NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 AISYAH MASUK TK - AKU JADI IBU KANDUNG YANG LULUS

Empat tahun berlalu sejak Salsa masuk SD Negeri 1 Jombang Kota dengan seragam merah putih dan tumpeng kecil buatan Mbah Sarti tujuh puluh enam tahun. Kini Juli dua ribu tiga puluh lima. Salsa yang dulu tujuh tahun lima bulan kelas satu, kini sebelas tahun lima bulan kelas lima SD, juara kelas, tas ransel hitam. Aisyah yang dulu empat tahun sembilan bulan TK A, kini delapan tahun sembilan bulan dan hari ini masuk TK B Melati depan gang kontrakan.

Jam lima pagi, kontrakan cat hijau nomor empat yang kini sembilan ratus ribu sebulan sudah rame lagi seperti empat tahun lalu. Keluarga besar Wonorejo datang naik mobil pick up carteran Pak Karim yang kini enam puluh sembilan tahun sakit lutut, tidak lagi mengayuh becak tapi jaga parkir Pasar Legi gaji satu juta dua ratus ribu. Mbah Sarti kini delapan puluh tahun, tidak lagi pakai tongkat bambu dua tapi kursi roda kayu buatan Arga, mata rabun total kacamata tebal minus lima, rambut putih semua, tapi masih semangat datang jam lima pagi bawa tas batik isi tumpeng kecil kedua, ayam goreng dua potong, telur rebus tiga butir untuk bekal Aisyah masuk TK, sama seperti saat Salsa masuk SD.

Pak Karim dan Bu Minah datang batik terbaik yang sudah pudar. Bu Minah yang dulu menitipkan Salsa kepadaku dengan alasan ke pasar Jombang padahal cucu kandungnya sendiri karena Mira meninggal pendarahan di rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah atap bocor tiga titik bau kemenyan kutukan Kembang Kantil, kini enam puluh dua tahun, masih dengan rantang besar opor ayam dan sayur lodeh untuk tumpengan Aisyah.

Arga, suamiku sah KUA yang dulu kuli bangunan kaos oblong hitam tangan kasar nyadap karet, lalu satpam gaji dua juta, kepala satpam dua setengah juta, petugas senior tiga juta, kini tiga puluh enam tahun koordinator keamanan Puskesmas gaji tiga setengah juta plus tunjangan beras dan kesehatan untuk Salsa dan Aisyah. Seragam coklat tiga stel, peci hitam sama seperti akad KUA Jumat jam sembilan pagi di KUA Jombang sembilan tahun lalu di BAB 24, sepatu mengkilap dua pasang. Arga yang dulu dua tahun tidak tahu Salsa adalah anak kandungnya sendiri dengan Mira, baru tahu setelah Bu Minah mengaku di kontrakan cat hijau empat ratus ribu, yang menerima Aisyah darah Rendo adiknya sebagai anak kandung secara negara, kini Bapak paling bangga kedua kalinya. Pagi ini Arga bangun jam empat pagi setrika seragam TK biru putih Aisyah yang dibeli dari hasil lapak kedua di Pasar Legi.

Aku, Kirana, yang sebelas tahun lalu diasingkan karena hamil duluan umur sembilan belas tahun, tidur di rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah lembab atap bocor tiga titik bilik bambu bolong bau kemenyan kutukan yang membunuh Mira, diusir warung Bu Lasmi, pagar bambu didobrak Rendo yang lempar baju bayi biru tiga puluh lima ribu dengan kasar bilang kamu masih milikku dan kini sudah meninggal kecelakaan kerja tertimpa balok di Kalimantan tiga tahun lalu, diusir Pak Lurah kontrakan karena tidak punya buku nikah KUA hanya kertas HVS tipis nikah siri, melahirkan Aisyah dua koma delapan kilo di Rumah Sakit Besar takut mati pendarahan seperti Mira, jadi juragan daster lapak kayu dua kali satu meter omzet dua ratus ribu sehari, antar Salsa masuk SD favorit empat tahun lalu, kini tiga puluh satu tahun. Bukan lagi gadis kurus pucat makan telur dibagi dua, tapi juragan daster tiga lapak, omzet sehari satu juta untung lima ratus ribu, tiga karyawan toko, dua penjahit di rumah, tabungan di BRI dua puluh juta, motor baru Beat hitam untuk antar Salsa dan Aisyah sekolah.

