Janitra Widari Pramudya memutuskan kembali ke Tanah Air. Sebelumnya, ia tinggal di luar negeri selama lima tahun karena melanjutkan kuliah. Orang tuanya telah meninggal dunia sejak enam tahun yang lalu karena kecelakaan.
Janitra akhirnya menerima perjodohan dari Keluarga Syailendra sesuai wasiat mendiang kakeknya. Janitra baru mengetahui ternyata dirinya dijodohkan dengan Kresna Maharaja Syailendra sejak lama. Bagi Janitra, Kresna adalah cinta pertamanya.
Aku mencintainya sederas hujan. Namun, dia memilih untuk membangun tembok setinggi langit~Janitra.
Jangan pernah melangkah jauh menembus batasan yang sudah aku terapkan karena itu percuma saja. Kita menikah bukan karena cinta. Hanya sebatas utang budi keluarga. Aku harap kamu tidak pikun~Kresna.
Simak kisah mereka.💋💋
Mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Janitra vs Mayang
"Biar saya saja yang hubungi suamiku, Mas." Tawar Janitra saat melihat Dewa sedang membuka ponsel untuk menekan kontak Kresna.
"Oke,"
Janitra melangkah sedikit menjauh beberapa langkah dari posisi Dewa saat ini. Ia terus mencoba menghubungi Kresna, tapi tak diangkat oleh suaminya itu.
"Mas Kresna ke mana sih? Kok gak angkat teleponku!" keluh Janitra dalam hatinya setelah berulang kali mencoba untuk menghubungi Kresna tapi tak ada jawaban.
Janitra tak pantang menyerah. Ia tetap berusaha menghubungi Kresna sampai lebih dari sepuluh kali. Walaupun hasilnya nihil.
Janitra resah.
Ia ingin menerima ajakan Dewa, tetapi khawatir Kresna marah atau ada gosip negatif yang berhubungan dengan pernikahan mereka dan Kasepuhan nantinya.
"Ah iya, Mas Panca. Aku coba hubungi dia saja. Kan Mas Panca sekretaris Mas Kresna," batin Janitra seketika teringat dengan Panca.
Akan tetapi saat jemarinya membuka kontak di ponselnya, Janitra baru sadar jika dirinya belum punya nomor ponsel milik Panca. Janitra akhirnya menghela nafas beratnya.
Ia berniat ingin menghubungi ibu mertuanya untuk bertanya nomor Panca, tetapi Janitra cukup sungkan. Alhasil niat tersebut diurungkannya.
Otaknya masih berusaha berpikir solusi terbaik atas hal ini.
Beberapa menit kemudian, Janitra mendapat ide untuk menghubungi nomor kantor Kresna.
Janitra membuka internet dan bertanya pada Mbah Gorgon yang konon katanya tau segala informasi di dunia ini.
Setelah mendapat nomor kantor Kresna, Janitra segera menghubunginya. Tak butuh waktu lama telepon Janitra diangkat oleh resepsionis kantor dan segera dihubungkan ke pesawat telepon yang ada di ruangan Kresna.
Kring...
"Halo. Siapa ini?" sapa seorang wanita secara to the point.
"Halo, ini benar sudah tersambung di ruangan Gusti Kresna kan?" sahut Janitra.
"Benar. Ini siapa?"
"Saya Janitra-istri Gusti Kresna. Maaf, kalau boleh saya tau, ini dengan siapa?"
"Oh, kamu. Ini aku-Mayang,"
Deg...
Janitra cukup terkejut karena mendapati fakta bahwa Mayang yang menjawab teleponnya. Janitra memang belum terlalu hafal dengan suara Mayang karena ia masih baru menetap di Kasepuhan. Keduanya juga masih minim bertegur sapa atau interaksi di dalam Kasepuhan.
Mayang saat ini memang sedang berada di ruangan Kresna. Sendirian.
Tak dapat dipungkiri ada rasa kecamuk di batin Janitra sekarang ini. Namun, ia berusaha membuang segala prasangka negatif itu.
"Ke mana suamiku?" tanya Janitra. "Sejak tadi aku coba hubungi ponselnya tapi tak diangkat," imbuhnya.
"Saat jam kantor, jangan menghubungi Kresna. Apalagi cuma kabar atau perkara sepele. Dia pasti sangat sibuk. Nanti bisa kamu sampaikan sewaktu Kresna sudah pulang di Kasepuhan," jawab Mayang sengaja menyudutkan Janitra. Ia pun tak menjawab hal yang sebenarnya terjadi pada Janitra.
