Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Kegelapan pekat menelan tubuh Ren saat seluruh lantai marmer katedral ambruk ke dasar jurang.
Suara gemuruh runtuhan batu berubah menjadi deru angin kencang yang memekakkan telinga. Tubuhnya melayang jatuh bersama pecahan marmer setebal dinding benteng yang berhamburan liar. Tekanan udara dingin menusuk rongga dada, sementara pandangan terhalang oleh debu pekat dan kabut asam yang menyelimuti kehampaan jurang lantai tersembunyi.
Di tengah kejatuhan yang kacau itu, Ren tidak melihat pijakan apa pun di bawahnya selain kegelapan pekat.
Napasnya tercekat di tenggorokan. Udara yang meluncur deras merampas suaranya, menenggelamkan teriakan para prajurit pelopor lain yang terlempar bersamanya. Ren berusaha menyeimbangkan posisi tubuhnya di udara, merentangkan tangan untuk menahan pusaran angin, namun pusaran udara terus memutar badannya. Ancaman maut di jurang ini datang dari kecepatan jatuh dan dinding tebing karang terjal yang tersembunyi di balik bayang-bayang kelam.
Dari dinding tebing di sebelah kiri, sebuah tonjolan batu hitam mencuat tepat di jalur kejatuhannya.
Benturan keras terjadi dalam sekejap mata tanpa sempat ia hindari.
Ujung karang tajam merobek pinggang kirinya, menghancurkan tulang pinggul dan merobek daging dalam satu sentakan keras. Rasa sakit menusuk hebat membuat napas Ren terputus di udara. Tubuhnya terpelanting liar, berputar berkali-kali sebelum bagian belakang kepalanya menghantam dinding tebing karang lain hingga tulangnya retak.
Kesadarannya padam seketika dalam kegelapan dingin.
[Kematian Tercatat: Benturan Fatal di Dinding Jurang Menara.]
[Pembalikan Waktu Singkat Berhasil Diaktifkan.]
[Memundurkan Kesadaran Jiwa Tiga Puluh Detik ke Belakang.]
Pusaran waktu menarik kembali jiwanya dengan sentakan tajam yang membuat dadanya sesak dan kepalanya berdengung.
Ren membuka mata di tengah deru angin kencang kejatuhan bebas tiga puluh detik sebelumnya. Rasa ngilu di pinggang kiri dan kepala belakang masih berdenyut pekat di sarafnya, namun ia sadar tidak boleh membuang waktu.
Dinding tebing di sebelah kiri menyempit dengan cepat, dan tonjolan karang tajam itu menunggu untuk merobek tubuhnya sekali lagi jika ia membiarkan badannya jatuh lurus.
Di tengah udara kosong tanpa pijakan, mengubah arah jatuh adalah perkara pelik. Namun, Ren menolak mati konyol di dinding batu yang sama.
Melihat sebongkah lempeng marmer besar yang meluncur turun di dekat kakinya, Ren meluruskan badan dan menghentakkan sol sepatunya ke permukaan batu itu sekuat tenaga.
Hentakan itu memberinya daya dorong ke arah kanan, membelokkan sudut jatuhnya menjauhi dinding tebing karang.
Hembusan angin dingin menyapu sisi tubuhnya saat tonjolan karang tajam melesat lewat hanya beberapa jengkal dari bahu kirinya, menggores tepi kain seragam tanpa menyentuh dagingnya.
Ren berhasil melewati tonjolan maut tersebut.
Dasar jurang kini mendekat dengan kecepatan tinggi.
Di bawah sana, di antara dinding gua yang basah, mata Ren menangkap pendar kehijauan yang merayap di lereng tebing. Itu adalah hamparan jaring jamur raksasa dan lumut tebal yang tumbuh menempel di tebing bawah, membentuk lapisan anyaman serabut tebal yang kenyal.
Ren memiringkan badan, melipat kedua lengan di depan kepala untuk melindungi wajah, dan mengarahkan jatuhnya ke gundukan jaring jamur yang paling tebal.
