Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Musibah
"Abang, bisa tolong antar Ibu?"
Gala yang tengah bersantai di sofa dengan kepala di pangkuan Rea, pun menoleh ke arah Ibunya.
"Kemana?" tanyanya seraya bangkit.
"Mau ke warung di ujung jalan."
Gala mengangguk, lalu meraih kunci motornya di atas meja. "Gue antar Ibu dulu," katanya seraya mengusap kepala Rea singkat.
"Hati-hati, Bu."
Revin tersenyum dan berjalan mengikuti Gala yang sudah lebih dulu keluar rumah.
Saka sedang keluar, katanya ke cafe entah untuk apa, padahal hari sudah sore.
"Mau beli apa, Bu?"
Revin naik ke boncengan Gala dengan menyamping. "Mau beli bahan kue."
Gala membantu melipat gamis yang Revin kenakan, agar tidak berkibar dan nantinya terlilit jeruji roda.
"Pegangan, Bu."
Revin mengangguk dan melingkarkan tangannya di pinggang Gala.
"Pelan aja, Bang."
Gala mengangguk pelan, dengan pipi mengembung. Jujur, ia tidak suka dengan panggilan itu, karena ia lebih suka dipanggil menggunakan nama.
Mendengar panggilan itu, membuat ia selalu teringat akan kenyataan jika ia bukan lagi anak tunggal. Sebentar lagi, akan ada saingan beratnya untuk menarik kasih sayang Ibu dan Papanya.
Sampai di ujung jalan, Gala hendak menyeberang dengan motornya menuju warung yang Revin maksud, beberapa pengendara sudah berhenti untuk memberikan ia lewat lebih dulu, karena lampu lalu lintas juga sudah berwarna merah.
Namun, belum ia menyeberang sempurna, salah satu motor melaju dengan kencang hingga menabrak roda belakang Gala dan membuatnya terjatuh bersama motornya.
"Sshh," ringis Gala merasakan perih di kaki dan tangannya yang mengenakan pakaian pendek.
Gala tidak peduli itu, karena yang menjadi fokusnya saat ini adalah Ibunya. Wanita itu jatuh terduduk di atas aspal, sambil memegangi perutnya.
Revin sempat merosot turun, sesaat sebelum motor itu menabrak motor Gala. Namun, dasarnya memang harus terkena musibah, tubuh wanita itu terdorong saat motor Gala tertabrak tadi, dan membuatnya jatuh terduduk.
Gala mendekat ke arah Revin, tanpa peduli dengan lukanya.
"Ibu, mana yang sakit, Bu?"
Revin tidak menjawab, ia hanya meringis sambil memegangi perutnya.
Gala bergegas mengambil ponsel di sakunya untuk menghubungi Rea, sedangkan beberapa pengendara turun untuk membantu meminggirkan Revin dan motornya.
Gala mengangkat tangannya saat seorang pengendara ingin membantunya berdiri. Ia bisa berdiri sendiri, meski sakit di sekujur kaki dan tangannya.
Gala duduk di trotoar dan menarik Revin untuk memeluknya. "Maafin Gala, Bu," lirih Gala sesaat sebelum panggilannya terjawab oleh Rea.
"Ke ujung jalan, bawa mobil. Cepat!"
Gala bahkan tidak memberikan kesempatan Rea untuk menjawab ucapannya, dan langsung mematikannya begitu saja.
Tidak ada pengendara yang menggunakan mobil, karena di sana hanya ada beberapa pengendara motor. Hari sudah sore, wajar jika tidak banyak pengendara yang lewat.
Tak butuh waktu lama, mobil sedan miliknya datang dan berhenti di depannya.
Gala segera bangkit dan mengangkat tubuh sang Ibu ke dalam mobil itu, tanpa peduli dengan darah yang mulai mengering di lengan dan kakinya.
"Lo di belakang, temenin Ibu." Gala membuka pintu di samping kemudi, setelah mendudukkan Revin di kursi belakang.