Faktanya.
Awalnya Kresna sedang rapat dengan klien di ruangan khusus bersama Panca dan Mayang. Lalu, Kresna menyuruh Mayang mengambil ponselnya yang tertinggal.
Mayang pergi meninggalkan ruang rapat dan masuk ke ruangan CEO. Tiba-tiba pesawat telepon kantor di ruangan Kresna tersebut berdering. Mayang pun mengangkatnya.
"Apa hakmu melarangku untuk menghubungi suamiku?" balas Janitra yang tak gentar.
"Aku tak melarang mu. Cuma sekedar menasehati saja. Aku sangat mengenal watak Kresna. Dia paling tak suka diganggu saat bekerja," ucap Mayang.
"Daripada kamu nanti menjadi tempat pelampiasan kemarahan Kresna, lebih baik lakukan nasehatku tadi. Semua juga demi kebaikanmu," imbuhnya.
"Demi kebaikanku?" cibir Janitra.
"Hem,"
"Sepertinya bukan kebaikanku, tapi orang lain yang masih mengharapkan bersanding dengan suamiku," cibir Janitra membalas ucapan Mayang dengan telak.
"Maksudmu opo (apa maksudmu)?" desis Mayang seakan tak terima dengan ucapan Janitra barusan yang menyindir dan memojokkan dirinya.
"Pikir saja sendiri! Kamu kan sarjana. Kamu pernah jadi seorang istri. Kamu juga sudah menjadi seorang ibu. Seharusnya kamu bisa lebih dewasa dan bijak ketimbang aku. Apalagi usiamu lebih tua dari aku, bukan kekanak-kanakan seperti ini hanya karena mainan yang diinginkan justru gagal didapatkan!" sarkas Janitra.
"Kurang ajar!" umpat Mayang di hatinya.
Mayang tak sadar bahwa kalimat Janitra sedari awal berusaha baik dan sopan terhadapnya. Namun beberapa menit kemudian, Janitra mengubah kesopanannya tersebut setelah sikap Mayang begitu arogan padanya.
Janitra pun tak tinggal diam.
Saat ada seseorang yang berusaha menginjaknya, maka Janitra akan melempar kembali apa yang orang tersebut berikan padanya.
Seperti pepatah, "Anda sopan maka saya pun segan."
Artinya, kita akan bersikap hormat (segan) dan menghargai kepada siapa saja yang juga menunjukkan sikap sopan terhadap diri kita.
Janitra pun akhirnya mengubah kata panggilan dari saya jadi 'aku' dan 'kamu' saat berucap dengan Mayang.
"Sampaikan saja sama Gusti Kresna bahwa istrinya menghubunginya. Kalau nanti beliau sudah senggang, tolong bisa hubungi aku balik."
"Oke. Nanti aku sampaikan padanya," ucap Mayang.
"Jangan harap aku beritahu Kresna!" batin Mayang yang berbeda dengan kalimat yang terlontar di bibirnya barusan pada Janitra.
"Satu hal lagi. Sepertinya kamu perlu banyak mempelajari kembali makna adab dan etika pada Buku Tatakrama Kasepuhan, tepatnya di dalam buku nomor satu."
"Apa enggak terbalik?" sungut Mayang. "Seharusnya kamu yang belajar buku itu lebih giat lagi supaya ngerti unggah-ungguh (sopan-santun) saat berbicara dengan kakak iparmu! Kamu itu harusnya panggil aku Mbakyu," sambungnya.
"Kalau belajar jangan setengah-setengah, Mbakyu. Nanti jatuhnya semakin menunjukkan kualitas dirimu sendiri," tutur Janitra dengan nada mencibir Mayang.
Janitra menjeda ucapannya sejenak.
"Aku ini istri sah Gusti Kresna. Istri satu-satunya. Beliau adalah putra mahkota Keluarga Syailendra dari trah permaisuri yang akan naik tahta ke depannya. Semoga kamu tidak lupa hal sepenting ini. Sejak tadi kamu terus panggil suamiku dengan nama saja. Seharusnya kamu panggil beliau-Gusti Kresna. Lalu, kamu panggil saya dengan sebutan-Gusti Janitra," ucap Janitra penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Apa sekarang kamu mengerti wahai kakak ipar, yang mendiang suaminya berasal dari da_rah selir?"
Bersambung...
🍁🍁🍁
gak bisa tidur karna belum berendam racikan rempah cinta ala janitra