Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: DUA BAYANGAN, SATU RUMAH (bagian 2)
Malam keenam, hujan turun, hujan tipis yang membuat suara jatuh di atas genting terdengar seperti bisik panjang. Victor berjaga di lorong lantai dua dengan kursi rotan dan tongkat di tangan, sementara Budiawan tidur gelisah di kamarnya di ujung koridor. Penjaga baru yang ia bawa dari Kota Tua, dua lelaki tua yang pernah satu pasukan dengannya, berjaga di bawah dan di halaman.
Pukul dua lewat dua belas, lampu di halaman padam satu per satu.
Victor mengangkat kepala. Tidak ada suara, tidak ada teriakan, hanya gelap yang merambat pelan dari luar ke dalam, seperti air yang naik melewati ambang pintu. Ia berdiri tanpa suara, melepas tongkat, dan dari balik jaketnya menarik sebuah pistol kecil dengan peredam yang tidak pernah ia bawa ke rumah itu sebelumnya, karena tidak ingin Budiawan tahu.
Ia mengambil sesuatu dari saku jaket yang lain: sebuah topeng kain hitam, polos, tanpa mulut, dengan dua lubang mata. Kalau ada yang masuk malam ini, ia tidak ingin Budiawan melihat wajah yang ia pakai untuk menghadapinya. Ia menariknya ke wajah, dan menghilang ke dalam bayangan di ujung koridor.
Di halaman bawah, dua orang tua yang berjaga sudah terkapar tanpa bunyi, napas mereka teratur, hanya pingsan. Tidak ada darah. Tidak ada jejak. Seseorang telah menjatuhkan mereka dengan benar, seperti diajarkan bertahun-tahun lalu: *kalau harus menjatuhkan orang, jatuhkan dengan benar.*
Victor menahan napas. Tangannya, yang tidak pernah gemetar saat menarik pelatuk, mulai bergetar di sekitar pistol. Ia mengenal cara itu. Ia mengenal setiap detailnya, bahkan sebelum ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia mengenalnya.
Dari balkon yang menghadap pohon mangga, sebuah siluet turun tanpa suara, mendarat dengan lutut menekuk redam, cara yang tidak pernah salah dilakukan murid mana pun yang pernah diajar lelaki pincang di bawah jembatan. Topeng porselen putih tanpa mulut, retakan emas di pelipis kiri, jaket gelap yang basah oleh hujan. Ia berdiri di sana selama dua detik, kepala sedikit miring, mendengarkan.
Victor melangkah keluar dari bayangan, pistol terangkat, topeng kain di wajahnya.
Dua topeng. Satu lorong. Jarak lima meter.
"Berhenti di situ," kata Victor dengan suara yang ia paksa jadi dalam dan asing.
Siluet itu tidak bergerak. Hujan menetes dari ujung jaketnya. Perlahan, kepalanya berputar ke arah suara itu, dan Victor melihat dua lubang mata sempit di balik porselen, gelap, tidak berkedip, seperti dua sumur kering.
Dari balik topeng itu terdengar suara rendah dan sangat lambat, suara yang sengaja diperdalam sampai tidak mirip siapa pun.
"Minggir, Pak Tua. Ini bukan urusanmu."
Dan Victor, yang hanya butuh tiga kata untuk mengenali suara itu, tiga kata yang diucapkan dengan jeda yang sama persis dengan yang ia ajarkan sendiri, merasakan lututnya menyerah.
Ia tidak jatuh. Tapi tangannya yang memegang pistol turun, satu sentimeter, dua sentimeter, dan dari balik topeng kain itu keluar bisikan yang nyaris tak bersuara, bisikan yang tidak seharusnya terdengar oleh siapa pun:
"...Kenzo?"
Siluet putih itu membeku. Hanya sepersekian detik. Lalu tangan kanannya bergerak ke pinggang, lambat, tenang, dan sebuah pistol keluar dari sarungnya dengan bunyi logam yang halus.
Dari pintu kamar di ujung koridor, suara seorang lelaki tua yang baru terbangun terdengar goyah memanggil: "Vic? Vic, ada apa? Siapa di situ?"
Dan moncong pistol itu, tanpa ragu sedikit pun, berpindah dari Victor ke pintu itu.
*Bersambung ke Bab 14*