yang berada di dalam kamar mandi terkejut saat wanita itu menendang pintu tersebut.
"Nadira, buka!"
"Ini juga salah kamu. Kenapa kamu mencium aku? Aku benci itu."
"Apa yang kamu permasalahkan? Aku ini suami kamu," ucap Rayzan. "Lagian, aku mencium kepala kamu, bukan bibir kamu."
"Sama saja. Aku nggak akan membiarkan kamu menyentuhku."
"Oke ... Aku nggak akan melakukan itu lagi. Tapi kamu harus buka pintunya. Aku benar-benar lapar."
"Nikmati saja dulu sampai kamu sadar kalau kelakuan kamu kemarin nggak baik."
"Harusnya kamu senang, Dira. Walaupun kita menikah karena keterpaksaan, aku peduli pada mu. Sedikitpun aku nggak marah kamu memperlakukan aku seperti ini."
"Kamu dan keluarga mu harus hancur. Seperti janjiku waktu itu, kamu akan bertanggung jawab atas yang yang udah dilakukan Daulat pada ku."
"Buka sekarang!"
"Enggak akan."
[] [] []
"Daulat, hari ini Rayzan ada menghubungi kamu?"
"Enggak, Ayah. Kenapa?"
"Dia nggak bisa dihubungi."
"Nggak bisa dihubungi gimana?" tanya Daulat.
Indah memposisikan layar ponselnya tepat di depan Daulat.
"Lihat, sebanyak ini Umi telepon dia nggak di angkat. Bahkan dia nggak ada niat untuk menghubungi Umi."
"Mungkin dia sibuk, Mi."
"Sesibuk apa pun kalian, apa pernah kalian mengabaikan telepon kami?" tanya Ozan.
Daulat berpikir sejenak mendengar ucapan dari orang tuanya. Tidak ada sejarahnya mereka mengabaikan telepon dari kedua orang tua. Baru kali ini Daulat melakukannya, yaitu ketika dia melarikan diri dari pernikahan.
"Dia juga nggak datang ke sini. Umi khawatir sama dia."
"Minum, Mi, Yah," ucap Resya yang membawakan minuman untuk mertuanya.
Wanita itu kemudian duduk di samping suaminya.
"Kenapa, Mas?"
"Rayzan susah dihubungi."
"Kenapa nggak telepon Nadira saja?"
"Daulat, coba kamu telepon."
"Kok Daulat sih, Yah?"
"Nggak apa-apa. Sekalian menjalin silaturahmi."
"Iya, iya."
Daulat beranjak dari sofa untuk mengambil ponselnya yang berada di dalam kamar. Resya yang masih merasa canggung langsung menyusul suaminya.
"Lihat perempuan itu. Ditinggal ke kamar aja ketakutan."
"Ketakutanlah. Cara kamu lihat dia aja seperti mau makan orang."
"Aku masih kesel, Mas," ungkap Indah.