Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : ANAK YANG SELALU MENGALAH
Suara bel perkuliahan terdengar panjang menandakan kelas telah berakhir. Laura Prayoga segera menutup buku catatannya dan merapikan beberapa lembar kertas yang berserakan di atas meja. Hari ini sebenarnya cukup melelahkan. Sejak pagi Laura sudah mengikuti beberapa mata kuliah, lalu menghabiskan hampir dua jam terakhir untuk mengerjakan ujian yang sudah dipersiapkan selama berminggu-minggu.
Namun, rasa lelah itu seolah menghilang ketika Laura melihat lembar hasil ujian yang diberikan dosennya tadi.
A. Nilai sempurna.
Laura tersenyum kecil. dia menatap kertas itu dengan perasaan bangga yang sulit disembunyikan. Selama beberapa minggu terakhir, dia memang hampir setiap malam belajar sampai larut. Bahkan beberapa kali dia menolak ajakan teman-temannya untuk pergi karena lebih memilih berada di perpustakaan.
Bukan karena Laura ingin menjadi mahasiswa yang sempurna.
Laura hanya ingin membuktikan bahwa dirinya juga bisa dibanggakan.
Mungkin jika dia membawa hasil ini pulang, ayah dan ibunya akan tersenyum kepadanya. Mungkin ayahnya akan menepuk bahunya dan mengatakan bahwa Laura telah melakukan sesuatu yang hebat. Atau mungkin ibunya akan memeluknya seperti ketika memeluk Dinda.
Harapan sederhana itu membuat Laura memasukkan hasil ujiannya dengan hati-hati ke dalam sebuah map. Setelah memasukkan semua barang ke dalam tas, ia segera meninggalkan ruang kelas.
Perjalanan pulang terasa lebih menyenangkan dari biasanya. Sepanjang jalan, Laura beberapa kali membayangkan wajah kedua orang tuanya ketika melihat hasil ujiannya. Bahkan ia sempat tersenyum sendiri ketika membayangkan ibunya mengatakan bahwa dirinya bangga.
Sesampainya di rumah keluarga Prayoga, Laura turun dari mobil dan berdiri sebentar di depan pintu utama. Rumah besar itu tampak begitu mewah dengan halaman luas dan taman yang selalu dirawat dengan sempurna. Dari luar, keluarga Prayoga mungkin terlihat seperti keluarga yang memiliki kehidupan sempurna.
Hanya Laura yang tahu bahwa kemewahan tidak selalu berarti kehangatan.
Laura membuka pintu dan baru beberapa langkah masuk ketika suara tawa terdengar dari ruang keluarga. Laura langsung mengenali suara adiknya.
Dinda Prayoga.
Laura berjalan mendekat. Namun langkahnya melambat ketika melihat siapa saja yang berada di sana. Ayah dan ibunya duduk di sofa utama bersama Dinda dan seorang pria yang sangat dikenalnya dari berbagai berita bisnis.
Adrian Varel.
CEO muda sekaligus pewaris Varel Corporation itu sedang duduk di samping Dinda. Tangannya menggenggam tangan adiknya dengan begitu mesra, sementara Dinda terlihat tersenyum bahagia.
"Kalau semuanya sudah disiapkan, mungkin bulan depan kita bisa membicarakan pertunangannya," ujar Richard dengan wajah puas.
Helena langsung tersenyum lebar. "Ibu benar-benar bahagia melihat kalian berdua. Dinda akhirnya menemukan pria yang bisa menjaganya."
Dinda menyandarkan kepalanya sebentar pada bahu Adrian. "Aku juga bahagia, Bu."
Adrian tersenyum sambil menatap Dinda. "Aku sudah mengatakan kepada Dinda bahwa aku serius dengannya. Jadi tidak ada alasan untuk menunda terlalu lama."
Mendengar itu, wajah Helena semakin cerah. Richard pun mengangguk puas.
Laura berdiri beberapa langkah dari mereka. Senyum yang sebelumnya menghiasi wajahnya perlahan menghilang.
dia sebenarnya ingin menyapa mereka.dia juga ingin menunjukkan hasil ujiannya.
Laura menarik napas dan akhirnya memberanikan diri melangkah masuk ke ruang keluarga.
"Laura?" Richard baru menyadari keberadaannya. "Kamu baru pulang?"
