Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.
Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.
Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.
Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.
Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30
Part 30
Setelah jam istirahat, Alfan dan Tina akan makan siang seperti biasanya di restoran, namun saat mereka akan keluar, keduanya justru dikejutkan oleh keberadaan Ria dan Viona yang sedang berdiri di depan pintu ruangan mereka.
"Kalian kenapa ke sini? Ada apa?" tanya Tina sembari tersenyum meski ia sendiri merasa heran dengan kedatangan teman-temannya yang tidak biasanya, sedangkan Alfan berdiri di sampingnya dengan mata dingin menatap kedua karyawannya.
"Kita mau minta maaf sama Pak Alfan, Na." Viona menjawab jujur yang dihelai nafas oleh Tina, merasa bahagia saja memiliki kedua teman seperti mereka.
"Pak, kami di sini mau minta maaf. Kami siap dipecat bila memang kami salah, tolong jangan marah apalagi sampai bertengkar dengan Tina cuma gara-gara kita." Viona berujar ke arah Alfan yang diangguki setuju oleh Ria.
"Kalian ini ngomong apa sih?" tanya Tina terdengar tak nyaman, teman-temannya itu justru lebih mementingkan hubungannya dengan bosnya ketimbang pekerjaan mereka sendiri.
"Kita cuma enggak mau merusak hubungan kamu dengan Pak Alfan, Na."
"Enggak ada yang dirusak ataupun merusak hubungan siapapun, sudahlah! Kalian juga enggak akan dipecat, iya kan, Pak?" tanya Tina ke arah Alfan yang terdiam dengan mata dingin dan tenang.
"Iya. Kalian enggak akan dipecat." Alfan menjawab singkat yang tentu saja mendapatkan tatapan tak percaya dari kedua karyawannya itu.
"Serius, Pak?" tanya Ria antusias, namun Alfan hanya mengangguk dengan tenang, yang seketika itu ditanggapi sorakan lirih dari ketiga wanita itu, mereka tersenyum begitu bahagia terutama Tina yang menjadi pemandangan paling indah untuk mata Alfan.
"Lebih baik sekarang kalian pergi makan siang, karena saya dan Tina juga akan makan siang." Alfan menatap ketiganya lalu berjalan ke arah luar, yang bisa Tina mengerti terlihat dari caranya melambaikan tangannya ke arah Ria dan Viona lalu berjalan mengikuti langkah Alfan.
"Yeah. Untung kita enggak jadi dipecat," sorak Ria bahagia.
"Ini pasti gara-gara Tina berhasil merayu Pak Alfan, dia memang the best sih. Enggak nyangka juga ternyata Pak Alfan itu bisa nurut sama Tina, teman kita." Viona menjawab antusias, merasa bangga saja memiliki teman seperti Tina yang bisa menaklukkan lelaki seperti Alfan.
"Iya. Kapan-kapan kita harus traktir Tina. Setuju?"
"Setuju."
***
Saat makan siang, tiba-tiba Tina dihubungi oleh tantenya, membuatnya merasa khawatir karena tidak biasanya tantenya itu menghubunginya di waktunya bekerja. Dengan cepat Tina menerimanya, ia takut bila telepon itu ada hubungannya dengan papanya.
"Halo, Tante. Ada apa?"
"Tina. Apa kamu sibuk?" tanya Laily terdengar khawatir, membuat Tina semakin takut.
"Enggak kok, Tante. Ada apa?"
"Tante sekarang ada di rumah sakit menunggu Papa kamu kontrol, Om kamu juga lagi enggak bisa pergi dari toko, jadi enggak ada yang bisa jemput Ella. Kamu bisa enggak pamit sebentar ke bos kamu buat jemput Ella, terus kamu bawa dia ke kantor kamu, nanti kalau Tante sudah selesai, Tante jemput Ella di kantor kamu. Bagaimana?"
Tina merapatkan bibirnya, matanya menatap ke arah Alfan yang sedari tadi memerhatikannya. Tatapannya seolah ingin bertanya ada apa, namun Tina ragu mengatakannya.
"Aku tanya dulu ke bosku ya, Tante."
"Tolong ya, Na. Masa bos kamu enggak mau izinin kamu? Dia kan calon suami kamu."
"Jangan bawa-bawa calon suami lah, Tante. Aku di sini kan juga kerja, tapi Tante tenang aja, aku pasti akan jemput Ella di sekolahnya."
"Iya, terima kasih ya."
Sambungan telepon itu terputus, mendiamkan Tina pada banyak keraguan. Sedangkan Alfan yang menyadarinya ingin bertanya, ia juga ingin tahu dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya.
"Ada apa?"
"Begini, Pak, saya boleh pamit keluar sebentar ya?"
"Memangnya kamu mau ke mana?"
"Itu ... adik saya, Ella harus saya jemput di sekolah, kebetulan Tante saya ada di rumah sakit menemani Papa saya kontrol, jadi belum ada yang bisa jemput."
"Oke." Alfan mengangguk setuju yang sempat membuat Tina terkejut.
"Bapak mengizinkan saya menjemput adik saya?"
"Iya. Tapi saya juga harus ikut."
"Tidak usah, Pak. Saya tidak lama kok."
"Jangan membantah! Kita pergi sekarang." Alfan mendirikan tubuhnya, yang hanya Tina angguki tanpa bisa menjawab lagi.
Sesampainya di sekolah, Tina keluar begitu saja setelah mendapati seorang gadis kecil yang dikenalinya tengah berdiri di depan gerbang. Sedangkan Alfan juga ikut keluar, ekspresinya tampak penasaran dengan adik Tina.
"Ella," panggil Tina sembari tersenyum lega melihat adiknya baik-baik saja.
"Kak Tina kok di sini?" Gadis itu bertanya heran yang diangguki oleh Tina yang menjajarkan tubuh untuk menyamakan tingginya.
"Iya. Kak Tina mau jemput kamu."
"Terus dia siapa, Kak?" Bocah Lima tahun itu menatap ke arah Alfan yang tampak diam dan tenang.
"Dia bosnya Kakak."
"Oh berarti calon suaminya Kakak ya?" tebaknya yang tentu saja membuat Tina menggeleng, berbeda dengan Alfan yang mulai tersenyum.
"Bukan kok. Kamu kata siapa sih?" Tina tampak gelisah, ia merasa tak enak dengan Alfan yang berada di belakangnya.
"Kata Mama, katanya Kak Tina mau menikah sama bosnya di kantor, pasti Om itu kan calonnya?" Ella kembali menunjuk ke arah Alfan yang mengangguk sembari tersenyum tanpa sepengetahuan Tina.
"Sudah ya jangan bahas itu. Kita pulang dulu ya, tapi ...." Tina mendirikan tubuhnya, baru ingat bila di rumah juga tidak akan ada orang karena papanya kontrol di rumah sakit bersama tantenya.
"Ada apa?" tanya Alfan penasaran.
"Saya bingung, Pak. Di rumah saya dan Tante saya tidak ada orang soalnya Papa saya lagi kontrol di rumah sakit, kalau saya bawa Ella ke kantor boleh enggak, Pak ...?" Tina bertanya ragu, merasa takut kalau Alfan tidak mengizinkannya untuk menjaga Ella di kantornya, sedangkan ia sendiri bingung harus menitipkan Ella di mana.
"Boleh." Alfan mengangguk setuju yang seketika ditatap tak percaya oleh Tina, merasa tak menyangka saja Alfan memperbolehkannya membawa adiknya.