"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Gelap Naya 30.
Langkah Fajar yang menjauh menyisakan sunyi yang teramat pekat di belakang gedung olahraga. Timy masih di sana, menatap sepatunya sendiri yang kotor terkena debu semen.
Kata-kata Fajar bukan cuma menampar egonya, tapi seperti menguliti sisa-sisa pembenaran yang selama ini dia bangun demi melindungi Naya.
“Lu udah kehilangan diri lu sendiri.”
Kalimat itu bergaung, memantul di kepala Timy bersamaan dengan getar pelan dari saku celana nya.
Timy merogoh ponselnya.
Nama Naya berkedip di layar.
Tanpa gairah, Timy menggeser tombol hijau, menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Tim? Lu di mana? Katanya mau temenin gue ke stan anak kelas dua belas" Suara Naya langsung menyambar, tinggi dan menuntut, tanpa ada jeda untuk Timy sekadar menghela napas.
"Gue di belakang GOR, Nay. Bentar lagi ke sana," jawab Timy, suaranya parau, kering dari segala jenis emosi.
"Ya udah, cepetan. Gue gak suka sendirian di sini. Ramai banget, bikin pusing."
Klik.
Sambungan diputus sepihak.
Timy menatap layar ponselnya yang menggelap. Rasanya melelahkan.
Beberapa menit kemudian...
Timy dibuat pusing saat Naya mengajak ke parkiran sekolah, ke stan dan ke area kantin untuk menghindari keramaian.
Dan sekarang, kaki cowok itu entah bagaimana tetap melangkah patuh menuju area parkiran belakang, tempat yang lebih dekat untuk memutar ke arah stan festival.
Dia tidak tahu bahwa beberapa menit sebelum dia sampai di parkiran, Naya sudah berdiri di sana.
Gadis itu, dengan rok seragam yang sengaja dipotong beberapa senti di atas lutut dan riasan tipis yang mulai luntur karena keringat sore, tampak gelisah.
Naya tahu Timy sedang tidak stabil setelah pertengkaran mereka semalam.
Dan bagi Naya, ketidakstabilan Timy adalah ancaman bagi dunianya.
Saat Naya melihat motor vespa matic putih milik Timy terparkir di bawah pohon kersen yang rindang, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di atas jok, ponsel Timy.
Cowok itu pasti tidak sengaja meninggalkannya saat terburu-buru ditarik dia tadi.
Dorongan impulsif yang berakar dari rasa tidak aman membuat Naya menyambar ponsel tersebut. Beruntung bagi Naya, dia tahu pola kunci layar Timy.
Begitu layar terbuka, sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tanpa nama langsung menyita perhatiannya.
“Tim, makasih ya buat buku catatan fisikanya, besok gue balikin di perpus pas jam istirahat. —Andara teman sekelasnya.”
Darah Naya rasanya mendidih seketika. Rahangnya mengencang. Rasa kepemilikan yang berlebihan langsung mengambil alih logikanya.
Tanpa berpikir dua kali, jemarinya bergerak cepat menekan opsi hapus.
Pesan itu lenyap. Naya memastikan tidak ada jejak tersisa di folder sampah.
Namun, itu belum cukup untuk meredakan kecemasan di dadanya.
Fajar pasti akan mengajak Timy pergi malam ini untuk menjauhkannya dari Naya.
Timy mulai tidak bisa dikontrol, dan Naya benci kehilangan kendali.
Matanya berputar, mencari sesuatu di sekitar tanah parkiran yang berkerikil.
Sebuah paku payung bekas mading yang berkarat tergeletak di dekat tempat sampah besi. Naya memungutnya.
Dengan napas yang agak memburu, dia berjongkok di samping ban belakang motor Timy.
Dia menancapkan ujung tajam paku itu ke sela-sela ulir ban, lalu menekannya menggunakan batu bata kecil dengan sekali hentakan kuat hingga paku itu amblas bersembunyi di dalam karet hitam. Terdengar desis halus yang samar, menandakan angin di dalam ban mulai merayap keluar perlahan.
Naya berdiri, membersihkan debu di tangannya dengan senyum puas yang tampak ganjil.
"Lu boleh pergi cuma untuk gue, Tim. Gak ada yang lain," gumam Naya lirih, sebuah penegasan protektif yang lebih mirip kutukan bagi hubungan mereka.
"Dasar sampah." Sebuah suara datar, dingin, dan tanpa intonasi tinggi mengejutkan Naya dari belakang.
Naya tersentak hebat, hampir saja memutar pergelangan kakinya sendiri.
Dia berbalik dengan cepat, wajahnya yang tadi penuh kemenangan instan berubah defensif dan tegang. "Siapa lu?! Maksud lu apa ngomong kayak gitu?!"
Di hadapannya, berdiri seorang anak perempuan dengan jaket oversized abu-abu.
Tangan kirinya memegang kotak susu cokelat yang sudah kempes karena isinya telah habis, sementara tangan kanannya santai berada di dalam saku jaket.