Tubuhnya menghantam lapisan jamur kenyal itu dengan benturan keras yang mengguncang persendian tulangnya. Lapisan serabut tebal itu melengkung dalam-dalam, menyerap sebagian besar daya hantam kejatuhan ratusan meter sebelum akhirnya sobek, melempar tubuh Ren ke lereng lumpur basah berbau belerang di dasar gua.
Ren berguling di atas lumpur berlendir, terbatuk-batuk mengeluarkan cairan payau yang masuk ke mulutnya saat terhempas.
Dada, bahu, dan punggungnya berdenyut ngilu. Meskipun benturan maut telah diredam oleh anyaman jamur, hempasan ke tanah tetap membuat tulang selangka kanannya retak dan beberapa rusuknya memar parah. Setiap tarikan napas terasa perih di rongga dada.
"Sialan..." bisik Ren sambil memegangi dada kirinya.
Ia duduk bersandar pada dinding batu gua yang dingin, mengatur napasnya yang tersengal di tengah kesunyian asing tempat itu. Suasana di sekelilingnya begitu sunyi. Tetesan air dari langit-langit gua menetes pelan di kejauhan, memecah kesenyapan lorong batu yang gelap.
Udara di sekitarnya sangat lembap, berbau lumut membusuk, air belerang, dan karat kuno yang mengendap lama. Di dekat tempatnya terhempas, sisa serpihan tulang belulang putih penjelajah masa lalu mencuat dari sela lumpur hitam, bukti nyata bahwa jurang ini sudah menelan banyak korban sebelum dirinya.
Ren memeriksa kondisi tubuhnya dengan tangan kiri. Kedua kakinya masih bisa digerakkan meski dipenuhi lebam hitam kebiruan akibat benturan. Zirah kulit tipisnya terkoyak compang-camping, sementara sebilah belati dengan ujung patah masih terselip di sabuk pinggangnya.
Ia selamat dari kejatuhan maut yang seharusnya menghancurkan tubuh manusia fana.
Ren menyapu pandangan ke sekeliling, membiasakan matanya dengan kegelapan gua yang pekat.
Tempat ini berbeda jauh dari aula katedral marmer di Lantai 10. Ini adalah makam bawah tanah raksasa yang tersembunyi jauh di perut menara—labirin batuan hitam alami yang dipenuhi pilar basal berlumut, stalaktit runcing yang meneteskan air asam, dan relief kuno yang terkikis waktu. Lorong-lorong batu berliku tampak membentang tanpa ujung yang jelas.
Kabut ungu melayang di udara dengan aroma pengap, membuat tenggorokannya terasa kering setiap kali menarik napas.
Sebuah jendela sistem berwarna biru redup muncul di depan matanya:
[Zona Tersembunyi: Lantai 10.5 — Makam Bawah Tanah yang Terlupakan.]
[Peringatan: Wilayah ini belum tercatat dalam peta resmi ekspedisi kekaisaran.]
[Pintu Keluar Terdekat: Gerbang Penghubung Lantai 12 (Jalur Labirin Bawah Tanah).]
Ren membaca informasi tersebut dengan saksama, menimbang setiap baris tulisan dengan kepala dingin.
Ia terdampar sendirian di dalam labirin bawah tanah yang belum dipetakan. Tanpa ransum memadai, tanpa ramuan pemulih, dan hanya bersenjatakan belati patah di pinggangnya. Menunggu bantuan di tempat ini sama saja bunuh diri perlahan. Kelaparan, racun udara, atau monster bawah tanah akan menghabisinya jika ia hanya berdiam diri.
Ia membuka status pribadinya untuk memeriksa kondisi tubuh setelah pertarungan di lantai atas:
[Nama: Ren]
[Peringkat: Pasukan Pelopor (Kasta Rendah)]
[Level: 4]
[Peningkatan Kekuatan Fisik dan Ketahanan Tubuh Tercatat.]
[Kondisi Fisik: Memar Parah pada Tulang Rusuk dan Retak Ringan pada Tulang Selangka.]
Kekuatan fisiknya terasa sedikit lebih padat dari sebelumnya, hasil dari upayanya menumbangkan monster zirah hitam di lantai atas. Namun, cedera pada tulangnya tetap membutuhkan penanganan darurat sebelum ia melangkah lebih jauh.
