NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA PULUH

"Kalau kamu terus menatap dada saya seperti itu, Amara, sarapan di depanmu bakal dingin."

Amara mendadak terperanjat, buru-buru menarik pandangannya dari tubuh tegap sang suami. Rasa nyeri di pinggangnya yang menjalar hingga ke punggung bawah seketika terasa makin menyengat saat ia mencoba memperbaiki posisi duduknya di kursi meja makan. Wajahnya merona merah padam, sehangat suhu tubuhnya sendiri.

Pagi itu, Amara terbangun dengan tubuh terasa remuk dan lemas luar biasa. Yang membuat dadanya makin berdebar kencang adalah kenyataan bahwa baju tidur katun berwarna merah muda yang semalam sempat terlepas, kini sudah kembali terpasang sangat rapi di tubuhnya. Bayangan peristiwa pergulatan panas semalam membakar habis sisa keberaniannya untuk menatap mata Zain.

Aarrgghh! Bagaimana nanti kalau aku bertemu Kak Zain? Ya Tuhan, malu sekali! seru Amara dalam hati sewaktu berada di kamar tadi. Pria itu benar-benar membuatnya kewalahan tanpa ampun. Untung saja hari ini hari Sabtu, jadwal perkuliahan libur total sehingga ia bisa beristirahat memulihkan tenaga.

Setelah menyelesaikan mandi air hangat yang sedikit meredakan pegal di persendiannya, Amara memutuskan turun ke lantai dasar. Rumah besar itu sepi. Namun di atas meja makan, sepiring nasi goreng hangat yang beraroma gurih lengkap dengan telur mata sapi dan segelas susu putih telah tersaji rapi.

"Kak Zain ke mana, ya?" bisik Amara pada dirinya sendiri, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi.

Pria itu memang kerap kali mendadak harus menghadiri rapat akademis atau meninjau laboratorium universitas di hari akhir pekan. Namun, sebelum benaknya melayang lebih jauh, suara pintu depan yang didorong terbuka memutus lamunannya.

Zain melangkah masuk ke dalam area dapur. Pria itu rupanya baru saja selesai berolahraga lari pagi di sekitar kompleks perumahan. Keringat bening membasahi leher jenjang dan sepanjang lengan tegapnya. Pagi ini, Zain hanya mengenakan kaus olahraga tanpa lengan berwarna hitam, memperlihatkan otot-otot bicep yang kekar dan terukir sempurna, pemandangan maskulin yang jarang sekali diperlihatkannya secara terbuka.

Amara yang baru saja hendak mengayunkan sendoknya mendadak membeku di tempat. Tenggorokannya mengering seketika.

Zain berjalan mendekati konter dapur, mengambil selembar handuk kecil untuk mengusap keringat di lehernya. Raut wajahnya tetap kaku, dingin, dan cuek tanpa ekspresi sedikit pun seperti biasa. Pria itu bahkan tidak menyapa Amara secara langsung.

Namun, di detik berikutnya, gema suara batin Kaellan Zain Alfatih mendadak meledak dahsyat, bergetar jernih tepat di dalam kepala Amara.

’Rupanya istri kecilku sudah bangun... Duh, apa dia bakal marah kalau melihat leher dan dadanya penuh dengan bulatan kemerahan bekas gigitanku semalam? Apalagi bibir tipisnya itu... Bibirnya masih sedikit bengkak dan kemerahan gara-gara ciumanku yang ugal-ugalan. Dilihat dari dekat begini, malah membuatku tidak tahan godaan untuk menerkam dan menciumnya lagi!’

Glek!

Amara menelan bulat-bulat air liurnya. Rasa hangat membakar seluruh permukaan pipi hingga ke daun telinganya. Kalimat batin Zain yang amat mesum dan liar itu membuat Amara tak sanggup berkutik sama sekali. Andai saja Zain tidak mengucapkannya di dalam hati, Amara mungkin tidak akan sadar bahwa jejak-jejak keberadaan semalam tercetak sangat jelas di balik kerah baju tidurnya.

"Kenapa belum dimakan sarapanmu?" tegur Zain datar, suaranya yang berat dan bass memecah keheningan. Pria itu menyambar gelas berisi air putih dingin lalu menenggaknya hingga tandas.