Rambutnya yang dikuncir kuda bergerak pelan ditiup angin sore.
Tatapannya lurus selempeng jalan tol, tertuju tepat pada sepasang mata Naya, seolah bisa membaca seluruh kebusukan yang baru saja terjadi di parkiran itu.
Gadis misterius itu tidak menjawab. Dia bahkan tidak berkedip saat Naya menatapnya dengan pandangan menghina.
Rasanya, melihat bibir Naya yang merah karena lipstik murahan itu terus berkomat-kamit membuat sang gadis ingin sekali mengambil ikat rambutnya dan menguncir mulut berisik itu rapat-rapat.
Drama murahan seperti ini sungguh merusak pemandangan sorenya.
Alih-alih meladeni bentakan Naya, gadis berjaket abu-abu itu melangkah maju. Langkah kakinya santai, mengikis jarak di antara mereka.
Naya refleks mundur satu langkah, dadanya berdebar waswas.
Dia bersiap mendengarkan tuduhan atau ancaman bahwa perbuatannya akan dilaporkan pada Timy. Naya sudah menyusun pembelaan di kepalanya; dia bisa saja memutarbalikkan fakta dan menyebut gadis ini psikopat gila yang menuduhnya sembarangan.
Namun, tebakan Naya meleset total.
Gadis misterius itu melewati Naya begitu saja, menyisakan aroma samar sabun bayi dan wangi cokelat yang manis.
Dia membungkuk sedikit di dekat ban sepeda motor Timy, melewati kaki Naya yang kaku. Tangannya terulur ke tanah.
Kriiing
Bunyi kaleng minuman soda yang penyok bergeser di atas kerikil. Gadis itu memungut kaleng kosong yang tergelatak hanya beberapa senti dari ban motor Timy— tempat yang sama di mana Naya memungut batu bata tadi.
Gadis itu berdiri tegak kembali, menimang kaleng kosong itu di tangannya, lalu menoleh sedikit ke arah Naya dengan alis yang terangkat sebelah.
"Gue mau buang kaleng ini ke tempat sampah. Lu ngerasa?" tanya gadis itu datar, nadanya begitu polos sekaligus menyindir di saat yang bersamaan.
Wajah Naya langsung memerah padam. Merah karena malu, campur aduk dengan rasa kesal yang tertahan di tenggorokan.
Logikanya yang sempat defensif mendadak macet. Gadis itu tidak sedang memandangnya saat mengatakan "Dasar sampah", melainkan benar-benar mengacu pada kaleng kosong di dekat kakinya. Atau... apakah itu sebuah kesengajaan yang dikemas rapi? Naya tidak tahu, dan ketidaktahuannya itu membuatnya merasa sangat bodoh.
Sebelum Naya sempat membalas atau memaki untuk menyelamatkan harga dirinya, gadis berjaket abu-abu itu sudah berbalik. Dia berjalan menuju tempat sampah besar di ujung parkiran, melempar kaleng itu hingga berdentang keras, lalu menghilang di balik tikungan koridor kelas tiga tanpa menoleh lagi.
Naya berdiri mematung di samping motor Timy. Tangannya mengepal kuat hingga kukunya memutih. 'Sialan' batinnya.
Dari kejauhan, langkah kaki yang berat terdengar mendekat.
Timy berjalan dengan pandangan kosong, tangan nya langsung mencari-cari ponsel di atas jok motor begitu melihat Naya di sana.
"Nay, lu ngapain di sini?" tanya Timy datar, matanya sempat melirik ponselnya yang posisinya agak bergeser, namun otaknya yang lelah menolak untuk curiga.
"Nungguin lu lah. Lama banget," sahut Naya, suaranya instan berubah manja, menyembunyikan sisa kekesalan dan kepanikan akibat insiden dengan gadis misterius tadi. "Yuk, jalan sekarang. Motor lu biarin aja di sini dulu, kita jalan kaki ke depan."
Timy hanya mengangguk pasrah, membiarkan Naya menggelayut di lengannya. Dia tidak tahu bahwa di dalam saku celananya, ponselnya telah bersih dari nama Nawang.
Dan dia juga belum tahu, ban motornya perlahan-lahan mulai kehilangan seluruh udaranya, siap menjebaknya dalam permainan ego Naya yang lebih rumit malam ini.
Sementara itu, dari lantai dua gedung kelas yang menghadap langsung ke parkiran, gadis berjaket abu-abu itu berdiri bersandar pada pagar pembatas.
Dia membuang kotak susu cokelatnya yang sudah kosong ke tempat sampah di sudut koridor, lalu melipat kedua tangannya di dada.
Matanya memperhatikan dua siluet remaja yang berjalan menjauh di bawah lampu taman yang mulai menyala satu per satu.
Sebuah seringai tipis kembali muncul di wajahnya yang tenang.
......................
...****************...
Tbc,