Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Di Bawah Bayang-Bayang Pembalasan dan Jejak yang Terbelah
Jalanan Jakarta Selatan pagi itu dipenuhi kendaraan yang merayap perlahan, namun bagi Naya, detik demi detik terasa berlari begitu cepat bagaikan vonis eksekusi. Di dalam taksi, tangannya menggenggam erat tali tas kulitnya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya tak berhenti melirik jam digital di papan instrumen mobil. Setiap ayunan jarum detik serasa menancapkan paku ketakutan yang kian dalam di dadanya.
Ia menatap keluar jendela. Pendar cahaya matahari pagi yang cerah justru terasa sangat asing dan dingin. Di balik selapis kaca yang mulai berembun oleh AC, Naya melihat bayangan dirinya—seorang wanita muda yang mengenakan blus krem elegan dan jilbab yang terlipat rapi di balik tasnya, sebuah kain ibadah yang kini terpaksa ia sembunyikan rapat-rapat dari pandangan dunia. Penyesalan itu merayap naik, mencekik lehernya hingga udara terasa begitu mahal.
Ya Allah, sampai kapan aku harus berlari di atas beling kebohongan ini? batinnya menjerit, disusul lelehan air mata yang dengan cepat ia usap sebelum pengemudi taksi menyadarinya.
Taksi akhirnya berhenti di depan sebuah kafe bernuansa industrial di sudut jalan yang relatif sepi. Tempat ini adalah saksi bisu masa lalunya—tempat di mana lima tahun lalu Rian berlutut memohon cintanya, dan tempat di mana pria yang sama akhirnya meremukkan seluruh harga dirinya dengan pengkhianatan yang paling kejam.
Dengan langkah kaki yang bergetar hebat, Naya melangkah masuk. Denting bel pintu kafe menyambut kehadirannya. Suasana di dalam cukup lengang, hanya ada beberapa pengunjung yang sibuk dengan laptop mereka. Namun di pojok paling belakang, terhalang oleh tumpukan tanaman hias besar, seorang pria duduk dengan angkuh.
Rian.
Pria itu mengenakan kemeja hitam rolled-up dengan secangkir espresso di tangannya. Ketika pandangan mereka bertemu, sebuah sunggingan senyum iblis terukir di wajah Rian. Ia menegakkan tubuhnya, melambaikan tangan berpura-pura ramah.
Naya mendekat, tidak membalas senyuman itu sedikit pun. Wajahnya pucat pasi, matanya memancarkan kombinasi antara amarah murni dan keputusasaan yang mendalam. Tanpa menunggu dipersilakan, Naya duduk di kursi berhadapan dengan Rian, menjaga jarak sejauh mungkin.
"Tepat waktu. Aku suka kedisiplinanmu, Naya... atau harus kupanggil Puan Ardiansyah?" bisik Rian dengan nada mengejek yang sangat kentara.
"Jangan sebut nama suamiku dari mulut kotor-mu, Rian!" potong Naya tajam, suaranya bergetar menahan tangis dan murka. "Katakan, apa yang sebenarnya kamu inginkan?! Kamu sudah menghancurkan masa mudaku, kamu membunuh rasa percayaku pada manusia! Apakah belum cukup?!"
Rian terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu. Ia menyesap espressonya santai sebelum meletakkan cangkir itu kembali ke tatakan dengan denting keras.
"Belum, Naya. Belum cukup," jawab Rian pelan, namun setiap katanya penuh racun. "Aku tidak terima melihat cewek lugu yang dulu menangis histeris memohon agar aku tidak meninggalkannya, sekarang hidup bahagia di dalam sangkar emas bersama pria kaya raya seperti Gavin. Kamu berpura-pura menjadi malaikat suci di depannya, padahal kamu dibangun di atas tumpukan dusta!"
"Gavin mencintaiku dengan tulus! Dia memulihkan jiwaku yang hancur karena pengkhianatanmu!" pekik Naya lirih, dadanya naik turun tersengal.
"Tulus?" Rian memajukan tubuhnya, menatap Naya dengan sorot mata mengancam. "Apakah dia akan tetap tulus kalau tahu istrinya yang anggun ini adalah seorang Muslimah yang memalsukan seluruh dokumen gereja demi menikahinya? Apakah Gavin sang pemuja keyakinannya itu akan tetap memelukmu kalau dia tahu kamu mempermainkan Tuhannya?!"
