Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Bayangan masa lalu
Langkah kaki Kaivan terhenti di ambang pintu kamar utama. Suara pintu yang beberapa saat lalu ia banting dengan penuh amarah masih bergema di dalam kepalanya, memantul di dinding-dinding rumah megah yang dingin itu.
Udara malam terasa makin menusuk kulit, namun hawa panas yang membakar dadanya belum juga sepenuhnya padam. Tangannya yang terkepal rapat di samping tubuh perlahan merenggang, memperlihatkan telapak tangan yang memerah karena emosi yang tak terkendali.
Ia bernapas berat, menyandarkan keningnya pada daun pintu kayu yang tebal. Kalimat-kalimat tajam, bentakan kasar, dan hinaan yang baru saja ia lontarkan kepada Aruna kembali berputar.
Ia ingat betul bagaimana mata bening gadis itu bergetar, bagaimana bibirnya yang pucat menahan tangis tanpa membalas.
Aruna hanya berdiri di sana, menerima setiap kosa kata beracun yang Kaivan lemparkan seolah-olah dirinya memang layak diperlakukan buruk.
Di balik dada Kaivan yang terasa sesak, ada sepercik rasa bersalah yang mencoba menyusup. Namun, sebelum rasa iba itu sempat membesar, barikade tinggi di dalam pikirannya langsung bangkit menghancurkannya.
Jangan pernah percaya. Jangan pernah membuka hati. Semua orang hanya menginginkan sesuatu darimu.
Mantra beracun itu adalah benteng pertahanan yang ia bangun selama puluhan tahun. Kaivan tumbuh dalam bayang-bayang trauma yang kelam.
Sejak masih seorang anak kecil, ia sudah diajarkan bahwa dunia ini adalah tempat perdagangan yang kejam. Orang tua kandungnya sendiri tidak pernah memandangnya sebagai seorang putra, melainkan sebagai aset, sarana untuk meraih kekayaan dan status sosial.
Ia dimanfaatkan, dituntut untuk sempurna, dan ketika ia tak lagi berguna atau saat ia mencoba menunjukkan kerapuhannya, ia dibuang dan diabaikan begitu saja.
Luka pengkhianatan dari orang yang paling seharusnya melindunginya itu membentuk Kaivan menjadi sosok yang dingin, berhati baja, dan selalu curiga pada kebaikan siapa pun.
Bagi Kaivan, kelembutan dan kepatuhan Aruna adalah sebuah ancaman. Ia takut kebaikan gadis itu hanyalah topeng lain dari kepalsuan manusia yang ingin memanfaatkannya. Oleh karena itu, ia memilih untuk tetap dingin dan bersikap keras—memastikan Aruna tahu posisinya dan tidak pernah berani melampaui batas.
Dengan raut wajah yang kembali mengeras, Kaivan melangkah menuju kamar mandi utama.
Saat membuka pintu, uap air hangat membumbung halus, membawa aroma terapi lavender yang menenangkan. Di dalam bathtub, air hangat telah terisi penuh dengan suhu yang pas. Di atas meja rias kecil di sampingnya, tertata rapi handuk bersih yang sudah dilipat dengan simetris, bersama pakaian santai yang biasa ia kenakan setelah mandi.
Kaivan menatap uap air itu dengan pandangan datar. Gadis itu... Aruna... baru saja ia bentak dan ia hina. Namun, Aruna tetap menyiapkan semua ini. Kaivan menyentuh permukaan air hangat itu dengan ujung jarinya sejenak, lalu mendengus dingin.
Hanya menjalankan kewajibannya sebagai jaminan, batin Kaivan menepis segala bentuk simpati. Pria itu segera membersihkan diri tanpa mau memikirkan Aruna lebih jauh.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan celana kain santai dan kaos hitam, Kaivan berjalan melintasi koridor rumah yang sunyi. Rumah ini terlalu besar dan terasa dingin. Saat melewati area dapur, langkah Kaivan melambat.
Aroma harum sup kaldu tercium samar-samar. Kaivan menggeser pintu dapur perlahan.
Di sana, di dekat kompor yang baru saja dimatikan, Aruna sedang berdiri membelakanginya. Tubuh gadis itu terlihat begitu mungil dan ringkih. Gerakannya lambat, sangat lambat, seolah setiap pijakan kaki dan ayunan tangannya membutuhkan usaha yang amat besar. Wajahnya yang terlihat dari samping sangat pucat, bahkan bibirnya sudah kehilangan warna alaminya.
Keringat dingin tampak membasahi pelipis dan anak rambut di dahi Aruna.
Aruna berkali-kali memejamkan mata erat-erat, memegang kepalanya yang terasa pusing luar biasa akibat bentakan dan kelelahan seharian ini. Namun, ia memaksakan tangannya yang bergetar untuk menata mangkuk sup di atas tray kayu.
Saat Aruna berbalik hendak membawa mangkuk tersebut, matanya bertabrakan dengan tatapan Kaivan yang berdiri menjulang di ambang pintu.
Aruna terkejut kecil. Dengan cepat, ia menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang pucat dan mata sembapnya.
