Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 — Kunci Cadangan (Revisi)
“Mas, kok baru pulang? Meeting bisa sampai tengah malam? Aku sudah menunggu dari tadi.”
Danang berhenti melepas jam tangannya. Raras berdiri di dekat meja makan dengan celemek masih terikat di pinggang. Rambutnya dicepol asal, dan di atas meja ada sepiring nasi goreng yang sudah dingin. Sesekali ia melirik jam dinding, berharap Danang segera duduk dan menemaninya makan seperti yang biasa mereka lakukan.
“Mas ada urusan di gudang. Ada masalah pengiriman yang harus diselesaikan.”
“Gudang tutup jam enam, Mas. Tadi sore aku tanya Wahyu karena mau mengirimkan dokumen yang tertinggal di mobilmu. Katanya semua sudah beres sejak sore.”
Danang menatap istrinya.
“Kamu sekarang memeriksa kegiatan Mas?”
Raras terdiam. Ia tidak menyangka pertanyaan sederhana itu dibalas dengan nada seperti sedang diinterogasi.
“Aku cuma bertanya. Biasanya kalau Mas pulang terlambat, kamu cerita sendiri masalahnya apa. Aku bahkan menyiapkan makan malam supaya kita bisa makan bersama.”
“Kalau sudah tahu Mas sibuk, kenapa harus memperpanjang masalah?”
Dada Raras mulai terasa sesak. Ia menatap nasi goreng yang sudah kehilangan uapnya, lalu kembali memandang Danang.
“Tiga tahun, Mas. Sesibuk apa pun, kamu selalu pegang bahuku atau tanya aku sudah makan atau belum. Malam ini kamu bahkan tidak melirik makanannya.”
“Mas capek, Ras.”
“Ya sudah. Kamu mandi dulu. Aku hangatkan makanannya.”
“Tidak usah. Mas sudah makan.”
“Di mana?”
“Di luar.”
“Di luar mana, Mas? Aku tanya bukan untuk bikin kamu capek.”
“Raras. Jangan membuat Mas tambah capek.”
Raras berbalik menuju dapur. Baru beberapa langkah, hidungnya menangkap wangi melati bercampur aroma manis yang kuat dari kemeja Danang. Ia mengenal parfum itu. Raras sendiri yang memilihkannya ketika mereka berbulan madu di Bali. Ia bahkan masih ingat Danang sempat bercanda karena harga parfum itu terlalu mahal.
“Mas ganti parfum?”
“Parfum teman. Tadi dia menumpahkan sedikit di bajuku.”
“Teman perempuan?”
Wajah Danang berubah. “Memangnya kalau perempuan kenapa?”
Ponsel Danang yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar.
Niken: Mas, aku sudah sampai di rumah Ibu. Besok jadi bilang ke Raras, kan? Aku capek nunggu.
Raras membeku. Matanya terpaku pada layar, membaca pesan itu sekali lagi untuk memastikan ia tidak salah memahami kalimatnya.
“Niken. Rekan bisnis yang sering kamu sebut itu? Yang menelepon waktu kita makan malam, sampai kamu buru-buru keluar?” Suaranya nyaris tidak keluar. “Waktu itu aku malah membuatkanmu kopi.”
“Ras...”
“Mas, siapa Niken?”
Danang meraih ponselnya. Terlambat.
“Dia rekan kerja.”
“Kalau cuma rekan kerja, kenapa dia capek menunggu? Menunggu apa, Mas?”
“Bukan urusanmu.”
“Bukan urusanku? Aku ini istrimu, Danang!”
“Jangan berteriak.”
“Aku belum berteriak!” Suaranya pecah. Air mata yang sejak tadi ditahan mulai mengalir. “Kamu pulang larut, bajumu berbau parfum perempuan, lalu ada pesan seperti itu. Apa kamu pikir aku tidak punya perasaan?”
Danang mengusap wajahnya, lalu duduk di sofa. Ia tampak lelah menghadapi pertanyaan Raras, seolah-olah istrinya yang sedang membuat masalah.
“Mas memang harus bicara denganmu. Kita berpisah saja.”