Naya memejamkan mata rapat-rapat. Kata-kata Rian tepat sasaran, menancap bagaikan belati di ulu hatinya yang paling rentan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes merembes ke pipinya.
"Jangan... Rian, aku mohon..." suara Naya melunak menjadi bisikan memelas. Ia merapatkan kedua telapak tangannya di atas meja, bersimpuh secara emosional di depan mantan kekasihnya itu. "Hukum aku... siksa aku kalau kamu mau... tapi jangan hancurkan Gavin. Gavin tidak salah apa-apa. Dia pria baik yang hanya ingin membahagiakanku. Jika dia tahu kebenarannya... jiwanya akan hancur, Rian..."
Rian tersenyum puas melihat wanita di depannya kembali berlutut secara mental di hadapannya. Rasa superioritas membakar dadanya. Ia merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan amplop cokelat tebal yang sama seperti semalam. Amplop yang berisi salinan Kartu Keluarga asli Naya, pasfoto berhijabnya, serta surat bukti pemalsuan identitas.
Rian mengetuk-ngetukkan amplop itu ke permukaan meja, menghasilkan bunyi yang teratur dan menakutkan bagi Naya.
"Aku tidak akan memberikan ini pada Gavin... hari ini," ujar Rian dingin. "Tapi ada harganya, Naya."
Naya menengadah, menatap Rian dengan tatapan bersimbah air mata. "Harga apa?"
"Setiap minggu, kamu harus mentransfer dana lima puluh juta rupiah ke rekeningku. Anggap saja ini biaya 'uang jamin kerahasiaan' rumah tangga bahagiamu," ucap Rian tanpa rasa malu sedikit pun. "Dan tidak hanya itu. Setiap kali aku memanggilmu untuk bertemu... kamu harus datang. Kamu harus ingat siapa pemegang kendali atas hidupmu yang manis ini."
Naya membelalakkan matanya tidak percaya. "Kamu... kamu memerasku?!"
"Sebut saja sesukamu, Naya," Rian tersenyum dingin, mengantongi kembali amplop cokelat itu. "Pilihannya ada padamu. Bayar harganya dan tetap jadi ratu di istana Gavin, atau biarkan amplop ini sampai ke meja kerja Gavin sebelum matahari terbenam hari ini."
Naya merasa seluruh oksigen di sekitarnya menguap habis. Dinding-dinding kafe serasa merapat hendak mengimpit tubuhnya hingga hancur. Ia terjebak dalam sangkar tak bertepi. Ketakutan akan kehilangan Gavin, ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya, serta trauma penolakan masa lalu mengunci mati akal sehatnya.
Dengan bibir bergetar dan hati yang remuk berkeping-keping, Naya akhirnya mengangguk pelan. "A-aku akan kirim uangnya... Aku berjanji..."
"Gadis pintar," Rian berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya. Sebelum melangkah pergi, ia membungkuk, berbisik tepat di telinga Naya yang membeku. "Ingat, Naya... sekali saja kamu mencoba bermain-main denganku atau mengadu pada Gavin... kebohongan maharmu ini akan menjadi berita utama di keluarga besar Ardiansyah."
Rian melangkah pergi melintasi pintu kafe dengan kekehan puas, meninggalkan Naya yang terisak tanpa suara di pojok ruangan yang remang. Naya menangkupkan kedua tangan ke wajahnya, meratapi nasibnya yang kian terperosok ke dalam kubangan dosa dan pemerasan.
Namun, apa yang tidak diketahui oleh Naya maupun Rian, sebuah mobil sedan hitam berkeraca gelap terparkir anggun di seberang jalan, tepat menghadap ke kaca besar kafe tersebut.
Di dalam mobil itu, atmosfer terasa begitu dingin dan mencekat.
Gavin duduk di kursi kemudi. Kedua tangannya menggenggam lingkar kemudi begitu erat hingga otot-otot lengannya menegang keras. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam kafe—memperhatikan setiap gestur Naya yang menangis memelas di depan Rian, serta bagaimana Rian membungkuk berbisik di telinga istrinya sebelum pergi.
Bara cemburu dan kecurigaan yang menyala sejak pagi kini membakar habis dada Gavin.
