NovelToon NovelToon
Aura Clarissa

Aura Clarissa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:675
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.

Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.

Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Badai Dibalik Pintu

Pagi menyingsing, membiarkan bias sinar matahari menyusup lembut lewat celah-celah gorden. Di dalam kamar yang temaram itu, keduanya masih terlelap di bawah selimut hangat yang sama. Namun tak berselang lama, perempuan di sampingnya perlahan membuka mata.

Ia meraba nakas di samping tempat tidur, mendapatinya kosong. Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh merengkuhnya dari belakang—erat, sigap, dan hangat.

Aura serta-merta membuka mata lebar-lebar. Jantungnya berdegup jauh lebih kencang dari batas normal. Tubuhnya yang polos hanya terbalut selimut tebal. Tanpa buang waktu, ia melepaskan lilitan tangan itu dari tubuhnya dengan gerakan kasar.

Ia beringsut turun dari ranjang. Pakaiannya berserakan di atas lantai. Dengan tangan bergetar, Aura menyambar pakaiannya, lalu berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi dan membanting pelan pintu di belakangnya.

"Pak Darrel... Apa yang sebenarnya terjadi semalam...?" gumam Aura tertahan, berusaha keras merangkai kembali pecahan memori semalam di kepalanya.

Namun, semakin ia mencoba mengingatnya, semakin hebat pula denyut nyeri yang menghantam kepalanya. Seketika lututnya terasa lemas. Di balik pintu kamar mandi yang dingin itu, ia meringkuk sambil memeluk bajunya sendiri, putus asa berharap bisa memungut kembali ingatan yang hilang.

Tok... tok...

Pintu kamar mandi diketuk dari luar.

"Clara...?" panggil Darrel dengan suara serak khas bangun tidur.

Aura yang masih terduduk di lantai menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah. Ia tak pernah menyangka kepribadian lain di dalam tubuhnya akan menyeretnya ke situasi seburuk ini—posisi di mana ia merasa begitu jijik pada dirinya sendiri.

"Pergilah... Anggap saja semalam tidak pernah terjadi apa-apa!" seru Aura dari balik pintu dengan suara dinaikkan.

"Apa kamu baik-baik saja di dalam?" balas Darrel cemas.

Aura membisu. Ia menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan tangan, berusaha meredam suara-suara bising yang berputar di dalam kepalanya—suara kejam yang menghakiminya sebagai wanita murahan, penggoda, dan sebutan buruk lainnya.

"Clara... Keluarlah sebentar, aku ingin bicara," bujuk Darrel lagi.

Tak berselang lama, gerendel pintu kamar mandi bergeser pelan. Pintu terbuka. Aura berdiri di ambang pintu dengan pakaian yang sudah tertutup rapi dan sopan. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.

"Pergi..." ucap Aura dingin penuh penekanan.

Darrel melangkah maju. Kini, instingnya sudah bisa membedakan dengan jelas dua kepribadian yang bersemayam dalam diri wanita di hadapannya. Ia yakin seratus persen, perempuan yang berdiri menatapnya dengan sorot terluka ini adalah Aura—sosok lugu yang selalu canggung setiap kali berada dekat dengannya.

Pandangan Darrel tertuju ke atas nakas. Pria itu meraih sebuah botol obat yang beberapa waktu lalu diresepkan oleh Dokter El.

"Apa ini...?" tanya Darrel serius sambil mengangkat botol tersebut. "Dokter El? Dokter jiwa...? Aura, sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu?"

Aura menolak menjawab. Ia mendorong tubuh Darrel ke arah luar kamar.

Namun Darrel dengan sigap menahan kedua pergelangan tangan Aura, membuat emosi wanita itu akhirnya meledak.

"Saya memang gila, Pak Darrel! Jadi mulai sekarang, jangan pernah dekati saya ataupun diri saya yang lain lagi!" bentak Aura dengan suara bergetar penuh amarah.

Darrel menatap lekat ke dalam manik mata Aura yang basah. "Tidak. Kamu tidak gila, Aura. Semakin aku bersama kamu, semakin aku mengenal siapa kamu sebenarnya. Bawa aku menemui Dokter El."

"Lepas! Saya bahkan tidak punya hubungan apa-apa dengan Anda, jadi—"

Ucapan Aura terpotong oleh dering ponsel yang tiba-tiba bergetar di saku celana Darrel.

"Sebentar," ujar Darrel sigap, melangkah sedikit ke samping untuk menerima panggilan.

Aura membuang muka, memijit pelipisnya yang berdenyut hebat. Ia sudah kehabisan tenaga untuk berdebat. Ia bertekad untuk menjauh sejauh-jauhnya dari Darrel, karena ia sadar, semakin ia mendekati pria itu, kondisi mentalnya makin hancur dan sisi gelap Clara akan terus mengambil alih.

Aura tidak ingin Darrel mengetahui rahasia terkelamnya—tentang luka masa lalunya, tentang trauma buruk yang senantiasa menghantuinya.

Beberapa menit kemudian, sambungan telepon Darrel berakhir. Nyaris bersamaan dengan itu, bel apartemen berbunyi nyaring. Aura yang berada di dalam kamar hendak melangkah keluar untuk membukakan pintu, namun Darrel bergerak lebih cepat dan membukanya dari dalam.

Seketika, suara pekikan tertahan disusul bunyi hantaman keras terdengar dari arah ruang depan. Aura yang terkejut langsung berlari keluar kamar.

"Lelaki kurang ajar! Bangsat! Beraninya lo nginep di kamar anak gue, hah?! Biadab!" maki suara paruh baya yang tak asing di telinga Aura, diikuti hantaman keras kaki yang menendang perut Darrel hingga pria itu tersungkur di lantai.

"STOP!!" pekik Aura histeris. Ia berlari kencang, langsung menjatuhkan diri melindungi Darrel yang kesakitan di lantai.

"Anda yang harusnya pergi dari apartemen saya!" teriak Aura histeris, suaranya bergetar hebat. Ketakutan luar biasa langsung merayap mencengkeram dadanya, menyeret kembali bayangan trauma masa lalu yang paling ia benci.

"Anak haram! Durhaka lo sama ayah sendiri! Dibaekin malah nggak mau ngasih duit! Sialan, bener ya kata orang, lo emang doyan jual diri—!"

Sosok ayah. Monster masa lalu yang paling ingin Aura musnahkan dari muka bumi.

Di saat yang sama, Darrel bangkit dengan sisa tenaga. Didorong oleh gelombang kemarahan yang membakar dada mendengar hinaan keji itu, Darrel melayangkan tinju keras tepat ke arah pipi lelaki paruh baya tersebut hingga tersungkur.

Aura berusaha bangkit berdiri untuk menenangkan situasi, namun kepalanya mendadak berputar hebat. Penglihatannya mengabur, bayangan punggung Darrel di hadapannya mulai memudar tersapu gulita, hingga detik berikutnya... semuanya berubah menjadi gelap total.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!