Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEBAKAN DOCKS 9
Angin laut berhembus kencang membawa aroma garam yang pekat dan bau karat dari tumpukan kontainer besi. Sedan bekas yang sudah dimodifikasi gila-gilaan oleh Arturo itu melaju pelan tanpa menyalakan lampu utama, membelah kabut tipis yang mulai turun menyelimuti area Docks 9.
Di kursi kemudi, Elena menatap layar tabletnya yang berpendar biru terang di tengah kegelapan kabin mobil. Jari-jarinya mengetikkan serangkaian kode untuk membobol sistem keamanan pelabuhan. Di kursi penumpang sebelahnya, Leo sedang mengecek magasin senapan serbu M4A1 miliknya, memastikan setiap peluru terpasang dengan sempurna. Rompi kevlar hitam yang ia kenakan di balik hoodienya terasa pas dan ringan.
"Sistem kamera CCTV di sektor utara sudah kuambil alih," lapor Elena menekan satu tombol terakhir di layarnya. "Berdasarkan data manifes yang bocor dari server Marco semalam, kontainer bernomor X-774 baru saja merapat tadi sore. Isinya diklaim sebagai suku cadang alat berat, tapi kita berdua tahu Marco tidak pernah main di bisnis sebersih itu."
"Itu kiriman senjata otomatis dari Eropa Timur. Marco membutuhkannya untuk mempersenjatai pasukan barunya setelah ia menyingkirkan orang-orang tua loyalis ayahku," timpal Leo menepuk pelan laras senapannya. "Kalau kita bisa menghancurkan kontainer itu malam ini, anak buah Marco cuma bisa pakai pistol air untuk menjaga wilayah mereka."
"Kontainernya ada di Blok C, lorong nomor empat," ucap Elena memperbesar peta digital pelabuhan di layarnya. "Jaraknya sekitar dua ratus meter dari gerbang ini. Aku akan menunggu di sini, menjaga mesin mobil tetap menyala dan memantau pergerakan dari kamera."
"Kalau ada yang mendekat ke mobil ini, jangan ragu untuk menembak. Senapan MP7 itu bukan pajangan," pesan Leo membuka pintu mobil pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara decit engsel.
"Khawatirkan saja dirimu sendiri, Pangeran. Aku tahu cara menarik pelatuk," balas Elena tersenyum miring, menepuk pistol mitraliur yang tergeletak di pangkuannya.
Leo mengangguk kecil, lalu melangkah keluar. Sepatu bot taktisnya menginjak genangan air tanpa suara. Ia bergerak menyusuri bayang-bayang tumpukan kontainer raksasa yang menjulang seperti tebing besi di kiri dan kanannya. Docks 9 malam itu terasa sangat sunyi, hanya ada suara ombak yang menghantam beton pemecah air di kejauhan dan dengungan mesin derek kargo yang sedang *standby*.
"Aku sudah masuk ke Blok C," bisik Leo menyentuh earpiece kecil di telinganya. Matanya yang setajam elang mengawasi setiap persimpangan lorong kontainer. Senapan M4A1 di tangannya sudah dalam posisi siap tembak, larasnya bergerak mengikuti arah pandangannya.
"Terus lurus, Leo. Lewati dua persimpangan lagi," arah Elena suaranya terdengar jernih di telinga Leo.
Leo bergerak dengan efisiensi seorang pembunuh terlatih. Ia menempelkan punggungnya ke dinding kontainer yang dingin, mengintip dari balik sudut sebelum menyeberang. Namun, insting bertahan hidupnya mulai memberikan sinyal peringatan. Bulu kuduknya meremang. Udara di sekitarnya terasa terlalu kaku, terlalu sepi.
Biasanya, pengiriman senjata ilegal bernilai jutaan dolar akan dijaga ketat oleh belasan anak buah Marco. Mereka akan berpatroli, merokok di sudut-sudut lorong, atau setidaknya meninggalkan jejak suara obrolan. Tapi malam ini, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada bau asap rokok. Tidak ada suara langkah kaki selain miliknya sendiri.
"Elena, periksa ulang kamera di sektor ini," desak Leo menghentikan langkahnya tepat sebelum persimpangan terakhir menuju kontainer target.
"Kameranya bersih, Leo. Tidak ada pergerakan sama sekali. Kenapa?" sahut Elena terdengar bingung di ujung sana.
"Terlalu bersih. Ini wilayah Marco, dia pasti menempatkan penjaga untuk barang sepenting ini," gumam Leo menajamkan pendengarannya. "Coba cek *timestamp* di rekaman CCTV itu. Apakah detiknya berjalan normal?"