"Gue aja yang bawa," kata Rea sedikit khawatir dengan keadaan Gala yang juga penuh luka.
Terlebih saat melihat wajah itu sangat kalut, dengan mata memerah siap menangis.
Gala menggeleng, lalu menarik gadis itu agar segera pindah ke kursi belakang, menemani Revin yang terus memejamkan mata dan tak berhenti meringis sambil memegangi perutnya.
Gala mulai menjalankan mobilnya, dengan fokus pada jalan raya. Diam-diam, ia mengusap air matanya berulang kali saat air itu tak berhenti keluar.
Gala takut, takut apa yang ada di dalam pikirannya terjadi. Mengingat tangan Revin yang selalu memegangi perutnya, membuat pikiran Gala sangat kalut dan dipenuhi kekhawatiran.
Di tengah fokusnya mengendarai mobil sambil menangis dalam diam, ponselnya berdering tanda panggilan dari Saka.
Gala menelan ludahnya, lalu mengangkat panggilan itu dengan tangan gemetar dan air mata yang semakin deras keluar.
"Halo," ucap Gala dengan suara serak dan bergetar.
"Halo, kalian dimana? Kok rumah kosong?" tanya Saka yang tidak tahu apapun.
Gala terisak pelan, tak kuasa menjawab pertanyaan Saka. Ia takut Saka marah, tapi ia lebih takut jika sesuatu terjadi pada Ibu dan calon adiknya.
"Gala ...." Nafas Gala tercekat, ia menelan ludahnya susah payah. "Papa ke rumah sakit, nanti ketemu di sana," kata Gala pada akhirnya, seraya memejamkan mata sejenak dan kembali fokus pada kemudinya.
Tanpa menunggu jawaban Saka, Gala menutup teleponnya saat mereka sampai di pekarangan rumah sakit.
Gala memarkirkan mobilnya asal, lalu bergerak cepat untuk membawa Revin masuk ke ruang UGD. Bahkan, ia mengabaikan dua orang perawat yang membawa brankar, berniat membantu Gala membawa Ibunya.
Rea memarkirkan mobilnya lebih dulu di tempat yang seharusnya, barulah dia menyusul sang suami.
Dapat Rea lihat, Gala yang kini terduduk di kursi tunggu depan ruang UGD. Kepalanya tertunduk dengan tangan meremas rambutnya erat. Punggungnya tampak bergetar dengan isakan kecil yang terdengar.
Rea mendekat dan duduk di sebelah Gala, menepuk pundak cowok itu.
Gala diam, ia tidak menoleh ataupun mengganti posisinya. Ia masih menangis dengan isakan yang terdengar jelas oleh Rea.
"Kak, lukanya diobatin dulu, yuk."
Gala menggeleng pelan saat mendengar ajakan dari Rea.
Rea menghela nafas, lalu bergerak menarik wajah Gala agar menatapnya.
Bukannya tegak, Gala justru beralih memeluk Rea, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu.
"Gue takut," katanya dengan lirih, diiringi isak pelan yang tak kunjung berhenti.
Rea menepuk pundak cowok itu, ia baru tahu jika Gala akan selemah ini jika menyangkut orang tuanya. Di balik sifat galaknya, ternyata Gala menyimpan sifat yang begitu lembut.
"Rea, Gala! Ada apa?" tanya Saka yang baru datang dengan nafas tersengal.
Rea menoleh, begitupun Gala yang mengangkat kepalanya untuk menatap sang Papa.
Saka yang melihat luka di tangan dan kaki Gala, segera berjalan mendekatinya.
"Ini kenapa? Ada apa?" tanya Saka seraya memeriksa luka putranya, dan menoleh pada Rea dengan tatapan bertanya.
Rea menelan ludah, sambil melirik Gala yang kini menatap Saka dengan tatapan kosong.
"Rea gak tau, Pa. Tadi Ibu minta diantar Kak Gala ke warung yang ada di ujung," kata Rea hanya berdasarkan apa yang ia tahu, karena dia pun belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada suami dan Ibu mertuanya.