Sejak Naya bertingkah aneh saat menerima telepon di dapur, insting protektif dan obsesif Gavin langsung menyala. Ia tidak bisa tinggal diam. Gavin menyuruh orang kepercayaannya melacak keberadaan ponsel Naya dan mengikutinya secara diam-diam dari belakang. Dan pemandangan yang tersaji di depan matanya saat ini adalah mimpi buruk yang paling ia takuti.
Naya—wanita yang ia dewa-dewakan, wanita yang ia anggap paling suci, jujur, dan polos di seluruh dunia—ternyata menemui pria dari masa lalunya secara sembunyi-sembunyi. Pria yang pernah menghancurkan hatinya.
"Naya..." bisik Gavin dengan suara serak yang bergetar menahan amarah dan kepedihan yang teramat sangat. "Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kenapa kamu membohongiku?"
Gavin merogoh saku jasnya, mengambil ponsel pribadinya lalu mendial sebuah nomor.
"Halo, Pak Gavin?" suara dari ujung telepon terdengar.
"Cari tahu seluruh informasi tentang pria yang baru saja keluar dari Kafe Jardin," perintah Gavin dengan nada dingin tanpa emosi, mata hitamnya masih menatap sosok Naya yang berjalan gontai keluar dari kafe dengan wajah berderai air mata. "Aku ingin tahu siapa dia, apa hubungannya dengan istriku, dan seluruh rahasia yang dia simpan. Lakukan sekarang."
"Baik, Pak. Segera dilaksanakan."
Gavin mematikan sambungan telepon. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran jok mobil, memejamkan mata rapat-rapat. Dada bidangnya naik turun menahan guncangan emosi yang luar biasa hebat. Pria tegap itu mengepalkan tangannya, menghantamkan tinjunya ke lingkar kemudi dengan keras.
Aku mencintaimu melebihi nyawaku sendiri, Naya... batin Gavin meraung dalam kegelapan emosinya. Tapi kalau kamu mencoba berkhianat... aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kamu adalah milikku. Mati atau hidup, kamu tetap milikku!
Obsesi cinta yang tadinya begitu murni dan suci, kini perlahan mulai terdistorsi oleh benih-benih kecemburuan yang mematikan.
Satu jam kemudian, Naya tiba kembali di rumah megah mereka. Langkah kakinya begitu pelan, berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk memasang 'topeng' senyumannya kembali. Ia memoles sedikit lipstik di bibirnya dan mengompres matanya yang bengkak menggunakan air dingin sebelum melangkah masuk melewati pintu utama.
Suasana rumah terasa sangat hening.
"Gavin?" panggil Naya pelan saat melangkah ke ruang keluarga.
Tidak ada jawaban. Namun, ketika Naya berjalan lebih dalam menuju area dapur, ia melihat Gavin sedang berdiri membelakanginya. Pria itu tampak sibuk memotong buah di atas meja dapur. Pisau pemotong di tangannya bergerak dengan ritme yang lambat dan penuh penekanan.
Naya menghela napas lega, berusaha menetralkan degup jantungnya. Ia berjalan mendekati Gavin dari belakang, lalu memberanikan diri melingkarkan kedua lengannya di pinggang tegap suaminya, menyandarkan pipinya di punggung hangat Gavin.
"Aku sudah pulang, Gavin..." bisik Naya lembut, mencoba menyalurkan rasa bersalahnya lewat pelukan itu.
Gavin menghentikan pergerakan pisau di tangannya. Tubuhnya terasa kaku di dalam pelukan Naya. Pria itu tidak langsung membalas pelukan tersebut atau membalikkan badan, membuat keheningan di antara mereka terasa begitu janggal dan menekan.
"Kamu cepat sekali kembalinya, Sayang," ujar Gavin akhirnya. Suaranya terdengar datar, begitu tenang hingga terasa mengerikan.
Naya mengerutkan keningnya, merasakan perubahan energi dari suaminya. "Iya... urusannya sudah selesai. Temanku hanya menyerahkan beberapa berkas lama, lalu aku langsung pulang."
