Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. JANGAN BIARKAN DIA KEMBALI
Arka masih menatap halaman terakhir buku catatan itu ketika Sara menyebut sebuah nama dengan suara lirih.
“Tiara Chenzae…”
Nama itu tertulis menggunakan tinta merah, berbeda dari nama lainnya yang ditulis dengan tinta hitam. Tulisan tangan Pak Thom tampak berantakan, seolah ia menuliskannya dalam keadaan tergesa-gesa.
Arka membalik halaman tersebut, berharap menemukan penjelasan tambahan. Namun, tidak ada apa pun selain beberapa angka dan tanggal yang ditulis tanpa keterangan.
“Siapa Tiara Chenzae?” tanya Sara.
“Entahlah.”
“Bukankah seharusnya nama orang yang menghilang ada di daftar ini? Kenapa nama seseorang yang masih hidup justru ditulis di bagian paling bawah?”
Arka mengusap wajahnya dengan satu tangan.
“Itulah yang harus kita cari tahu.”
Ia kembali membaca halaman pertama. Kalimat yang ditulis Pak Thom terus mengusik pikirannya.
Jika buku ini sampai ke tangan Arka Khontacron, berarti aku sudah gagal menghentikan mereka.
“Menghentikan siapa?” gumam Arka.
Sara mendekat untuk membaca tulisan itu sekali lagi.
“Menurutmu, Pak Thom sedang berusaha membantu kita?”
“Kalau dia hanya ingin menutupi kejahatannya, dia tidak perlu menyimpan catatan ini. Apalagi meninggalkan namaku di dalamnya.”
“Tapi dia juga yang membunuh Pak Braun.”
“Aku tahu.”
Suara Arka terdengar lebih keras daripada yang ia maksudkan. Ia segera terdiam, menyadari bahwa Sara sedang memandangnya dengan ekspresi muram.
“Aku tahu dia bersalah,” lanjutnya lebih pelan. “Aku tidak akan melupakan apa yang sudah dilakukannya. Namun, sebelum meninggal, dia mencoba memberitahuku sesuatu. Aku hanya belum mengerti apa.”
Sara mengangguk perlahan.
“Kalau begitu, kita jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat.”
Arka menutup buku catatan tersebut.
“Sekarang kita temui Bastian. Dia harus melihat ini.”
Ketika Arka dan Sara kembali memasuki rumah sakit, ruang tunggu yang sebelumnya ditempati ayahnya dan Phat sudah kosong.
Arka berhenti sejenak di depan kursi tempat ayahnya duduk tadi.
“Mereka sudah pergi,” kata Sara.
Arka mengamati sekeliling. Tidak ada tanda-tanda keberadaan ayah maupun kakaknya.
“Bagus. Setidaknya aku tidak perlu mendengar ceramahnya lagi.”
“Kau yakin mereka tidak akan mencarimu setelah ini?”
“Kalau mereka mencariku, aku akan menghadapinya nanti.”
Sara menghela napas kecil. Ia tahu berdebat dengan Arka hanya akan membuang waktu.
Mereka kemudian berjalan menuju kamar Bastian.
Pintu kamar itu sedikit terbuka. Dari dalam terdengar suara televisi yang menyala pelan, disusul keluhan seseorang.
“Rumah sakit ini benar-benar membosankan. Tidak ada makanan enak, tidak boleh berjalan-jalan, dan setiap kali aku bertanya kapan boleh pulang, perawatnya selalu menjawab hal yang sama.”
Arka mendorong pintu.
“Kalau kau masih sempat mengeluh, berarti kondisimu tidak terlalu buruk.”
Bastian yang sedang bersandar di ranjang langsung menoleh.
“Oh, lihat siapa yang datang. Tuan pemilik kebun anggur akhirnya punya waktu untuk mengunjungi sahabatnya yang hampir mati.”
Arka mengangkat sebelah alis.
“Kalau kau ingin aku pergi, aku bisa melakukannya sekarang.”
“Jangan. Aku belum punya teman lain untuk kuajak mengeluh.”
