NovelToon NovelToon
Kebangkitan Darah Naga

Kebangkitan Darah Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Ahli Bela Diri Kuno / Kultivasi
Popularitas:349
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.

Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:

Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.

Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 28 — Bayangan di Antara Kita

Fajar belum menyingsing saat mereka berangkat. Kabut tebal melingkari kaki Gunung Bara, menyembunyikan jalan setapak yang curam dan berbahaya. Udara terasa panas, berbau belerang dan logam cair, dan tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan seakan bernapas.

"Jalan di atas semakin berbahaya," bisik Seraphina, memimpin di barisan paling depan. "Semakin tinggi, semakin banyak jebakan — bukan yang dipasang tangan manusia, melainkan yang muncul dari kekuatan gunung itu sendiri."

Mereka mendaki berjam-jam, berpegangan pada batu-batu yang terasa panas membara. Sesekali dinding gunung bergetar, dan celah-celah terbuka memuntarkan api menyala, namun mereka tetap berjalan beriringan — tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang mendahului terlalu jauh. Namun di antara kebersamaan itu, keraguan yang ditanam kata-kata Guru perlahan tumbuh. Setiap kali seseorang berhenti sendirian, setiap kali seseorang tertinggal sedikit di belakang, tatapan yang tak sengaja terlempar terasa lebih berat dari biasanya.

Kai memperhatikan mereka satu per satu. Elara selalu berada di sisi yang paling berbahaya, melindungi yang lemah. Ren memeriksa setiap celah dengan teliti, tidak pernah lalai. Dagan memperkuat tanah di bawah kaki mereka agar tidak longsor. Lyra mencatat setiap perubahan di sekelilingnya, matanya waspada. Lirael terbang tinggi mengawasi jalan di depan. Ibunya Elowen menjaga mereka dari serangan halus yang tak kasat mata. Saudaranya Kaelan berjalan di belakang, memastikan tidak ada yang menyusup dari belakang. Semuanya setia. Semuanya… atau begitu ia kira.

Tepat saat mereka mendekati lembah tersembunyi yang menuju ke pintu masuk istana di kedalaman gunung, Lyra berhenti tiba-tiba. Ia memegang lengan Dagan, wajahnya pucat.

"Di mana liontinmu?" tanyanya pelan namun tajam.

Dagan tertegun, menyentuh lehernya — kosong. "Aku… mungkin tertinggal di tempat peristirahatan terakhir."

"Itu bukan sekadar hiasan," kata Lyra, suaranya mengeras. "Itu penanda arah. Dan sekarang… ada yang lain yang memancarkan sinyal ke arah puncak gunung."

Keheningan menyelimuti kelompok itu. Semua mata beralih ke Dagan. Ia mundur selangkah, matanya membesar tak percaya. "Kalian tidak percaya aku?"

"Kami tidak menuduh," kata Kai lembut namun tegas. "Tapi ada sesuatu yang tidak beres."

Belum sempat Dagan menjawab, tanah di bawah kaki mereka retak besar. Dinding batu di sekeliling mereka terbuka, dan dari kegelapan, pasukan makhluk keluar — bukan ratusan, melainkan ribuan, mengepung mereka rapat-rapat. Dan di celah terbuka itu, berdiri sosok yang mereka kenal — bukan musuh dari luar, melainkan salah satu dari mereka.

Lirael menurunkan sayapnya yang memancarkan cahaya gelap, wajahnya yang dulu ramah kini dingin tanpa ekspresi.

"Maafkan aku," suaranya tenang, tanpa emosi. "Tidak ada pilihan lain."

"Lirael…" Kaelan melangkah maju tak percaya. "Mengapa?"

"Karena sebelum kalian datang, aku sudah berjanji," jawabnya pelan. "Aku berasal dari dunia ini. Dulu aku adalah pengikut Tuan Bawah Tanah. Ketika kalian menyelamatkanku, aku berniat jujur — tapi mereka memegang nyawa keluargaku. Jika aku tidak menuntun kalian ke sini… mereka semua akan dihancurkan."

Ia menunduk dalam. "Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."

Elara mengangkat pedangnya, namun Kai menahannya. Ia melangkah mendekat ke arah Lirael.

"Kau tidak menyerahkan kami," ucapnya lembut. "Kau meminta pertolongan."

Lirael mendongak, matanya berkaca-kaca. "Tidak ada yang bisa melawan mereka. Kekuatan mereka berakar di inti bumi ini. Siapa pun yang masuk ke istananya… tidak pernah kembali."

"Kami tidak akan pergi tanpa keluargamu juga," kata Kai tegas. "Tunjukkan jalan masuk. Dan percayalah pada kami sekali ini saja."

