Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Kamu di mana?! Apakah kamu ada di rumah?!" tanya Kak Ethan dengan nada suara yang dipenuhi rasa khawatir yang teramat sangat.
Di dalam ruang kerja kantornya yang megah dan sunyi, Ethan meletakkan bolpoinnya dengan kasar di atas tumpukan laporan yang sejak tadi diperiksanya. Topeng dingin yang selama belasan tahun ini ia gunakan untuk membentengi diri dari Bella mendadak retak. Dadanya bergemuruh hebat oleh getaran cemas yang tidak ia pahami.
Di ujung meja makan rumah yang sepi, Bella mengerjapkan matanya yang kian terasa berat. Pendengarannya mulai berdengung, namun ia masih bisa menangkap kepanikan yang luar biasa dari seberang telepon.
Suara Kak Ethan ... kenapa terdengar begitu khawatir? Nada bicaranya terdengar sangat panik. Apa ini hanya halusinasi semata sebelum aku benar-benar mati? batin Bella pilu. Sebuah senyuman getir yang amat samar terukir di bibirnya yang kian memutih.
"Bella! Kamu di rumah?!" tanya Kak Ethan lagi, suaranya naik satu oktav karena tidak kunjung mendapat jawaban dari sang adik.
Pria itu kini sudah bangkit berdiri dari kursi kebesarannya, mencengkeram ponselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Firasat buruk yang teramat sangat mendadak menghantam kepalanya.
"Hmm ...," ucap Bella terbata-bata. Suaranya terdengar seperti bisikan angin yang teramat tipis, nyaris tenggelam oleh deru napasnya yang kian berat.
Kesadaran Bella kini benar-benar berada di ambang batas. Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya seolah ditarik paksa. Pegangan jemarinya pada ponsel melonggar, dan detik berikutnya, benda pipih itu tergelincir jatuh dari tangannya yang kian mendingin.
Prang!
Suara benturan keras ponsel yang menghantam lantai marmer terdengar begitu nyaring melalui pelantang suara di ruang kerja Ethan. Setelah itu, tidak ada lagi bisikan terbata-bata dari Bella. Yang tersisa hanyalah keheningan mati yang statis, disusul oleh suara desah napas yang teramat tipis dan serak—sebelum akhirnya suara itu pun menghilang sepenuhnya.
"Bella? Bella! Jawab aku!" teriak Ethan panik. Wajahnya yang biasa tenang kini memucat pasi. Tangannya yang memegang ponsel bergetar hebat. "Bella! Jangan main-main! Nyalakan suaramu!"
Namun, tetap tidak ada jawaban. Sambungan telepon itu masih menyala, tetapi dari ujung sana hanya terdengar kesunyian yang mencekam.
Tanpa memedulikan tumpukan laporan penting di mejanya, Ethan langsung menyambar kunci mobil dan jasnya. Ia berlari lebar keluar dari ruang kerjanya, memacu langkah sekencang mungkin menuju basemen parkir. Pikirannya dipenuhi satu nama, berdoa agar ia tidak terlambat.
Sementara itu, di ruang makan rumah mereka yang sunyi, tubuh Bella sudah tidak mampu lagi menopang beratnya sendiri. Dengan sisa kesadaran yang menguap sepenuhnya ke udara, tubuh rapuhnya limbung dari kursi utama. Bella jatuh terjerembap ke atas lantai marmer yang dingin dengan suara dentuman pasrah.
Di atas lantai yang menjadi saksi bisu kesendiriannya, Air mata terakhirnya luruh menjalar di pipi yang kian memucat, mengakhiri seluruh rasa sakit, penolakan, dan kesepian yang selama bertahun-tahun ini mengurung jiwanya. Tepat di hari ulang tahunnya, Bella telah benar-benar pergi dalam keheningan.
"Tunggu aku di rumah, aku akan sampai tiga puluh menit lagi!" ucap Kak Ethan terburu-buru dari seberang telepon, disusul suara langkahnya yang berderap cepat.
Dia akan pulang? Kak Ethan ... mau pulang untukku? batin Bella dengan rasa sedih sekaligus haru yang membuncah.
Dengan sisa tenaga yang ada, Bella memandangi telapak tangannya. Di sana, sebuah garis hitam pekat yang menyerupai garis kematian mendadak muncul dan berkedip. Namun, sedetik kemudian, tanda misterius itu perlahan meredup, seolah memberikan secercah waktu yang dipinjamkan.
Tepat setelah itu, rasa nyeri yang luar biasa hebat menghantam ulu hatinya. Bella merintih kesakitan, sebelah tangannya mencengkeram perutnya erat-erat. Rasa sakit itu begitu menyiksa, seperti ada ribuan jarum yang menusuk organ dalamnya secara bersamaan.
Obat ... aku harus mengambil obat, pikirnya panik.