Gavin memutar tubuhnya perlahan. Ia tidak melepas tangan Naya dari pinggangnya, namun menatap lurus ke dalam manik mata Naya. Sorot mata Gavin yang biasanya dipenuhi binar pemujaan yang hangat, kini tampak gelap, pekat, dan tak tersentuh—bagaikan lautan tenang sebelum datangnya badai tsunami.
"Temanmu?" tanya Gavin pelan. Tangan kanannya terangkat, mengelus lembut pipi Naya, lalu ibu jarinya menyapu sudut mata Naya yang masih agak sembab. "Kenapa matamu merah sekali, Naya? Apakah bicara tentang berkas lama bisa membuat istriku tercinta menangis sejadi-jadinya?"
Jantung Naya bagaikan berhenti berdetak seketika. Darahnya mendesis dingin. Sentuhan lembut tangan Gavin di pipinya justru terasa bagaikan cengkeraman es yang membekukan seluruh persendiannya.
"A-aku... aku cuma terharu, Gavin," bohong Naya gagap, matanya bergerak gelisah menghindari tatapan tajam Gavin. "Temanku bercerita tentang... tentang kenangan masa lalu kami. Jadi aku sedikit emosional."
Gavin menatap Naya selama beberapa detik yang terasa bagaikan siksaan neraka bagi wanita itu. Sebuah senyuman tipis terukir di bibir Gavin—senyuman yang tidak sampai ke matanya.
"Begitu?" bisik Gavin lembut. Ia lalu merengkuh tubuh Naya ke dalam pelukannya, memeluknya begitu erat hingga Naya nyaris kesulitan bernapas. Gavin membenamkan wajahnya di leher Naya, menghirup aroma wewangian istrinya dengan dalam dan obsesif.
"Aku sangat mencintaimu, Naya," gumam Gavin tepat di lehernya. "Sangat, sangat mencintaimu. Jangan pernah berbohong padaku, Naya... Karena jika suatu hari aku tahu kamu membohongiku... aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan pada diriku sendiri, atau pada orang yang mencoba mengambilmu dariku."
Setiap kata dari ucapan Gavin terdengar seperti ancaman terselubung yang amat mematikan. Naya meremang ketakutan di dalam pelukan suaminya. Ia memeluk balik punggung tegap Gavin, membiarkan air mata keputusasaannya menetes tanpa suara di bahu jas Gavin.
Maafkan aku, Gavin... Maafkan aku... jerit jiwa Naya dalam kehampaan.
Malam harinya, siksaan batin Naya memasuki babak baru.
Gavin mengajaknya untuk menghadiri acara makan malam keluarga besar Ardiansyah di sebuah restoran mewah bernuansa privat di kawasan Menteng. Seluruh kerabat Gavin hadir—orang-orang dari kalangan atas yang terpandang dan begitu taat pada tradisi serta keyakinan mereka.
Naya duduk di samping Gavin dengan gaun malam berwarna merah marun yang anggun. Sepanjang acara, Gavin terus menggenggam tangannya di bawah meja, memperkenalkannya kepada setiap sepupu dan pamannya dengan penuh rasa bangga.
"Naya ini adalah hadiah terindah dari Tuhan untuk Gavin," puji Ibu Gavin, seorang wanita paruh baya bertubuh anggun dengan kalung salib emas melingkar di lehernya. "Wajahnya lembut, tutur katanya halus, dan yang paling penting... dia wanita yang taat beribadah. Kami sangat bersyukur Gavin mendapatkan jodoh seiman yang begitu sempurna."
Setiap pujian yang dilontarkan oleh mertuanya terasa seperti cambukan keras yang merobek-robek harga diri Naya. Ia hanya bisa tersenyum kaku, mengangguk halus sambil menahan rasa mual yang membakar dadanya akibat rasa bersalah.
Ketika sesi doa bersama sebelum makan dimulai, seluruh anggota keluarga saling berpegangan tangan dan memejamkan mata. Gavin menggenggam tangan Naya erat-erat, memimpin doa keluarga dengan suara yang tenang dan penuh khidmat.
