Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Terdengar suara jeritan ketakutan dari penumpang di kabin-kabin lainnya.
Angin sore di atas ketinggian itu berhembus cukup kencang membuat kabin mereka berayun-ayun mengerikan.
"Kak Cakra, Lula takut, kenapa kita goyang-goyang?" tangis Lula sambil memeluk leher Cakra erat-erat.
Cakra menelan ludah dengan susah payah karena sebenarnya dia juga punya sedikit phobia ketinggian.
Tapi melihat adiknya menangis ketakutan, Cakra memaksa dirinya untuk terlihat berani.
"Tidak apa-apa sayang, ini cuma mati lampu sebentar, nanti juga jalan lagi," hibur Cakra dengan suara bergetar.
Cakra memeluk tubuh kecil Lula dan mengusap punggungnya berulang kali untuk memberikan rasa aman.
Namun mata Lula tidak sengaja melihat ke arah pintu kabin yang terbuat dari besi dan kaca itu.
Dari arah engsel pintu, Lula melihat ada gumpalan asap berwarna merah pekat yang keluar dengan cepat.
"Asap merah," batin Lula dengan jantung berdebar sangat kencang.
Lula tahu betul arti asap merah itu, itu adalah tanda bahaya fisik yang bisa menghilangkan nyawa.
Engsel pintu kabin mereka ternyata sudah rapuh dan kunci otomatisnya rusak karena guncangan tadi.
"Kak Cakra, pintunya mau terbuka," bisik Lula panik sambil menunjuk ke arah pintu.
Cakra menoleh dan melihat pintu kabin itu mulai sedikit merenggang tertiup angin kencang.
Kalau pintu itu terbuka penuh, mereka bisa saja tergelincir jatuh dari ketinggian puluhan meter ini.
Wajah Cakra langsung pucat pasi menyadari bahaya yang mengancam nyawa mereka berdua.
Cakra tidak berpikir panjang lagi, dia langsung memindahkan Lula ke kursi bagian sudut yang paling aman.
"Kau duduk di sini dan pegangan pada besi kursi kuat-kuat," perintah Cakra dengan nada yang sangat serius.
Cakra kemudian berdiri dan berjalan dengan susah payah melawan guncangan kabin menuju ke arah pintu.
Pemuda itu merentangkan kedua tangannya dan menekan pintu besi itu menggunakan seluruh berat badannya.
Kriet.
Angin dari luar mendorong pintu itu dengan sangat kuat, namun Cakra menahannya sekuat tenaga dari dalam.
"Jangan takut Lula, Kakak tidak akan membiarkan pintu ini terbuka," teriak Cakra melawan suara angin.
Keringat dingin mulai bercucuran dari dahi Cakra karena dia harus menahan pintu itu terus-menerus.
Di bawah sana, petugas taman hiburan sedang berlarian panik mencoba memperbaiki mesin genset yang terbakar.
Lula menatap punggung Cakra yang sedang menahan pintu dengan mata berkaca-kaca.
Asap merah di sekitar pintu itu perlahan mulai pudar karena Cakra berhasil menahannya agar tidak terbuka.
"Kak Cakra pasti capek, tangan Kak Cakra sampai bergetar," ucap Lula dengan nada sedih.
Cakra menoleh ke belakang dan memaksakan sebuah senyuman lebar yang sangat khas miliknya.
"Kakak kan ksatria pelindungmu, ksatria tidak akan pernah capek melindungi tuan putrinya," balas Cakra menghibur.
Untuk mengalihkan rasa takut adiknya, Cakra mulai bernyanyi dengan suara yang sengaja dikeraskan.
"Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya," nyanyi Cakra sambil terus menahan pintu besi itu.
Lula menghapus air matanya dan ikut bernyanyi dengan suara pelan yang sedikit bergetar.
"Hijau kuning kelabu, merah muda dan biru," sambung Lula berusaha tegar.
Mereka berdua terus bernyanyi lagu anak-anak berulang-ulang di atas ketinggian yang mengerikan itu.
Cakra membuktikan bahwa di balik sifatnya yang konyol dan teledor, dia adalah kakak yang sangat bertanggung jawab.
Dia rela mempertaruhkan nyawanya sendiri demi memastikan adiknya tidak terjatuh.
Setelah hampir setengah jam yang terasa seperti di neraka, lampu kabin akhirnya kembali menyala.
Ting.
Suara mesin bianglala kembali berdengung dan kabin mereka mulai bergerak turun perlahan.
