JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.
Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.
Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Berdarah di Arena Koral
# Ujian Berdarah di Arena Koral #
Gema terompet tanduk purba meraung-raung memecah hening pagi di dasar samudra, menggetarkan dinding-dinding Istana Teluk Bayangan. Cahaya dari kristal-kristal raksasa memancar dengan pendaran keemasan yang silau, menandakan sebuah ritual besar atau sidang penting sedang digelar.
Aku terbangun dengan napas memburu dan detak jantung yang masih berdebar kencang. Bayangan gigitan lembut serta kata-kata mematikan Pangeran Nataniel semalam masih menancap tajam di ingatan. Namun, sebelum sempat kupulihkan kesadaranku sepenuhnya, empat prajurit bersisik kelabu sudah berdiri di ambang pintu Kamar Utama.
Di tangan salah satu prajurit, terbentang selembar gaun sutra laut berwarna hitam-emas yang sangat mewah terhias sulaman benang koral yang berkilau indah.
"Pakai ini, Manusia," perintah pengawal bertubuh tinggi itu dengan suara parau yang tanpa kompromi. "Yang Mulia Pangeran Nataniel menunggumu di Arena Koral. Hari ini adalah hari penentuan bagimu."
Dengan tangan yang gemetaran kaku, aku memakai gaun tersebut ke tubuhku. Gaun itu terasa sangat lembut di kulit, namun bobotnya bagaikan tirai besi yang siap menghimpit leherku. Pangeran iblis itu tidak ada di dalam kamar, tetapi pesan yang ditinggalkannya sudah cukup membuat otak rasionalku memutar puluhan skenario terburuk. Permainan apa lagi yang direncanakannya hari ini?
Prajurit-prajurit itu mengapitku rapat-rapat, membawaku menelusuri koridor-koridor raksasa menuju bagian luar istana.
Begitu kami menembus gerbang batu Arena Koral, gelombang suara gemuruh dan sorak-sorai ribuan klan Siren langsung menghantam gendang telingaku!
Arena Koral adalah sebuah cekungan raksasa berdinding karang tajam yang sanggup menampung belasan ribu makhluk samudra. Di tribun melingkar yang menjulang tinggi, penuh sesak oleh ribuan rakyat bersisik, para panglima perang, dan kepala-kepala klan Siren dari berbagai penjuru laut. Di panggung kehormatan tertinggi, Pangeran Nataniel duduk anggun di atas tahta emasnya, mengenakan zirah perak penuh ukiran rumit yang memancarkan kekuasaan mutlak.
Di sisi kirinya, duduk Menteri Hukum, ayah kandung Selir Lyra, dengan raut wajah yang membara oleh dendam kesumat, matanya yang memerah menatapku seolah ingin menguliti tubuhku hidup-hidup.
Tubuhku didorong kasar hingga melangkah masuk ke tengah-tengah pasir putih arena yang terisolasi di bawah cekungan raksasa.
Nataniel perlahan mengangkat sebelah tangannya. Seketika itu pula, sorak-sorai ribuan Siren surut mendadak, menggantikan aura keheningan yang teramat mencekam.
"Rakyatku dan para Pemimpin Klan yang terhormat!" suara Nataniel mengalun menggelegar melalui sihir suara yang memantul ke seluruh sudut arena. "Kemarin malam, insiden penistaan terjadi di perjamuan kerajaan. Selir Lyra telah menerima hukumannya karena kecerobohannya. Namun, manusia kerdil yang berdiri di tengah arena ini adalah penyebab utama kekacauan tersebut!"
Pernyataan Nataniel langsung disambut oleh raungan murka para penonton di tribun.
"Bunuh manusia itu!"
"Cincang dagingnya! Penggal lehernya!"
Aku mengepalkan kedua tanganku di balik gaun hitam-emas, menatap Nataniel yang berdiri di atas tahtanya dengan senyuman miring yang begitu dingin. Jadi ini maksud permainan yang dia katakan semalam? Dia mengumpankan ku di hadapan seluruh rakyat dan petinggi yang membenciku!
