Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawaban dua hati
Bima kembali memandang Latifah.
Perempuan itu sedang membungkuk untuk membantu Kaning membetulkan pita kecil di gaunnya.
Senyumnya lembut. Gerakannya penuh perhatian.
Dan entah mengapa, Bima merasa pemandangan sederhana itu begitu menenangkan.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diriku?" batinnya.
Ia belum jatuh cinta. Setidaknya, ia belum berani menyebut perasaan itu cinta. Namun, ia mulai menyadari bahwa kekagumannya terhadap Latifah tidak lagi sebatas rasa terima kasih.
Ada ketertarikan yang perlahan tumbuh, meskipun masih terlalu dini untuk ia pahami sepenuhnya.
Dan untuk saat ini, Bima memutuskan untuk tidak melawannya. Ia akan memberi kesempatan kepada hatinya.
*
*
Menjelang waktu Zuhur, suasana di kediaman Ustaz Malik mulai sedikit lebih tenang. Beberapa anggota keluarga melaksanakan solat, sementara yang lainnya bersiap menikmati makan siang.
Latifah mengambil wudhu, lalu mengenakan mukena yang dibawanya dari rumah.
Ia memilih sebuah ruangan yang cukup tenang untuk melaksanakan solat Zuhur. Setelah berdiri menghadap kiblat, ia mengangkat kedua tangannya dan mulai menunaikan solat dengan hati yang berusaha ia tenangkan.
Namun, sepanjang solat, pikirannya sesekali kembali kepada kejadian pagi tadi. Kepada wajah Bima yang membeku ketika mengetahui identitas calon istrinya.
Kepada tatapan pria itu yang terlihat sama terkejutnya dengan dirinya.
Dan terutama kepada Kaning, yang memeluknya dengan penuh kebahagiaan sambil mengatakan bahwa Allah telah mengabulkan doanya.
Setelah mengucapkan salam, Latifah tidak langsung melipat mukenanya. Ia tetap duduk di atas sajadah, menundukkan kepalanya, lalu mengangkat kedua tangannya.
Air matanya mulai menggenang.
"Ya Allah …."
Suaranya begitu lirih, hampir tidak terdengar.
"Hamba datang kepada Mu dengan hati yang penuh keraguan. Hamba tidak tahu apakah keputusan ini benar-benar jalan yang Engkau pilihkan untuk hamba."
Ia menarik napas yang terasa berat.
"Selama ini, hamba masih menyimpan perasaan kepada seseorang. Hamba pernah berharap bahwa suatu hari nanti, hamba dan dia akan dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik."
Bayangan Firman kembali melintas di benaknya.
Pria yang selama ini ia harapkan, tetapi tidak pernah memberikan kepastian mengenai masa depan mereka.
Latifah mengusap air matanya.
"Ya Allah, hamba tidak tahu apakah selama ini hamba hanya menunggu sesuatu yang memang bukan milik hamba. Hamba tidak tahu apakah perasaan ini harus terus dipertahankan atau sudah waktunya hamba melepaskannya."
Ia menunduk semakin dalam.
"Jika Ustaz Firman memang bukan takdir hamba, berikanlah hamba kekuatan untuk mengikhlaskannya. Jangan biarkan hamba terus menggantungkan harapan kepada sesuatu yang belum tentu Engkau tetapkan untuk hamba."
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Dari luar, terdengar suara angin yang menyentuh dedaunan. Udara Lembang yang sejuk masuk melalui celah jendela, membawa ketenangan yang perlahan meresap ke dalam hati Latifah.
Ia kembali mengangkat wajahnya.
"Ya Allah, hamba juga memikirkan Kaning."
Air matanya kembali mengalir.
"Anak kecil itu begitu tulus menyayangi hamba. Sejak lahir, dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu yang bisa membesarkannya setiap hari. Hamba tahu, hamba tidak bisa menggantikan ibu kandungnya. Hamba tidak akan pernah berusaha menghapus kenangan tentang almarhumah ibunya."
Latifah menarik napas panjang.
"Tapi jika Engkau mengizinkan hamba menjadi bagian dari kehidupannya, bimbinglah hamba agar bisa menyayanginya dengan tulus. Ajarkan hamba untuk bersabar, memahami perasaannya, dan tidak pernah membuatnya merasa sendirian."
Ia menutup matanya sejenak.
"Dan jika Engkau memang menakdirkan Abimanyu Wicaksono menjadi pendamping hidup hamba, lapangkanlah hati hamba untuk menerima dirinya. Bimbinglah kami agar bisa saling menghormati, saling menjaga, dan membangun keluarga yang Engkau ridai."
Latifah terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak mengetahui perjodohan itu, ia tidak lagi hanya memikirkan ketakutannya sendiri. Ia mulai memikirkan kehidupan yang mungkin akan dibangunnya bersama Bima.
Tentang seorang pria yang telah kehilangan istrinya dan masih berusaha menjalani kehidupan sebagai ayah.
Tentang seorang anak kecil yang merindukan sosok ibu.
Dan tentang dirinya sendiri, yang mungkin sudah waktunya berhenti menunggu seseorang yang tidak pernah memberikan kepastian.
Latifah mengusap wajahnya.