Dunia Raras seakan berhenti. Ia berharap Danang akan tertawa dan bilang hanya bercanda. Mereka pernah berselisih, tetapi tidak pernah sekalipun Danang mengucapkan kata berpisah. Bahkan ketika mereka sama-sama marah, biasanya Danang tetap kembali mengajaknya bicara sebelum tidur.
“Ulangi, Mas.”
“Mas ingin kita bercerai.”
“Kenapa? Aku kurang mengurusmu? Atau selama ini aku terlalu banyak menuntut?”
“Justru kamu tidak pernah menuntut apa-apa, Ras! Kamu selalu menganggap semuanya baik-baik saja. Mas sampai tidak tahu apakah kamu membutuhkan Mas sebagai suami atau cuma sebagai seseorang yang harus kamu urus.”
Raras tertawa kecil di sela tangisnya. Bukan karena lucu, melainkan karena ia tidak tahu harus menanggapi dari mana.
“Jadi aku salah karena berusaha membuatmu bahagia?”
“Mas tidak bilang begitu.”
“Lalu kamu ingin aku bagaimana? Marah setiap kali kamu pulang terlambat? Melarangmu bekerja? Meminta uang setiap hari supaya kamu merasa dibutuhkan?”
“Raras, jangan memutarbalikkan perkataan Mas.”
“Aku sedang berusaha memahami suamiku sendiri!” Air matanya kembali jatuh. Kali ini Raras tidak buru-buru menyekanya. “Aku ingat waktu kamu belum dipercaya memimpin perusahaan. Kamu pulang malam, merasa semua orang meremehkanmu. Siapa yang menemanimu sampai kamu berani mengambil keputusan? Siapa yang bilang kamu mampu ketika kamu sendiri meragukan dirimu? Aku tidak pernah menganggapmu cuma anak Pak Surya. Aku selalu bangga padamu, Mas.”
Danang tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Ia bahkan tidak menatap Raras ketika istrinya mengingatkan semua hal yang pernah mereka lalui bersama.
“Mas mencintai dia.”
Raras mundur selangkah, lalu duduk di ujung sofa. Tangisnya pecah. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, sementara Danang hanya berdiri beberapa langkah darinya.
“Bukan karena kita kehabisan uang,” katanya di sela napas yang patah. “Bukan juga karena aku mengkhianatimu. Kamu cuma memilih perempuan lain. Itu saja, kan, Mas?”
Danang tidak membantah.
“Sejak kapan?”
“Beberapa bulan.”
“Berapa, Mas? Tiga? Enam? Sebut saja. Aku ingin tahu bulan mana saja yang kuhabiskan sambil tersenyum.”
“Enam.”
“Enam bulan.” Raras mengangguk, seperti sedang menghitung utang yang bukan miliknya. “Jadi selama aku menyiapkan sarapan untukmu dan menunggumu pulang, kamu sudah mencintai perempuan lain?”
“Mas tidak merencanakan semuanya seperti ini.”
“Tapi kamu tetap melakukannya.”
Danang terdiam.
Raras menatapnya dengan mata merah. “Apa kamu pernah berpikir untuk memperbaiki pernikahan kita sebelum memutuskan menceraikanku?”
“Mas sudah memikirkannya.”
“Kapan? Saat kamu bersama Niken?”
“Raras, cukup!”
Raras tersentak. Danang jarang membentaknya seperti itu. Ia kembali menangis, tetapi ada sesuatu yang berubah dalam tatapannya. Ia mulai sadar bahwa jawaban yang selama ini dicarinya mungkin tidak akan pernah diberikan dengan jujur oleh lelaki di hadapannya.
“Baik. Aku tidak akan bertanya lagi.”
Danang tampak lega.
“Tapi jangan bilang kamu tidak merencanakan ini, Mas. Orang yang tidak merencanakan tidak punya map.”
“Ras...”
“Aku cuma bilang apa yang kulihat.”
Danang mengambil sebuah map dari tas kerjanya.
“Ini surat cerainya. Mas bahkan sudah menandatanganinya tiga hari lalu.”
“Tiga hari lalu? Saat aku meneleponmu karena ingin memastikan kamu sudah makan?”
Danang mengalihkan pandangan.