Lirael terdiam lama. Di sekeliling mereka, pasukan makhluk menunggu perintah — menunggu satu kata darinya. Ia menarik napas panjang, lalu menurunkan tangannya yang memancarkan cahaya gelap.

"Baik," katanya pelan. "Tapi jika kalian gagal… aku sudah memberi mereka jalan masuk ke tempat yang kalian lindungi."

"Kami tidak akan gagal," jawab Kai mantap.

Dengan bimbingan Lirael, mereka menyusup masuk ke terowongan rahasia yang tidak diketahui siapa pun — lorong sempit di balik dinding batu yang melengkung ke bawah, semakin dalam, semakin panas, hingga akhirnya membuka ke ruangan luas yang menakjubkan sekaligus mengerikan. Di sana, di tengah ruangan yang sebesar danau, berdiri istana yang terbuat dari batu hitam dan cahaya merah menyala — menara-menara tajam menjulang ke atas, dan di puncaknya, satu sosok duduk diam di atas singgasana dari batu cair.

Saat mereka melangkah masuk, pintu di belakang mereka tertutup sendiri. Suara tepuk tangan terdengar pelan, bergema di seluruh ruangan.

"Kalian sampai," suara itu berat, penuh kekuasaan, tak perlu ditinggikan agar terdengar oleh semua orang. "Dan kalian membawa pengkhianat itu juga."

Sosok itu berdiri — tinggi, jubahnya terbuat dari bayangan yang bergerak sendiri, wajahnya tersembunyi di balik tudung gelap. Namun saat ia melangkah turun dari singgasana, ia menyingkap penutup wajahnya — dan semua orang menahan napas.

Wajah itu… adalah wajah Kairus, ayah Kai dan Kaelan.

"Tidak mungkin…" gumam Kaelan mundur selangkah. "Ayah sudah meninggal."

"Kau melihat apa yang ingin kalian lihat," jawab sosok itu, suaranya persis seperti ayah mereka, namun dingin tanpa kasih sayang. "Aku tidak pernah pergi. Aku hanya menunggu saat yang tepat."

Kai menggeleng kuat, menatapnya tajam. "Kau bukan ayahku. Ayahku menulis peringatan agar kami berhati-hati terhadap orang sepertimu."

Sosok itu tertawa — tawa yang menggema dingin. "Kau benar. Aku bukan dia. Aku adalah apa yang tersisa setelah mereka menghancurkannya. Aku adalah bayangan yang tumbuh dari rasa sakitnya saat dipisahkan dari kalian, dari ibumu, dari semua yang ia cintai." Ia melangkah mendekat, matanya menyala merah. "Dan sekarang… aku akan menyatukan semua dunia — di bawah kekuasaanku, di bawah rasa sakit yang sama yang kurasakan."

Kai merasakan kepedihan yang mendalam — bukan takut, melainkan sedih. "Ayah tidak menginginkan pembalasan. Ia menginginkan kami bersatu."

"Kau tidak tahu apa yang ia inginkan!" bentak sosok itu, tanah bergetar hebat. "Ia dipisahkan dari kalian karena terlalu kuat! Mereka takut pada kami! Dan sekarang aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa ketakutan itu beralasan!"

Ia mengangkat kedua tangannya — dan dari lantai istana, pilar-pilar api gelap melesat ke atas, menyelimuti ruangan. Di luar, gunung itu mulai berguncang hebat, asap tebal naik ke langit, dan di kejauhan, gerbang-gerbang dunia lain mulai terbuka satu per satu.

Kai menatap teman-temannya — Lirael yang kini berdiri di samping mereka, Dagan yang siap bertarung, semua orang yang ia percaya. Ia tidak tahu apakah mereka bisa menang. Tapi ia tahu satu hal: mereka tidak akan bertarung sendirian.

"Bersama-sama," ucapnya lantang di tengah gemuruh api. "Seperti yang selalu kita lakukan."

1
Yanto Hulu
Thanks tor
Gunadi Hudaya
sptnya ngak memerlukan review panjang lebar lagi. aku suka dengan piliha pilihan kata yg dipakai author. dalam hal karakterisasi tunggu dulu
Gunadi Hudaya
Oke, review. tulisan enak dibaca, alur mengalir halus, tidak ada ganjalan berarti yg bisa membuat pembaca berhenti. plot masih belum kelihatan tapi bagian akhir memberikan hook yg membuat orang ingin membaca bab 2. karakter juga mampu mengundang simpati kepada pembaca.
Yanto Hulu: Thanks tor🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!