"Ya Allah, jika ini memang jalan yang terbaik, hamba menerima. Bukan karena hamba terpaksa, bukan pula semata-mata karena keinginan keluarga, tetapi karena hamba ingin mencoba menjalani takdir yang Engkau bukakan di hadapan hamba."
Suaranya bergetar.
"Hamba tidak meminta kehidupan yang selalu mudah. Hamba hanya meminta hati yang lapang, kesabaran yang cukup, dan petunjuk Mu agar hamba tidak salah melangkah."
Ia mengakhiri doanya dengan mengusap wajahnya.
Untuk beberapa saat, Latifah tetap duduk diam di atas sajadah.
Tidak ada suara yang tiba-tiba menjawab doanya. Tidak ada tanda ajaib yang datang kepadanya.
Namun, perlahan-lahan, kegelisahan yang sejak beberapa hari terakhir membebani dadanya mulai terasa lebih ringan.
Ia menyadari satu hal.
Ia tidak bisa terus menunggu kepastian dari seseorang yang belum tentu akan kembali kepadanya. Ia tidak bisa menggantungkan seluruh masa depannya pada harapan yang selama ini hanya ia simpan sendiri.
Dan ia tidak ingin menolak sebuah kesempatan hanya karena takut melangkah ke jalan yang baru.
Latifah menarik napas panjang.
Kemudian, ia tersenyum kecil di balik air mata yang masih tersisa.
"Insyaallah, aku akan mencoba."
Bukan karena ia sudah mengenal Bima sepenuhnya.
Bukan pula karena ia sudah jatuh cinta kepada pria itu. Melainkan karena ia ingin memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk menjalani kehidupan yang mungkin telah Allah siapkan.
Satu keputusan akhirnya tumbuh di dalam hatinya.
Latifah akan menerima perjodohan itu.
*
*
Menjelang sore, para sanak saudara yang sejak pagi berkumpul di kediaman Ustaz Malik mulai berpamitan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Suasana yang semula ramai perlahan menjadi lebih lengang. Hanya tersisa keluarga inti dari kedua belah pihak, yakni Ustaz Umar dan Umi Aisyah, Bu Almira, Ustaz Malik dan Umi Azizah, serta Bima dan Latifah.
Kaning juga masih berada di sana, duduk di sofa sambil memeluk boneka kesayangannya.
Sesekali ia menatap ayahnya, kemudian memandang Latifah.
Bocah itu tahu bahwa hari ini merupakan hari yang penting. Ia juga tahu bahwa orang-orang dewasa sedang menunggu jawaban dari Papah dan Bu Latifah.
Karena itu, Kaning memilih diam dan berusaha tidak mengganggu.
Di ruang keluarga, Ustaz Malik akhirnya membuka pembicaraan.
"Baiklah. Karena sekarang suasananya sudah lebih tenang, bagaimana kalau kita mendengarkan keputusan dari Bima dan Latifah?"
Latifah yang duduk di samping ibunya langsung menegakkan tubuhnya.
Bima yang berada di sofa seberang juga mengangguk.
"Baik, Ustaz."
Ustaz Malik menatap keponakannya terlebih dahulu.
"Bima, bagaimana keputusanmu setelah memikirkan semuanya?"
Bima menarik napas perlahan. Ia menatap ibunya, kemudian beralih kepada Ustaz Umar dan Umi Aisyah sebelum akhirnya mengarahkan pandangannya kepada Latifah.
"Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua keluarga yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk mempertimbangkan perjodohan ini."
Ia berhenti sejenak.
"Saya menyadari bahwa menikah lagi bukan keputusan yang sederhana. Saya memiliki seorang anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Saya juga memiliki masa lalu yang tidak mungkin saya hapus begitu saja."
Bu Almira menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.
Bima melanjutkan.
"Namun, saya juga menyadari bahwa saya tidak bisa terus menutup diri dari kemungkinan membangun kehidupan yang baru. Saya ingin belajar membuka hati dan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menjadi bagian dari kehidupan saya."
Tatapannya kembali tertuju kepada Latifah.
"Karena itu, setelah mempertimbangkan semuanya, saya bersedia menerima perjodohan ini."
Ruangan seketika dipenuhi senyum bahagia.
Umi Aisyah menggenggam tangan suaminya dengan lega. Ustaz Umar mengangguk sambil mengucapkan syukur pelan.
Bu Almira bahkan tidak mampu menyembunyikan air mata bahagianya.
Namun, Bima belum selesai berbicara.
"Saya tahu, keputusan ini tidak berarti saya dan Bu Latifah harus langsung saling mencintai. Saya juga tidak ingin beliau merasa memiliki kewajiban untuk menggantikan posisi almarhumah istri saya."
Bima menatap Latifah dengan serius.
"Saya hanya berharap, jika beliau bersedia menjadi pendamping hidup saya, kita bisa membangun hubungan ini dengan kejujuran dan saling menghormati. Saya ingin mengenal beliau lebih jauh, bukan hanya sebagai seseorang yang akan menjadi ibu bagi Kaning, tetapi juga sebagai perempuan yang memiliki perasaan dan keinginannya sendiri."
Latifah terdiam.
Ada kehangatan yang perlahan tumbuh di dalam hatinya mendengar perkataan itu.
Bersambung....