Cakra menghela napas sangat panjang seakan baru saja lolos dari maut.
Begitu kabin mereka sampai di bawah dan pintunya dibuka oleh petugas, Cakra langsung ambruk duduk di lantai.
Kakinya terasa sangat lemas seperti jeli karena menahan tegang terlalu lama.
Lula langsung berlari memeluk leher Cakra dan menangis keras di ceruk leher kakaknya.
"Kak Cakra hebat, Kak Cakra berhasil tahan pintunya," tangis Lula tersedu-sedu.
Cakra balas memeluk adiknya dan mengelus rambutnya dengan tangan yang masih gemetar.
"Syukurlah kita selamat, maafkan Kakak ya sudah membawamu ke tempat berbahaya ini," sesal Cakra sungguh-sungguh.
Beberapa petugas medis datang untuk memeriksa kondisi mereka berdua.
Untungnya tidak ada yang terluka sama sekali, hanya sedikit syok.
Sopir van keluarga Ayodhya yang menunggu di tempat parkir langsung panik melihat berita kerusakan bianglala itu.
Dia segera melaporkannya ke Baskoro yang sedang berada di rumah.
Satu jam kemudian, mobil van hitam mereka tiba di halaman rumah keluarga Ayodhya.
Cakra berjalan masuk ke rumah sambil menggendong Lula yang tertidur kelelahan karena terlalu banyak menangis.
Begitu pintu utama terbuka, tatapan membunuh dari tiga pria jangkung langsung menyambut Cakra.
Adrian berdiri bersedekap dengan wajah yang luar biasa dingin dan menakutkan.
Dewa menatap Cakra dengan rahang mengeras seolah ingin memukul wajah kakaknya itu sekarang juga.
Sedangkan Bastian membetulkan letak kacamatanya dengan helaan nafas yang sangat berat.
"Bawa dia kabur tanpa izin, lalu membuatnya terjebak di wahana rusak," ucap Adrian dengan nada rendah berbahaya.
"Kau benar-benar tidak punya otak Cakra."
Dewa melangkah maju dan langsung mengambil alih Lula dari gendongan Cakra dengan hati-hati.
"Mulai sekarang jangan pernah bermimpi kau bisa membawa Lula pergi berdua saja lagi," ancam Dewa ketus.
Cakra hanya menundukkan kepalanya tanpa berani membantah sedikitpun.
Dia tahu dia salah karena terlalu ceroboh dan hanya memikirkan kesenangan tanpa memikirkan keamanan.
Arini berjalan mendekat dan mengusap pundak Cakra dengan lembut.
"Sudahlah Adrian, Dewa, jangan terlalu memarahi kakakmu, dia juga pasti sangat ketakutan tadi," bela Arini menengahi.
"Lagipula sopir bilang Cakra menahan pintu kabin sekuat tenaga agar Lula tidak jatuh," tambah Arini tersenyum bangga.
Adrian dan Dewa terdiam mendengar fakta bahwa Cakra ternyata melakukan tindakan penyelamatan yang heroik.
Dewa mendecih pelan lalu berjalan membawa Lula menuju kamarnya di lantai dua.
"Cih, untung saja dia sedikit berguna di saat darurat," gumam Dewa pelan meski hatinya merasa lega.
Adrian menatap Cakra yang masih menunduk lalu menghela napas kasar.
"Lain kali bawa pengawal kalau kau mau pergi ke tempat ramai, jangan bertingkah konyol," tegur Adrian tapi nadanya sudah melembut.
Cakra mengangguk cepat dan tersenyum kikuk ke arah kakak pertamanya itu.
"Iya Kak, aku janji tidak akan mengulanginya lagi," jawab Cakra patuh.
Malam itu, Cakra belajar pelajaran yang sangat berharga tentang tanggung jawab seorang kakak.
Melindungi tidak hanya berarti membelikan mainan mahal atau menyuapi makan.
Tapi juga harus siap menjadi tameng pertama saat maut datang mengancam nyawa sang adik.
Dan bagi Lula, keempat kakaknya telah membuktikan diri mereka sebagai ksatria pelindung yang sesungguhnya dengan cara mereka masing-masing.
Kehidupan keluarga Ayodhya perlahan kembali damai setelah malam yang menegangkan itu.
Namun besok, Lula harus kembali menghadapi dunia nyata di sekolah tamannya.
Tempat di mana dia akan bertemu dengan berbagai macam teman baru yang tidak semuanya memiliki niat baik.