Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adu Akting di Atas Salju dan Penolakan Sang Figuran
Keheningan malam di pelataran Kastil Valesia mendadak terasa makin menusuk tulang saat Belva Vespera berlutut di atas tumpukan salju tebal. Air mata buatan membasahi pipi mulusnya, memantulkan cahaya obor dalam keputusasaan yang diatur sangat rapi. Gaun malamnya yang tipis melambai tertiup angin malam, menciptakan gambaran seorang gadis suci yang rela mengorbankan nyawa demi keselamatan sang Raja dan kedamaian istana.
"Yang Mulia Alpha!" tangis Belva pecah, suaranya yang serak dan lembut mengalun penuh ratapan. "Ampuni saya... Saya tahu Ceisya adalah sahabat yang saya sayangi dari asrama pelayan. Tapi saya tidak bisa tinggal diam melihat Anda terperangkap dalam pengaruh sihir racun yang merusak jiwa Anda! Rela... saya rela mengisap kembali racun itu agar Anda kembali sadar!"
Para Tetua Agung Klan Reinhardt yang tadinya terbungkam oleh argumen Ceisya mendadak mendapatkan angin segar. Sang Tetua tertua mengangguk-angguk, matanya menatap Belva dengan penuh rasa hormat palsu.
"Dengarlah, Yang Mulia!" seru sang Tetua Agung nyaring. "Anak angkat pahlawan kerajaan bahkan rela mengorbankan nyawanya demi membersihkan Anda dari sihir pelayan ini! Apa lagi bukti yang Anda butuhkan untuk membuktikan bahaya dari gadis di samping Anda?!"
Fenrir tidak menjawab. Iris mata merahnya menatap Belva dengan tatapan yang sangat dingin dan datar—sebuah tatapan yang sulit diartikan oleh siapa pun.
Namun, sebelum Fenrir sempat membuka suara atau melancarkan ancamannya, Ceisya yang berdiri di dalam lingkar dekapan Fenrir justru tertawa pelan. Sebuah tawa renyah, merdu, tapi sarat akan ejekan murni yang membuat isak tangis Belva seketika terhenti.
"Aduh, Nona Belva..." Ceisya melangkah satu senti ke depan, mengibaskan rambut cokelatnya yang tergerai indah. Sepasang mata cokelatnya memancarkan binar jahil yang siap menghancurkan panggung sandiwara musuhnya. "Akting menangis Anda beneran patut diacungi empat jempol sekaligus! Aktris kelas atas di ibu kota pun pasti minder kalau lihat Anda berlutut di atas salju begini."
Belva mendongak, matanya yang basah berkilat panik sesaat sebelum kembali memasang wajah teraniaya. "C-Ceisya... aku melakukan ini demi menyelamatkanmu dan Yang Mulia—"
"Menyelamatkanku? Atau mau menutupi kejahatanmu sendiri?" potong Ceisya cepat dengan nada santai yang mematikan.
Ceisya memiringkan kepalanya, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada. "Nona Belva yang terhormat bilang kalau aku menyebarkan sihir racun perangsang di kamar Yang Mulia, kan? Nah, mari kita pakai logika matematika sederhana, bukan logika emosi sinetron yang penuh episode."
Ceisya menoleh ke arah ketiga Tetua Agung dan ratusan pengawal Reinhardt yang menonton. "Kalian semua di sini punya indra penciuman serigala yang sangat tajam, kan? Coba, Tetua yang bijaksana... tolong maju dua langkah dan cium bau yang menguar dari tubuh Nona Belva saat ini!"
Belva seketika membeku. Pucat pasi menyapu seluruh wajah cantiknya. "K-Kau bicara apa, Ceisya?!"
"Kenapa panik, Nona?" cibir Ceisya dengan senyuman miringnya yang paling savage. "Asap racun klan Vespera itu baunya manis menusuk bagaikan bunga beracun. Nona Belva sibuk drama mau mengisap racun dari tubuhku, tapi kenapa justru dari gaun, leher, dan rambut Nona Belva sendiri bau asap racun itu menguar menyengat banget?!"
Begitu kalimat Ceisya meluncur, sang Tetua Agung secara refleks mengendus udara di sekitarnya. Dan benar saja! Bau manis racun klan Vespera—yang sebelumnya menyembur balik dari cerobong asap ke kamar Belva—masih menempel pekat di gaun dan tubuh Belva yang belum sempat dibersihkan karena panik!
"I-Ini... bau racun klan Vespera!" gumam sang Tetua Agung terperangah, matanya melotot menatap Belva yang duduk gemetar di atas salju.
Para pengawal di belakang mereka mulai berbisik-bisik riuh. Wajah Bianca Reinhardt yang berdiri di samping para tetua berubah menjadi sangat mengerikan.
"Wah, wah," cetus Ceisya lagi sambil mencerocos dengan nada polos yang dibuat-buat. "Rupanya yang sibuk bikin racun dan mau meracuni Yang Mulia Alpha malam ini bukan aku, melainkan anak angkat kesayangan kalian sendiri! Jadi gimana nih, Tetua yang terhormat? Siapa sebenarnya yang pantas disebut pengkhianat kerajaan sekarang?!"
SKAKMAT TOTAL!
Trik pembalasan dendam Ceisya tidak hanya menghancurkan panggung akting Belva, tetapi juga membalikkan posisi tuduhan pengkhianatan itu tepat ke wajah Belva dan klan Vespera di depan ratusan pasang mata!
Belva gemetar hebat, suaranya tercekat di tenggorokan. "T-Tidak... Yang Mulia, ini tidak benar! Ceisya memfitnahku! Aku—"
"Tutup mulutmu, Belva," potong Fenrir dingin. Suara bariton sang Alpha King menggema pelan, namun sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya.
