Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Adrian langsung tegang, langkahnya maju satu langkah untuk bersiap menangkap Kayna jika wanita itu menyerang. Tapi Kayna berhenti tepat di depan Freya, menatap gadis itu dari atas ke bawah.
"Dengarkan, Freya," ucap Kayna, suaranya terdengar sangat wajar, seperti sedang mendiskusikan cuaca. "Kau adalah tokoh utama dalam hidup Adrian. Kau suci, kau tidak bersalah, dan kau adalah cahaya baginya. Kalau kau membunuhku sekarang, Adrian tidak akan marah. Dia malah akan memberimu medali karena telah membersihkan sampah dari masyarakat."
Freya membelalak, air matanya berhenti mengalir seketika karena bingung. "K-kau... apa maksudmu?"
"Maksudku," Kayna menoleh ke arah Adrian, lalu kembali menatap Freya. "Apakah kau membawa pisau? Atau racun? Kalau tidak, kau bisa menggunakan vas bunga di luar. Pukul kepalaku. Aku janji tidak akan melawan. Atau lebih baik lagi, dorong aku dari tangga. Tapi tunggu, tangga di sayap timur ini terlalu pendek. Paling-paling aku cuma patah leher, bukan mati instan. Merepotkan."
Hening.
Ruangan itu menjadi sangat sunyi. Freya berdiri dengan mulut terbuka, menatap Kayna seolah wanita di hadapannya adalah monster yang baru saja merangkak keluar dari neraka. Bukan monster yang jahat, tapi monster yang benar-benar, secara fundamental, tidak waras.
"Kau... kau gila," bisik Freya, suaranya bergetar. Tapi kali ini, bukan karena akting. Itu adalah ketakutan yang murni. "Adrian... dia benar-benar gila. Lihat apa yang dia katakan!"
Freya berbalik ke arah Adrian, mencari perlindungan, menunggu pria itu untuk marah dan menghukum Kayna.
Tapi Adrian tidak bergerak.
Pria berambut perak itu berdiri di tempatnya, menatap Kayna dengan tatapan yang sangat kompleks. Ia tidak terlihat marah. Ia terlihat... lelah. Dan untuk pertama kalinya sejak Freya masuk, Adrian menatap Freya bukan dengan tatapan lembut, melainkan dengan tatapan dingin yang menusuk.
"Cukup, Freya," ucap Adrian. Suaranya datar, tidak ada kehangatan yang biasa ia berikan pada gadis itu.
Freya tersentak. "A-Adrian? Tapi dia... dia memintaku untuk membunuhnya! Dia mengejekku!"
"Dia tidak mengejekmu," balas Adrian tenang, matanya tidak lepas dari wajah Kayna. "Dia hanya mengatakan apa yang ada di pikirannya. Dan dia benar. Kau datang ke sini bukan untuk memaafkannya. Kau datang untuk memancingnya agar menyerangnya lagi di depanku, supaya aku semakin membencinya."
Wajah Freya memucat. "T-tidak! Adrian, aku bersumpah.."
"Keluar," potong Adrian dingin. "Sebelum aku memutuskan bahwa kehadiranmu di sini lebih merepotkan daripada kehadirannya."
Freya gemetar. Ia menatap Adrian, lalu menatap Kayna yang kini sedang menguap lebar tanpa menutup mulut. Rasa malu dan panik menghantam gadis itu. Skripnya hancur. Pria yang ia incar kini menatapnya dengan jijik, dan wanita yang seharusnya menjadi korban kini memintanya untuk menjadi algojo.
Tanpa sepatah kata pun lagi, Freya berbalik dan berlari keluar dari kamar, air mata sunguhannya kini bercampur dengan rasa malu yang nyata.
Pintu ditutup dengan kasar.
Kembali hening.
Kayna menoleh ke arah Adrian, alisnya terangkat. "Kau tidak marah padaku? Harusnya kau membela tunanganmu yang malang itu."
Adrian menghela napas panjang, bahunya merosot. Ia berjalan kembali ke kursinya dan duduk, menatap Kayna dengan tatapan yang kini terasa jauh lebih dalam.
"Kau tidak cemburu padanya," ucap Adrian pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Kau tidak pernah cemburu. Dulu, saat aku menghabiskan waktu dengannya, kau akan menghancurkan seluruh kamarmu. Kau akan berteriak, mengancam, dan memohon padaku. Tapi sekarang... kau bahkan tidak melihatnya sebagai saingan."
"Karena aku tidak mencintaimu, Tuan Duke," jawab Kayna jujur, kembali berbaring di dipannya. "Dan aku juga tidak peduli pada posisi ini. Aku hanya ingin tidur. Kalau bisa, tolong jangan biarkan orang lain masuk. Mereka berisik dan merusak konsentrasiku untuk mati."
Adrian menatapnya lama. Sangat lama.
"Kau benar-benar ingin mati," gumam Adrian. "Bukan karena aku menghukummu. Bukan karena pertunangan ini dibatalkan. Tapi karena... kau memang ingin pergi dari dunia ini."
"Ya."
"Kenapa?" tanya Adrian. Suaranya kini terdengar sangat pelan, hampir seperti bisikan. "Kau adalah Duchess. Kau kaya, kau cantik, kau memiliki segala yang diinginkan wanita di kerajaan ini. Kenapa kau ingin mati?"
Kayna menatap langit-langit. Ia tidak bisa memberitahu Adrian bahwa ia berasal dari dunia lain. Ia tidak bisa memberitahu pria ini bahwa ia telah hidup dua puluh tahun dalam siksaan batin di kehidupan sebelumnya.
"Karena kadang-kadang, Tuan Duke," ucap Kayna lembut, "hidup itu terlalu lelah untuk dijalani, bahkan jika kau memiliki segalanya."
Adrian terdiam. Ia menatap wanita di dipan kecil itu. Wanita yang seharusnya ia benci. Wanita yang seharusnya ia hancurkan.
Perlahan, Adrian berdiri. Ia tidak kembali ke kursinya. Ia berjalan menuju tempat tidur besarnya, menarik selimut, dan berbaring. Tapi kali ini, ia tidak membelakangi Kayna. Ia berbaring miring, menatap ke arah dipan kecil Kayna.
"Tidur," perintah Adrian pelan. "Aku akan menjagamu."
Kayna menatapnya sekilas. Tidak ada nada memerintah yang arogan di suara pria itu. Hanya ada... kepasrahan.
"Baiklah, Tuan Duke," bisik Kayna, memejamkan matanya. "Tapi kalau aku mati dalam tidurku, jangan salahkan aku."
"Aku tidak akan menyalahkanmu," balas Adrian dari kejauhan. "Aku hanya akan sangat, sangat marah."
Kayna tersenyum tipis di balik pejamannya. Untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke dalam tubuh ini, ia merasa sedikit... aman. Meskipun itu adalah perasaan yang sangat ironis bagi seseorang yang sedang berusaha keras untuk mati.
..gagal terus🤣