Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Layar ponsel mahal yang retak di atas lantai pualam itu masih menyala terang, menampilkan durasi panggilan yang telah terputus sepihak.
Direktur Wang menatap layar itu dengan pandangan kosong. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia perlahan mendongak, menatap Jiang Muchen dengan wajah pias. Keringat dingin membasahi kerah kemeja mahalnya hingga lepek. Kabar dari rapat dewan pemegang saham utama di pusat tadi terdengar bak guntur kiamat yang memekakkan telinga.
Lima puluh satu persen saham Grup Real Estat Naga Hitam telah diakuisisi dalam hitungan detik oleh entitas bayangan yang tak tersentuh. Dan perintah mutlak dari direksi pusat turun dengan sangat jelas: Tuan Jiang Muchen yang berdiri santai di hadapannya ini, adalah bos besar mereka yang baru.
Bruk!
Lutut Direktur Wang akhirnya menyerah sepenuhnya. Pria paruh baya itu jatuh bertumpu pada satu lutut, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya nyaris menyentuh ujung sepatu Muchen.
"T-Tuan Jiang... maafkan kelancangan hamba," suara Direktur Wang bergetar hebat, terdengar seperti isakan putus asa. "S-saya siap menerima hukuman apa pun. Saya akan menyiapkan seluruh dokumen serah terima dan laporan keuangan malam ini juga. Mulai detik ini, Grup Naga Hitam adalah milik Anda seutuhnya."
Bisikan itu tidak terdengar oleh agen-agen pemasaran yang masih berkerumun dari kejauhan. Namun, melihat sang dewa properti berlutut menyembah di bawah kaki seorang pria berpakaian polos, napas puluhan orang di lobi itu serentak tercekat. Mereka menatap Muchen layaknya menatap dewa kematian.
Muchen menunduk menatap Direktur Wang dengan ekspresi sedatar papan. Aura Ketenangan Mutlak membuat emosinya sama sekali tak goyah oleh gelombang kekuasaan raksasa yang baru saja jatuh ke genggamannya.
"Berdirilah," titah Muchen pelan. "Aku tidak butuh pelayan yang gemetar ketakutan di kakiku. Jalankan perusahaan seperti biasa. Jangan buat pengumuman publik apa pun tentang pergantian kepemilikan ini. Aku lebih suka berada di balik layar untuk saat ini."
Muchen melirik sekilas ke arah maket raksasa di tengah lobi. "Pastikan saja Vila Raja bersih dan siap dihuni detik ini juga."
"B-baik, Bos Besar! Hamba jamin tidak akan ada satu butir debu pun yang tersisa di sana. Tim pelayan VVIP sudah disiagakan!"
Muchen mengangguk pelan. Ia membalikkan badan, kembali menggandeng tangan mungil Zihan dan Ziyue yang sejak tadi menatap kejadian itu dengan sepasang mata polos mereka.
Di belakangnya, Su Qingxue mengekor dengan dada bergemuruh hebat. Sebagai sesama eksekutif puncak di Jiangcheng, ia tahu persis seberapa mengerikan pengaruh Grup Naga Hitam. Perusahaan raksasa itu memonopoli hampir tiga puluh persen pasar properti elit di kota ini. Dan pria misterius di depannya ini... baru saja menelannya bulat-bulat seolah sedang membeli sebotol air mineral di minimarket pinggir jalan!
'Siapa dia sebenarnya? Kekayaan dan kekuasaannya seperti jurang hitam yang tak berdasar. Dan cara dia menyembunyikan semua itu di balik kemeja tanpa merek... ini sangat menakutkan, sekaligus... memabukkan.'
Batin Qingxue berkecamuk liar. Tanpa sadar, semburat merah tipis menghiasi wajah cantiknya.
Ketiganya kembali ke luar gedung. Dengan gestur seorang ksatria, Muchen membukakan pintu mobil yang berat untuk anak-anaknya dan Su Qingxue.
Wrrrrmmm!
Mesin buas Dartz Prombron kembali meraung. Monster baja itu melaju perlahan menyusuri jalan aspal mulus yang melingkari sabuk perbukitan Dragon Bay. Sepanjang jalan, jejeran pepohonan rindang dan taman bunga eksotis menyambut mereka. Udaranya terasa jauh lebih bersih dan sejuk dibandingkan polusi di pusat kota.