Aisyah bintang utama hari ini bangun jam lima pagi tanpa dibangunkan seperti Salsa. Aisyah yang dulu lahir dua koma delapan kilo di Rumah Sakit Besar Jombang lima belas Oktober dua ribu dua puluh enam jam tujuh lewat lima belas pagi, foto USG enam belas weeks dua days ditempel lakban kardus di dinding semen, baju bayi biru tiga puluh lima ribu pemberian Rendo yang dilempar kasar jadi satu-satunya baju baru, berat sembilan kilo umur satu tahun satu minggu bisa jalan tiga langkah, sebelas kilo umur dua tahun bisa nyanyi balonku ada lima, penyebab aku diasingkan, kini gadis kecil delapan tahun sembilan bulan tinggi seratus lima belas centi, rambut hitam panjang dikepang dua seperti Salsa, kulit putih kemerahan sehat, mata bulat besar seperti Salsa, hidung mancung seperti aku, gigi ompong satu depan baru lepas. Seragam TK biru putih baru, rok biru di bawah lutut, baju putih lengan pendek, dasi biru, topi biru, sepatu hitam baru hadiah Mbah Sarti, tas ransel pink kecil kuda poni yang dulu dipakai Salsa dari TK A sampai kelas tiga SD kini diwariskan ke Aisyah setelah dicuci dan dijahit, dan bekal tumpeng kecil kedua buatan Mbah Sarti delapan puluh tahun kursi roda.

Jam enam pagi kami berangkat ke TK Melati depan gang jalan kaki sembilan orang, jarak hanya tiga menit, lebih dekat dari SD yang sepuluh menit. Bawa tumpeng kecil kedua, bawa payung karena musim hujan. Ibu-ibu kontrakan yang dulu lapor aku ke Pak Lurah karena hamil tanpa buku nikah, yang dulu antar Salsa masuk SD bawa kue lapis dan bubur kacang hijau, kini antar Aisyah masuk TK bawa donat dan susu kotak.

Sampai TK Melati jam enam tiga puluh pagi, halaman sudah rame puluhan anak baru dan orang tua, lebih sepi dari SD empat tahun lalu yang ratusan anak. Panggung kecil tulisan besar SELAMAT DATANG SISWA BARU TK B MELATI TAHUN AJARAN 2035/2036.

Bu Guru TK umur empat puluh batik naik panggung panggil satu per satu siswa baru untuk perkenalan, sama seperti Pak Kepala SD empat tahun lalu.

Ketika nama Aisyah Humaira Karim dipanggil, Aisyah naik panggung tegap seperti Salsa, tidak takut sama sekali, berbeda dengan aku sebelas tahun lalu yang selalu takut dipanggil Bu Tati dan tiga ibu PKK dengan sapu lidi di rumah bocor.

"Aisyah Humaira Karim, anak dari Bapak Arga dan Ibu Kirana, alamat kontrakan cat hijau nomor empat Jombang Kota, cita-cita menjadi dokter seperti Kakak Salsa agar bisa menolong Ibu yang dulu hampir meninggal pendarahan seperti Ibu Mira dan Ibu Kirana," kata Aisyah lantang dan jelas lewat mic kecil, lebih lantang dari Salsa.

Satu halaman TK berisi puluhan orang tua diam, lalu tepuk tangan meriah. Aku yang di bawah panggung, yang sebelas tahun lalu diasingkan karena hamil duluan dianggap aib Wonorejo, yang tujuh tahun lalu antar Salsa anak tirinya masuk SD, kini menangis keras kedua kalinya mendengar Aisyah menyebut namaku sebagai Ibu Kirana, bukan Ibu hamil duluan, tapi Ibu Kirana juragan daster.

Mbah Sarti di sebelahku, delapan puluh tahun kursi roda kayu kacamata tebal minus lima, juga menangis keras sambil pegang foto Mira kecil dan foto Rendo kemeja putih di dompetnya yang kini ada dua foto.

"Mira, Rendo, lihat Nduk, anakmu Aisyah sudah masuk TK B, Nduk, sudah pintar, sudah berani, sudah punya Ibu baru Kirana yang baik dan Bapak baru Arga yang baik," bisik Mbah Sarti pelan elus foto Mira dan Rendo.

Arga di sebelahku seragam koordinator keamanan juga menangis kedua kalinya, untuk kedua kalinya menangis di depan umum setelah sembilan tahun sejak Salsa masuk SD.

Setelah perkenalan, Aisyah turun panggung langsung lari peluk aku, bukan peluk Arga Bapaknya secara negara, tapi peluk aku Ibu kandungnya secara darah dan hati.

"Ibu, Aisyah sudah perkenalan, Ibu, Aisyah bilang Ibu Kirana adalah Ibu Aisyah, Ibu, seperti Kakak Salsa bilang Ibu Kirana adalah Ibu Salsa," kata Aisyah peluk leherku erat dengan gigi ompong satu.