Bella berusaha bangkit berdiri, bertumpu pada pinggiran meja makan. Ia harus naik ke gudang lantai tiga tempat obat-obatannya disimpan. Namun, baru satu langkah kakinya melangkah, rasa sakit itu kembali menghentak hingga membuatnya kehilangan seluruh pasokan udara.
Pandangan Bella seketika menggelap. Tubuh rapuhnya tidak sanggup lagi menahan siksaan itu. Detik berikutnya, Bella limbung dan jatuh terjerembap ke atas lantai marmer yang dingin, kehilangan kesadarannya sepenuhnya dalam keheningan rumah yang sepi.
Di balik kemudi, napas Ethan memburu tidak teratur. Jari-jarinya mencengkeram setir mobil begitu erat hingga memutih, sementara kakinya terus menekan pedal gas sedalam mungkin. Mobil sedan hitamnya melesat membelah jalanan kota yang padat, menyalip kendaraan lain dengan nekat. Klakson dari pengemudi lain bersahut-sahutan memprotes aksinya, tetapi Ethan tidak peduli.
Fikirannya benar-benar kacau. Suara dentuman prang dari ponsel Bella yang jatuh dan desah napas terakhir adiknya yang teramat tipis terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Kenapa aku harus sekasar itu padanya selama ini? batin Ethan menghujat dirinya sendiri.
Kilasan ingatan masa lalu mendadak berhamburan di benaknya. Ia teringat bagaimana Bella kecil selalu berlari menyambutnya di depan pintu setiap kali ia pulang sekolah. Ia teringat mata bulat adiknya yang berbinar tulus saat memberikan hadiah ulang tahun buatan tangan untuknya. Namun, semua memori manis itu langsung tergilas oleh bayangan kekejamannya sendiri selama belasan tahun terakhir.
Ethan teringat bagaimana ia membentak Bella di koridor, menyebutnya pembawa sial, hingga memerintahkan adiknya untuk pindah ke gudang lantai tiga yang dingin dan bocor.
“Aku tidak mengusirmu dari sini, itu sudah menjadi keuntungan bagimu.”
Kalimatnya sendiri malam itu kini berbalik menyerangnya seperti belati yang beracun. Ethan memukul setir mobilnya dengan kasar, meluapkan kemarahan pada dirinya sendiri. Air mata yang selama belasan tahun ini ia tahan atas kematian orang tuanya, kini luruh bukan karena duka masa lalu, melainkan karena ketakutan akan kehilangan Bella.
Dia sadar, kebenciannya selama ini hanyalah topeng egois untuk melimpahkan rasa kehilangan. Sebenarnya, Bella tidak pernah bersalah atas kecelakaan itu. Bella hanyalah anak kecil yang malang, dan mereka—kakak-kakaknya—justru bersekongkol mengubur anak itu hidup-hidup dalam kesendirian.
"Tolong bertahan, Bella... Kakak mohon," bisik Ethan parau, suaranya pecah oleh tangis yang tak lagi bisa dibendung. "Jangan pergi tepat di hari ulang tahunmu. Kakak belum meminta maaf..."
Di tengah jalanan yang seolah tanpa ujung, Ethan terus berkejaran dengan waktu, berdoa pada Tuhan agar waktu 30 menit yang ia miliki tidak berubah menjadi penyesalan seumur hidup.
Decit ban mobil yang bergesekan kasar dengan aspal halaman membungkam keheningan rumah besar itu. Ethan bahkan tidak sempat mematikan mesin mobilnya dengan benar. Ia melompat keluar, berlari menerjang undakan tangga teras dengan napas yang memburu layaknya orang kesurupan.
Brak! Brak!
"Bella! Bella!"
Ethan menghantam pintu depan yang terkunci rapat dengan bahunya. Ketika pintu itu tidak kunjung terbuka, dengan sisa tenaga dan kepanikan yang mendidih di dalam darahnya, Ethan memutar kunci cadangan yang ia ambil paksa dari saku jasnya dengan tangan gemetar. Pintu terbuka dengan dentuman keras yang menggema ke seisi ruangan.
"Bella!"
Langkahnya melesat lebar, melewati ruang tamu, menembus koridor, dan langsung menuju ruang makan. Dan di sanalah, seluruh dunianya runtuh seketika tanpa sisa.
Di atas lantai marmer yang dingin dan kaku, tubuh rapuh adiknya sudah terkapar pasrah. Wajah Bella pucat pasi, seputih kertas, dengan bibir yang telah kehilangan seluruh rona kehidupan. Ponselnya yang retak tergeletak tak jauh dari jemarinya yang mulai membiru.
"Bella... Tidak, tidak, tidak! Bella!"
Suara Ethan pecah menjadi jeritan histeris yang parau. Pria yang biasanya selalu tampil berwibawa dan dingin itu seketika kehilangan seluruh harga dirinya. Ia menjatuhkan lututnya ke atas lantai marmer dengan keras, merosot di samping tubuh Bella.