Di tengah doa yang dipanjatkan Gavin untuk keharmonisan dan kesucian rumah tangga mereka, Naya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Di balik kelopak matanya yang terpejam rapat, ingatan Naya justru melayang pada kenangan masa kecilnya—saat almarhum ayahnya mengajarinya membaca surah Al-Fatihah, saat ibunya melingkarkan mukena putih di kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Ya Allah... Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang... batin Naya memanjatkan jeritan doanya sendiri di dalam sangkar kepalsuan ini. Hamba berada di tengah-tengah orang yang menyembah-Mu dengan cara yang berbeda... Hamba terpaksa berpura-pura demi mempertahankan cinta dan ketakutan hamba. Apakah masih ada pintu ampunan untuk hamba yang bergelimang dosa ini?
Air mata menetes dari sudut mata Naya, jatuh tepat di atas pangkuannya.
Ketika doa berakhir dan semua orang mengucapkan kata "Amin", Gavin menoleh ke arah Naya. Melihat air mata di pipi istrinya, Gavin mengusapnya penuh kasih sayang di depan seluruh keluarganya.
"Lihatlah, Naya begitu tersentuh oleh doa keluarga kita," puji paman Gavin hangat, disambut anggukan setuju dari anggota keluarga lainnya.
Naya hanya mampu memaksakan senyum piasnya. Di dalam hati, ia tahu bahwa air mata itu bukanlah air mata keharuan, melainkan air mata darah dari jiwanya yang kian sekarat akibat keterpaksaan. Ia harus belajar mencintai semua hal yang dicintai Gavin, berpura-pura menjadi bagian dari dunia ini, sambil terus mengubur identitas aslinya semakin dalam ke dasar bumi.
Satu minggu berlalu dengan cepat, namun kehidupan Naya bagaikan berjalan di atas benang tipis di atas jurang terjal.
Sesuai ancaman Rian, Naya telah memindahkan uang sebesar lima puluh juta rupiah dari rekening tabungan pribadinya ke rekening Rian demi menjaga rahasia besar tersebut. Namun, Rian tidak pernah puas. Pemerasan itu terus berlanjut, dan ancaman Rian kian hari kian menjadi-jadi.
Siang itu, saat Gavin sedang memimpin rapat penting di kantor pusat perusahaannya, Naya duduk sendirian di ruang tengah rumah mewahnya. Rumah yang sepi itu terasa begitu dingin dan mencekat.
Tiba-tiba, bel pintu depan berbunyi nyaring.
Ting tong... Ting tong...
Naya mengerutkan keningnya. Ia tidak sedang menunggu paket atau tamu apa pun. Dengan langkah ragu, Naya berjalan menuju pintu utama dan membukanya.
Begitu pintu terbuka, jantung Naya serasa melompat keluar dari dadanya. Wajahnya seketika pucat pasi bagaikan mayat.
Seorang pria berdiri di ambang pintu dengan senyuman santai dan tatapan mata yang penuh intrik. Ia mengenakan setelan kemeja rapi, membawa sebuket bunga mawar merah di tangannya.
Rian.
"Halo, Naya..." sapa Rian dengan suara ramah yang dibuat-buat. "Luar biasa sekali rumah barumu. Sangat megah."
"R-Rian?!" jerit Naya berbisik, matanya membelalak panik. Ia refleks hendak menutup pintu, namun Rian dengan cepat menahan daun pintu kayu itu dengan sebelah kakinya yang mengenakan sepatu kulit.
"Eits, jangan kasar begitu pada tamu, Naya," ujar Rian terkekeh pelan. Tanpa rasa takut, Rian mendorong pintu itu dan melangkah masuk ke dalam ruang tamu megah milik Gavin.
"Kamu gila?!" pekik Naya panik, mengawasi sekeliling pekarangan, takut jika ada pelayan atau penjaga keamanan yang melihat. "Keluar dari rumahku sekarang! Kalau Gavin tahu kamu ada di sini—"
"Gavin sedang rapat penting sampai jam tiga sore, Naya. Aku tahu seluruh jadwal suamimu," potong Rian santai, melangkah mendekati perapian buatan dan mengamati salib kayu yang tergantung di sana. "Ckckck... sungguh ironis. Seorang gadis Muslimah yang dulu rajin mengaji, sekarang tinggal di bawah simbol keyakinan lain hanya demi pria kaya."
"Cukup, Rian! Apa lagi yang kamu inginkan?!" pangkas Naya dengan air mata yang mulai menetes di pipinya. "Aku sudah mentransfer uang yang kamu minta! Kenapa kamu malah nekat datang ke rumahku?!"
