Farhan adalah seorang pebisnis sukses, setelah menikah Farhan memenuhi segala kebutuhannya istrinya, ATM baru pun Farhan siapkan untuk mempermudah istrinya untuk beli apapun yang diinginkannya.
Sifat Farhan yang cuek dan keluhan istrinya dianggap sebagai hal biasa dan dianggap istrinya belum terbiasa dengan kebiasaannya yang sangat males keluar rumah jika sudah pulang kerja lebih memilih tidur setelah seharian bekerja.
Rasa kesal dan hambar selama pernikahan akhirnya Mila istri Farhan memilih untuk pergi tanpa memberikan kabar sama suaminya, setelah kepergian Mila membuat Farhan baru sadar akan kehadiran istrinya yang selama ini diabaikan dan protesnya tidak pernah dipedulikan. Mampukah Farhan menemukan Mila dan membuat istrinya untuk kembali sekaligus memperbaiki rumah tangga yang selama ini terasa hambar dan merubah kebiasaannya dan lebih mementingkan meluangkan waktu untuk membahagiakan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maya ps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Lima bulan kemudian
Melihat jam ditangan membuat Farhan langsung merapihkan meja kerjanya, membuat dirinya merasa lega karena akhirnya pulang juga setelah hampir setengah hari sibuk bekerja, membuat dirinya tidak sabar untuk pulang ke rumah dan istirahat setelah lelah seharian bekerja.
Erik masuk kedalam ruang kerja Farhan, membuat yang punya ruangan langsung menatap siapa yang masuk ke ruangannya di jam pulang kerja.
"Ada yang mau dibahas lagi?" tanya Farhan menatap Erik jalan menuju meja kerjanya.
"Satu tahun kamu ke luar kota, apa sebaiknya ajak Mila kasihan juga dia jika sendirian dirumah sedangkan kamu kerja diluar kota sendirian lagi." ucap Erik tidak tega membiarkan istri sahabatnya sendirian dirumah, apa lagi tahu ketiga Kakaknya Erik tidak menerima kehadirannya.
"Lebih kasihan dia jika ikut keluar kota toh sama saja kan saya sibuk kerja, sedangkan dia lebih banyak waktu dirumah lagian kalo ikut kalo dia kenapa-kenapa tidak ada yang tolongin, setidaknya dirumah ada Bibi yang akan bantu kalo dia sakit atau apapun walaupun ketiga saudara saya benci sama Mila setidaknya dia tidak sendirian di rumah ada Bibi dan saudara-saudara saya yang bisa jagain Mila." ucap Farhan tetap tidak ingin ajak Mila, kasihan jika istrinya sendirian di apartemen sedangkan dirinya sibuk kerja dari pagi sampai sore terkadang pulang malam jika harus melihat proyek pembangunan berlangsung.
"Benar juga sih, iya sudah lah terserah kamu saja yang penting selama disana bisa jaga mata dan hati tetap setia, kasihan perempuan jika sudah disakiti bro sudah hidupnya tidak tenang karena ucapan Kakak kamu eh kamu khianati lebih hancur lagi pasti perasannya." lanjut Erik peduli akan perasaan Mila, paling tidak mau sakiti perasaan perempuan apapun alasannya, Erik sadar perempuan pilihan untuk dijadikan istri tidak pantas untuk disakiti.
"Tenang saja Bro saya akan setia, saya pergi juga karena pekerjaan kok walaupun saya cuek sama dia tapi saya setia." lanjut Farhan optimis bisa setia jaga mata dan hati untuk tidak menyakiti wanita yang sangat dicintainya.
Setelah selesai merapihkan meja kerjanya Farhan langsung ajak Erik jalan keluar dari ruangannya jalan bareng keluar kantor.
**
Senyum sinis melihat Mila sibuk didapur untuk membuat kue karena ingin dijual di pasar, rasanya malu sekali melihat adik iparnya hobi jualan keliling jualin kue buatannya karena banyak ucapan negatif yang didengar Gendis, tapi tidak rela jika Mila menikmati hasil kerja adiknya dan membagi sama perempuan kampung didepannya.
"Bagus deh sadar diri juga lo jadi perempuan, selama dirumah ini tidak banyak yang lo beli awas saja menguras isi kantong adik gue!" tegas Gendis menatap sinis adik iparnya.
"Tenang saja Kak, saya prihatin sama hidup Kakak ikut campur terus urusan rumah tangga saya, sebenarnya hak saya sebagai istri pakai pemberian suami saya, tapi karena saya tidak mau ribut sama kalian saya memilih jualan dan mendapatkan penghasilan sendiri, karena tujuan menikah hidup bersama karena ibadah dan rezeki bisa dicari asal mau berusaha." ucap Mila santai sambil merapihkan kue buatannya dan dimasukkan kedalam keranjang.
"Iya tapi cara lo hidup mandiri bikin kita malu tahu istri orang kaya masih jualan keliling dan panas-panasan, tidak bisa apa diem dirumah dan makan tahu, tempe, dan sayur setiap hari tanpa berharap punya uang lebih aneh perempuan kok tidak ada malu sama sekali." lanjut Gendis tidak terima alasan Mila, tidak bisa membuat adik iparnya hidup sengsara.