Laura mengangguk. "Iya, Yah. Aku baru selesai kuliah."
Richard hanya mengangguk singkat sebelum kembali melihat Dinda dan Adrian. Tidak ada pertanyaan tentang bagaimana kuliahnya hari ini. Tidak ada perhatian lebih dari biasanya.
Laura mencoba mengabaikannya.
Laura membuka tas dan mengambil map yang berisi hasil ujiannya. "Yah, hari ini aku mendapatkan hasil ujian. Nilainya cukup bagus. Aku pikir Ayah mungkin ingin melihatnya."
Laura mengulurkan kertas tersebut kepada ayahnya.
Namun sebelum Richard sempat mengambilnya, Dinda tiba-tiba berbicara dengan nada penuh semangat.
"Yah, tadi Adrian bilang dia mau mengajakku memilih cincin pertunangan besok!"
Perhatian Richard langsung beralih kepada Dinda.
"Benarkah?" tanyanya antusias.
Dinda mengangguk. "Iya. Adrian bilang aku boleh memilih sendiri."
"Tentu saja kamu harus memilih yang terbaik," ujar Helena cepat. "Ini pertunanganmu. Jangan sampai memilih sesuatu yang tidak sesuai."
Laura perlahan menurunkan tangannya.
Kertas hasil ujian yang tadi dia pegang akhirnya kembali masuk ke dalam map.
Tidak ada yang menyadarinya.
Tidak ada seorang pun yang bertanya mengenai nilainya.
Seolah pencapaian Laura tidak pernah ada.
"Laura," panggil Helena setelah beberapa saat, "kalau kamu sudah pulang, tolong naik ke kamar Dinda dan ambilkan gaun putihnya. Dia ingin menunjukkannya kepada Adrian."
Laura terdiam sebentar sebelum menjawab, "Gaun yang baru dibeli minggu lalu?"
"Iya. Yang ada di lemari sebelah kiri."
"Baik, Bu."
Laura berbalik dan berjalan menuju tangga. dia berusaha menahan perasaan kecewa yang mulai memenuhi dadanya. Baru saja dia menaiki beberapa anak tangga, suara Adrian terdengar dari belakang.
"Laura."
Laura menghentikan langkahnya dan menoleh.
Adrian sedang menatapnya."Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.
Laura sedikit terkejut. Entah kenapa, pertanyaan sederhana itu terasa berbeda ketika datang dari orang lain.
Laura tersenyum kecil. "Aku tidak apa-apa."
Adrian memperhatikannya beberapa detik sebelum mengangguk. "Kalau begitu, setelah selesai membantu mereka, jangan lupa istirahat."
"Terima kasih."
Laura melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di kamar Dinda, Laura membuka lemari dan mengambil gaun putih yang dimaksud. Gaun itu terlihat sangat indah dengan hiasan kecil di bagian pinggang dan kain yang lembut. Laura sempat membayangkan bagaimana rasanya memiliki seseorang yang rela membelikan sesuatu hanya karena ingin melihatnya bahagia.
Namun pikiran itu segera dia singkirkan.
Laura membawa gaun tersebut turun dan menyerahkannya kepada Dinda.
Dinda langsung membentangkan gaun itu di depan tubuhnya. "Bagaimana, Adrian? Cantik, kan?"
Adrian tersenyum. "Cantik. Tapi sepertinya bukan gaunnya yang membuatnya terlihat cantik."
Dinda tertawa malu. "Kamu selalu saja merayuku."
Laura hanya berdiri di samping sofa, memperhatikan mereka dalam diam. laura sudah terbiasa melihat kemesraan seperti itu. Meski terkadang ada rasa iri, Laura tidak pernah berniat merebut kebahagiaan adiknya.
Bagaimanapun juga, Dinda tetap adiknya.
"Laura," panggil Richard lagi.
"Iya, Yah?"
"Besok temani Dinda membeli beberapa keperluan pertunangannya."
Laura langsung menoleh. "Besok?"
"Iya."jawab ayah nya.
"Tapi besok aku ada kegiatan di kampus, Yah. Aku sudah—"
"Batalkan." bentak sang ayah
Satu kata itu membuat Laura terdiam.
Richard bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimat.
