Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Cangkir keramik berisi teh melati yang mengepul di meja tak lagi disentuh oleh Maya. Uapnya menipis, seakan ikut mendingin bersama suasana di sudut kafe lantai dua yang sepi itu.
Di hadapannya, Rania duduk melipat kaki, menyandarkan punggung pada kursi kulit dengan senyum simpul yang tampak begitu tenang—namun sarat ancaman.
Rania sengaja memilih meja di pojok kafe, menjauh dari kebisingan lalu lintas kota, agar setiap kata yang ia lontarkan bisa terdengar sangat jelas.
"Kau terlihat lelah, Maya," Rania membuka percakapan, memecah hening yang sempat membeku di antara mereka. Suaranya halus, teratur, dan penuh percaya diri.
Maya menatap wanita di depannya. Manik matanya tak bergeming, meski dadanya berdesir hebat.
"Langsung saja pada intinya, Rania. Aku tidak punya banyak waktu untuk obrolan tidak penting."
Rania terkekeh pelan. Ia menjangkau tas tangannya yang mahal, mengeluarkannya sebuah amplop cokelat berukuran sedang, lalu menggesernya perlahan di atas meja marmer—tepat ke hadapan Maya.
"Aku hanya ingin menghemat waktumu," ujar Rania lembut, seraya mengetukkan jari ber-nail-art merahnya di atas amplop itu. "Bukalah. Jangan pura-pura tidak tahu."
Jemari Maya agak bergetar saat menyentuh tepi kertas amplop tersebut.
Namun, ia enggan memperlihatkan kelemahannya di depan wanita itu. Dengan gerakan perlahan, ia menarik keluar tumpukan foto berukuran cetak besar.
Foto pertama: foto candid saat Mas Aris merangkul pinggang Rania di lobi sebuah hotel berbintang. Foto kedua: keduanya sedang tertawa di dalam mobil, begitu intim.
Foto ketiga: sebuah cincin emas berhiaskan berlian yang melingkar di jari manis Rania—cincin yang sangat dihafal Maya karena ia pernah melihat desain yang sama di meja kerja suaminya sebulan yang lalu.
Hati Maya bagai diremas hingga remuk. Rasa panas menjalar dari dada hingga ke matanya, namun ia menahan sekuat tenaga agar air mata itu tidak menetes.
"Apa maksud semua ini?" suara Maya bergetar tipis, namun diusahakannya terdengar dingin.
"Maksudku?" Rania memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan, menatap Maya dengan pandangan penuh kemenangan.
"Bukannya sudah sangat jelas, Maya? Aris memilihku. Hubungan kami bukan sekadar kekhilafan satu malam seperti yang selama ini kau hibur dalam pikiranmu."
"Kau datang kemari hanya untuk memamerkan ini?" tanya Maya tajam.
"Aku datang untuk menyadarkan mu," potong Rania cepat.
"Lihat foto-foto itu baik-baik. Kapan terakhir kali Aris menatapmu dengan binar mata seperti itu? Kapan terakhir kali dia memelukmu tanpa rasa terpaksa? Pernikahan kalian sudah mati sejak lama, Maya.
Kau hanya mempertahankan bangkainya."
"Aris adalah suamiku!" tegas Maya, suaranya meninggi satu nada, memancing perhatian pelayan kafe di kejauhan.
"Apapun yang kau lakukan di belakangku, kau tetaplah seorang pengganggu dalam rumah tanggaku!"
Rania menyandarkan kembali tubuhnya, menyilangkan tangan di dada tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Pengganggu?" Rania tertawa sinis. "Cinta tidak pernah salah, Maya.
Yang salah adalah bertahannya seseorang di tempat yang sudah tidak menginginkannya lagi.
Aris bersamaku karena dia menemukan kenyamanan yang tidak pernah dia dapatkan darimu. Di rumah, kau hanya memberinya tuntutan dan wajah cemberut. Bersamaku, dia menjadi laki-laki seutuhnya."
"Kau tidak tahu apa-apa tentang pernikahan kami!" balas Maya, giginya gemetaran menahan amarah yang membakar.
"Aku tahu segalanya," bisik Rania penuh penekanan.
"Aku tahu Aris tidak lagi menyentuhmu sejak enam bulan lalu. Aku tahu dia selalu beralasan ada rapat luar kota setiap akhir pekan, padahal dia bersamaku di Bali, di Singapura. Aku tahu segalanya, Maya. Karena Aris menceritakan semuanya padaku."
Kalimat itu menancap bak sembilu di dada Maya. Kenyataan bahwa suaminya membagikan rahasia terintim pernikahan mereka kepada wanita lain membuat nafas Maya terasa sesak.
"Lalu, apa mau mu sebenarnya, Rania?" tanya Maya dengan nada suara yang perlahan berubah pasrah, namun menyembunyikan kepedihan mendalam.
Rania menatap Maya lurus-lurus. Senyumnya hilang, digantikan oleh kepatuhan yang dingin dan dingin.
"Mundurlah," kata Rania tegas. "Lepaskan Aris. Gugat dia di pengadilan agama dan biarkan kami hidup tenang.
Jika kau punya sedikit saja rasa hormat pada dirimu sendiri, jangan paksa laki-laki itu untuk terus bersandiwara mencintaimu."
"Kenapa bukan kau saja yang mundur?" tantang Maya, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Kau yang masuk ke dalam kehidupan kami! Kau yang merusak apa yang sudah kami bangun selama lima tahun!"
"Karena Aris tidak mau dilepaskan olehku!" Rania menaikkan nada suaranya, matanya menatap tajam.
"Aris kasihan padamu, Maya! Dia hanya tidak tega menyampaikan perceraian itu langsung kepadamu karena dia tahu kau tidak punya apa-apa lagi tanpa dia. Jadi aku yang datang mewakilinya.
Jangan membuat dirimu semakin kasihan di mata Aris."
Pernyataan Rania seperti pukulan telak yang merobohkan benteng pertahanan Maya. Ruang kafe terasa makin menyempit dan sesak.
Maya merapikan tumpukan foto itu perlahan, memasukannya kembali ke dalam amplop cokelat.
Tangannya kini tidak lagi gemetaran. Rasa sakit yang teramat sangat itu perlahan berubah menjadi kekecewaan yang membeku.
Maya berdiri dari kursinya, menatap Rania dari atas.
"Jika Mas Aris memang menginginkan perceraian ini," kata Maya dengan suara yang mendadak tenang namun sarat ketegasan, "biarkan dia sendiri yang mengatakannya di depanku.
Bukan melalui mulut seorang wanita yang bahkan tidak punya harga diri untuk meminta milik orang lain."
Wajah Rania seketika berubah tegang mendengarnya. "Kau—!"
"Terima kasih atas foto-fotonya, Rania," potong Maya sebelum Rania sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Ini akan menjadi bukti yang sangat bagus di pengadilan nanti."
Tanpa menunggu balasan lagi, Maya memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan Rania yang terpaku sendirian di sudut kafe.
Di luar, hujan gerimis mulai turun, namun di dalam dada Maya, sebuah ketetapan hati yang baru saja membara.