Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: SABOTASE DAN PERINGATAN PERTAMA
Keheningan yang mencekam menyelimuti area perpustakaan SMA Garuda Bangsa. Langkah kaki Arsen berderap pelan namun amat berat di atas lantai kayu, memotong jarak di antara mereka bak seekor pemangsa yang mendekati mangsanya.
"Bebas?" Arsen mengulang kata itu dengan nada getir yang dipenuhi cemoohan. Manik mata hitamnya menyipit tajam, berkilat berbahaya saat beralih dari wajah Dion menuju pergelangan tangan Clara yang tersembunyi di bawah meja. "Siapa yang memberimu hak untuk berbicara soal kebebasan di hadapanku, Dion?"
Dion berdiri dari kursinya, pasang badan menatap Arsen tanpa rasa takut, meski aura penindas Tuan Muda Baskara itu begitu dominan. "Aku hanya menawarkan bantuan logis. Clara bukan budakmu, Arsen. Utang 50 juta itu bisa dilunasi oleh siapa saja, dan dia punya hak untuk memilih hidupnya sendiri!"
"Hak?" Arsen tertawa dingin—suara tawa tanpa humor yang membuat beberapa siswa di sudut lain perpustakaan buru-buru membereskan buku dan melarikan diri keluar. "Dia terikat denganku. Bukan cuma soal angka nominal murahan yang kau sebutkan itu."
Arsen menyambar lengan Clara secara kasar namun tidak sampai menyakitinya, memaksanya berdiri dan berada rapat di belakang punggungnya. Clara bisa merasakan gelombang amarah dan kecemburuan gila yang bergetar hebat dari tubuh Arsen.
"Arsen, tolong... kita cuma bicara soal catatanku yang tertinggal," cicit Clara gemetar, mencoba meredakan amarah Tuan Mudanya sebelum situasi lepas kendali.
Namun, Arsen sudah tidak mendengarkan. Tatapan matanya terkunci pada barang-barang milik Dion yang tergeletak di atas meja—sebuah laptop mahal yang memuat dokumen proyek akhir sekolah serta berkas-berkas penting milik keluarga Dion.
Tanpa peringatan, Arsen mengulurkan tangannya dan mencengkeram layar laptop milik Dion.
Krak!
Suara engsel plastik dan kaca retak terdengar nyaring saat Arsen menekuk layar laptop itu ke arah berlawanan hingga patah menjadi dua bagian. Tidak berhenti di sana, dengan satu dorongan keras dan penuh kebencian, Arsen menyapu seluruh barang di atas meja tersebut. Laptop yang hancur, gelas nutrisi, dan berkas-berkas Dion terlempar menghantam rak buku terdekat lalu jatuh berserakan di lantai marmer dengan suara dentuman keras.
PRANG! BRAK!
"Arsen! Apa-apaan kamu?!" teriak Dion murka, melangkah maju hendak meninjau kerusakan barangnya sekaligus membalas tindakan destruktif itu.
Dua pengawal pribadi Baskara yang berjaga di luar perpustakaan langsung menerobos masuk, membentangkan tubuh mereka dan menahan Dion di tempat sebelum ia sempat menyentuh Arsen.
Arsen merapikan kerah seragamnya dengan santai, menatap Dion yang ditahan oleh pengawalnya dengan pandangan meremehkan yang sangat kejam.
"Ini hanya peringatan pertama, Dion," bisik Arsen dengan suara rendah namun sanggup menembus pendengaran Dion secara jelas. "Hari ini barang-barang murahanmu yang hancur. Jika besok kau memberinya sesuatu lagi—atau sekadar menatap matanya—aku pastikan bisnis keluargamu yang akan rata dengan tanah sebelum matahari terbenam."
"Kamu sudah gila, Arsen! Kamu tidak bisa bertindak sewenang-wenang seperti ini!" seru Dion penuh amarah seraya berusaha melepaskan diri dari cengkeraman para pengawal.
Arsen tidak mengindahkan teriakan itu. Ia berbalik, mencengkeram pergelangan tangan Clara yang dingin dan gemetaran, lalu menyeretnya keluar dari perpustakaan tanpa sedikit pun celah untuk membantah.
Clara melangkah tertatih mengimbangi langkah lebar Arsen sepanjang koridor. Hatinya menciut menyaksikan sisi gelap Arsen yang kian destruktif dan tak terkendali. Gertakan pertama ini bukan hanya ditujukan untuk Dion, melainkan sebuah pesan yang sangat jelas bagi Clara: sangkar emas yang mengurungnya kini telah resmi dipasangi rantai paling tebal.