Aku peluk Aisyah erat, cium kening wangi minyak telon, Aisyah adalah anak kandungku secara darah Rendo yang sudah meninggal, anak kandungku secara hati yang aku rawat dari dalam perut sembilan bulan di rumah bocor lantai tanah makan telur dibagi dua, secara akte yang dirawat Ibu Kirana, secara sebelas tahun aku rawat dari janin enam belas weeks dua days sampai delapan tahun sembilan bulan.

Siang jam dua belas setelah acara penerimaan siswa baru selesai, kami kembali ke kontrakan cat hijau sembilan ratus ribu dengan membawa Aisyah yang sudah resmi siswi TK B. Di kontrakan, Mbah Sarti delapan puluh tahun kursi roda potong tumpeng kecil kedua, ayam goreng dua potong dan telur rebus tiga butir dibagi sembilan orang, seperti dulu telur dadar satu butir dibagi dua, ayam goreng dua potong dibagi delapan saat Salsa masuk SD, kini ayam goreng dua potong dibagi sembilan, masih tradisi berbagi sama sejak rumah bocor.

Malam jam delapan, hujan turun deras lagi seperti sebelas tahun lalu di rumah bocor Mbah Wiryo atap bocor tiga titik suara tet tet tet air jatuh ke panci alumunium penyok, seperti sembilan tahun lalu di kontrakan cat hijau empat ratus ribu yang mau diusir Pak Lurah, seperti tujuh tahun lalu di kontrakan lima ratus ribu, seperti enam tahun lalu di kontrakan enam ratus ribu, seperti empat tahun lalu di kontrakan tujuh ratus ribu. Genteng kontrakan sembilan ratus ribu tidak bocor, tidak ada suara tet tet tet. Kami makan malam berlima di kontrakan petak sembilan ratus ribu: aku Kirana tiga puluh satu tahun juragan daster tiga lapak, Arga tiga puluh enam tahun koordinator keamanan, Salsa sebelas tahun lima bulan kelas lima SD juara kelas, Aisyah delapan tahun sembilan bulan siswi TK B baru, dan Mbah Sarti delapan puluh tahun kursi roda.

Lauk opor ayam kampung Bu Minah, telur dadar empat butir dibagi lima, nasi banyak wangi, sambal terasi, krupuk, dan es teh manis. Tidak lagi telur satu butir dibagi dua seperti sebelas tahun lalu.

Jam sembilan malam, Salsa dan Aisyah tidur di kasur spring bed, bukan kasur tipis lagi, peluk boneka kain sobek peninggalan Wonorejo yang sudah sebelas tahun usianya dan boneka baru beruang coklat hadiah Pak Karim dan kelinci pink hadiah Bu Minah. Aku dan Arga dan Mbah Sarti duduk di lantai semen bersih lihat foto keluarga di dinding yang kini bertambah foto baru Aisyah seragam TK biru putih topi biru tas ransel pink kecil.

"Kir, dulu kamu diasingkan karena hamil duluan di rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah atap bocor tiga titik bau kemenyan kutukan Kembang Kantil, sekarang kamu antar anak kandungmu sendiri masuk TK. Hebat kamu, Kir, kamu Ibu kandung terbaik yang pernah Mbah lihat, sama seperti kamu Ibu Tiri terbaik untuk Salsa," kata Mbah Sarti delapan puluh tahun kursi roda sambil elus kepala Aisyah tidur gigi ompong satu.

Aku angguk, genggam tangan Arga koordinator keamanan dan tangan keriput Mbah Sarti delapan puluh tahun dan tangan kecil Aisyah delapan tahun sembilan bulan tidur dan tangan Salsa sebelas tahun lima bulan tidur.

Dari diasingkan karena hamil duluan sebelas tahun lalu di rumah bocor Mbah Wiryo, diusir Mbah Sarti dengan sapu lidi, diusir warung Bu Lasmi, didobrak pagar bambu oleh Rendo yang lempar baju bayi biru tiga puluh lima ribu dengan kasar dan kini sudah meninggal kecelakaan kerja di Kalimantan dan fotonya ada di dompet Mbah Sarti, diusir Pak Lurah kontrakan karena tidak punya buku nikah KUA hanya kertas HVS tipis nikah siri, melahirkan Aisyah dua koma delapan kilo di Rumah Sakit Besar dengan takut mati pendarahan seperti Mira, sampai sekarang menjadi Ibu Kandung yang antar Aisyah Humaira Karim anak kandungnya sendiri hasil hamil duluan masuk TK Melati dengan seragam biru putih dan tumpeng kecil kedua.

Judul Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan telah berubah menjadi Aku Yang Dulu Diasingkan Kini Menjadi Ibu Kandung Dan Ibu Tiri Yang Antar Dua Anaknya Masuk SD Dan TK Favorit.

Dan itu cukup untuk malam ini dan selamanya.

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!