"Maaf," gumam Gala dengan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya, membuat Saka menatap cowok itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Gala semakin terisak hebat, tatkala Saka berlalu memasuki ruang UGD tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.
"Papa benci gue, Papa pasti kecewa sama gue."
Rea menggeleng pelan sambil memeluk kepala cowok itu, mengusapnya dengan lembut.
"Kakak tenang, ya? Kita obatin luka Kakak dulu, nanti kita temui Ibu sama Papa."
Gala menggeleng keras, lalu memeluk pinggang Rea, menenggelamkan wajahnya di cerukan leher gadis itu.
"Ibu pasti kecewa, Papa benci sama gue."
"Gakk boleh ngomong gitu, gak ada orang tua yang benci sama anaknya."
Gala tak menjawab, ia masih terus menangis hingga air matanya membasahi leher Rea.
Rea melepas pelukannya, lalu menangkup wajah Gala. "Obatin dulu lukanya, nanti ketemu sama Ibu. Oke?"
Tangis Gala sudah berhenti, namun masih tersisa isakan kecilnya.
Rea bangkit, lalu membantu Gala agar berdiri. Ia membawa cowok itu ke ruangan dokter untuk mengobati lukanya.
Meski tidak terlalu banyak, namun lukanya cukup dalam, terutama di bagian lutut dan siku.
Saat mengobati lukanya, pun Rea masih tetap di samping Gala. Cowok itu sejak tadi menggenggam tangannya dan sesekali meremasnya saat merasakan sakit pada lukanya.
Tampak Gala kembali meneteskan air mata saat dokter memberikan alkohol pada lukanya, membuat Rea bergerak menghapus air mata itu.
"Akh, perih," ringis Gala yang lebih seperti rengekan, karena tatapannya mengarah pada Rea dengan raut memelas.
Rea mengatupkan bibirnya. Ia yakin, sejak tadi Gala menangis bukan hanya takut pada orang tuanya, tapi karena merasakan sakit di tubuhnya.
"Sakit, Dok."
Gala memeluk Rea yang berdiri di sebelahnya, sedang ia duduk di atas kursi.
Gala menenggelamkan wajahnya di perut rata gadis itu, sedikit membuat Rea risi.
"Akh!"
"Heh!"
Rea mendorong kening Gala saat cowok itu berteriak kencang dan refleks menggigit perutnya. Tentu saja Rea terkejut.
"Jangan digigit," kata Rea seraya menatap Gala tajam.
"Sakit," rengek Gala dengan wajah lucunya, membuat Rea menggigit bibir bawah, menahan senyum gemas.
"Sudah, sudah diobatin Mas Gala, bayi gede," ledek Dokter yang sejak tadi memperhatikan tingkah Gala.
Rea terkekeh mendengar hal tersebut, sambil menyisir rambut Gala menggunakan jarinya.
"Makasih ya, Dok."
Dokter tersenyum dan mengangguk, memperhatikan Gala dan Rea yang sudah keluar dari ruangannya.
Kain perban tertempel di lutut kiri Gala dan siku kirinya, sedangkan luka yang lain hanya diberikan obat merah.
"Ayo," ajak Rea untuk masuk ke dalam ruang UGD, dimana Ibu dan Papanya berada.
Bukan mengikuti, Gala justru mendudukkan dirinya di kursi ruang tunggu lagi.
"Gue takut."
Rea mendekat dan mengacak kepala Gala, membuat cowok itu mendongak.
"Namanya musibah gak bisa dicegah, kan?"
Gala mengangguk seraya memajukan bibir bawahnya, lalu bergerak memeluk pinggang Rea kembali. Entah sadar atau tidak, hari ini Gala yang galak benar-benar hilang, digantikan dengan Gala yang melow dan manja.
"Nanti kita bikin teman buat adik kecil sebagai permintaan maaf gue ke dia, ya?"
Rea sontak menepuk kening Gala yang mendongak ke arahnya.
"Ngadi-ngadi!"
.
.
.
To be continue ...