Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 1
BAB 1
Keheningan sebelum pengumuman adalah bagian paling menyiksa dari panggung fashion.
Di bawah pendar lampu gantung kristal yang dingin di Grand Ballroom Hotel Indonesia Juara, gaun hitam minimalis bergaya sharp-modern yang membalut tubuh Maya Kirana terasa seperti baju zirah yang menahan sesak di dadanya. Gaun itu adalah mahakaryanya sendiri—hasil kerja keras selama tiga bulan tanpa tidur yang cukup, memadukan potongan geometris tegas dengan sentuhan sutra lokal bertekstur rumit. Namun malam ini, kain indah itu justru terasa begitu berat, seolah ikut menanggung beban ekspektasi yang menumpuk di pundaknya.
Jemari tangan Maya dingin. Ia meremas kain sutra di sisi pinggangnya sendiri untuk menetralkan gemetar halus—hal kecil yang tak boleh terlihat oleh siapa pun. Terutama oleh mata-mata pemangsa dari rumah mode kompetitor yang kini mengepung area VIP, siap memangsa celah kelemahan sekecil apa pun dari seorang desainer muda independen seperti dirinya.
Riuh rendah suara gumam penonton, dentum musik bas berfrekuensi rendah yang menggetarkan lantai marmer, serta kilatan lampu flash kamera menyatu menjadi atmosfer yang pekat dan menyesakkan. Malam ini adalah pembukaan Indonesian Fashion Week (IFW)—panggung paling prestisius tempat para desainer papan atas, pengamat mode kawakan, hingga investor kelas atas berkumpul untuk menyaksikan kompetisi busana tingkat nasional.
Bagi orang awam, peragaan malam ini hanyalah selebrasi kain mahal, lampu kilat, dan tepuk tangan meriah yang megah. Namun bagi Maya, tiap detik yang berdetak di atas karpet merah ini adalah taruhan atas seluruh keringat, air mata, dan reputasi studionya yang dipertaruhkan hingga titik nadir. Jika ia gagal masuk jajaran papan atas malam ini, dana dari calon investor utama dipastikan melayang, dan mimpi membesarkan label busananya bisa kandas seketika.
Di atas panggung utama yang megah, lampu sorot perlahan meredup, menyisakan satu cahaya presisi yang menyorot sosok announcer berjas hitam elegan di balik podium. Suara berat dan bergema milik sang pembawa acara memenuhi seluruh sudut ruangan, seketika menghentikan kasak-kusuk kerumunan.
"Hadirin yang berbahagia, saat yang kita tunggu-tunggu telah tiba," ujar pembawa acara dengan artikulasi tegas yang menggema lewat pengeras suara. "Dewan juri internasional telah menyelesaikan kalkulasi nilai akhir untuk Babak Penyisihan. Dari puluhan karya yang dikurasi dengan sangat ketat, hanya lima belas desainer terbaik yang berhak melangkah ke tahap seleksi berikutnya!"
Suasana ruangan mendadak hening. Ketegangan merambat cepat bagai arus listrik, membuat para kontestan yang berdiri tersebar di area depan panggung menahan napas serentak.
"Untuk menyingkat waktu, nama-nama di posisi lima belas hingga sepuluh telah terpampang di layar monitor backstage," lanjut sang pembawa acara. "Kini, mari kita sambut sembilan desainer teratas yang berhasil menembus papan atas klasemen!"
Layar LED raksasa berukuran puluhan meter di belakang panggung mulai berkedip, menampilkan jajaran angka dari posisi 9 hingga posisi 1 yang masih terkunci rapat.
"Di posisi kesembilan... dengan skor delapan puluh lima koma enam... selamat kepada Bagas Pratama!" seru sang pembawa acara.
Tepuk tangan bergema riuh dari sudut kanan ballroom, tempat pendukung Bagas bersorak. Pembacaan dilanjutkan satu per satu dengan jeda yang kian memompa adrenalin seluruh pengunjung.
"Posisi kedelapan... skor delapan puluh enam koma empat... Dina Sastro! Posisi ketujuh... skor delapan puluh tujuh koma delapan... Devon Lee! Posisi keenam... dengan skor delapan puluh delapan koma sembilan... selamat kepada Rehan Utama!"
Maya Kirana menyilangkan kedua tangan di depan dada. Jemarinya kian meremas halus kain gaunnya, sementara tatapannya tertuju lurus ke layar panggung. Posisi sembilan hingga enam telah terlewati tanpa namanya dipanggil. Artinya, secara otomatis ia telah mengamankan tempat di jajaran lima besar. Satu helaan napas lega lolos dari bibirnya, tapi rasa cemas belum sepenuhnya reda.
"Dan inilah... jajaran Lima Besar kita malam ini!" seru pembawa acara dengan intonasi kian bertenaga, memicu sorak-sorai penonton yang makin riuh. "Di posisi kelima... dengan skor delapan puluh sembilan koma dua... Siska Olivia! Di posisi keempat... dengan skor sembilan puluh koma satu... Aris Kusuma!"