Nataniel kembali melambaikan tangannya. "Atas nama keadilan Istana Teluk Bayangan, aku tidak akan langsung mengeksekusinya. Aku memberikan hak kepada Menteri Hukum dan para Pemimpin Klan untuk menggelar Trial of the Abyss, Ujian Kesetiaan dan Kelayakan!"
Nataniel mengalihkan pandangannya menatapku yang mematung kaku di tengah arena.
"Jika manusia ini sanggup bertahan hidup selama lima belas menit di dalam arena melawan perwakilan hukuman klan kalian, secara hukum kerajaan dia terbukti dilindungi oleh takhta, dan tidak ada satu pun klan yang boleh menyentuhnya lagi!" tegas Nataniel penuh kuasa.
Menteri Hukum menyunggingkan senyuman iblis yang amat puas. Pria tua bersisik emas itu berdiri dari kursinya dan berteriak lantang, "Buka gerbang kurungan bawah arena! Lepaskan Gurita Koral Beracun!"
*GRIBBBB!*
Gerbang besi tebal di dasar dinding arena perlahan terangkat kencang. Hawa dingin pekat bercampur aroma amis yang begitu meledak menyeruak keluar. Dari dalam kegelapan lubang tersebut, muncul delapan tentakel raksasa berlapis duri karang tajam dan lendir hijau kehitaman!
Sesosok monster laut purba berukuran sebesar rumah tingkat merayap keluar ke pasir arena! Dua mata merahnya yang besar mengunci keberadaanku yang kerdil di hadapannya.
"Ya Tuhan...!" cicitku histeris, melangkah mundur tertatih-tatih. Rasa takut yang melumpuhkan seketika menyerang seluruh persendianku.
Bagaimana mungkin seorang manusia biasa tanpa senjata dan tanpa kekuatan sihir sanggup bertarung melawan monster raksasa beracun ini selama lima belas menit?! Ini bukan ujian kelayakan, ini adalah arena pembantaian terselubung!
*WUSSSTTT!*
Tanpa memberi jeda bernapas, salah satu tentakel berlapis duri tajam itu meluncur kencang membelah udara, mengincar tubuhku!
"Aaaahhh!"
Aku melompat secara refleks ke samping!
*BOOMMM!*
Tentakel raksasa itu menghantam pasir tempatku berdiri tadi hingga meledak, melemparkan pecahan batu karang yang menyayat pipi dan lenganku. Aku bergulingan di atas pasir panas, napas terengah-engah dan tubuh gemetaran hebat.
Di tribun panggung utama, para pejabat dan rakyat Siren bersorak-sorai gembira menyaksikan penderitaanku. Menteri Hukum tertawa terbahak-bahak, sementara Nataniel hanya menyilangkan kedua tangannya, memperhatikan setiap gerak-gerikku dengan iris mata keemasan yang dingin tanpa ekspresi.
"Berpikir... berpikir!" teriak batin rasionalku panik di tengah desakan maut. "Kalau kau hanya berlari dan menghindar, kau akan mati kehabisan tenaga dalam kurun waktu tiga menit! Cari kelemahannya!"
Mataku yang liar menyapu seluruh area pertarungan. Di dinding arena, terpasang obor-obor minyak koral yang menyala terang untuk menerangi pertarungan. Sementara di balik gaun hitam-emas yang kukenakan, jemariku menyentuh benda bulat yang tersembunyi rapat di saku ku Mutiara Laut Dalam!
Sebuah perhitungan ilmiah meledak di dalam kepalaku! Aku yang sudah bertahun-tahun menyelami laut dalam harusnya bisa menangani pergelutan ini, asal makhluk berlendir ini tidak menggunakan sihir.