Rian berbalik, menatap Naya dengan sorot mata yang penuh obsesi licik dan kejam. Ia melangkah mendekati Naya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Naya berusaha mundur, namun punggungnya membentur tiang pilar ruang tamu.
"Uang lima puluh juta itu hanya uang muka, Naya," bisik Rian, tangannya terangkat hendak menyentuh dagu Naya. Naya dengan cepat menepisnya kasar, namun Rian justru tertawa renyah.
"Aku menginginkan lebih," ujar Rian tajam. "Aku ingin kamu menceraikan Gavin."
Darah Naya serasa berhenti mengalir. "A-apa...?"
"Kamu mendengar aku dengan jelas, Naya Farasya," kata Rian dengan penekanan di setiap kata. "Aku tidak sudi melihatmu menjadi milik pria lain. Kamu dulu milikku, dan kamu akan tetap menjadi milikku. Kembalilah padaku, atau amplop ini..." Rian menepuk-nepuk saku dalam jasnya, "...akan kubagikan langsung kepada seluruh media dan keluarga Ardiansyah. Hancurkan karier Gavin, hancurkan nama baik keluargamu, dan biarkan dunia tahu betapa pembohongnya seorang Naya Farasya."
Naya merapatkan kedua tangannya di dada, tubuhnya bergetar hebat oleh histeria yang tak tertahankan. "Kamu iblis, Rian... Kamu benar-benar iblis!"
"Aku iblis yang memegang kendali atas takdirmu, Sayang," Rian menyeringai puas. "Aku berikan waktu tiga hari. Buat alasan untuk menceraikan Gavin, atau biarkan aku yang mengakhiri pernikahan sucimu ini dengan cara yang paling memalukan."
Rian meletakkan buket bunga mawar di atas meja kaca ruang tamu, lalu berbalik dan melangkah keluar rumah dengan tenang, meninggalkan Naya yang ambruk di atas lantai dingin, menangis histeris dalam keputusasaan yang tak bertepi.
Namun, roda takdir berputar dengan cara yang tidak pernah diduga oleh siapa pun.
Di sudut lorong dekat dapur, sebuah kamera pengawas (CCTV) kecil yang tersembunyi berkedip halus dengan lampu merah kecilnya.
Di kantor pusat Ardiansyah Group, layar monitor laptop kerja Gavin menampilkan rekaman livestream dari kamera pengawas rumahnya secara real-time.
Gavin duduk mematung di kursi kebesarannya. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan kegelapan yang amat pekat. Ia menyaksikan seluruh kejadian di ruang tamunya—bagaimana Rian masuk, bagaimana pria itu menyudutkan istrinya, dan bagaimana Naya menangis histeris di lantai setelah pria itu pergi.
Meski Gavin tidak bisa mendengar audio dengan jelas dari rekaman tersebut, interaksi intim dan kedatangan Rian ke rumah pribadinya sudah cukup untuk membakar seluruh waras yang dimiliki Gavin.
Tangannya yang mengepal di atas meja kayu mahoni bergetar hebat. Rasa sakit hati akibat pengkhianatan yang ia duga, bercampur dengan obsesi gila untuk memiliki Naya sepenuhnya, menyatu menjadi satu dorongan bahaya yang amat gelap.
"Naya..." bisik Gavin dengan suara yang begitu dingin, nyaris tak menyerupai suara manusia. "Aku sudah memberimu segalanya... Cintaku, namaku, rumahku... Tapi kamu malah membawa pria itu ke dalam rumah kita..."
Gavin berdiri dari kursinya. Ia mengambil kunci mobilnya, lalu menutup laptopnya dengan dentuman keras yang menggemar di seluruh ruangan kantornya.
Pria yang tadinya dikenal sebagai pemuja hati yang lembut dan penyayang, kini telah berubah menjadi sesosok pria protektif yang dipenuhi obsesi gelap. Ia tidak akan membiarkan siapa pun merebut Naya darinya—bahkan jika ia harus mengunci Naya selamanya di dalam sangkar emas agar wanita itu tidak pernah bisa melangkah keluar lagi.
Badai dahsyat telah resmi bergulir. Rahasia yang terkubur, ancaman cinta terlarang, dan obsesi yang membutakan kini siap melahap semua orang yang terlibat dalam pusaran air mata pernikahan ini.
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