"Kegiatan kampus bisa dilakukan lain kali. Sekarang urusan Dinda lebih penting. Kamu kakaknya, jadi seharusnya kamu bisa mengerti."
Laura menggenggam tali tasnya lebih erat. dia ingin menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan presentasi kelompok yang sudah dipersiapkan selama berminggu-minggu. Jika Laura tidak datang, kelompoknya akan kesulitan.
Namun melihat wajah ayahnya, Laura tahu penjelasan itu tidak akan mengubah apa pun.
"Baik, Yah," jawabnya akhirnya.
Dinda tersenyum puas. "Terima kasih, Kak. Untung ada Kak Laura. Aku memang bingung kalau harus mengurus semuanya sendiri."
Laura membalas senyum itu meskipun terasa berat. "Iya."
Laura kemudian meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke kamarnya.
Begitu pintu tertutup, Laura menyandarkan punggungnya pada pintu sambil mengembuskan napas panjang. Ruangan itu sunyi. Berbeda dengan ruang keluarga yang dipenuhi tawa dan suara orang-orang yang saling berbicara.
Laura berjalan menuju meja belajarnya, kemudian mengeluarkan kembali hasil ujian dari dalam tas.
Ia menatap nilai tersebut dalam diam.
A.
Nilai yang dia dapatkan setelah berhari-hari belajar.Nilai yang ingin Laura tunjukkan kepada keluarganya.Tetapi pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang peduli.
Laura duduk di kursinya dan menyandarkan tubuhnya. dia mencoba tersenyum, tetapi matanya justru mulai terasa panas.
"Sepertinya aku terlalu berharap," gumamnya pelan.
Laura mengusap sudut matanya sebelum air mata benar-benar jatuh. dia tidak ingin menangis hanya karena masalah seperti ini. Sejak kecil Laura sudah terbiasa mendapatkan lebih sedikit perhatian dibandingkan Dinda.
Seharusnya aku sudah terbiasa.Namun ternyata, terbiasa bukan berarti tidak sakit.
Malam semakin larut ketika Laura akhirnya keluar menuju balkon kamarnya. Angin malam menyentuh wajahnya yang masih menyimpan bekas air mata. dia menatap halaman rumah yang mulai gelap, lalu memeluk kedua lututnya sendiri.
Di tengah kesunyian itu, ponselnya tiba-tiba bergetar.
Laura mengambilnya" Sebuah pesan masuk dari seseorang yang selalu mengingat keberadaannya.
Kakek Arthur.
Laura, sudah makan?
Senyum kecil muncul di wajah Laura. Hanya pertanyaan sederhana, tetapi entah mengapa mampu membuat dadanya terasa hangat.
Laura segera membalas.
Sudah, Kek. Kakek sendiri sudah makan?
Tidak lama kemudian, balasan masuk.
Sudah. Besok Kakek mau datang ke rumah. Ada sesuatu yang ingin Kakek berikan untuk ulang tahunmu.
Laura terdiam membaca pesan tersebut. Ulang tahunnya memang tinggal beberapa hari lagi.
Selama ini, hampir tidak ada seorang pun yang benar-benar mengingatnya selain Kakek Arthur.
Laura mengetik balasan dengan jemari yang sedikit gemetar.
Laura tidak perlu hadiah, Kek. Kakek datang saja sudah cukup.
Beberapa saat kemudian, balasan dari sang kakek muncul.
Kakek tahu. Tapi kali ini Kakek ingin memberikan sesuatu yang pantas untuk cucu Kakek.
Laura menatap layar ponselnya sambil tersenyum. Tanpa dia sadari, matanya kembali berkaca-kaca.
Di rumah sebesar itu, ternyata hanya satu orang yang membuatnya merasa benar-benar dianggap sebagai keluarga.
Laura belum tahu bahwa beberapa hari lagi, sebuah gaun indah akan diberikan kepadanya.
Laura juga belum tahu bahwa gaun itu akan menjadi awal dari sebuah kejadian yang membuat kehidupannya berubah.
Dan lebih dari itu, Laura belum pernah membayangkan bahwa suatu malam nanti, ketika dia merasa tidak memiliki siapa pun di dunia ini, seorang pria akan berdiri di hadapannya dan mengucapkan sebuah kalimat yang akan mengubah seluruh hidupnya.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