Raras memandang map itu seperti sedang melihat sesuatu yang menjijikkan. Ia mengambilnya. Tangannya gemetar saat membaca alasan perceraian di sana: perselisihan berkepanjangan dan ketidakcocokan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Ia membaca kalimat itu sekali lagi, berharap ada penjelasan lain yang terlewat, tetapi kata-katanya tetap sama. Raras tertawa getir.
“Kita bahkan tidak pernah bertengkar besar, Mas. Kamu yang memilih diam setiap kali ada masalah. Aku yang selalu mengajakmu bicara. Kalau begitu, jawab satu pertanyaan terakhirku. Apa kamu pernah benar-benar mencintaiku?”
“Mas pernah mencintaimu.”
Pernah. Satu kata itu lebih menyakitkan daripada semua bentakan malam ini.
“Pernah,” ulangnya lirih. “Aku bahkan tidak tahu kapan tepatnya itu berubah jadi pernah.”
“Ras...”
“Jangan dijawab, Mas. Aku cuma bicara sama diriku sendiri.”
Raras berdiri dan berjalan ke dapur.
“Kamu belum makan malam, kan? Aku hangatkan pindang tulang yang kamu suka. Masih ada di panci.”
Tangannya sudah menarik wadah itu dari rak sebelum ia sadar apa yang sedang ia lakukan. Ia berhenti, lalu tertawa pendek dengan mata basah. Kebiasaan mengurus Danang rupanya masih berjalan bahkan setelah lelaki itu mengatakan ingin meninggalkannya.
“Lucu, ya, Mas. Kamu baru bilang mau pisah, dan aku masih hafal kesukaanmu.”
“Ras...”
“Tidak jadi. Kamu bisa membeli makanan sendiri mulai sekarang.”
“Raras, jangan bersikap kekanak-kanakan.”
“Aku baru tahu suamiku menyiapkan surat cerai tiga hari lalu. Kalau aku masih bisa menangis dan marah, itu karena aku manusia, Mas.”
Ponsel Danang berdering. Nama Ibu muncul di layar. Ia menjauh, tetapi suaranya masih terdengar dari ruang tengah.
“Iya, Bu. Aku sudah bicara dengan Raras. Belum, Bu. Dia belum tahu semuanya.” Suaranya menurun. “Ibu sudah bilang ke dia?”
Raras menoleh tajam. Dia? Apa lagi yang belum ia ketahui?
Danang berbalik dan mendapati Raras berdiri di ambang dapur. Ia segera mengakhiri panggilan.
“Kamu dengar apa?”
“Cukup banyak untuk membuatku sadar bahwa aku tidak mengenalmu seperti yang kukira. Apa yang belum kuketahui, Mas?”
Danang tidak menjawab.
“Baik. Aku tidak akan memaksa. Tapi dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan memohon supaya kamu tetap menjadi suamiku. Aku juga tidak akan mengejar laki-laki yang sudah memilih perempuan lain.”
“Bagus kalau kamu mengerti.”
Raras menatapnya lama. Tidak ada lagi kemarahan yang meledak di sana, hanya sesuatu yang tenang dan jauh lebih dingin.
“Jangan salah paham, Mas. Aku masih mencintaimu, dan malam ini kamu menghancurkan hatiku. Tapi aku tidak akan membiarkan cintaku membuatmu bebas memperlakukanku sesuka hati. Mulai malam ini, kamu urus sendiri semua kebutuhanmu. Aku tidak akan lagi menutupi kesalahanmu atau mengorbankan diriku supaya kamu terlihat baik di mata orang lain.”
Ia berjalan menuju kamar.
“Raras! Jangan membuat keputusan saat sedang emosi.”
“Aku tidak sedang membuat keputusan, Mas. Kamu sudah melakukannya tiga hari lalu.”
Ia masuk ke kamar, menutup pintu, dan memutar kunci.
Punggungnya bersandar di daun pintu sampai lututnya menyerah. Raras merosot ke lantai dan menekan mulutnya dengan punggung tangan supaya isaknya tidak lolos. Ia menggigit bibir, berusaha meredam tangis yang terus mendesak keluar. Dari ruang tengah, ponsel Danang bergetar. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Lalu langkah kaki itu mendekat dan berhenti tepat di depan pintunya.
Gagang pintu bergerak turun, tertahan kunci.
lanjuut
🙏💪