"A-aku baru mau makan, Kak," sahut Amara terbata-bata, cepat-cepat menundukkan kepalanya dan menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.

Zain menyipitkan matanya tipis dari balik kacamata, mengawasi gerak-gerik canggung istrinya. Di luar, pria itu hanya melipat kedua tangannya di dada, mempertahankan wibawa dingin seorang profesor angkuh. Tetap saja, batinnya meraung-raung tanpa henti bagaikan deru mesin yang panas.

’Lihatlah cara dia mengunyah... Mengapa cara makannya bisa selucu dan menggemaskan itu? Ingin rasanya aku mencubit kedua pipinya yang merona itu sampai dia menjerit pelan! Punggung dan pinggangnya pasti terasa pegal sekali pagi ini gara-gara aksiku semalam. Nanti malam akan kubaluri minyak hangat dan kupijat lembut seluruh tubuhnya. Tapi... kalau saat memijat aku tidak tahan lalu menyerangnya lagi bagaimana, ya? Ah, Zain! Tahan dirimu, jangan jadi suami yang tidak tahu belas kasihan!’

Amara hampir saja tersedak nasi di dalam mulutnya mendengar fantasi gila suaminya. Ia memegang dadanya yang berdebar kencang, menepuk-nepuk pelan seraya meminum susu hangat di samping piringnya.

Kring! Kring!

Ponsel di dalam saku celana olahraga Zain mendadak bergetar nyaring. Pria itu mengeluarkannya, melirik nama yang tertera di layar, lalu menggeser tombol hijau.

"Ya, Jaya. Ada apa?" sapa Zain dingin, nada suaranya berubah sangat formal dan tegas.

"Profesor Zain, maaf mengganggu waktu akhir pekan Anda," suara Jaya terdengar resmi dari seberang telepon. "Pihak kementerian riset baru saja mengirimkan draf dokumen evaluasi laboratorium untuk minggu depan. Apakah Anda bisa memeriksa berkas digitalnya sekarang?"

"Kirimkan ke surel pribadi saya," jawab Zain pendek, matanya perlahan bergulir menatap Amara yang sedang meminum susunya dengan perlahan. "Saya akan memeriksanya dalam sepuluh menit."

"Baik, Profesor. Terima kasih," tutup Jaya.

Zain menurunkan ponsel dari telinganya. Di luar, pria itu tampak amat serius dan profesional menyikapi tugas-tugas kampus. Namun, di saat yang bersamaan, rentetan gema suara hatinya mendadak menyambung kembali, sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan laboratorium.

’Mengapa leher mulus Amara di balik baju tidur beruang itu sangat mengalihkan perhatianku? Coba saja kalau Jaya tidak menelepon tadi, aku sudah pasti merengkuh tubuh kecil itu ke dalam dekapanku sekarang juga! Kulitnya yang halus, aroma tubuhnya yang manis... Pekerjaan draf riset sialan ini benar-benar mengganggu momen indahku bersama istriku!’

Amara meremas kuat sendok di tangannya, menggigit bibir bawahnya erat-erat demi menahan tawa dan rasa malu yang melelehkan seluruh pertahanan dirinya. Sikap Zain yang tampak sangat kaku dan disiplin soal pekerjaan di depan matanya benar-benar bertolak belakang seribu derajat dengan renungan-renungan batinnya yang penuh hasrat.

"Sehabis makan ini, jangan melakukan pekerjaan rumah yang berat," ujar Zain datar, memecah hening seraya berbalik melangkah menuju tangga. "Biarkan Bibi Ayu yang membereskan semuanya nanti."

"I-iya, Kak Zain," cicit Amara pelan tanpa berani mendongak.

Zain menghentikan langkahnya di anak tangga pertama. Pria itu memutar sedikit tubuhnya, menatap Amara dari belakang.

’Tuhan... Kenapa tubuhnya terlihat sangat kecil dan menggemaskan dari belakang? Aku jadi makin merasa bersalah sudah membuatnya kelelahan setengah mati semalam. Tapi, rasa nikmat penyatuan itu sungguh tidak bisa dilupakan begitu saja... Aku bersumpah, mulai hari ini aku tidak akan pernah membiarkan pria mana pun mendekati atau menyentuh milikku ini lagi!’