Terdengar suara ketikan cepat dari ujung earpiece, disusul helaan napas tajam dari Elena.
"Sialan!" umpat Elena panik. "Detiknya melompat! Rekaman ini diulang setiap empat belas detik! Seseorang menyadari peretasanku dan mengunci layarku dengan *looping* video palsu!"
"Mundur, Leo! Keluar dari sana sekarang! Ini jebakan!" teriak Elena suaranya melengking karena kepanikan murni.
BZZZTTT!
Tepat saat Elena meneriakkan peringatan itu, empat buah lampu sorot halogen berkekuatan tinggi yang terpasang di atas derek pelabuhan tiba-tiba menyala serentak. Cahayanya yang membutakan langsung menyorot tepat ke posisi Leo berdiri, mengubah lorong kontainer yang gelap gulita itu menjadi seterang siang hari bolong.
Leo refleks menyipitkan mata, mengangkat lengannya untuk menghalau silau yang menyengat retinanya.
Dari balik kontainer di depan, belakang, dan atasnya, muncul belasan pria bersenjata lengkap. Suara kokangan senapan serbu AK-47 terdengar bersahut-sahutan, menciptakan harmoni kematian yang menggema di antara dinding-dinding besi. Mereka semua memakai jaket kulit dengan emblem serigala merah di bahunya. Marco benar-benar telah mempersiapkan penyambutan meriah.
"Wah, wah, wah. Lihat siapa tikus yang baru saja masuk ke dalam perangkap," ejek sebuah suara berat dari arah depan.
Silas, kapten keamanan bertubuh besar yang kemarin dimaki-maki oleh Marco, melangkah keluar dari balik kontainer target X-774. Pria itu menyeringai lebar, sebatang cerutu tebal terselip di sudut bibirnya. Di tangannya terdapat sebuah *shotgun* pompa yang moncongnya diarahkan tepat ke dada Leo.
"Silas. Seharusnya aku tahu anjing penjaga Marco yang bakal disuruh menunggu di cuaca sedingin ini," balas Leo suaranya tetap tenang dan dingin, tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun meskipun ia dikepung lebih dari lima belas moncong senjata.
"Bos Marco titip salam buat lu, Leo," ucap Silas meludah ke samping. "Gue harus akui, lu punya nyali juga ngerampok kasino semalam. Bikin bos sampai ngamuk nggak karuan. Tapi malam ini, keberuntungan lu udah habis. Peretas cewek yang lu bawa itu nggak bisa nyelamatin lu sekarang."
"Leo! Aku sedang berusaha mematikan lampu sorotnya, tapi mereka memutus aliran listrik utamanya secara manual!" lapor Elena dari earpiece, suaranya diwarnai keputusasaan. "Bertahanlah, aku akan bawa mobilnya menabrak ke sana!"
"Jangan ke sini. Jaga posisimu," perintah Leo berbisik nyaris tanpa suara agar Silas tidak mendengarnya.
Leo memutar otaknya dengan cepat. Posisi ini adalah zona pembantaian atau *kill zone*. Terlalu terbuka. Kalau Silas memberi perintah tembak, tubuhnya akan hancur jadi saringan daging dalam dua detik, bahkan rompi kevlarnya tidak akan mampu menahan berondongan puluhan peluru kaliber besar dari segala arah.
Satu-satunya jalan keluar adalah merusak formasi mereka dan mencari perlindungan di celah sempit antar kontainer di sebelah kirinya, tempat di mana senapan panjang musuh tidak akan efektif.
"Gue bakal bawa kepala lu ke Valenti Tower malam ini, Leo. Mungkin Bos Marco bakal ngasih gue promosi," tawa Silas mengangkat *shotgun*-nya lebih tinggi, bersiap menarik pelatuk. "Habisi dia!"
Di detik yang sama saat Silas berteriak, Leo sudah bergerak.
Ia tidak membuang waktu menembak Silas yang terlindungi anak buahnya. Leo langsung mengarahkan laras M4A1-nya ke atas dan menarik pelatuknya panjang.
Pfut! Pfut! Pfut! Pfut!
Tembakan senapan bersilencer itu memecahkan dua dari empat lampu sorot raksasa di atas mereka. Pecahan kaca dan bunga api berjatuhan seperti hujan meteor kecil ke atas kepala anak buah Silas, membuat mereka refleks menunduk dan melindungi wajah mereka.
Kegelapan yang mendadak kembali separuh menyelimuti lorong itu memberikan Leo celah waktu satu detik yang ia butuhkan. Ia melompat maju, berguling kasar di atas aspal kasar yang basah, menghindari tembakan *shotgun* Silas yang meledak memekakkan telinga dan menghancurkan permukaan aspal tempat Leo berdiri sepersekian detik yang lalu.