Fenrir sama sekali tidak memandang Belva yang menangis ketakutan. Tatapan mata merah sang Raja justru terkunci penuh obsesi pada Ceisya—gadis di dekapannya yang baru saja mengendalikan arena politik istana hanya dengan kekuatan otaknya.
Fenrir mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat pada pasukan pengawal pribadinya yang berdiri di belakang. "Bawa Belva Vespera dan Bianca Reinhardt kembali ke kamar mereka masing-masing. Kurung mereka di bawah pengawasan ketat sampai Dewan Istana menggelar sidang besok pagi."
"Yang Mulia!" Bianca berteriak tidak terima, namun puluhan pengawal zirah perak milik Fenrir langsung maju mengelilingi mereka, memotong jalan mundur bagi klan Reinhardt.
Tanpa memedulikan amukan Bianca dan isak tangis Belva yang tersudut, Fenrir melingkarkan lengan kekarnya kembali ke pinggang Ceisya. Dengan satu gerakan santai namun penuh dominasi, Fenrir memutar tubuh mereka dan melangkah kembali masuk ke dalam hangatnya kastil utama, membiarkan pintu jati raksasa itu tertutup rapat di belakang mereka.
Di dalam koridor sepi menuju kamar utama sang Alpha King, hening kembali menguasai suasana. Langkah kaki Fenrir terasa berat dan teratur di atas lantai marmer.
Ceisya yang mulai merasa pegal karena pinggangnya terus diikat oleh lengan kekar Fenrir akhirnya mencoba melepaskan diri. Ia mendorong pelan dada bidang sang Raja Serigala.
"Yang Mulia, drama di luar kan sudah selesai," ujar Ceisya jujur sambil mengibaskan tangannya. "Tangan Anda bisa dilepas dari pinggang saya tidak? Pegal nih, dikira pinggang saya tiang listrik apa dipegang terus dari tadi!"
Fenrir menghentikan langkahnya di tengah koridor yang temaram. Bukannya melepaskan cengkeramannya, pria itu justru makin mengeratkan dekapan tangannya, menarik tubuh Ceisya hingga menempel tanpa celah ke dada bidangnya.
Fenrir menundukkan kepala, menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat Ceisya dengan dorongan obsesi dan keposesifan liar yang kian membara di balik iris mata merahnya.
"Kau pikir kau bisa lepas dariku begitu saja setelah menunjukkan atraksi lidah yang begitu memikat di luar sana, Ceisya?" bisik Fenrir rendah, suaranya bergetar tepat di depan permukaan bibir Ceisya.
Ceisya memutar bola matanya malas, walau dadanya sempat berdesir aneh akibat keintiman jarak mereka. "Aduh, King Alpha... tolong ya, logika dipakai. Saya ini membantu Anda membersihkan nama baik dari tuduhan tetua-tetua cerewet itu. Harusnya saya dapet bonus gaji atau kebebasan, bukan malah dikunci makin rapat begini!"
"Kebebasan?" Fenrir terkekeh gelap—sebuah tawa penuh kegilaan murni. Tangannya yang bebas terulur, jemari kasarnya mengusap lembut bekas gigitan scent-mark di leher Ceisya, menikmati getaran halus tubuh gadis itu di bawah sentuhannya. "Lupakan kata kebebasan itu, manis. Semakin kau menunjukkan kecerdasanmu... semakin aku tidak akan pernah membiarkanmu melangkah satu sentimeter pun menjauh dariku."
"Ih, maksa!" celetuk Ceisya blak-blakan sambil menahan dada Fenrir dengan kedua tangannya agar wajah tampan pria itu tidak makin mendekat. "Jangan kira cuma gara-gara Anda seorang Alpha King terus saya bakal langsung luluh dan menyerahkan diri ya! Maaf aja, saya ini tipe cewek mahal yang nggak bisa ditaklukkan cuma pakai tatapan mata merah dan roti sobek!"
Mendengar penolakan terang-terangan dan kata-kata liar dari mulut Ceisya, bukannya marah, mata merah Fenrir justru menyala makin terang oleh gairah berburu yang tak tertandingi. Selama hidupnya, seluruh wanita bersujud di hadapannya; hanya gadis di dalam dekapannya ini yang berani menolak, mengejek, dan menatapnya dengan tantangan terbuka.
"Akan kubuat kau berlutut dan memohon padaku sendiri, Ceisya," bisik Fenrir penuh janji posesif yang memabukkan, menunduk dan mencium sudut bibir Ceisya secara tiba-tiba sebelum gadis itu sempat mengelak.
Ceisya terbelalak kaget akibat ciuman singkat di sudut bibirnya itu, tangannya refleks hendak melayangkan tempelengan ke wajah tampan Fenrir. Namun, sebelum telapak tangan Ceisya mendarat, sebuah desakan energi sihir hitam yang sangat pekat mendadak meledak dari arah ruang bawah tanah kastil!
BUMMM!
Lantai marmer yang mereka pijaki bergetar hebat. Fenrir seketika menyipitkan matanya tajam, melindungi Ceisya di dalam dekapannya saat aroma darah busuk dan sihir kuno klan musuh (Klan Blackwood) merebak memenuhi udara istana!
Sesosok bayangan berpakaian serba hitam muncul dari balik kegelapan lorong, berlutut dengan napas memburu: "Yang Mulia Alpha King! Segel penjara bawah tanah telah dirusak dari dalam oleh sisa pengikut klan Vespera! Belva Vespera telah kabur membawa artefak rahasia kerajaan!"
Ceisya yang mendengar hal itu langsung menepuk jidatnya sendiri dalam batin: Astaga... baru aja mau istirahat, si ular satu itu malah nge-cheat kabur lewat pintu belakang! Bener-bener gak ada matinya nih villain!
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