Ren merobek bagian lengan seragamnya yang bersih, lalu membebat tulang selangka dan dadanya dengan ikatan kain yang erat untuk menahan posisi tulang agar tidak bergeser saat bergerak. Rasa perih menusuk saat ikatan kain ditarik kencang, namun rasa sakit itu justru mengasah fokusnya pada bahaya sekitar.
Ia merangkak perlahan mendekati sisa-sisa reruntuhan lempeng marmer yang jatuh di dekatnya. Di antara serpihan batu dan lumpur hitam, ia menemukan sepotong kayu tombak patah dengan pengikat kawat tembaga dan sebuah botol tembikar kecil yang masih utuh. Botol itu berisi minyak pelumas roda gigi ekspedisi lama yang berbau tajam.
Ren memasukkan botol minyak itu ke dalam saku bajunya dan menyelipkan patahan kayu tombak ke sabuk pinggangnya. Dalam labirin bawah tanah yang liar seperti ini, setiap potongan barang bekas bisa menjadi penentu antara bertahan hidup atau mati tercabik.
Ia melangkah perlahan menyusuri tepi dinding gua, menghindari genangan air asam yang menetes dari stalaktit runcing di atas kepala. Setiap tetesan air yang mengenai lumpur hitam mengeluarkan suara desis halus dan kepulan asap tipis. Ren mengamati formasi batu basal yang menjulang bagai pilar-pilar kuil purba, memperhatikan retakan alami pada batuan yang bisa digunakan sebagai pijakan darurat jika ia terpaksa memanjat.
Di celah bebatuan beberapa puluh langkah di depan, ia melihat potongan kain perisai dan helm besi yang penyok. Itu adalah sisa perlengkapan prajurit pelopor yang jatuh bersamanya. Namun, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sekitarnya; hanya ada jejak seretan darah yang mengarah masuk ke celah gua yang lebih sempit.
Pemandangan itu menegaskan satu hal: monster di lantai tersembunyi ini tidak hanya memburu, tetapi juga menyeret mangsanya ke dalam sarang.
Ren merendahkan badannya di balik tonjolan batu basal. Ia membuka sumbat botol minyak pelumas, menuangkan sedikit cairan licin itu ke tepi patahan kayu tombak agar kayunya tidak mudah patah saat berbenturan dengan taring atau cakar. Ujung belati patahnya ia asah sekilas pada permukaan batu andesit kasar hingga menghasilkan mata potong yang lebih tajam.
Dari kejauhan lorong gua yang gelap, suara gemerisik pelan kembali terdengar merayap di atas bebatuan basah.
Bunyi gesekan cakar tajam pada dinding batu terdengar mendekat perlahan, disertai desisan halus yang dipenuhi hawa lapar. Bau amis lendir bangkai mulai tercium terbawa hembusan angin gua yang lembap. Makhluk pemburu di zona bawah tanah ini telah menangkap aroma darah dari tubuhnya.
Ren menggenggam gagang belati patahnya erat-erat, berdiri perlahan dengan punggung merapat ke dinding batu. Otot-ototnya menegang waspada, mengunci pandangannya ke titik tergelap di depan lorong.
Di tengah kegelapan yang pekat, dua pasang mata merah berkilat mengintai dari balik bayangan stalaktit. Dua sosok pemburu bayangan bertubuh ramping dengan cakar panjang melangkah keluar dari kegelapan, merayap rendah menyusuri lantai gua dengan moncong meneteskan liur beracun.
Kulit kedua makhluk itu hitam pekat dan licin, menyatu sempurna dengan bayang-bayang batu basal. Kaki belakang mereka menekuk rendah, siap melesat menerkam tenggorokan Ren dalam hitungan detik.
Ren tidak berkedip. Ia merapatkan siku ke rusuknya yang terbebat kain, mengangkat belati patah sejajar dada, dan mengarahkan ujung kayu tombak berlumur minyak ke celah lantai di depannya. Pertarungan hidup dan mati di kedalaman makam bawah tanah kini menanti di hadapan matanya.