Dengan tangan yang bergetar hebat, Ethan mengangkat tubuh ringkih adiknya, membawanya ke dalam dekapan. Kamar gudang lantai tiga yang dingin ternyata telah merenggut kehangatan tubuh adiknya sejak lama—kulit Bella terasa begitu sedingin es.
"Bella, bangun! Ini Kak Ethan! Kakak sudah pulang, Dek! Buka matamu!" Ethan mengguncang bahu Bella dengan putus asa, mendekap kepala adiknya erat-earat ke dadanya. Air matanya luruh deras, membasahi pipi pucat Bella. "Jangan seperti ini, Bella... Kakak mohon, jangan tinggalkan Kakak..."
Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Ethan memeluk adiknya. Namun, pelukan yang selama ini dinantikan Bella dengan air mata, kini justru dibalas oleh keheningan tubuh yang tak lagi bergerak. Di ruang makan yang sunyi itu, hanya ada suara raungan penyesalan Ethan yang terlambat, meratapi kesalahan besar yang telah mereka perbuat pada putri sulung keluarga mereka.
"Kenapa ... Kakak sangat mengkhawatirkan aku?" ucap Bella terbata-bata dengan suara yang teramat tipis. Setitik air mata mengalir di sudut matanya yang kian meredup. "Ini ... pasti halusinasiku saja, kan?"
Kalimat pasrah itu menjadi hal terakhir yang mampu diucapkan Bella sebelum seluruh dunianya menggelap dan kesadarannya menguap sepenuhnya.
"Bella? Bella! Kamu kenapa?! Cepat buka matamu, Dek! Jangan menakut-nakuti Kakak!" teriak Ethan histeris saat merasakan tubuh di pelukannya mendadak melemas tanpa daya. "Cepat bicara, Bella ... Ada Kakak di sini!"
Ethan mendekap tubuh ringkih itu semakin erat, seolah mencoba membagi kehangatan tubuhnya sendiri. "Kakak sudah datang untuk Bella. Mulai sekarang, Kakak akan selalu ada untuk Bella. Jadi, Kakak mohon buka matamu ... Kakak minta maaf karena selama ini tidak pernah memedulikanmu," ucap Ethan dengan suara serak, berurai air mata penyesalan yang terlambat.
Menyadari tidak ada waktu lagi untuk menangis, Ethan langsung bergerak cepat. Mengabaikan rasa lemas di lututnya, ia mengangkat tubuh Bella ke dalam gendongannya. Pria itu berlari sekuat tenaga keluar rumah, menerobos pintu depan menuju mobil yang mesinnya masih menyala.
"Pak! Cepat jalankan mobilnya! Bella sakit dan pingsan!" seru Ethan dengan nada panik yang tak terbendung kepada sopir pribadinya yang berjaga di halaman.
"Baik, Tuan Muda!" jawab sopir itu tanggap. Ia segera membukakan pintu penumpang, lalu melompat ke kursi kemudi dan menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu kendaraan membelah jalanan menuju rumah sakit terdekat.
Di dalam kabin mobil yang melaju kencang, suasananya terasa begitu mencekam. Ethan duduk di kursi penumpang belakang, mendekap tubuh Bella yang terasa kian ringan di pelukannya. Sebelah tangan Ethan menggenggam erat jemari adiknya. Kulit Bella terasa teramat dingin, seolah-olah seluruh kehangatan hidup telah tersedot habis oleh malam-malam sepi yang ia habiskan di gudang lantai tiga.
Dengan jari yang gemetar hebat, Ethan menempelkan telunjuk dan jari tengahnya ke pergelangan tangan Bella. Ia mencoba mencari detak nadi adiknya.
Deg ... deg ...
Detakan itu ada, namun terasa sangat lambat dan teramat tipis. Jauh di bawah ritme normal. Setiap ketukan yang lemah itu seolah menjadi hitung mundur yang menakutkan bagi Ethan.
"Bella, bertahanlah ... Kakak mohon," bisik Ethan, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia membawa tangan dingin Bella ke bibirnya, mengecupnya berulang kali seraya menumpahkan air mata penyesalan yang tak kunjung surut. "Jangan menyerah sekarang. Kamu belum mendengar permintaan maaf dari kqkak Aaron, dan Charles. Kita semua harus memperbaikinya, Dek."
Ethan kembali memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Bella. Detak yang tipis itu mendadak menghilang selama beberapa detik sebelum kembali berdenyut sangat samar. Kepanikan semakin mencengkeram dada Ethan. Rasanya seolah-olah nyawa Bella sedang bersiap untuk terlepas dari jemarinya kapan saja.
"Pak! Lebih cepat lagi! Detak nadinya kian melemah!" seru Ethan parau kepada sopir di depan, suaranya dipenuhi ketakutan yang teramat sangat.
"Baik, Tuan Muda! Ini sudah kecepatan penuh!" balas sang sopir yang ikut tegang, terus menekan klakson membelah kemacetan jalanan kota demi menyelamatkan nyawa putri sulung yang selama ini terlupakan.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~