Gema suara hati yang penuh proteksi, kepemilikan, dan pujian manis itu merayap hangat masuk ke dalam relung hati Amara. Keheningan dan keangkuhan Zain yang selama empat tahun ini menjadi tembok pemisah di antara mereka, kini runtuh sepenuhnya menjadi sebentuk kehangatan yang amat memabukkan.

Amara memegang dadanya, merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang bagai genderang perang. Ia menyunggingkan senyum manis yang teramat tulus di balik permukaan cangkir susunya.

"Kak Zain..." panggil Amara tiba-tiba, memberanikan diri sebelum suaminya menghilang di balik pintu kamar atas.

Zain menoleh kaku, menatapnya dari tangga. "Ada apa?"

Amara mendongakkan kepala, menatap lurus ke dalam manik mata kelam milik Profesor dingin itu dengan binar mata yang jernih.

"Terima kasih untuk nasi goreng dan susunya... Kakak tampan sekali pagi ini."

Seketika, raut kaku di wajah Zain membeku sempurna. Kaki pria itu yang hendak melangkah menaiki tangga mendadak tersandung anak tangga kayu, membuat tubuh tegapnya hampir saja hilang keseimbangan jika tangannya tidak cepat-cepat menyambar pegangan tangga.

Di saat raut wajah luar Zain berusaha sekuat tenaga dipasang seangkuh mungkin demi menutupi rasa gugupnya, sebuah jeritan batin yang teramat sangat nyaring, liar, dan panik meledak dahsyat di dalam kepala Amara.

’DEMI APAPUN! DIA MENYEBUTKU TAMPAN! JANTUNGKU BISA COPOT DETIK INI JUGA! TIDAK BISA... AKU HARUS MEMELUKNYA SEKARANG ATAU AKU BISA GILA!’

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
kenapa mesti takut namanya juga suami istri pasti suatu saat hamil entah sekarang atau nanti Zain berhak tahu jangan menyimpulkan sendiri Amara berfikir positif aja
Muft Smoker
zain berhak tau kehamilan mu ,, meski km kecewa ,, km gx bisa menghilangkan status suami pd diri zain ,,
Sri Murtini
jangan takut mara biar suami mu menyelesaikan masalah dan tahu akan kehamilan mu
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
loh Amara gimana sihhhh kok gak boleh ngasih tau kehamilan kamu kok memutuskan sendiri ini gimnaaaaa🤔😌
Diaz¹⁷
aduh.. kok hamil... abis ini pasti ada konflik berat
ᴍɪss_dew: lagi hamil jangan di kasih yg berat2 😭😭😭
total 1 replies
soni Estrada
Bagus. nggak banyak konflik.
ᴍɪss_dew: terimakasih bang..🥰
total 1 replies
Sri Murtini
amara kau hamil nak🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
jgn2 Amara hamil???🤭
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Silvia ini benar benar tak malu sudah ditolak masih saja mau mengambil kesempatan terus 😏😌
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain sama Amara kok punya gejala yang sama apakah Amara sedang hamil 🤔
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
nah kan itu Tari cemburu lihat Bayu sama Amara padahal tidak ada hubungan antara mereka berdua tapi entahlah kalo Bayu dia sepertinya yang suka sama Anara🤔🤭
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Amara sudah terlalu kecewa makanya tak peduli dengan suara batin Zain lagi salahmu itu Zain 🤔🤭
Muft Smoker
Dy gx tau pawang ny Amara kulkas 12 pintu 😒😒😒
Sri Murtini
nggk mempan prof rayuan mu🤣🤣🤣
Muft Smoker
percuma gema batin mu begitu peduli ma Amara ,, tp selebih ny km selalu bersikap dingin dan bodo amat dg Amara ,, 😒😒😒😒
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain dan Arbara kalian berdua harus menjelaskan semuanya dengan jujur resiko kalian berdua kan yang buat kejadian Zain dan Amara annuh🤭🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
pasti nyesek sedih kalo seumpama memang Arbara kakaknya sendiri yang menjebak Amara sama Zain di malam kelulusan Amara saat itu 🤔
SENJA
ganggu aja elu 😳
SENJA
hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!