Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Derap Kuda
Kegelapan di Alas Purba mendadak berubah menjadi monster hitam yang siap menelan Hera bulat-bulat.
Seluruh pendaran ungu dan emas dari bunga yang ia petik beberapa menit lalu telah redup total. Udara dingin yang pekat mencengkeram kulitnya, membuat setiap tarikan napas terasa berat dan menyiksa.
Hera berdiri mematung. Tangannya menggenggam erat senter taktis yang kini tidak lebih dari sebatang besi dingin tak berguna.
"Baskara! Yudha! Tolong aku!" teriak Hera.
Suaranya melengking tinggi, memecah keheningan hutan. Namun, tidak ada gema yang kembali. Suara teriakannya seolah-olah menabrak dinding kasur tebal lalu lenyap begitu saja tanpa sisa.
"Kevin! Amara!" Hera berteriak lagi, air mata keputusasaan mulai mengalir bebas di pipinya. "Aku di sini! Di dekat pohon besar! Nyalakan lampu kamp!"
Hening. Sunyi yang mati kembali menyergap. Tidak ada sahutan dari Baskara yang biasanya sigap, tidak ada suara Yudha, bahkan tidak ada kepanikan dari Amara. Hutan ini seolah-olah telah memotong seluruh koneksi Hera dengan dunia luar.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi, di mana kalian!" teriaknya sekali lagi, tanda kekhawatiran Hera yang semakin meningkat.
Dengan jantung yang berdegup kencang seperti genderang perang, Hera mengangkat senter taktisnya lagi. Watak keras kepalanya menolak pasrah pada kegelapan.
Dia mengguncang senter itu dengan kasar, memukulkan ujungnya ke telapak tangan kirinya berkali-kali.
"Ayo, menyala lah! Sialan, menyala!" umpat Hera di antara isak tangis nya.
Klik, klik, klik.
Dia menekan tombol daya berulang-ulang hingga jarinya memerah. Senter itu sempat berkedip sekali, memancarkan cahaya redup selama setengah detik, lalu mati total secara misterius.
Komponen di dalamnya benar-benar lumpuh, sama seperti telepon satelit dan jam digitalnya yang sudah hangus duluan.
Hera melemparkan senter itu ke tanah dengan frustrasi.
Klak.
Bunyi jatuhnya senter itu terdengar sangat dekat, menegaskan betapa sunyinya sekitar tempat itu.
"Ini tidak masuk akal, ini tidak ilmiah," bisik Hera, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar hebat.
Otak profesornya yang biasa berpikir runtut kini kacau balau. "Bagaimana mungkin semua sirkuit listrik mati bersamaan? Medan magnet macam apa yang bisa melakukan ini?"
Tiba-tiba, getaran halus terasa di bawah telapak botnya. Tanah merah yang gembur itu bergetar secara ritmis.
Dug-dug,dug-dug,dug-dug.
Telinga Hera yang peka menangkap sebuah suara dari arah depan. Suara itu berjarak agak jauh, namun bergerak maju dengan kecepatan tinggi. Bunyi hantaman benda keras pada tanah basah.
"Suara apa itu?" gumam Hera, menahan napasnya agar bisa mendengar lebih jelas.
Dug-dug-dug-dug!
Suara itu semakin jelas. Itu adalah suara derap langkah kaki kuda. Bukan hanya satu atau dua, melainkan sekelompok kuda yang sedang dipacu dengan brutal.
Di tengah derap kaki kuda yang bergemuruh itu, samar-samar terdengar suara teriakan riuh dan gelak tawa yang berat. Suara manusia, namun nadanya terdengar asing, liar, dan penuh ancaman.
"Ada orang di sini?" Pikirannya sempat memikirkan penduduk desa Wana Asri. Namun, penduduk desa tidak ada yang memiliki kuda, dan Pak Danu dengan jelas mengatakan tidak ada orang yang berani mendekati area pita merah di malam hari.
"Hahaha! Cari terus! Aromanya ada di sekitar sini!"
Sebuah suara bariton melengking memotong kegelapan, disusul oleh suara ringki kan kuda yang nyaring.