Sara terkekeh kecil, sementara Arka menggeleng pelan.
Bastian tampak pucat. Kakinya yang terluka dibalut perban dan disangga agar tidak banyak bergerak. Meski demikian, senyum jahilnya masih sama seperti dahulu.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Sara sambil mendekati ranjang.
“Menurut dokter, aku harus beristirahat beberapa hari. Menurutku, aku hanya perlu pulang dan tidur di kasur sendiri.”
“Jangan keras kepala,” kata Sara.
Bastian mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.
“Baik, baik. Rupanya sekarang aku punya dua orang yang suka mengatur hidupku.”
“Kalau kau terus membuat masalah, mungkin kau perlu tiga orang,” sahut Arka.
Bastian tertawa, lalu meringis ketika gerakan itu membuat kakinya terasa sakit.
“Baiklah, aku tidak akan tertawa lagi.”
Suasana kamar sempat terasa lebih ringan. Namun, Arka segera teringat alasan sebenarnya mereka datang.
Ia melirik Sara, kemudian mengeluarkan buku catatan dari dalam jaketnya.
“Bastian, ada sesuatu yang perlu kau lihat.”
Ekspresi Bastian berubah. Ia mengamati buku usang yang diletakkan Arka di atas meja kecil di samping ranjang.
“Apa itu?”
“Buku catatan milik Pak Thom. Salah satu anggota keluarganya memberikannya kepada kami setelah pemakaman tadi pagi.”
Bastian mengerutkan kening.
“Kenapa keluarganya menyerahkannya kepadamu?”
“Karena Pak Thom meninggalkan pesan bahwa buku ini harus diberikan kepadaku jika sesuatu terjadi padanya.”
Bastian tidak lagi tersenyum.
“Buka sekarang.”
Arka membuka halaman pertama dan membiarkan Bastian membacanya. Setelah itu, ia menunjukkan daftar orang yang menghilang dari Sagara.
Bastian membaca setiap nama dengan saksama.
“Lima belas orang…” gumamnya. “Jadi, Pak Thom benar-benar menyimpan catatan tentang mereka.”
“Lihat bagian bawah halaman terakhir,” kata Sara.
Arka membalik halaman tersebut.
Bastian terdiam ketika melihat nama yang ditulis dengan tinta merah.
Tiara Chenzae.
Beberapa detik berlalu tanpa seorang pun berbicara.
Kemudian Bastian mengangkat wajah.
“Siapa dia?”
“Itulah yang ingin kami ketahui,” jawab Arka.
Bastian kembali menatap nama itu. Ia tampak sedang mengingat sesuatu, tetapi tidak segera mengatakannya.
“Kau pernah mendengar nama ini?” tanya Sara.
“Aku tidak yakin.” Bastian mengusap dagunya. “Nama itu terasa familier, tetapi aku tidak bisa mengingat dari mana.”
Arka menarik kursi dan duduk di samping ranjang.
“Buku ini ditemukan di kamar Pak Thom. Nama itu ditulis berbeda dari lima belas nama lainnya. Menurutku, itu bukan kebetulan.”
“Bisa jadi dia orang yang memberi perintah kepada Pak Thom,” kata Sara.
“Bisa juga orang yang sedang berusaha dihentikannya,” balas Bastian.
Arka mengangguk.
“Itu yang kupikirkan.”
Bastian menutup buku itu sebentar, lalu menatap Arka dengan serius.
“Kita harus menemukan siapa Tiara Chenzae sebelum orang itu tahu bahwa buku ini sudah berada di tanganmu.”
“Menurutmu, mereka akan melakukan sesuatu?”
“Arka, seseorang menembakku di gudang itu. Dua orang berhelm menghalangi jalanku malam sebelumnya. Ada orang di luar gudang yang tahu kita menemukan sesuatu.” Bastian berhenti sejenak. “Menurutmu, apakah semua itu hanya kebetulan?”
Arka tidak menjawab.
Ia teringat kembali suara orang-orang di luar gudang.
Mereka sudah menemukannya.