"Selama Allah memberikan kesehatan dan akal sehat saya akan berusaha, tidak peduli dianggap bikin malu dan saya sudah berusaha mengalah jadi kalian tidak punya hak larang saya. Setiap manusia punya hak memiliki penghasilan sendiri dan membahagiakan diri sendiri selama halal kenapa tidak dilakukan, kalian jangan egois kalian larang saya pakai pemberian Farhan oke saya turutin tapi kalian tidak punya hak larang saya untuk hidup mandiri mengerti!" tegas Mila sejujurnya sudah lelah baru lima bulan menjadi istri Farhan, sudah diuji sama peraturan yang dibuat Kakak-kakaknya Farhan bahkan melarang dirinya memiliki uang sendiri, ingin rasanya protes tapi tidak ingin membuat suaminya berantem sama saudaranya karena urusan uang yang mereka atur sesuka hati.
Kesal mendengar ucapan Mila membuat Gendis memilih pergi percuma saja larang Mila jualan, perempuan itu akan melanjutkan keinginannya untuk jualan keliling, tidak peduli apapun anggapan orang lain melihat istri pebisnis hebat dan terkenal masih jualan dan dianggap kurang kebutuhan nya dipenuhi sama suaminya.
**
Sifat dan sikap seseorang akan terlihat jika sudah menikah dan hidup bersama, Mila sadar suaminya semenjak menikah sudah tidak pernah ajak dirinya untuk jalan bersama dan setelah pulang kerja Farhan lebih memilih langsung tidur dan tidak pernah ajak ngobrol Mila seperti dulu lagi.
"Sayang ini ATM untuk kamu, apapun yang mau kamu beli bisa pakai kartu ini dan itu ada pin nya, semoga nafkah yang aku berikan bisa memanjakan istri aku, beli apapun yang kamu mau dan mempercantik istri aku." ucap Farhan memberikan ATM dan kertas kecil ke Mila.
"Terimakasih Mas, insya allah aku akan pakai uang ini sebaik mungkin Mas, oh iya Mas air panas sudah siap Mas, mau aku siapkan makanan?" tanya Mila sambil merapihkan baju kerja Farhan dan masukin kedalam keranjang, senang rasanya Farhan bisa memberikan nafkah untuk dirinya dan berusaha bisa simpan uang pemberian Farhan untuk ditabung karena tidak enak jika menghabiskan isi ATM seenaknya demi memenuhi kebutuhannya.
"Terimakasih sayang, Mas sudah makan tadi bareng Erik hemm Mas habis mandi mau tidur saja sayang capek sekali badan seharian habis kerja maaf iya." tolak Farhan langsung masuk kedalam kamar mandi dan mengabaikan Mila.
"Selalu seperti ini, sudah diuji kesabaran sama ketiga Kakaknya dan sekarang diuji kesabaran sama Farhan yang cuek seenaknya seperti ini, berikan aku kesabaran yang super iya allah menjalankan kehidupan ini, berharap Farhan bisa berubah dan sadar akan kewajibannya untuk ajak istri jalan-jalan dan makan bersama." lanjut Mila pelan.
Cobaan dalam pernikahan membuat Mila belajar sabar dan terima kenyataan yang ada, kehidupan baru setelah menikah membuat dirinya tidak mementingkan egonya sendiri dan berusaha menjaga perasaan suami dan ketiga Kakaknya yang tidak terima kehadirannya.
Jalan menuju lemari dan memilihkan baju tidur untuk suaminya, setelah selesai memilih baju tidur membuat Mila langsung merapihkan tempat tidur supaya suaminya bisa tidur nyenyak karena kasurnya sudah rapih dan selesai dirapihkan.
**
Raka ajak kedua saudaranya duduk santai didepan rumahnya, sambil menikmati cemilan yang sengaja dibawa Raka dari kantor untuk dinikmati bersama saudaranya.
"Kasihan sekali gadis kampung itu selama disini tidak pernah diajak kemana-mana sama Farhan, karena adik kita lebih memilih tidur jika sudah dirumah dari pada keluar rumah setelah seharian lelah bekerja." ucap Raka tahu kebiasaan adik terakhirnya, paling males pergi jika sudah sampai rumah.
"Bagus dong biar Farhan hemat pengeluaran supaya gadis kampung itu tidak manja sama Farhan, jangan biarkan dia menguras isi kantong Farhan saja." ucap Gendis bahagia kebiasaan adiknya bisa mengabaikan istrinya.
"Betul perempuan kampung tidak pantas dimanjakan tapi pantas dirumah saja, sudah bagus hidup dirumah mewah tapi tidak pantas mendapatkan fasilitasnya." ucap Ihsan menikmati kue yang dibawa Raka.
"Kita lihat saja sampai kapan perempuan itu sabar diabaikan sama Farhan yang mageran." lanjut Gendis berharap Mila secepatnya cerai sama Farhan dan Gendis ada alasan menjodohkan adiknya sama sahabatnya.
Sampai kapanpun tidak akan rela punya ipar yang cuman bisa bikin malu dan selalu mendapatkan ucapan negatif dari temen-temen yang tahu Mila istrinya Farhan.