"Siapa kalian?!" teriak Hera, mencoba memberanikan diri. "Baskara! Apakah itu kalian?!"
"Hei! Dengar itu? Suara wanita! Ada wanita kota di wilayah kita!" sahut suara lain yang terdengar kasar dan penuh gairah liar. Gelak tawa bergemuruh dari sekelompok pria asing itu, terdengar semakin dekat dan mengepung dari berbagai arah.
Rasa takut yang murni dan primitif langsung mencengkeram sumsum tulang Hera. Ini bukan tim penyelamat. Ini bukan juga penduduk desa. Insting bertahan hidupnya berteriak keras bahwa dia sedang berada dalam bahaya yang sangat besar.
Hera langsung berbalik arah secara acak. Dia tidak memedulikan lagi di mana letak pita merah atau ke mana arah kamp. Satu-satunya hal yang ada di otaknya adalah menjauh sejauh mungkin dari suara derap kuda dan tawa mengerikan itu.
"Aku harus lari," bisiknya panik.
Hera mulai berlari menembus kegelapan yang pekat. Sepatu botnya yang berat menghantam tanah, ranting-ranting pohon yang mencuat di kegelapan menyabet wajah dan lengan jaket gunungnya, menimbulkan rasa perih yang luar biasa. Dia tidak peduli. Dia terus memacu kakinya sekuat tenaga.
Krak!
"Ah!"
Hera terpekik saat kakinya tersangkut akar gantung. Tubuhnya terpelanting ke depan, menghantam tumpukan daun membusuk yang basah. Ransel di punggungnya berguncang hebat, mengeluarkan bunyi gesekan kantung sampel aluminium berisi bunga Dream Flower.
Di belakangnya, suara derap kuda semakin bergemuruh, getaran di tanah terasa semakin kuat menandakan jarak mereka sudah sangat dekat.
Cahaya obor kuning kemerahan mulai terlihat memotong kabut tebal dari kejauhan, melemparkan bayangan-bayangan pohon yang meliuk seram seperti hantu.
"Jangan menangis, Hera. Berdiri!" perintahnya pada diri sendiri di tengah isak tangis yang tertahan.
Dia merangkak dengan cepat, mencengkeram sebatang pohon tua untuk membantunya berdiri tegak kembali. Lututnya terasa sangat nyeri, kemungkinan memar akibat benturan tadi.
"Dia ada di depan! Aku melihat bayangannya berlari!, ayo kita Buri wanita itu, ini sangat menyenangkan!" teriak salah satu penunggang kuda di belakang. Suara cambuk yang dihantamkan ke tubuh kuda terdengar memecah malam.
Hera tidak menoleh lagi. Dengan sisa-sisa tenaga dan watak keras kepalanya yang menolak untuk mati di tempat terasing ini, dia kembali berlari sekencang-kencangnya.
Dia menerobos semak belukar berduri yang merobek celana gunungnya. Napasnya terengah-engah, dadanya terasa seperti terbakar karena kehabisan oksigen.
Di sekelilingnya, pohon-pohon Alas Purba tampak semakin sempit dan rapat, seolah-olah sengaja mempersempit ruang geraknya.
Sementara dari arah belakang, derap langkah kaki kuda dan tawa liar para pemburu misterius itu sudah berada tepat di ujung tumitnya, siap menerkam kesadaran sang profesor modern ke dalam takdir baru yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Mereka bukannya menjauh, tapi semakin mengejarnya, kembali Hera dengan sekuat tenaga terus berkarya untuk menyelamatkan diri.
"Aku tidak boleh tentang oleh mereka, aku bisa mati di tangan para pemburu kejam itu" Hera memberikan semangat untuk dirinya sendiri, dengan tertatih terus melanjutkan jalannya, kali ini sakit di kaki tak di rasakan, dia langsung berlari.
"Jangan sampai kehilangan wanita itu, kejar sampai dapat, dia pasti sangat nikmat!" terdengar teriakan ya g membuat Hera semakin panik saat ini.
"Mereka benar-benar Breng-sek!" serunya sambil terus berlari tanpa henti, bahkan kakinya yang mulai perih tidak dirasakan lagi.