Mereka mengetahui keberadaan mereka. Bahkan, mungkin sejak awal, seseorang telah mengawasi setiap langkah mereka.
Sara memeluk lengannya sendiri.
“Kalau begitu, kita harus berhati-hati. Jangan sampai mereka tahu kita sedang menyelidiki nama itu.”
“Benar,” ujar Bastian. “Untuk sementara, jangan ceritakan buku ini kepada siapa pun. Termasuk kepada orang yang kalian anggap bisa dipercaya.”
Ucapan itu membuat Arka teringat pada ayahnya.
Wajah ayahnya yang berubah ketika mendengar tentang orang hilang kembali muncul dalam pikirannya.
Ia juga teringat kemarahan Phat ketika mereka membicarakan keluarga sendiri.
Apakah mereka mengetahui sesuatu?
Atau justru salah satu dari mereka sedang menyembunyikan sesuatu?
Arka menunduk, menatap sampul buku yang sudah usang.
“Ada satu hal lagi yang menggangguku,” katanya.
“Apa?” tanya Bastian.
“Pak Thom mengatakan bahwa orang yang paling dekat denganku bisa menjadi orang yang paling kutakuti.”
Bastian tidak langsung menjawab.
Sara memandang Arka dengan cemas. Ia tahu kalimat itu bukan sekadar peringatan bagi Arka, melainkan juga sesuatu yang dapat menghancurkan kepercayaannya terhadap keluarganya sendiri.
“Jangan menuduh siapa pun sebelum kita memiliki bukti,” kata Bastian akhirnya. “Kita cari faktanya dulu. Setelah itu, baru kita tentukan siapa yang sebenarnya berada di balik semua ini.”
Arka mengangguk pelan.
Namun, pikirannya masih dipenuhi pertanyaan.
Siapa Tiara Chenzae?
Mengapa Pak Thom menuliskan namanya dengan tinta merah?
Dan apa hubungan nama itu dengan orang yang menghilang dari Desa Sagara?
Sebelum mereka meninggalkan kamar, Arka kembali membuka buku catatan itu.
Kali ini, ia memperhatikan bagian bawah halaman dengan lebih teliti. Di bawah nama Tiara Chenzae, terdapat angka kecil yang sebelumnya tidak mereka sadari.
17—04—23.
“Tanggal?” tanya Sara.
“Mungkin,” jawab Arka.
Bastian menggeleng pelan.
“Jangan buru-buru menyimpulkan. Bisa jadi itu tanggal, kode, atau nomor dokumen.”
Arka mengeluarkan ponselnya dan memotret halaman tersebut.
“Kita akan memeriksanya nanti.”
Saat hendak menutup buku, sebuah potongan kertas tipis terlepas dari sela-sela halaman dan jatuh ke lantai.
Sara segera membungkuk mengambilnya.
Kertas itu terlipat dua kali. Di bagian depannya terdapat tulisan tangan Pak Thom yang hampir pudar.
Sara membukanya dengan hati-hati.
Hanya ada satu kalimat di sana.
“Jika mereka mencari Tiara, jangan biarkan dia kembali ke Sagara.”
Sara membacanya dengan suara lirih.
Arka langsung berdiri.
“Berikan kepadaku.”
Ia mengambil kertas tersebut dan membacanya berulang kali.
Bastian menatap mereka bergantian.
“Sepertinya kita baru saja menemukan alasan mengapa nama itu ditulis di sana.”
Arka mengepalkan kertas itu, kemudian menatap ke arah jendela kamar. Di luar, kendaraan berlalu-lalang seperti biasa, seolah tidak ada sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di balik kehidupan tenang mereka.
Namun, kini ia mengerti satu hal.
Pak Thom bukan sekadar meninggalkan daftar orang hilang.
Ia telah meninggalkan petunjuk menuju seseorang yang mungkin memegang kunci seluruh misteri Desa Sagara.
Dan orang itu bernama Tiara Chenzae.
Masalahnya, Arka belum tahu apakah ia harus menemukan Tiara terlebih dahulu—atau justru melindunginya dari orang-orang yang sedang memburunya.