Ketegangan di area kompetisi mendadak mencapai puncaknya. Kini tersisa tiga nama yang belum dipanggil—tiga nama yang memang menjadi perbincangan utama industri fashion tanah air dalam setahun terakhir.
"Memasuki Tiga Besar klasemen sementara..." Suara pembawa acara memberi jeda dramatis yang sengaja dipanjangkan. "...di posisi ketiga, dengan total nilai sembilan puluh satu koma delapan... selamat kepada Clarissa Arum!"
Sorak-sorai kembali mengudara. Clarissa yang berdiri hanya beberapa meter di sebelah kiri Maya langsung menyunggingkan senyum bangga sembari memamerkan gaun glamor penuh payet emasnya ke arah kamera. Namun, saat Clarissa memalingkan wajah, tatapan dinginnya menyapu wajah Maya. Itu bukan sekadar kerlingan cemburu biasa. Ada sejarah panjang persaingan berdarah sejak masa kuliah dulu—ketika Clarissa pernah mencoba mengklaim sketsa rancangan Maya sebagai miliknya—yang kini kembali berkobar di bawah pendar lampu spotlight ini.
"Selanjutnya, di posisi kedua..." Suara pembawa acara kembali meninggi, memotong sorakan penonton. "...dengan pencapaian nilai sembilan puluh empat koma dua... selamat kepada Maya Kirana!"
Tepuk tangan membahana memadati ballroom. Saat namanya dipanggil, suara pembawa acara seolah tenggelam oleh dentum jantung Maya sendiri. Maya menarik napas panjang, mencoba menetralkan sesak di dada yang sempat menghimpitnya, lalu mengulas senyum tipis yang elegan ke arah kamera.
Peringkat kedua adalah pencapaian luar biasa bagi publik dan media. Namun bagi Maya, angka itu terasa seperti garis tipis yang memisahkan kebanggaan dan tekanan besar di mata investor. Ia menatap papan LED raksasa itu dengan tenggorokan kering. Di atas namanya, nama satu orang berdiri bagaikan benteng tinggi yang tak tersentuh—sebuah bayangan abadi yang memaksa Maya untuk selalu mendongak.
"Dan berada di posisi puncak klasemen Babak Penyisihan..." Suara pembawa acara bergema lebih lantang, ditimpali alunan drum pendek yang kian membangun suasana tegang. "Dengan nilai hampir sempurna, sembilan puluh delapan koma lima... dipimpin secara mutlak oleh... Ren!"
Gemerlap lampu sorot mendadak bergerak cepat dan mengarah ke sudut kanan panggung. Seorang pria bertubuh tegap dengan jas eksklusif terpotong presisi melangkah naik. Wajahnya rupawan, bergaris tegas, dan berkulit mulus tanpa cela. Langkah kakinya begitu mantap dan tenang, seolah panggung megah ini memang sudah diciptakan khusus untuk tempatnya berdiri. Ia menerima plakat penghargaan dari ketua dewan juri tanpa sedikit pun riak cemas. Gemuruh tepuk tangan dan decak kagum penonton memenuhi seluruh ruangan.
Penyerahan plakat di atas panggung berlangsung begitu cepat. Sosok Ren hanya mengulas senyum tipis yang terkesan formal, membungkuk singkat ke arah juri, lalu dengan cepat melangkah mundur menembus tirai hitam backstage. Dikawal ketat oleh dua staf manajemen bertubuh tegap, ia menghilang dari kerumunan bahkan sebelum para awak media sempat mendekat untuk mengarahkan mikrofon.
"Selalu saja pria itu," gumam Maya pelan, matanya tak lepas dari tirai backstage yang baru saja tertutup.
Maya tak bisa memungkiri bahwa ia mengagumi karya-karya Ren sejak tahun lalu. Garis potongan busana pria itu selalu berani, memadukan struktur sentuhan kerajinan tradisional dengan gaya futuristik yang begitu hidup. Tapi ada satu hal yang selalu mengusik insting estetika Maya: ekspresi wajah Ren di atas panggung itu selalu terlampau tenang. Hampir tanpa riak emosi manusiawi. Seolah-olah ketampanan dan ketenangannya dibentuk oleh cetakan yang terlalu sempurna, bagaikan patung tanpa jiwa.
Maya menghela napas panjang. Saat ia baru saja hendak memalingkan wajah untuk meredakan gejolak di dadanya dan mencari keberadaan timnya, sebuah bayangan tegap mendadak memotong pendar lampu sorot di sampingnya. Seseorang berdiri terlalu dekat—begitu dekat hingga aroma khas logam dingin dan kulit tempaan yang maskulin menusuk penciumannya, mengalahkan wangi parfum mahal para pengunjung VIP di sekitarnya.
Maya menoleh cepat, dan jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat ketika mendapati siapa yang kini berdiri tepat di sebelahnya.
"Mengagumi musuhmu lagi, Maya?"