Monster yang tinggal di kegelapan bawah laut memiliki retina mata yang teramat sensitif terhadap radiasi cahaya mendadak. Mutiara Laut Dalam memancarkan energi sihir kebiruan yang sangat murni. Jika energi mutiara ini dibenturkan secara paksa dengan kandungan minyak koral yang mengandung fosfor tinggi... reaksi kemilau yang dihasilkan akan memicu ledakan pijar yang menyilaukan!
*WUSSSTTT! WUSSSTTT!*
Dua tentakel sekaligus menerjang ke arahku dari sisi kiri dan kanan!
Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku berlari kencang menuju salah satu pilar tempat obor minyak koral berada. Aku mencabut Mutiara Laut Dalam dari sakuku, memosisikannya tepat di depan wadah minyak koral yang membara!
"Mutiara, pinjamkan energimu!" jeritku seraya memfokuskan seluruh niat bertahan hidupku pada benda ajaib itu.
*SHINNNGGG!*
Mutiara Laut Dalam bereaksi hebat! Pendaran sihir biru bertekanan tinggi menyembur keluar, menyambar minyak koral yang bergolak!
*CRACK-BOOMMM!*
Sebuah pijaran cahaya putih-biru yang teramat silau meledak dahsyat di tengah arena! Pendaran cahaya itu begitu menyengat hingga membutakan pemandangan seluruh penonton di tribun selama beberapa detik!
"GROAAARGHHH!"
Monster Gurita Koral raksasa itu meraung kesakitan yang luar biasa! Dua mata merahnya yang sensitif terkena dampak langsung dari ledakan radiasi cahaya tersebut. Monster purba itu hilang kendali sepenuhnya, mengamuk secara brutal dan menyapu tentakel-tentakel raksasanya ke sembarang arah dalam keutuhan kebutaan!
Aku berhasil melompat menyamping, berguling menghindar dari kibasan tentakel utama.
Namun... amukan monster yang terdesak rasa sakit itu justru memicu bencana yang jauh lebih besar!
Dengan kebutaan total dan rasa murka yang meluap, monster gurita itu menghantamkan seluruh bobot tubuh raksasanya dan kedelapan tentakelnya secara mematikan ke arah dinding pembatas utama arena!
*BRANGGG! CRACKKK!*
Dinding koral penahan arena runtuh seketika! Pondasi panggung utama tempat para petinggi duduk hancur berkeping-keping!
Monster raksasa itu mengamuk liar, melompat naik menembus reruntuhan dan mengarahkan kibasan tentakel beracunnya yang mematikan langsung ke panggung utama, tepat ke arah tempat duduk Pangeran Nataniel dan para Menteri yang terperanjat panik!
Asap debu koral membumbung tinggi, menutup pandangan di tengah jeritan histeris ribuan penonton.
Aku berdiri gemetar di tengah arena yang hancur, memegang Mutiara Laut Dalam yang masih hangat. Kesempatan emas terbentang lurus di depan mataku, benteng dan dinding pembatas telah hancur, seluruh prajurit dan pejabat sedang panik luar biasa. Aku bisa menggunakan kekuatan Mutiara Laut Dalam ini untuk melarikan diri sekarang juga menembus lautan lepas!
Namun saat mataku menembus ketebalan debu koral, aku melihat tentakel beracun sang monster meluncur kencang siap meremukkan tubuh Nataniel yang masih duduk tenang di atas tahtanya...
Apakah aku harus berlari menyelamatkan nyawaku sendiri, atau memutar balik untuk menyelamatkan monster perkasa yang telah mempermainkan takdirku ini?
⭐⭐⭐⭐⭐
Sumpah tegang banget!! 😱🔥 Alessia berhasil membalikkan keadaan pakai Mutiara Laut Dalam, tapi sekarang Arena Koral hancur total dan Nataniel terancam diserang monster amuk! Komen dong guys
Kira-kira apa yang bakal dilakukan Alessia? Apakah dia bakal kabur ke daratan atau malah menolong Nataniel?
Yuk, langsung lanjut ke Bab 23 buat tahu keputusannya! ✨