Semakin tinggi mereka mendaki, jarak antar properti semakin jauh, menawarkan tingkat privasi absolut bagi para penghuninya. Hingga akhirnya, di titik tertinggi bukit tersebut, sebuah gerbang besi tempa berwarna perunggu menjulang gagah, dijaga oleh dua patung naga batu raksasa.
Klang... wush...
Gerbang itu bergeser terbuka secara otomatis. SUV raksasa itu memasuki pelataran halaman depan yang luar biasa luas, dihiasi dengan air mancur marmer bertingkat di bagian tengah. Dan tepat di ujung halaman, berdirilah sang mahakarya: Vila Raja.
Bangunan itu memadukan kemegahan arsitektur klasik Eropa dengan sentuhan dinding kaca modern yang masif. Tiga lantai utama berdiri kokoh dengan sayap kiri dan kanan yang simetris. Di belakang vila, hamparan rumput hijau yang dipangkas rapi berbatasan langsung dengan infinity pool kolam renang tanpa tepi yang menyajikan pemandangan spektakuler seluruh Kota Jiangcheng dari atas awan.
"Ayah! Ini istananya! Ini benar-benar istana!"
Ziyue memekik kegirangan, menempelkan hidung dan kedua tangan mungilnya ke kaca jendela mobil.
Bahkan Zihan yang selalu berusaha bersikap tenang dan dewasa pun kini membuka mulutnya sedikit. Mata bulat bocah laki-laki itu berbinar terang melihat lapangan rumput luas yang seolah mengundangnya untuk berlarian bebas.
Muchen tersenyum. Ia menghentikan monster bajanya tepat di bawah kanopi teras utama.
Saat pintu mobil dibuka, sepuluh orang pelayan berseragam hitam putih yang disetrika sempurna sudah berbaris membentuk dua baris. Di depan mereka, seorang pria paruh baya berjas ekor walet berdiri dengan postur sempurna.
"Selamat datang di rumah, Tuan Jiang, Tuan Muda Zihan, dan Nona Ziyue," sapa pria itu seraya membungkuk dalam, diikuti oleh seluruh jajaran pelayan dan koki di belakangnya. "Saya adalah Kepala Pelayan Anda, Chen. Kami siap melayani segala kebutuhan keluarga Anda selama dua puluh empat jam penuh."
Muchen mengangguk puas.
"Chen, biarkan anak-anak memilih kamar mereka sendiri. Siapkan makanan ringan yang sehat dan tolong awasi mereka bermain di taman belakang. Aku ingin beristirahat sebentar."
"Baik, Tuan Jiang. Akan segera saya laksanakan."
Ziyue dan Zihan segera berlari masuk. Keduanya disambut oleh hamparan lantai marmer berkilau dan instalasi lampu gantung kristal yang luar biasa megah. Tawa riang si kembar menggema renyah di setiap sudut vila.
Bagi Muchen, tawa itu terdengar layaknya alunan melodi paling indah di dunia. Semalam, suara yang ia dengar adalah tangisan kelaparan dan keputusasaan di tengah guyuran badai. Namun hari ini, suara itu adalah tawa kemenangan dari puncak dunia.
Qingxue berdiri di samping Muchen, ikut mengukir senyum melihat kebahagiaan si kembar.
"Tuan Jiang," ucap Qingxue lembut. "Saya rasa tugas saya sebagai pemandu sudah selesai. Anda telah mendapatkan takhta terbaik di kota ini."
Muchen menoleh perlahan.
"Kau belum boleh pulang, Manajer Su." Nada bicara Muchen tidak keras, namun memancarkan wibawa yang tak menerima penolakan. "Duduklah di ruang tamu. Minta pelayan membuatkan teh terbaik yang mereka miliki. Ada hal penting lain yang ingin kubicarakan denganmu nanti."
Deg.
Jantung Qingxue berdebar satu ketukan lebih cepat. Pesona pria ini begitu pekat hingga nalurinya menuruti perintah itu secara otomatis. Ia menunduk patuh dan melangkah anggun menuju ruang tamu.
Sementara itu, Muchen menaiki tangga pualam melengkung menuju kamar utama di lantai dua. Ruangan itu benar-benar masif, luasnya setara dengan seluruh area apartemen kontrakannya dulu. Dinding kaca di satu sisi langsung menghadap ke matahari yang mulai merangkak naik, membanjiri karpet Persia tebal dengan cahaya emas.
Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi berlapis marmer hitam yang dilengkapi dengan jacuzzi raksasa, lalu mengunci pintunya rapat-rapat.
Muchen berhenti sejenak, menatap pantulan dirinya di cermin besar di atas wastafel. Wajahnya memang dianugerahi ketampanan bawaan, tapi beban hidup, kerja keras banting tulang, dan kurang tidur demi menghidupi keluarganya selama lima tahun terakhir telah meninggalkan jejak kusam. Ada lingkar hitam tipis di bawah matanya, dan postur bahunya sedikit kaku akibat kelelahan kronis.
'Sistem, ekstrak Pil Peningkatan Fisik Dasar.'
Ding!
[Mengekstrak Pil Peningkatan Fisik Dasar ke tangan Host.]
Dalam sekejap mata, sebuah pil berwarna keemasan seukuran kelereng terwujud di atas telapak tangannya. Pil itu memancarkan pendar redup dan aroma herbal murni yang sangat pekat. Hanya dengan menghirup aromanya saja, beban pikiran Muchen langsung terasa menguap.
Tanpa ragu sedetik pun, Muchen melemparkan pil itu ke dalam mulutnya.
Benda itu seketika meleleh di lidahnya sebelum sempat disentuh oleh air liur, berubah menjadi aliran cairan hangat yang meluncur mulus ke tenggorokannya. Begitu menyentuh dasar lambung... energi itu meledak hebat!
Krak... krik... krek...
Suara gemeretak halus terdengar bersahutan dari setiap persendian dan tulang-tulangnya. Muchen menggeram tertahan, mencengkeram tepi wastafel marmer kuat-kuat. Rasa panas yang luar biasa ganas menyapu seluruh otot, saraf, dan aliran darahnya layaknya lava mendidih.
Perlahan-lahan, keringat lengket berwarna hitam pekat yang berbau anyir merembes keluar dari pori-porinya. Itu adalah racun, polusi, dan kotoran sisa metabolisme yang mengendap di dalam tubuhnya selama belasan tahun hidup menderita.
Seiring dengan keluarnya racun tersebut, transformasi fisik yang gila mulai terjadi. Otot-otot di perut, dada, dan lengannya mulai terbentuk dan memadat dengan presisi mahakarya seni. Tidak membengkak berlebihan seperti binaragawan, melainkan liat, ramping, dan dipenuhi oleh serat otot yang menyimpan kekuatan eksplosif mengerikan.
Lingkar hitam di bawah matanya terhapus tanpa sisa. Kulit kasarnya mengelupas halus, digantikan oleh kulit baru yang bersih, kencang, dan memancarkan vitalitas absolut.
Proses penyiksaan nikmat itu berlangsung selama sepuluh menit penuh.
Ketika rasa panas itu akhirnya menyusut, Muchen membuka kelopak matanya. Sebuah kilatan cahaya tajam menyambar sejenak di pupil matanya sebelum kembali tenang sedingin es.
Ia mengepalkan tinjunya perlahan.
Kretek.
Muchen merasa energi di dalam selnya bergolak liar. Ia yakin seratus persen bisa menghancurkan tumpukan batu bata hanya dengan satu ayunan kepalan tangan kosong. Kelima inderanya pun mengalami evolusi drastis; melampaui sekat dinding tebal, telinganya mampu menangkap kepakan sayap capung di taman belakang, dan tawa renyah anak-anaknya dari jarak puluhan meter!
Muchen segera menyalakan pancuran shower air hangat, membilas bersih seluruh kotoran hitam yang menempel di tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, ia melangkah keluar dan mengenakan setelan pakaian kasual mewah yang telah disiapkan Kepala Pelayan Chen di dalam lemari walk-in closet. Ketika pria itu kembali berdiri menatap cermin, sosok yang memantul di sana telah berubah total.
Aura Ketenangan Mutlak yang berpadu dengan fisik tingkat dewa menyuntikkan pesona maskulin di level yang sulit dinalar oleh manusia biasa. Ia sama sekali tidak lagi terlihat seperti gelandangan patah hati berusia dua puluh delapan tahun yang kelelahan dihantam realita. Pria ini... adalah manifestasi dari seorang bangsawan muda yang siap meremukkan dunia di bawah kakinya.