Dor! Dor! Dor! Tar-tar-tar-tar!
Suara rentetan tembakan AK-47 meledak membabi buta dari segala arah. Kilatan api dari moncong senjata menerangi lorong yang kini dipenuhi asap mesiu. Peluru-peluru berdesing mematikan di atas kepala Leo, menghantam dinding kontainer besi hingga menimbulkan suara dentingan logam yang memekakkan dan percikan api terang.
"Tembak yang bener, goblok! Jangan sampai dia lolos ke celah situ!" teriak Silas murka melihat anak buahnya menembak serampangan.
Leo terus bergerak merayap rendah, menggunakan tumpukan ban traktor bekas sebagai pijakan untuk melompat ke arah celah sempit di antara dua kontainer raksasa. Seorang preman muncul dari sudut celah itu, bersiap menembakkan senapannya ke arah Leo yang sedang melayang di udara.
Tanpa ragu, Leo menekan pelatuk M4A1-nya dengan satu tangan. Dua butir peluru tepat bersarang di dada preman itu, membuatnya terpental ke belakang sebelum sempat menarik pelatuk.
Leo mendarat keras dengan bahu kirinya terlebih dahulu untuk melindungi luka jahitannya di sebelah kanan. Ia buru-buru bangkit dan berlari masuk ke dalam celah lorong kontainer yang lebarnya hanya sekitar satu meter. Lorong itu gelap gulita, berbau apak, dan basah. Peluru musuh terus menghujani pintu masuk lorong itu, menggerus sudut besi kontainer hingga berlubang.
"Leo! Kau masih hidup?!" teriak Elena di earpiece, suara tembakan terdengar jelas dari ujung komunikasinya.
"Masih bernapas. Aku terjebak di lorong sempit Blok C. Mereka mengepungku," balas Leo bersandar membelakangi dinding besi kontainer, napasnya memburu cepat. Jantungnya berdebar keras memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya.
"Aku datang ke sana sekarang! Bertahanlah!" tegas Elena.
"Sudah kubilang diam di tempat, Elena! Kalau kau bawa mobil ke sini, ban mobilmu akan ditembaki dan kau bakal mati konyol!" bentak Leo mengintip dari sudut lorong, menembakkan balasan ke arah bayangan anak buah Silas yang mencoba mendekat.
Seorang preman terjatuh sambil memegangi perutnya yang tertembus peluru Leo. Sisa anak buah Silas langsung berlindung di balik peti kemas, tidak berani merangsek maju secara frontal. Mereka sadar bahwa meskipun dikepung, Leo Valenti adalah penembak jitu yang mematikan.
"Maju pelan-pelan! Kepung lorong sialan itu dari dua arah! Jangan kasih dia napas!" komando Silas suaranya menggema di antara labirin besi itu.
Leo mendecak kesal. Celah yang ia masuki ini tembus ke ujung lorong lain. Kalau Silas membagi pasukannya dan menyergap dari depan serta belakang, Leo benar-benar akan terjepit seperti tikus di dalam pipa. Jarak tembak di lorong ini terlalu sempit untuk senapan serbu, larasnya akan sulit diputar dengan cepat.
Ia melepaskan tali M4A1-nya, membiarkan senapan itu menggantung di depan dadanya. Tangan kirinya bergerak cepat merogoh pinggang, mencabut sebilah pisau taktis militer sepanjang tujuh inci yang ia bawa dari bengkel Arturo. Bilah hitam *matte*-nya tidak memantulkan cahaya sama sekali.
Langkah kaki sepatu bot terdengar mendekat dari ujung gelap lorong di belakang Leo. Terdengar suara bisikan kasar dan gesekan laras senjata ke dinding besi. Mereka mencoba menyergapnya dari belakang.
Leo membalikkan badannya. Sorot matanya berubah menjadi sangat dingin dan kosong. Ia memutar pisau di tangannya hingga pegangannya terasa pas. Jari telunjuk kirinya menyentuh bibir, seolah menyuruh malam untuk tetap tenang. Di celah sempit yang minim cahaya ini, peluru memang mematikan, tapi bilah pisau yang tak bersuara jauh lebih mengerikan.
"Silas pikir dia yang memasang jebakan malam ini," gumam Leo pada dirinya sendiri, menyelinap ke dalam bayangan terdalam di sudut kontainer, siap menyambut siapa pun yang berani masuk ke wilayahnya. "Mari kita lihat, siapa yang akan jadi mangsanya."