"Pak Kaivan..." suara Aruna terdengar sangat pelan, parau, dan bergetar.
"Saya... saya sudah siapkan sup hangat untuk Pak Kaivan. Maaf kalau tadi saya lambat menyiapkan makan malamnya."
Kaivan menyilangkan tangan di dada. Sorot matanya tetap tajam, dingin, dan kaku—sama sekali tidak memperlihatkan kelembutan atau rasa kasihan.
"Taruh di meja," perintah Kaivan dengan nada datar tanpa beban.
"Baik, Pak Kaivan," cicit Aruna. Dengan sisa-sisa tenaganya, Aruna melangkah pelan menuju meja makan, meletakkan mangkuk sup panas itu secara berhati-hati agar tidak tumpah. Tangannya yang memegang tray kayu tampak berguncang hebat.
Kaivan berjalan mendekati meja makan. Ia melirik mangkuk sup hangat itu, lalu beralih menatap Aruna yang berdiri kaku di samping meja dengan kepala tetap menunduk. Kaivan menyadari betul betapa buruknya kondisi fisik Aruna saat ini—napas gadis itu berat dan tubuhnya tampak lemas. Namun, trauma masa lalu dan kekerashatian Kaivan menutup rapat pintu empatinya.
"Tugasmu malam ini sudah selesai?" tanya Kaivan dengan suara bariton yang dingin.
Aruna berusaha menyeimbangkan berdirinya meski dadanya terasa sangat sesak dan kakinya serasa tak bertulang.
"Dapur sudah dibersihkan, Pak Kaivan. Pakaian kerja Pak Kaivan untuk besok pagi juga sudah saya setrika dan gantung di ruang linen. Jika... jika Pak Kaivan tidak memerlukan hal lain, saya izin ke kamar."
Kaivan hanya menatapnya tanpa ekspresi, tidak memberikan kata-kata penenang, apalagi ucapan terima kasih. Bagi Kaivan, semua yang dilakukan Aruna memang sudah seharusnya dikerjakan sebagai konsekuensi atas kesepakatan tiga puluh miliar rupiah.
"Pergilah," sahut Kaivan singkat dan acuh tak acuh, lalu duduk di kursi makan dan meraih sendoknya.
"Baik... Pak Kaivan. Selamat malam."
Aruna membungkuk pelan. Namun, ketika ia baru saja membalikkan badan dan mengambil dua langkah menjauhi meja makan, pandangan matanya mendadak gelap gulita. Dunia di sekitarnya seolah berputar dengan kecepatan tinggi.
Rasa lelah yang menumpuk, demam tinggi yang membakar tubuhnya, serta tekanan batin dari bentakan Kaivan sore tadi akhirnya meruntuhkan pertahanan Aruna. Lututnya kehilangan daya.
Bruk!
Tubuh Aruna yang ringkih terkulai dan tumbang menghantam lantai marmer di dekat lorong dapur.
Kaivan menghentikan sendoknya yang baru saja terangkat ke udara. Bunyi dentuman pelan itu membuat matanya menyipit. Pria itu menoleh dan melihat Aruna sudah terbaring tak berdaya di atas lantai dingin, matanya terpejam rapat dengan napas yang memburu halus.
Kaivan tidak langsung panik atau berlari histeris. Ia terdiam sejenak di kursinya, memperhatikan tubuh Aruna yang mematung di lantai. Ada sedikit helaan napas berat keluar dari hidungnya—merasa kesal karena ketenangan malamnya harus terganggu lagi oleh masalah.
Kaivan meletakkan sendoknya kembali ke piring. Ia bangkit berdiri dan melangkah mendekati tubuh Aruna.
Saat ia berjongkok dan menyentuh lengan Aruna untuk membalikkan tubuh gadis itu, Kaivan sempat tertegun sesaat. Kulit lengan Aruna terasa sangat panas, seperti membakar telapak tangannya.
Wajah Aruna tampak begitu rapuh dalam pingsannya, dengan keringat dingin yang membasahi kening.
Kaivan menatap wajah pucat itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Rasa benci dan kecurigaan bahwa Aruna adalah bagian dari rencana keluarga Rasyara masih tertanam kuat di kepalanya. Namun, melihat gadis ini pingsan di rumahnya tetap saja menjadi beban yang merepotkan.
"Merepotkan sekali," gumam Kaivan dingin pada dirinya sendiri.
Tanpa kelembutan yang berlebihan, namun cukup berhati-hati agar tidak menyakiti, Kaivan menyusupkan tangannya ke bawah punggung dan lipatan lutut Aruna. Ia mengangkat tubuh Aruna yang terasa sangat ringan itu ke dalam papahannya.
Suhu tubuh Aruna yang panas menembus kaos hitam yang dikenakan Kaivan. Dalam diam, Kaivan membawa tubuh ringkih Aruna melangkah menaiki tangga menuju kamar sederhana gadis itu di lantai dua sebelah barat—membiarkan rasa dingin dan keras di hatinya tetap terjaga rapat, tanpa menyadari bahwa benih-benih takdir sedang merayap pelan di antara mereka.
_Bersambung